06/06/2025
Raja Ampat Ditambang, Rakyat Menangis — Tapi Bukankah Kalian yang Memilih Ini?
Tambang nikel di Raja Ampat kembali memicu gelombang protes. Tagar berseliweran di media sosial. Aktivis lingkungan bersuara. Masyarakat lokal menjerit. Dan yang lebih lucu lagi, sebagian yang ikut bersuara keras itu adalah orang-orang yang dulu berteriak lantang: “Prabowo-Gibran harga mati!”
Sekarang mereka bilang tambang ini merusak. Sekarang mereka bilang pemerintah tidak berpihak pada rakyat. Tapi, maaf, siapa yang memilih pemerintah ini? Siapa yang berjasa memenangkan pasangan calon yang hari ini mewarisi proyek-proyek ekstraktif dari pemerintahan sebelumnya—dan dengan semangat baru, meneruskannya?
Aktivitas tambang nikel di Raja Ampat dijalankan oleh PT. GAG Nikel, anak perusahaan PT. Antam Tbk. Proyek ini bukan proyek gelap-gelapan. Izin Usaha Pertambangan (IUP)-nya diterbitkan sejak era Presiden Jokowi, yang juga, menariknya, menang di Papua Barat pada 2019. Kini, giliran Prabowo-Gibran menang telak di Papua Barat Daya, dan hasilnya? Tambang tetap jalan, AMDAL sudah siap, penghijauan dijanjikan, dan pariwisata berkelanjutan katanya akan tetap terjaga. Sungguh narasi pembangunan yang indah—di atas lahan yang akan digali.
Raja Ampat, dengan kekayaan hayatinya yang tak ternilai, dengan 24.934 turis asing dan 8.343 wisatawan lokal sepanjang 2024, kini siap jadi korban demi mimpi Indonesia emas. Dan kepada rakyat yang dulu memilih pasangan ini, bukankah ini buah dari suara kalian? Kenapa hari ini baru berteriak?
Gubernur Elia Kambu sudah angkat tangan. Bupati Orideko Burdam juga bilang ini kewenangan pusat. Dan memang benar: kewenangan penuh ada di tangan pemerintah pusat, pemerintah pilihan kalian.
Jadi ketika kalian berteriak menyelamatkan Raja Ampat, mari jujur: kalian sedang memprotes siapa? Pemerintah? Atau pilihan kalian sendiri? Ini bukan soal tambang vs lingkungan. Ini soal tanggung jawab elektoral. Suara yang kalian berikan bukan sekadar pencoblosan—itu mandat. Dan mandat itu hari ini bekerja, mengebor tanah, menggali nikel, dan menyusun rencana reklamasi yang entah kapan.
Lalu ada yang berkata, “Kami tidak tahu tambang ini bagian dari agendanya!” Ah, bukankah selama kampanye semua janji begitu indah? Bukankah memang lebih mudah terpukau pada retorika ketimbang membaca dokumen perizinan tambang?
Sekarang kita diminta percaya bahwa tambang dan pariwisata bisa bersanding indah. Menteri Pariwisata mengatakan industri ekstraktif bisa bersinergi dengan prinsip keberlanjutan. Luar biasa. Mungkin suatu hari nanti, kita akan melihat wisatawan snorkeling di perairan bekas tambang sambil menikmati aroma logam berat dan foto selfie dengan alat berat di latar belakang.
Jadi mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: kenapa kita kaget dengan kebijakan pemerintah yang jelas-jelas kita pilih? Kalau kalian kecewa, jangan salahkan pemerintah sepenuhnya. Lihat dulu ke bilik suara tempat kalian memilih.
Raja Ampat memang harus diselamatkan. Tapi yang juga perlu diselamatkan adalah memori kolektif kita. Agar lain kali, ketika memilih, kita tidak menukar surga dengan slogan.