Aliansi Mahasiswa Papua-AMP

Aliansi Mahasiswa Papua-AMP Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) didirikan pada tanggal 27 juli 1998 di Jl. Guntur Kawi, Manggarai, Jakarta Selatan.

Organisasi ini lahir ditengah situasi represi Negara di Tanah Papua Barat, khususnya di Biak, yang kita kenal dengan Peristiwa Biak Berdarah. Halaman Koran Kejora adalah basis untuk perjuangan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Bangsa Papua Barat

14/07/2026

PERNYATAAN SIKAP

ALIANSI MAHASISWA PAPUA (AMP) KOMITE KOTA JEMBER

Salam Pemebebasan Nasional Papua Barat!

[Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Amakanie, Asik mase, Acemo, Nayaklak Wiwao...wa…wa...wa...]

57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Deomokratis Bagi Rakyat Papua Barat

Tepat pada 14 Juli – 2 Agustus 2026, 57 tahun lalu, Belanda, Indonesia, dan Amerika Serikat melanggar pelaksanaan PEPERA di West Papua. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) dilakukan di bawah intimidasi dan teror oleh Kolonial Indonesia untuk memenangkan PEPERA. Pelaksanaan PEPERA ini dinilai ilegal di atas tanah Papua.

Ada konspirasi global tanpa melibatkan Orang Asli Papua (OAP) Perebutan wilayah Papua antara Belanda dan Indonesia melahirkan perjanjian New York/New York Agreement (15 Agustus 1962) terdiri dari 29 pasal yang mengatur 3 macam hal diantaranya pasal 14-21 mengatur tentang Penentuan Nasib Sendiri (Self Determination) didasarkan pada praktek hukum Internasional (One Man One Vote) serta pasal 12-13 mengatur transfer adminitrasi dari pemerintahan PBB (United Nations Temporary Executive/UNTEA) kepada Indonesia, kemudian wilayah Papua Barat dianeksasi pada 01 Mei 1963. Dan perjanjian Roma Agreement/Roma Agreement (30 September 1962) merujuk agar Indonesia menduduki selama 25 tahun di Papua Barat, lalu mempersiapkan pelaksanaan Tindakan Pilihan Bebas (Act of Free Choice) di Papua Barat. Perjanjian Internasional ini dinilai mengkhianati hukum Internasional karena memanipulasi mekanisme demokrasi dari “One Man One Vote” yang diubah menjadi sistim “Musyawarah” yang dipaksakan oleh Indonesia dalam proses pelaksanaan PEPERA.

Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969, ialah cacat hukum dan dinilai Ilegal. PEPERA adalah sebuah kepalsuan sejarah yang berjalan di bawah tekanan moncong senjata, intimidasi dan teror militer. Dari populasi 809.337 rakyat Papua yang memiliki hak suara, Indonesia hanya mengkaratina dan memaksa 1.025 orang hanya 175 orang yang berpendapat untuk melegitimasi aneksasi Papua ke Indonesia.

Ironisnya Dua Tahun sebelum PEPERA (07 April 1967), rezim Soeharto telah menjual kekayaan alam Papua dengan menandatangani Kontrak Karya Pertama PT Freeport McMoran bersama Amerika Serikat. Hal membuktikan bahwa pencaplokan Papua Barat murni didorong oleh kepentingan Imperialisime ekonomi Politik Global.

Penindasan berkelanjutan hingga hari ini, sejak tahun 1961 hingga dekade ini, rentetan operasi militer seperti (Operasi Tumpsas, Pamungkas, Koteka, Rajawali hingga keamanan Damai Cartenz saat ini) terus memakan korban jiwa. Penangkapan sewenang-wenang, pembunuhan diluar jalur hukum, diskriminasi rasial pemusnahan kebudayaan sosial serta represi terhadap gerakan mahasiswa, aktivis lingkungan hingga rakyat sipil dilakukan secara massif untuk membunuh nasionalisme Papua Barat demi memuluskan jalannya berokrasi kolonial dan korporasi ilegal. Pengerahan militer di Papua kian massif, laporan project multatuli mengungkap jumlah seikitar 83.177 TNI/Polri organik serta jumlah non-organik sekitar 17.780 tentara. Dalam laporan media Jubi mengungkapkan krisis kemanusian yang mendalam akibat konflik bersenjata di Papua, jumlah pengungsi internal (IDP) mencapai angka 122.932 jiwa yang masih mendekap di kemp-kemp pengungsian. Kondisi ini menunjukan militerisme menormalisasi pelanggaran Ham, memproduksi terror, ketakutan serta berbagai kebijakan asimilasi paksa, dari Otonomi Khusus, Daerah Otonomi Baru (DOB), dan janji kesejahtraan hanyalah topeng untuk memperpanjang rantai penindasan struktural.

