06/04/2018
Peringatan dari sebelah
(Nama Hukum selain Hukum Allah)
1. Hukum Jahiliyyah
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki? dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
2. Hukum Thaghut
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu (Taurat dan Injil)? Mereka hendak merujuk hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir kepada thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya". (An-Nisa: 60).
Merujuk kepada hukum selain hukum Allah dalam menyelesaikan perkara atau dalam rangka menuntut hak, itu bukanlah dosa kecil, bukan juga dosa besar, tapi SYIRIK AKBAR.
Perbezaan dosa besar dengan syirik akbar: Jika pelaku dosa besar mati dalam keadaan belum sempat bertaubat, maka nasibnya di bawah masyi'ah Allah (kehendak Allah). Jika Allah menghendaki maka akan diampuni dosanya, jika Allah tidak menghendaki maka dia akan 'dicuci' dahulu di neraka untuk dibersihkan dosanya itu. Sedangkan pelaku syirik akbar jika mati dalam keadaan belum sempat bertaubat, maka SUDAH PASTI tidak akan Allah ampuni, tidak akan masuk syurga, dan kekal di neraka.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (An-Nisa’: 48).
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka". (Al-Maidah: 72)
Semoga kita tidak termasuk orang yang telah Allah butakan mata hatinya dari melihat cahaya wahyu. Banyak-banyaklah istighfar dan memohon kepada Allah agar dilapangkan hatinya dalam menerima kebenaran, karena dalil-dalil yang menjelaskan tentang kekafiran orang yang menghalalkan apa yang Allah haramkan / mengharamkan apa yang Allah halalkan / merubah hukum atau ketetapan Allah, adalah sangat banyak sekali.
وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
"Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan hukum". (Al-Kahfi: 26).
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah (1325 H - 1393 H) berkata ketika menafsirkan ayat di atas:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti Undang-Undang buatan yang disyari'atkan oleh syaithan lewat lisan para wali-walinya seraya menyelisihi apa yang disyari'atkan oleh Allah Jalla wa 'Ala lewat lisan para RasulNya -sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang telah Allah hapus bashirahnya dan Allah butakan dia dari melihat cahaya wahyu, sama seperti mereka (Maksudnya para pengikut Undang-Undang buatan)". (Tafsir Adhwaul Bayan, cetakkan Al-Mujamma', penerbit Daru 'Alimil Fawaid, juz 4 halaman 109).
copas: Ghuroba Media