Rijalul Ansor Ranting Putatsari

Rijalul Ansor Ranting Putatsari Halaman untuk berbagi informasi tentang kegiatan lapanan dan share ilmu Pemuda Nahdliyin Putatsari

29/04/2023

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam kisah film berikut, silahkan tonton sampai habis....!!!
Sesuai konteks zaman sekarang

Sunah sunahnya wudhu
18/09/2022

Sunah sunahnya wudhu

https://youtu.be/7ClNGPHNlNg
12/07/2022

https://youtu.be/7ClNGPHNlNg

Untuk terjemahan Kitab Fathul Qorib bab wudhu atau kitab taqrib bab wudhu akan menjadi 3 bagian yaitu:-Menerjemahkan fathul qorib bab fardhu wudhu atau furud...

memperingati Harlah Ansor Ke 88 Ranting Desa Putatsari  dengan agenda Tahlil bersama besertaan pembagian takjil dan buka...
27/04/2022

memperingati Harlah Ansor Ke 88 Ranting Desa Putatsari dengan agenda Tahlil bersama besertaan pembagian takjil dan buka bersama

Rijalul Ansor malam Jumat kliwon Tgl 25 Maret 2022Kajian Kitab Fathul Qorib Oleh Gus Kahfi RidloFashal Menyamak Kulit Ba...
27/03/2022

Rijalul Ansor malam Jumat kliwon Tgl 25 Maret 2022
Kajian Kitab Fathul Qorib Oleh Gus Kahfi Ridlo
Fashal Menyamak Kulit Bangkai :
(فصل): في ذكر شيء من الأعيان المتنجسة وما يطهر منها بالدباغ وما لا يطهر. (وجلود الميتة) كلها (تطهر بالدباغ) سواء في ذلك ميتة مأكول اللحم وغيره. وكيفية الدبغ أن ينزع فضول الجلد مما يعفنه من دم ونحوه بشيء حريف كعفص، ولو كان الحريف نجساً كذرق حمام كفى في الدبغ (إلا جلد الكلب والخنزير وما تولد منهما أو من أحدهما) مع حيوان طاهر فلا يطهر بالدباغ (وعظم الميتة وشعرها نجس) وكذا الميتة أيضاً نجسة وأريد بها الزائلة الحياة بغير ذكاة شرعية، فلا يستثنى حينئذ جنين المذكاة إذا خرج من بطن أمه ميتاً، لأن ذكاته في ذكاة أمه، وكذا غيره من المستثنيات المذكورة في المبسوطات، ثم استثنى من شعر الميتة قوله (إلا الآدميّ) أي فإن شعره طاهر كميتته.

(Fasal) menjelaskan tentang barang-barang najis, barang-barang najis yang bisa suci dengan cara di-samak dan yang tidak bisa suci (dengan cara di-samak).

-Kulit Bangkai Bisa Suci dengan Disamak
Kulit bangkai semuanya bisa suci dengan cara di-samak. Dalam hal itu baik bangkai binatang yang halal dimakan dan yang tidak halal dimakan.

-Tata Cara Menyamak
Tata cara menyamak adalah menghilangkan fudlululjildi (hal-hal yang melekat di kulit ) yang mana hal-hal tersebut bisa membuat kulit busuk, seperti berupa darah dan sesamanya, dengan menggunakan barang yang Sepet ( red;jawa) / pahit seperti tanaman afshin [Sejenis tanaman yang berbau wangi dan rasanya pahit]. Walaupun sesuatu perkara yang Sepet ( red;jawa) / pahit itu dari perkara yang najis seperti kotoran burung.

-Yang Tidak Bisa Suci Walau Disamak
kulit bangkai anjing, babi, keturunan keduanya, atau keturunan salah satu dari keduanya hasil perkawinan dengan binatang yang suci. Maka kulit binatang-binatang ini tidak bisa suci dengan cara di-samak.
Tulang dan bulunya bangkai hukumnya adalah najis. Begitu juga bangkainya itu sendiri hukumnya juga najis.
Yang dikehendaki dengan bangkai adalah binatang yang mati sebab selain sembelihan secara syar’i.

