28/10/2014
Indonesia adalah Benua Atlantis
yang hilang.
Sindonews.com - Atlantis, mungkin
anda sudah tak asing mendengar
nama itu. Percaya atau tidak, Benua
Atlantis yang telah lama hilang
selama berabad-abad itu terletak di
Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia.
Dahulu kala di zaman peradaban
p**au Sumatra, Jawa, Kalimantan,
Negara Singapura juga Malaysia
bagian barat dan Selat Sunda
menyatu daratannya. Dulu wilayah
tersebut sering disebut-sebut Sunda Island.
Adalah Profesor Arysio Santos yang
menyimpulkan bahwa setelah
melakukan penelitian selama 30
tahun terakhir, dirinya meyakini
benua Atlantis adalah Indonesia.
“Profesor Santos memperoleh
keyakinan setelah melakukan
penelitian kalau Indonesia adalah
Atlantis yang hilang,” jelas Jimly
Menurut Jimly, karya Santos yang
kemudian dibukukan dengan judul
‘Atlantis, The Lost Continent Finally
Found’ didukung sejumlah fakta yang memang mendekatkan Indonesia dengan Atlantis. Bahkan, kata Jimly, pernyataan arkeolog, manusia tertua adalah Pithecanthropus Erectus semakin mengindikasikan hal tersebut.
“Ada info dari arkeolog, manusia
tertua yakni pithecanthropus Erectus ya manusia Jawa. Jadi sangat mungkin peradaban hebat itu sebenarnya dari Indonesia,” terang mantan anggota Wantimpres ini.
Jimly menambahkan, kalau memang
memungkinkan, sebuah peradaban
yang besar kemudian menghilang.
Meski sempat hilang dari sejarah
bangsa Indonesia dan umat dunia,
Jimly menyarankan agar penelitian
Santos ini dapat memotivasi bangsa
Indonesia agar bangkit dari situasi
sekarang.
“Paling penting adalah bahwa kita
pernah hebat, ini (buku karya Santos) sebagai sumber motivasi ke depan agar bisa maju,” tandas Jimly.
Sementara itu, Direktur LIPI Prof Dr Umar Anggara mengatakan agar
temuan Santos ini dijadikan motivasi para ilmuwan Indonesia untuk membuktikan kebenarannya secara akademis.
“Saya harap buku ini bisa
menginspirasi bagi para ilmuwan
untuk mencari kebenaran secara
akademik. Karena menyinggung
Indonesia dan sudah sepatutnya kita yang mencari tahu,” imbuh Umar. ( Dikutip Trijaya )
Kehancuran Atlantis
Benua Atlantis hilang di karenakan
tenggelam oleh lautan dan bencana
gempa bumi, hingga mengakibatkan
daratan Atlantis tenggelam hingga
mencapai dasar laut. Terlihat jelas
bahwa ada bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak berabad-abad di dasar laut di Selat Sunda.
Keberadaan Kota Atlantis yang
diperkirakan tenggelam 11.600 tahun lalu masih menjadi misteri. Namun, ada satu dokumen yang menyebut Indonesia merupakan wilayah Atlantis yang sebenarnya.
Benarkah?.
Santos meyakini benua menghilang
akibat letusan beberapa gunung
berapi yang terjadi bersamaan pada
akhir zaman es sekitar 11.600 tahun
lalu. Di antara gunung besar yang
meletus zaman itu adalah Gunung
Krakatau Purba (induk Gunung Krakatau yang meletus pada 1883)
yang konon letusannya sanggup
menggelapkan seluruh dunia.
Letusan gunung berapi yang terjadi
bersamaan ini menimbulkan gempa,
pencairan es, banjir, serta
gelombang tsunami sangat besar.
Saat gunung berapi itu meletus,
ledakannya membuka Selat Sunda.
Peristiwa itu juga mengakibatkan
tenggelamnya sebagian permukaan
bumi yang kemudian disebut
Atlantis.
Bencana mahadahsyat ini juga
mengakibatkan punahnya hampir 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu, termasuk manusia.