Kini wilayah Papua berada dalam situasi yang semakin genting. Ditengah masifnya ekspansi investasi, militerisasi, eksploitasi sumber daya alam dan proyek-proyek negara yang mengatasnamakan pemabagunan, kesejahtraan, justru rakyat Papua mengalami penggiran, ruang hidup dirampas melalui moncong senjata, intimidasi, pelanggaran hak asasi manusia serta penghancuran identitas sosial budaya sebagai bangsa yang hidup serta tembuh bersama alamnya.

Sejarah kolonialisme di Papua, lahir sejak operasi militer pasca Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961, setelah deklarasi kemerdekaan bangsa Papua pada 1 Desembar 1961 hingga aneksasi paksa dari 1 Mei 1963 hingga PEPERA yang tidak demokratis (Ilegal). Hingga hari ini kekuasaan dan pendudukan paksa Indonesia terus dibangun dengan pendekatan kemanan (Militerisasi), sekuritisasi dan operasi militer dan dominasi politik. Kehadiran militer, pemberian otonomi khusus, daerah otonomi baru (DOB) dan transmigrasi serta sentralisasi kekuasaan menjadi instrumen untuk mempertahankan control atas wilayah Papua.

Menghadapi sebuah rezim berwatak Kolonialistik, Militeristik dan Kapitalistik yang masif dan tersistematis ini, mambuat kami sedang menyaksikan lajunya kerusakan hutan hasil eksploitasi, teror, kriminaslisasi penangkapan pada sejumlah aktivis serta pembunuhan, warga sipil, pembungkaman ruang demokrasi terus dipraktekan di Papua. pertanyaannya, kapan ini berakhir? Dengan cara apa kita mengakhiri? Apa yang harus dilakukan? Maka dalam kesempatan ini, kami menyerukan pentingnya persatuan Nasional di antara rakyat tertindas. Hanya melalui Persatuanlah, sistim Kapitalisme dihancurkan dan rezim hari ini mampu ditumbangkan dan cita-cita mulia rakyat Papua untuk bebas dari cengkraman Penjajah terwujud. Bersatu untuk Merdeka, menolak tunduk terhadap sistim yang masih memenjarah kita.

Maka dari itu dalam Memperingati 57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Naisb Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa West Papua Kami Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Menuntut :

1. 57 Tahun Pepera Ilegal, PBB harus membuat resolusi untuk mengembalikan kemerdekaan Papua Barat yang telah merdeka 1 Desember 1961 sesuai dengan Hukum Internasional

2. Mendesak Pemerintah Belanda, Indonesia, Amerika serikat bertanggung jawab atas sejarah Pepera dan proses aneksasi West Papua ke Indonesia

3. PBB harus bertanggung Jawab untuk meluruskan Sejarah Pepera yang illegal

4. Buka akses seluas-luasnya Jurnalis Internasional, Nasional dan Lokal di west Papua

5. Mendesak Pemerintah Indonesia segerah menghentikan Operasi Militer, yang mengakibatkan Pengungsian

6. Tarik militer organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua

7. Negara Indonesia bertanggung jawab atas kejahatan kemanusian dan segera menangkap, mengadili aktor kejahatan kamanusiaan

8. Menutup dan menghentikan aktivitas eksploitasi semua perusahan multi national corporation (MNC) Freeport, BP LNG Tangguh, Medco, Corindo dan seluruh Perusahan di Papua

9. Hentikan Proyek Strategis Nasioanl di Merauke, Boven Digul Sorong dan seluruh Tanah Papua

10. Usut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM di Papua dan Indonesia

11. Mendukung penuh kemerdekaan Palestina, West Sahara, Kanaky dan Catalonia

12. Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa West Papua sebagai Solusi Demokratis.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, kami akan terus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, pembungkaman, penindasan dan penghisapan, terhadap Rakyat dan Bangsa Papua Barat.