Dikecualikan ta'rif tersebut adalah janinnya binatang yang disembelih (secara syar’i) yang keluar dari perut induknya dalam keadaan mati. karna secara qoidah fiqih sembelihanya janin itu ikut pada sembelihanya induknya. ( Artinya jika hewan yang di sembelih tersebut ada janin di dalamnya dan mati, maka janin yang mati tersebut di hukumi halal, beda lagi jika janinya masih hidup maka jika ingin menjadi halal harus di sembelih dulu )Begitu juga di kecualikan dari ta'rif tersebut beberapa hal yang dijelaskan di dalam kitab-kitab yang luas keterangannya.
Kemudian mushannaif mengecuali-kan dari bulu bangkai yaitu ungkapan beliau yang berbunyi, “kecuali anak Adam.” Maksudnya, maka sesungguhnya rambut dan bulu anak Adam hukumnya suci

- Hukum mengkonsumsi Kulit bangakai yang di samak
Pendapat yang paling shahih (benar) adalah HARAM. Menurut Imam Nawawi dalam permasalahan ini ada dua qoul, qaul yang pertama dan ini merupakan qoul yang Ashoh menurut Jumhur ulama adalah qaul tentang haramnya memakan kulit bangkai hewan yang telah disamak, ini adalah termasuk qaul qadim yang masih difatwakan. Qaul kedua menyatakaan halalnya memakan kulit tersebut.
- Syarh Bahjah Wardiyah :
قَوْلُهُ : وَانْدَبَغَ ) وَلَا يَجُوزُ أَكْلُهُ بَعْدَ الدَّبْغِ إلَّا إذَا كَانَ جِلْدَ مُذَكَّاةٍ وَلَوْ انْتَقَلَ لِطَبْعِ الثِّيَابِ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ مَأْكُولًا قَبْلَ الدَّبْغِ بِخِلَافِ غَيْرِهِ مِنْ الثِّيَابِ ع ش شرح البهجة الوردية 1/185.
- Kifayatul akhyar 1/13 :
، ثم إذا دبغ الجلد طهر ظاهره قطعاً وكذا باطنه على المشهور الجديد فيصلي عليه وفيه، ويستعمل في الأشياء اليابسة والرطبة ويجوز بيعه وهبته والوصية به، وهل يجوز أكله من مأكول اللحم؟ رجح الرافعي الجواز ورجح النووي التحريم
- Al-Majmuu’ ‘alaa Syarh al-Muhaddzab VIIII/38 :
(الثالث) جلد الميتة المدبوغ في أكله ثلاثة أقوال أو أوجه سبقت في باب الانية (اصحها) أنه حرام (والثانى) حلال (والثالث) ان كان جلد حيوان مأكول فحلال والا فلا. وهذه الثلاثة ترد على المصنف حيث لم يستثنها والله سبحانه أعلم
Kulit bangkai yang telah disamak dalam memakannya terdapat tiga pendapat ulama :
1. Pendapat yang paling shahih haram
2. Halal
3. Bila berasal dari kulit binatang yang halal dimakan maka halal bila bukan maka haram.
Wallaahu A'lamu Bis Showaab