Mereka yang selamat kemudian
berpencar ke berbagai penjuru dunia dengan membawa peradaban mereka di wilayah baru.
“Kemungkinan besar dua atau tiga
spesies manusia seperti ‘hobbit’
yang baru-baru ini ditemukan di
Pulau Flores musnah dalam waktu
yang hampir sama,” tulis Santos.
Sebelum terjadinya bencana banjir
itu, beberapa wilayah Indonesia
seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara diyakini masih menyatu dengan semenanjung Malaysia serta Benua Asia.
Menurut Santos, p**au-p**au di
Indonesia yang mencapai ribuan itu
merupakan puncak-puncak gunung
dan dataran-dataran tinggi benua
Atlantis yang dulu tenggelam. Satu
hal yang ditekankan Santos adalah
banyak peneliti selama ini terkecoh
dengan nama Atlantis.
Mereka melihat kedekatan nama
Atlantis dengan Samudera Atlantik
yang terletak di antara Eropa,
Amerika dan Afrika.Padahal pada
masa kuno hingga era Christoper
Columbus atau sebelum ditemukannya Benua Amerika,
Samudera Atlantik yang dimaksud
adalah terusan Samudra Pasifik dan
Hindia.
Sekali lagi Indonesia memiliki syarat
untuk itu karena Indonesia berada di antara dua samudera tersebut. Jika terdapat begitu banyak kemungkinan Indonesia menjadi lokasi sesungguhnya Atlantis lalu, mengapa selama ini nama Indonesia jarang disebut-sebut dalam referensi Atlantis?.
Santos menilai keengganan Dunia
Barat melakukan ekspedisi ataupun
mengakui Indonesia sebagai wilayah atlantis adalah karena hal itu akan mengubah catatan sejarah tentang siapa penemu perdaban. Dengan adanya sejumlah bukti mengenai keberadaan Atlantis di Indonesia maka teori yang mengatakan Barat sebagai penemu dan pusat peradaban dunia akan hancur.
“Kenyataan Atlantis (berada di
Indonesia) kemungkinan besar akan mengakibatkan perlunya revisi
besar-besaran dalam ilmu humaniora,seperti antropologi,sejarah, linguistik, arkelogi, evolusi, paleantropologi dan bahkan mungkin agama,” tulis santos dalam bukunya.
Selain Santos, banyak arkeolog
Amerika Serikat yang juga meyakini
Atlantis adalah sebuah p**au besar
bernama Sunda Land yang luasnya
dua kali negara India. Daratan itu
kini tinggal Sumatra, Jawa dan
Kalimantan. Salah satu p**au di
Indonesia yang kemungkinan bisa
menjadi contoh terbaik dari
keberadaan sisa-sisa Atlantis adalah p**au Natuna, Riau.
Berdasarkan penelitian, gen yang
dimiliki penduduk asli Natuna mirip
dengan bangsa Austronesia tertua.
Rumpun bangsa Austronesia yang
menjadi cikal bakal bangsabangsa
Asia merupakan sebuah fenomena
besar dalam sejarah keberadaan
manusia.
Rumpun ini kini tersebar dari
Madagaskar di barat hingga Pulau
Paskah di Timur. Rumpun bangsa ini
juga melahirkan 1.200 bahasa yang
kini tersebar di berbagai belahan
bumi dan dipakai lebih dari 300 juta
orang.
Yang menarik, 80 persen dari rumpun penutur bahasa Austronesia tinggal di Kep**auan Nusantara Indonesia.
Namun, pendapat Santos dkk yang
meyakini bahwa Atlantis berada di
Indonesia ini masih harus dikaji
karena kurang dilengkapi bukti-
bukti.
Pakar Geoteknologi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof
Wahyu Hantoro mengatakan analisa
Santos masih berupa hipotesa.
"Perlu dijelaskan lebih lanjut
kategorisasi jenis kebuayaan tinggi
yang ada pada zaman Atlantis serta
gelombang setinggi apa yang bisa
membuat Paparan Sunda terbelah,"
jelas Wahyu.