Medan Juang, Jember 14 Juli 2026

Papua Merdeka!

14/07/2026

PERNYATAAN SIKAP

ALIANSI MAHASISWA PAPUA (AMP) KOMITE KOTA LOMBOK

Salam Pemebebasan Nasional Papua Barat!

[Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Amakanie, Asik mase, Acemo, Nayaklak Wiwao...wa…wa...wa...]

57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Deomokratis Bagi Rakyat Papua Barat.

Tepat pada 14 Juli – 2 Agustus 2026, 57 tahun lalu, Belanda, Indonesia, dan Amerika Serikat melanggar pelaksanaan PEPERA di West Papua. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) dilakukan di bawah intimidasi dan teror oleh Kolonial Indonesia untuk memenangkan PEPERA. Pelaksanaan PEPERA ini dinilai ilegal di atas tanah Papua.

Maka dari itu dalam Memperingati 57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Naisb Sendiri Sebagai Solusi Demokratis Bagi Bangsa West Papua Kami Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Menuntut :

1. 57 Tahun Pepera Ilegal, PBB harus membuat resolusi untuk mengembalikan kemerdekaan Papua Barat yang telah merdeka 1 Desember 1961 sesuai dengan Hukum Internasional

2. Mendesak Pemerintah Belanda, Indonesia, Amerika serikat bertanggung jawab atas sejarah Pepera dan proses aneksasi West Papua ke Indonesia

3. PBB harus bertanggung Jawab untuk meluruskan Sejarah Pepera yang illegal

4. Buka akses seluas-luasnya Jurnalis Internasional, Nasional dan Lokal di west Papua

5. Mendesak Pemerintah Indonesia segerah menghentikan Operasi Militer, yang mengakibatkan Pengungsian

6. Tarik militer organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua

7. Negara Indonesia bertanggung jawab atas kejahatan kemanusian dan segera menangkap, mengadili aktor kejahatan kamanusiaan

8. Menutup dan menghentikan aktivitas eksploitasi semua perusahan multi national corporation (MNC) Freeport, BP LNG Tangguh, Medco, Corindo dan seluruh Perusahan di Papua

9. Hentikan Proyek Strategis Nasioanl di Merauke, Boven Digul Sorong dan seluruh Tanah Papua

10. Usut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM di Papua dan Indonesia

11. Mendukung penuh kemerdekaan Palestina, West Sahara, Kanaky dan Catalonia

12. Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa West Papua sebagai Solusi Demokratis.

Demikian pernyataan sikap ini dibuat, kami akan terus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, pembungkaman, penindasan dan penghisapan, terhadap Rakyat dan Bangsa Papua Barat.

Medan Juang, 14 Juli 2026

Papua Merdeka!

57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Sebagai So...
14/07/2026

57 Tahun Pepera Ilegal, Hentikan Operasi Militer di Papua, Tolak PSN dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Sebagai Solusi Deomokratis Bagi Rakyat Papua Barat

Lombok, 14 Juli 2026 tepat memasuki 57 tahun, dimana pada 14 Juli – 2 Agustus 1969 lalu, Belanda, Indonesia, dan Amerika Serikat melanggar pelaksanaan PEPERA di West Papua. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) dilakukan di bawah intimidasi dan teror oleh Kolonial Indonesia untuk memenangkan PEPERA. Pelaksanaan PEPERA ini dinilai ilegal di atas tanah Papua. Rekayasa kolonial Indonesia yang mencaplokan Papua masukkan dalam NKRI, Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969, ialah cacat hukum dan dinilai Ilegal. PEPERA adalah sebuah kepalsuan sejarah yang berjalan di bawah tekanan moncong senjata, intimidasi dan teror ABRI militer Indonesia. Dari populasi 809.337 rakyat Papua yang memiliki hak suara, Indonesia hanya mengkaratina dan memaksa 1.025 orang hanya 175 orang yang berpendapat untuk melegitimasi aneksasi Papua ke Indonesia.

