Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA)

Call Directions Website Contact the organization

Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA) Scripture Union Indonesia (a.k.a Pancar Pijar Alkitab) is Bible Ministry for children, youth, and ad Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

SCRIPTURE UNION INDONESIA (a.k.a Persekutuan Pembaca Alkitab) adalah bagian dari Scripture Union International yang beranggotakan 150 negara di seluruh dunia. SU Asia Timur & Barat
386 Jalan 5/59
47509 Petaling Jaya
Selangor, Malaysia

SU International
126 Barry Pde
Fortitude Valley, Brisbane
Queensland 4006, Australia

-----

Kind Info:

Page Scripture Union Indonesia (SU Indonesia) dibuat khusus untuk menjadi sarana PUBLIKASI dan INFORMASI dari SU Indonesia. Mohon untuk tidak menulis apapun yang tidak relevan dengan SU Indonesia. Semua tulisan yang tidak sesuai dengan tujuan pembuatan Page SU Indonesia akan dihapus tanpa pemberitahuan. Tuhan memberkati kita semua! Salam dalam kasih Kristus,
Daniel Adhi Surya
(Page's Admin SU Indonesia)

04/10/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Minggu, 4 Oktober 2026 (Minggu ke-19 sesudah Pentakosta)

Galatia 6:11-18
Tanda Hidup oleh Roh

Memasuki Minggu ke-19 sesudah Pentakosta, kalender gerejawi mengajak kita untuk merenungkan pertumbuhan iman kita dalam Masa Biasa. Setelah Roh Kudus dicurahkan, pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang seberapa hebat pengalaman rohani kita di masa lalu, melainkan apakah hidup kita hari ini menampakkan realitas ciptaan baru.

Pada masa sekarang ini, kita masih bisa terjebak dengan cara pikir yang menilai kerohanian dari simbol-simbol lahiriah seperti seberapa fasih kita berdoa, atau seberapa tinggi jabatan pelayanan kita. Hal ini mirip dengan cara pikir lawan-lawan Paulus di Galatia.

Mereka ingin memegahkan diri dengan memaksa orang lain untuk bersunat (13). Bagi mereka, agama adalah soal tanda fisik dan kepatuhan terhadap aturan untuk dipamerkan kepada manusia, bukan transformasi hati oleh Roh Kudus.

Rasul Paulus menulis bagian penutup dari suratnya ini dengan tulisan tangan yang besar untuk menegaskan pesan krusial bahwa di dalam Kristus, segala atribut lahiriah itu tidak ada artinya. Satu-satunya yang benar-benar berarti adalah menjadi ciptaan baru (14-15).

Masa sesudah Pentakosta adalah masa di mana Roh Kudus bekerja menjadikan kita ciptaan baru. Ini bukan sekadar perbaikan moral atau polesan citra belaka, melainkan perubahan total orientasi hidup. Jika dahulu kita hidup mencari pengakuan dunia, kini kita hidup berdasarkan salib Kristus, yakni damai sejahtera dan rahmat yang kita terima sejak kita ditebus menjadi milik Yesus (16-17). Salib itulah yang mematikan ego kita dan menghidupkan iman kita dalam Kristus.

Dalam minggu-minggu ini, marilah kita berhenti sejenak dari kesibukan pencitraan rohani yang sering kali menjadi kebiasaan kita. Ada baiknya kita tidak membiarkan ibadah kita menjadi rutinitas tanpa kuasa. Biarlah tanda yang kita bawa bukan sekadar simbol agama di KTP, kalung salib di leher, atau kutipan ayat Alkitab di akun media sosial, melainkan karakter yang diubahkan dan dipimpin oleh Roh Kudus sebagai suatu ciptaan baru yang nyata. [TDS]

03/10/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Sabtu, 3 Oktober 2026 (Minggu ke-18 sesudah Pentakosta)

Galatia 6:1-10
Gotong Royong Rohani

Di internet sekarang ini, ketika seseorang kedapatan melakukan kesalahan fatal, naluri warganet sering kali adalah menghakimi secara massal dengan cancel culture dan menjadikan aib tersebut bahan pergunjingan yang viral. Sebagai manusia, terkadang kita merasa puas ketika kita melihat kejatuhan orang lain, seolah-olah kita lebih suci darinya.

Akan tetapi, Rasul Paulus menawarkan kepada kita konsep etika yang lebih radikal, yaitu gotong royong rohani.

