07/08/2026
Ketangguhan sejati tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh jauh sebelum bencana datang. Hal inilah yang dibuktikan oleh 10 desa dampingan di lima kabupaten di Jawa Timur—Lumajang, Malang, Pasuruan, Pacitan, dan Sampang—yang sukses memperkuat kesiapsiagaan, ketahanan iklim, dan ekonomi lokal melalui kerja nyata di tingkat tapak.
​Melalui Lokakarya Pembelajaran Praktik Baik DESTANA di Malang pada 4–5 Agustus 2026, terungkap bagaimana konsep Desa Tangguh Bencana (DESTANA) berhasil diterjemahkan secara konkret dengan memadukan kesiapsiagaan bencana, pengarusutamaan GEDSI, ketangguhan ekonomi yang diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Langkah ini memastikan bahwa perlindungan warga dan keberlanjutan ekonomi desa menyatu dalam kebijakan perencanaan dan penganggaran Desa.
​Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, memberikan apresiasi atas capaian ini dan menegaskan pentingnya keberlanjutan program di tingkat tapak:
​"Pengurangan risiko bencana tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menyatu ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran pembangunan desa. Keberhasilan 10 desa ini mengunci program ketangguhan dalam APBDes adalah langkah krusial agar perlindungan warga terlaksana secara berkelanjutan."
​Arah transformasi kebijakan ini juga selaras dengan penekanan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, mengenai krusialnya komitmen alokasi sumber daya pada pencegahan sejak dini:
​"Alokasi sumber daya pada upaya pencegahan sebelum bencana terjadi memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan biaya penanganan setelah bencana."
​Langkah progresif ini terwujud berkat kolaborasi erat antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil, dengan dukungan penuh dari Program SIAP SIAGA melalui Konsorsium KONDUSIF sebagai mitra program di Jawa Timur.
​Sinergi lintas sektor ini membuktikan satu hal mendasar: ketahanan iklim dan pengurangan risiko bencana tidak lahir di tengah krisis, melainkan diukir melalui penguatan kapasitas lokal yang konsisten, tata kelola risiko yang terintegrasi, serta kesiapsiagaan kolektif yang kokoh demi melindungi setiap nyawa dari ancaman bencana di masa depan.