Dalam memperoses pepera ilegal di atas tanah Papua ini, rakyat bangsa Papua Barat dan mahasiswa papua memperoses dengan berbagai macam bentuk aksi, seperti kasi bisu, kampanye demonstrasi, aksi diskusi, dan aksi reflekasi. Aksi serentak ini berlangsung di beberapa kota-kota besar di papua dan seluruh Indonesia.

Aliansi Mahasiswa Komite kota Lombok (AMP Kk-lombok) di Mataram Nusantara barat Indonesia, proses pepera ilegal dengan aksi dalam bentuk pembagian selebaran dijalan zaman budaya Lampu merah. Aksi pembagian selebaran ini dengan tujuan memberitahukan warga Mataram, rakyat Mataram, orang Mataram dan pada umumnya orang Indonesia bahwa tahun yang lalu, tepatnya pada 14 Juli-2 Agustus 1969, telah terjadi Tanah Papua Pepera ilegal yang dilakukan ke tiga negara yaitu; Indonesia Belanda dan Amerika Serikat.

Kami rakyat dan bangsa Papua Barat tahun sejarah Pepera yang tidak melakukan dengan "One Man One Vote" satu orang satu suara tapi, Indonesia pencaplokan paksa orang-orang Papua, dimasukkan dengan paksa ke dalam wilayah Indonesia melalui rekayasa PEPERA. Dan akibatnya keadaan Papua sekarang penjajahan kolonialisme Indonesia merupakan kejahatan politik, kejahatan kemanusiaan, kejahatan ketidakadilan. Dan situasi diPapua sekarang darurat kemanusiaan oleh represif Militerisme Indonesia terus-menerus, pembantaian pembunuhan disetiap daerah Papua dari Sorong sampai semarai.

Ada konspirasi global tanpa melibatkan Orang Asli Papua (OAP) Perebutan wilayah Papua antara Belanda dan Indonesia melahirkan perjanjian New York/New York Agreement (15 Agustus 1962) terdiri dari 29 pasal yang mengatur 3 macam hal diantaranya pasal 14-21 mengatur tentang Penentuan Nasib Sendiri (Self Determination) didasarkan pada praktek hukum Internasional (One Man One Vote) serta pasal 12-13 mengatur transfer adminitrasi dari pemerintahan PBB (United Nations Temporary Executive/UNTEA) kepada Indonesia, kemudian wilayah Papua Barat dianeksasi pada 01 Mei 1963. Dan perjanjian Roma Agreement/Roma Agreement (30 September 1962) merujuk agar Indonesia menduduki selama 25 tahun di Papua Barat, lalu mempersiapkan pelaksanaan Tindakan Pilihan Bebas (Act of Free Choice) di Papua Barat. Perjanjian Internasional ini dinilai mengkhianati hukum Internasional karena memanipulasi mekanisme demokrasi dari “One Man One Vote” yang diubah menjadi sistim “Musyawarah” yang dipaksakan oleh Indonesia dalam proses pelaksanaan PEPERA.

Hingga detik ini daerah Papua adalah bentuk nyata kolonialisme masa kini yang eksploitatif dan selalu dikawal ketat oleh watak militerisme Indonesia. Pengiriman pasukan militer Indonesia secara masif ke Papua bukan untuk memberikan rasa aman, melainkan berfungsi sebagai instrumen represi hukum dan kekerasan bersenjata untuk membungkam setiap suara kritis yang menolak investasi.

Laporan investigasi dari media Jubi Papua mengungkapkan krisis kemanusiaan yang mendalam akibat konflik bersenjata di Tanah Papua. Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada peringatan Hari Pengungsi Sedunia, jumlah pengungsi internal (IDP) di Papua mencapai angka antara 107.039 hingga 122.932 jiwa.

Ini menunjukan bahwa militerisme menormalisasi pelanggaran HAM, memproduksi teror ketakutan, dan menciptakan tragedi kemanusiaan yang memaksa puluhan ribu warga sipil Papua mengungsi di tanah mereka sendiri. Kondisi ini menegaskan bahwa kebijakan asimilasi paksa, otonomi khusus, dan janji-janji kesejahteraan hanyalah topeng untuk memperpanjang rantai penindasan struktural.