Paulus menegaskan bahwa jika ada seorang saudara kita jatuh, tugas kita bukanlah memviralkan kesalahannya dan mempermalukan dia, tetapi menjaga diri kita dan memimpin saudara itu kembali ke jalan yang benar dengan roh lemah lembut (1-2). Inilah esensi yang perlu kita lakukan untuk memenuhi hukum Kristus, yaitu saling menolong dalam memikul beban dan membagikan segala yang baik, bukan saling menipu dan merendahkan (3-6).

Dalam menolong sesama itulah, kita menabur kebaikan yang pada waktunya kita akan menuai p**a (7). Barangkali kita sering merasa lelah untuk berbuat baik karena apa yang kita lakukan seakan-akan tidak ada hasilnya. Di sini Rasul Paulus menguatkan kita bahwa janji Tuhan itu pasti, bahwa jika kita terus-menerus menabur kebaikan dalam Roh, pada waktunya kita akan menuai hidup yang kekal (8-10). Saat kita rela menanggung beban sesama, kita sedang menabur dalam Roh, dan pada waktunya menuai hidup penuh berkat. Jadi, jangan sampai kita menyerah pada kedagingan, melainkan tetap menabur benih Roh seperti kasih, kesabaran, kesetiaan dalam setiap kesempatan meski kita belum dapat melihat panennya hari ini.

Mari kita ubah pola pikir kita. Marilah kita mengganti budaya yang saling menjatuhkan dengan budaya yang saling menopang, juga kebiasaan saling menghina dan merendahkan menjadi kebiasaan saling mengasihi dan memulihkan.

Mulailah dari lingkup sehari-hari kita dengan menjadi pasangan, anggota keluarga, sahabat, jemaat, dan rekan kerja yang saling membantu, agar kehidupan kita mewujudkan gotong royong rohani. [TDS]

Mari ajarkan anak-anak untuk melihat kebaikan Tuhan dalam setiap keadaan. 🌈
02/10/2026

Mari ajarkan anak-anak untuk melihat kebaikan Tuhan dalam setiap keadaan. 🌈

02/10/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Jumat, 2 Oktober 2026 (Minggu ke-18 sesudah Pentakosta)

Galatia 5:16-26
Menyerahkan Kendali kepada Roh Kudus

Pada zaman media sosial sekarang ini, pernahkah Anda merasa "gatal" ingin memberikan komentar pedas kepada konten yang memancing amarah? Atau, mungkinkah hati Anda terasa panas ketika melihat konten teman Anda yang memamerkan kemewahan? Bagaimana kita bisa mengatasi tantangan ini?

Kuncinya dapat kita baca dalam nas hari ini: "hiduplah oleh Roh" (16). Rasul Paulus sendiri menegaskan bahwa kehidupan Kristen adalah medan pertempuran antara keinginan daging dengan keinginan Roh. Daging merepresentasikan natur dosa kita yang selalu ingin memuaskan ego, sementara Roh merepresentasikan kuasa Allah yang menyelaraskan diri kita dengan kehendak-Nya (17).

Menariknya, rasul Paulus tidak meminta kita untuk melawan kedagingan dengan kekuatan tekad semata-mata, karena hal itu pasti berujung pada kegagalan. Ia justru menasihatkan kita untuk: "memberi dirimu dipimpin oleh Roh" (18). Hal ini dapat diibaratkan seperti kita "dibonceng motor" oleh Roh Kudus, sehingga kita harus percaya penuh dan mengikuti gerak si pengemudi untuk menembus setiap jalan yang akan dilewati. Demikianlah kita menyerahkan kendali kita kepada Roh Kudus.

Dalam konteks masa kini, "perbuatan daging" bisa saja berupa kebiasaan menghujat, mengeluarkan ujaran kebencian, menyebarkan berita hoaks demi kepentingan pribadi, hingga perselisihan dalam grup percakapan keluarga (19-21).

Ketika hidup kita sudah berada di bawah kendali Roh, akan terjadi perubahan di dalam hidup kita yang menghasilkan karakter yang kita kenal sebagai "buah Roh" (22-23). Dengan perubahan tersebut, kita dimampukan untuk menjadi pembawa kasih, sukacita, dan damai sejahtera bagi sekeliling kita. Bahkan, dengan kesabaran dan penguasaan diri yang ekstra, kita dapat mengendalikan diri kita untuk tidak mudah terprovokasi oleh kritik atau hasutan orang lain.