26/02/2022

NAFSU YANG TERSEMBUNYI

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke - 3 dari kota Basrah, Iraq.
Beliau bercerita:
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.
Waktu itu, aku sama sekali tidak memiliki apa-apapun, sementara aku harus menafkahkan seorang isteri dan seorang anak.
Himpitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.
Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.
Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan keada'anku.
Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata:
"Berikan makanan ini kepada keluargamu."
Di tengah perjalanan pulang, aku berselisihan dengan seorang wanita faqir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku.
Dengan nada yang sayu dia memohon:
"Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tidak terdaya kerana terlalu lama menahan rasa lapar yang menghimpit diri.
Tolong berikan dia sesuatu yang boleh dia makan. Semoga Allah Ta'ala merahmati Tuan."
Sementara itu, si anak menatapku tekun dengan tatapan yang tidak akan kulupakan sepanjang hayat.
Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku: "Ambillah, beri dia makan." kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tidak sesen pun dinar atau dirham yang aku miliki.
Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu.
Spontan, si ibu tidak dapat membendung air matanya (menangis) dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.
Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah kakiku, sementara beban hidup terus bergelutan difikiranku.
Sejenak, kusandarkan tubuh ini pada sebuah dinding, sambil terus memikirkan perancanganku untuk menjual rumah.
Dalam keada'anku seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.
"Hei, Abu Muhammad...!
Kenapa kau duduk-duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?" tanyanya.
"Masyaallah....!" jawabku terkejut.
"Dari mana datangnya?"
"Tadi ada seorang lelaki datang dari Khurasan.
Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang mempunyai hubungan kerabat dengannya.
Dia membawa berduyun-duyun kendera'an barang penuh berisi harta." ujarnya.
"Jadi?" tanyaku kehairanan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu, dulu ayahmu pernah memberikan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun.
Lantas dia rugi besar dan bangkrap. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan.
Di sana, keada'an ekonominya beransur-ansur baik. Bisnesnya meningkat dan berjaya. Kesulitan hidupnya perlahan-lahan pergi, berganti dengan limpahan kekaya'an.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta ma'af dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.
Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan perniaga'annya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berniaga dan ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."
Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya: "Kalimah puji dan syukur kepada الله تعالى meluncur dari lisanku.
Sebagai bentuk syukur.
Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi.
Aku menyantuni dan menanggung hidup mereka seumur hidup.
Aku pun terjun di dunia perniaga'an seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, memberi bantuan dan berbagai bentuk amal soleh. Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.
Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dengan amal solehku.
Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan Malaikat dengan hiasan AMAL KEBAIKAN.
Ada semacam HARAPAN PASTI dalam diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi الله تعالى dalam daftar orang-orang yang SHOLEH.
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan berombak lautan.
Aku juga lihat, badan mereka membesar.
Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memikul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memikul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.
Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain.
Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku..!
Tapi ternyata, perhitungan belum selesai.
Mereka mulai meletakkan satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU TERSEMBUNYI."
Nafsu tersembunyi itu adalah riya', ingin dipuji, merasa bangga dengan amal sholehku.
Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang terlepas dari nafsu-nafsu itu.
Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari seksa Neraka.
Tiba-tiba, aku terdengar suara: "Masihkah orang ini mempunyai amal baik?"
"Masih..." jawab suara lain.
"Masih berbaki yang ini."
Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah gerangan yang masih berbaki?
Aku berusaha melihatnya.
Ternyata, itu HANYALAH dua LEMBAR ROTI isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sebinasanya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan itu tidak berguna sedikit pun.
Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.
Segera 2 lembar roti itu diletakkan di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukanku.
Tidak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku.
Iaitu berupa AIR MATA wanita faqir itu yang mengalir sa'at aku berikan sedekah.
Air mata tak terbendung yang mengalir kala tersentuh akan kebaikanku.
Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, sa'at air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat.
Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata: "Orang ini selamat dari seksa neraka...!"
Masih adakah terselit dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..????!!!
الله أَكْبَر
Aku bermohon kehadrat Allah Tuhan Pemilik Hari Pembalasan agar diriku, keturunanku juga sahabat-sahabatku semua dijauhkan dari sifat dan juga amal dari Nafsu Yang Tersembunyi.
Sumber tazkirah telah kupetik dari kitab "KISAH TAULADAN."
"Ar-Rafi’i dalam Qalam (2/153-160)."
Semoga kita diberi kefahaman untuk amal dan beroleh manfa'at...
Fb. Qalam Ilmu ✍️

Address

Grobogan
58152

Telephone

+6285229943377

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rijalul Ansor Ranting Putatsari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category