20/02/2017
Flu Nasional
Sepanjang hari ini, Senin 20 Pebruari 2017, udara Kebayoran Lama sangatlah nyesss. Jika angin bertiup, ia tak sekedar menyapu kulit dan membungkus tubuh, tapi langsung menelusup di antara sel-sel, bahkan saya rasakan ada yang menggerombol di antara tulang dan daging. Bahkan, masyaallah (!), ada juga yang menyentuh seputar jantung hati nurani saya, sehingga seluruh sukma dan jiwa terasa nyesss-nyesss.
Tatkala senja tiba-pun, saya yakin angin itu tidak berdiri sendiri, ada faktor Y faktor X yang menunggangi punggungnya atau setidaknya mempengaruhi sepak terjangnya. Dengan kata lain angin itu mengalami suatu keterpengaruhan oleh makhluk-makhluk tertentu. Ifrit misalnya... wedewww...
Dan ketika hari semakin merunduk ke haribaan malam, saya memperoleh keyakinan bahwa angin nyesss ini tidaklah hanya di Kebayoran Lama, melainkan berlangsung nasional di seantero negeri.
Saya mandi (tumben :p) dan alangkah dinginnya! Di sana-sini terasa gatal karena kulit saya memang sensitif terhadap keterpengaruhan dingin. Kencing hampir 5 menit sekali. Jaket tebal terasa seperti kaos biasa. Sedemikian rupa sehingga ketika tengah malam tiba, saya
memperoleh kesimp**an bahwa ini bukan sekedar angin jahat, sebab apa yang saya alami sesungguhnya adalah nervous mental. Seluruh jiwa dan akal sehat saya nyesss. Mata bathin saya melihat gamblang bahwa yang melindungi saya sebenarnya adalah atmosfir influenza nonmedis, suatu nyesss intelektual dan politis.
Sungguh aneh. Soalnya kan saya sama sekali bukanlah pegawai negeri, gak punya NIP, gak punya pakaian seragam, dan gak terletak pada bagian manapun dari hierarki birokrasi.
Lebih aneh lagi, karena para tetangga yang pegawai negeri di sekitar saya malah tak tampak mengalami keterpengaruhan flu nasional. Saya yang seandainya tidur melulu di atas dipan rumah selama satu repelita berturut-turut, gak akan dipecat oleh siapapun, kok malah sedemikian serius mengalami nyesss nasional.
Akhirnya sesudah bertapa nyari wangsit gajebo sambil menggigil, saya bermonolog, mewawancarai diri saya sendiri. Terutama hati nurani dan akal sehat saya. Dengan tekhnik interogasi tertentu saya jajaki seberapa jauh ia mengalami keterpengaruhan atau jangan-jangan keterlibatan dalam sesuatu hal yang bertentangan dengan hakikat dan tugasnya.
Saya menemukan bahwa nurani dan akal sehat itu sungguh-sungguh hampir pingsan oleh keterpengaruhan terhadap isu keterpengaruhan. Demamnya makin menjadi-jadi karena ia juga ternyata amat terpengaruh oleh litsus yang saya selenggarakan.
"Bos...!" hati nurani saya berkata dengan gemetar. "Saya sangat terpengaruh oleh keterpengaruhan yang Bos pengaruhkan pada potensi keterpengaruhan saya. Padahal karena keterpengaruhan itu lantas saya sedemikian terpengaruh oleh ketakutan atas keterpengaruhan. Saya akhirnya dipengaruhi secara total oleh keterpengaruhan saya bahwa lama-lama saya akan terpengaruh untuk sama sekali menjadi keterpengaruhan itu sendiri...."
"Kamu ini ngomong apa?!?!" saya membentaknya.
Sementara itu akal sehat saya mogok bicara. Membisu terhadap semua pertanyaan. Paling banter dia menjawab no comment.
"Omongan saya mbulet ya bos?!?!" kata hati nurani saya lanjut, "Ampunilah saya..."
"Dengar!" bentak saya lagi, "Kamu tidak saya larang untuk terpengaruh oleh kepentingan saya. Bahkan kamu wajib terpengaruh oleh garis halauan saya. Yang terlarang adalah, jangan sampai ada ucapan, pemikiran atau sebersit gagasan pun yang mencerminkan keterpengaruhan
oleh aspirasi G30S!!!"
"Wah maaf ya bos...!" Itu relatif dan kriterianya sangat tak menentu dan bisa sangat subjektif, tergantung siapa yang memegang peluit. Kalau hal itu diterapkan sungguh-sungguh di segala level dan konteks, ada berapa juta orang terjaring oleh litsus bos...?!?!?"
"Jangan mbacot kamu!!!" saya hampir memekik di telinga hati nurani saya. "Kalau sekali lagi kamu ngemeng seenak udelmu, kamu akan saya pecat, kamu akan terlantar seperti jutaan sobat-sobatmu!"
Pucatlah hati nurani saya.
Tapi mendadak terdengar suara tertawa akal sehat saya yang sejak tadi bungkam : "Tapi saya gak dimutasi kan Bos?!?!?" ujarnya. "Soal keterpengaruhan ini kan gak ada urusannya dengan akal sehat, gak ada hubungannya dengan epistimologi, makna kata, kebenaran kata atau hakikat kata. Ini kan masalah politik. Akal sehat dilarang ikut campur, sebab sudah ada aparatnya sendiri... iya kan bos?"
"Shut Up!" terpaksa saya bentak dia pake bahasa linggis. Sok intelektual dia!