Marilah kita memeriksa diri kita hari ini: apakah kita sedang hidup dipimpin oleh keinginan impulsif yang destruktif, atau oleh langkah Roh Kudus yang membawa kita ke dalam Kerajaan Allah? [TDS]

01/10/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Kamis, 1 Oktober 2026 (Minggu ke-18 sesudah Pentakosta)

Galatia 5:1-15
Orang Merdeka yang Berbagi Kemerdekaan

Bagaimana perasaan Anda jika Anda punya utang dan utang itu dibayar lunas oleh seorang dermawan kaya? Pastinya lega sekali. Dan mestinya setelah itu Anda tidak ingin jatuh kembali ke lubang yang sama, bukan? Sebaliknya, Anda mungkin terdorong berbagi dengan sesama karena rasa syukur.

Paulus memperingatkan hal yang serupa, yaitu jangan kembali menghambakan diri kepada ritual lama yang tidak menyelamatkan seperti sunat (1-3). Banyak jemaat di Galatia gagal memahami arti penebusan yang dilakukan oleh Kristus. Mereka berpikir, setelah mendapatkan pembenaran melalui anugerah dan bukan hukum Taurat, mereka masih harus memenuhi hukum Taurat untuk menjadi umat Allah sepenuhnya. Padahal, ritualisme yang adalah usaha yang dianggap penting oleh manusia justru merusak dan mencemari esensi dari karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus (4-6).

Karena itu, Paulus merasa perlu memperingatkan mereka agar berpendirian teguh pada Tuhan dan tidak mudah dikacaukan atau dihasut (7-12).

Ternyata permasalahan yang serupa juga kita alami pada masa sekarang ini. Kita sering kali terjebak dalam rutinitas gerejawi yang dirasa penting sehingga rutinitas itu menghalangi hubungan pribadi yang autentik dengan Kristus.

Sekali lagi, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus, kita adalah orang yang telah dimerdekakan. Seharusnya, seluruh hati kita berpusat pada Kristus dan bukan ritual. Namun, menjadi orang merdeka bukan berarti kita bebas melakukan dosa. Akan tetapi, kita harus mempergunakan kemerdekaan itu untuk melayani dengan kasih (13-15). Pelayanan bagi orang lain hendaklah muncul dari rasa syukur kita kepada Kristus.

Sebagai kesimp**an, jika kita mengaku bahwa kita telah diselamatkan oleh Kristus, maka tugas kita sekarang sebagai orang merdeka adalah membagikan kemerdekaan itu kepada sesama kita. Dengan kasih Kristus kita melayani mereka supaya banyak orang lain di sekitar kita juga dimerdekakan dari segala utang dosa oleh kasih dan karya salib Kristus. [TDS]

30/09/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Rabu, 30 September 2026 (Minggu ke-18 sesudah Pentakosta)

Galatia 4:21-31
Ahli Waris

Kita mengenal istilah "ahli waris", yaitu orang yang berhak menerima warisan dari pewaris karena hubungan yang sah, bukan karena usaha atau pencapaiannya.

Dalam suratnya kepada jemaat di Provinsi Galatia, Rasul Paulus menutup argumennya melawan legalisme Yudaisme yang saat itu mengancam kehidupan iman orang percaya dengan menggunakan ilustrasi dari riwayat Hagar dan Sara sebagai perbandingan dan perbedaan antara hidup di bawah hukum dan hidup dalam janji Allah. Ini alegori yang dimaksudkan untuk menegaskan bahwa orang percaya bukanlah budak hukum Tuhan, tetapi anak-anak janji melalui Kristus.

Paulus mengawali dengan menantang mereka yang ingin hidup di bawah hukum: apakah mereka sungguh-sungguh memahami pemaparannya sampai di bagian itu (21). Paulus kemudian mengulas bahwa Abraham memiliki dua anak, yaitu Ismael dari Hagar (budak dari Mesir) karena usaha dan keinginan manusia, dan Ishak anak Sara (perempuan merdeka) yang diberikan karena janji Allah (22-23).

Hagar melambangkan perjanjian lama (Gunung Sinai) yang menghasilkan perbudakan; sedangkan Sara mewakili perjanjian anugerah yang menghasilkan kebebasan (24-27). Orang percaya adalah seperti Ishak, anak-anak janji. Sebaliknya, sebagaimana Ismael yang menganiaya Ishak, demikian p**a orang legalis sering menentang mereka yang hidup oleh anugerah (28-29, bdk. Kej. 21:8-10).

Paulus mengutip Kitab Suci: "Usirlah hamba perempuan itu" (30), yang dipahaminya sebagai legalisme yang harus ditinggalkan. Kita bukan anak budak, melainkan anak perempuan merdeka.

Jika Anda ada dalam Kristus, Anda bukan budak yang mencoba diterima; Anda adalah anak perjanjian, yang lahir dari inisiatif Allah, bukan dari usaha Anda sendiri. Jangan kembali kepada cara hidup yang didasari penampilan. Hiduplah dalam kebebasan dan sukacita anak Allah yang dikasihi.

Adakah Anda hidup sebagai anak perjanjian, atau budak yang terus berusaha? Jalani hidup dalam kebebasan yang Kristus sudah sediakan! [IBS]

29/09/2026

Ayub 1:13–22 memperlihatkan bagaimana Ayub mengalami kehilangan yang begitu besar. Namun, di tengah semuanya itu, Ayub tidak meninggalkan Tuhan.
Iman tidak selalu berarti kita memahami semua yang terjadi. Terkadang, iman berarti tetap memilih untuk percaya ketika tidak ada jawaban yang mudah.
Apa pun yang sedang kita hadapi hari ini, kiranya kita belajar dari Ayub: keadaan boleh berubah, tetapi jangan tinggalkan Tuhan.
Tetaplah percaya. Tetaplah berpegang kepada-Nya. 🤍

29/09/2026

SANTAPAN HARIAN | SCRIPTURE UNION INDONESIA
Selasa, 29 September 2026 (Minggu ke-18 sesudah Pentakosta)

Galatia 4:12-20
Sukacita yang Dahulu dan Sekarang

Ketika kita menghabiskan waktu dengan seorang teman, kita bisa bersenang-senang bersama. Namun, jika teman itu menegur kita dengan cukup keras, masih bisakah kita tersenyum dan tertawa bersamanya? Atau, adakah rasa tidak nyaman yang membuat kita menjauhinya?

Setelah menjelaskan alasan teologis mengapa jemaat tidak boleh kembali kepada tuntutan hukum Taurat, Paulus berbicara secara pribadi dan emosional. Ia mengingatkan hubungan hangat mereka di masa lalu: kasih dan keramahan saat ia pertama kali memberitakan Injil di Provinsi Galatia.

Paulus berseru, "Jadilah sama seperti aku, " yaitu bebas dari hukum (12). Ia mengingatkan bahwa dahulu mereka menerima dia-walau dalam keadaan sakit-dengan sukacita yang melimpah (13-14). Ia heran mengapa kasih dan sukacita itu sekarang memudar (15). Ia mempertanyakan apakah ia menjadi musuh mereka karena ia berkata benar dan jujur kepada mereka (16).

Paulus memperingatkan jemaat tentang guru-guru palsu yang memang mengajar dengan penuh semangat, tetapi tidak dengan tulus. Ia tetap mendorong jemaat untuk bersemangat, tetapi untuk alasan yang benar (17-18).

Dengan penuh kasih, Paulus menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang sedang mengalami sakit bersalin yang merindukan Kristus dibentuk dalam diri mereka sebagai anak-anak rohaninya (19-20).

Tujuan hidup Kristen bukan hanya untuk menaati aturan atau mengerti doktrin, melainkan untuk membentuk karakter kita menjadi karakter Kristus. Itu sebabnya, setiap orang percaya diundang untuk bersikap terbuka terhadap teguran, koreksi, dan nasihat demi mengikuti kepemimpinan rohani dalam Kristus. Itulah juga sebabnya, kita diperingatkan untuk tidak menukar kebenaran Injil dengan emosi sesaat demi mengikuti karisma seorang manusia.

Adakah sukacita Anda kepada Kristus dan sesama saudara seiman telah memudar dari hidup Anda? Kembalilah kepada kebenaran sejati. Biarlah Yesus Kristus, bukan aturan ataupun ritual, kembali dibangun dalam diri Anda! [IBS]

Address

Jalan Pintu Air Raya No. 7 Blok C4/Kompleks Mitra Pintu Air
Jakarta
10710

Opening Hours

Monday 07:30 - 16:00
Tuesday 07:30 - 16:00
Wednesday 07:30 - 16:00
Thursday 07:30 - 16:00
Friday 07:30 - 16:00

Telephone

+62213442461

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Scripture Union Indonesia (a.k.a PPA):

Shortcuts

Share