Mencermati pembungkaman ruang demokrasi yang kian akut dan penghancuran sistemik terhadap masa depan bangsa Papua, kami menyadari bahwa akar konflik Papua tidak akan pernah selesai selama hak politik mereka dipasung. Satu-satunya jalan keluar yang adil dan bermartabat adalah mengembalikan hak fundamental yang selama ini dirampas adalah : Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua Barat.

Medan Juang, 14 Juli 2026




Papua Merdeka!

14/07/2026

Live Nobar dan Diskusi

"57thn PEPERA Ilegal diatas tanah Papua"

Jemebr 14 July 2026

Salam PembebasanBersama Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora Salam Revolusi Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai Men...
14/07/2026

Salam Pembebasan
Bersama Kebenaran Sejarah Sang Bintang Kejora

Salam Revolusi
Persatuan Tanpa Batas Perjuangan Sampai Menang

Syalom salam juang, salam Cinta, karena cinta tanah air kita berjuang

Amolonggo, amakanie, nimo, koya o, koha, kosa, Yepmum Dormom, Tabea Mufa, wahlak, Foi moi, Wainambe, Norri, Nayaklak, nenggamtak, Kinaonack wi wa o wa wa wa..

Rakyat Papua
Rakyat Indonesia Yang melawan
Mahasiswa Papua

tak lupa kami ucapkan selamat berjuang kawan kawan mahasiswa Papua di seluruh tanah Kolonial Indonesia, Indonesia adalah penjajah bagi bangsa Papua. Tidak ada ruang hidup yang baik seperpapun bersama kolonial Indonesia maka salah satu jalan yang baik adalah orang Papua bangkit dan menentukan nasibnya sendiri di atas tanah papua.

Tak lupa kami ucapkan selamat berjuang kawan kawan solidaritas mahasiswa Indonesia, yang memiliki hati nurani, yang merasakan kesakitan orang asli Papua. Kami tidak membenci kepada masyarakat Indonesia,kami tidak membenci kepada kawan kawan mahasiswa Indonesia, kami tidak membenci kepada seluruh Dosen bahkan guru . Yang kami benci hari ini adalah sistem Kolonial Indonesia yang Rakus Kekayaan alam Papua, yang rakus atas Sumber daya alam Papua hari ini...

Tidak ada kemerdekaan yang di beri hanya cuma-cuma oleh penjajah, Tahun 2001 pemberian otonomi Kusus Papua adalah Gula-gula jakarta untuk meredamkan Isu Politik Rakyat Papua Barat. Pemekaran 4 Provinsi baru di Papua adalah jalan bagi jakarta untuk masuk ke tanah Papua.

Perjuangan Papua merdeka sudah pernah di lakukan oleh orang asli Papua yang terdidik di sekolah zaman Belanda, 400 an orang Papua yang terdidik yang berasal dari sorong sampai samarai mengagas ide untuk Papua merdeka, sejak bangsa Belanda masuk ke tanah Papua pada tahun 1898 di Manokwari hingga sampai terakhir terjadilah konggres rakyat Papua pada 19 Oktober 1961 kemudian pengibaran Bintang Kejora sekaligus deklarasi kemerdekaan bangsa Papua pada 1 Desember 1961 di Holandia.


Namun yang jadi pertanyaan adalah ;

Kenapa Orang Papua Ada dalam Bingkai NKRI ?
Siapa siapa yang memimpin untuk Papua merdeka?
Bagaimana proses pelaksanakan Aneksasi 1 mei 1963 itu terjadi?
Negara-Negara mana yang mencaplok atau aktor-aktor di balik Segala Persoalan yang terjadi di tanah Papua? Kenapa proses perjanjian Kontrak Karya PT Freeport pada 07 Agustus 1967 dilakukan oleh Indonesia sebelum pelaksanaan PEPERA 14 juli - 02 Agustus 1969 itu terjadi?

Kenapa kami rakyat Papua anggap pelaksanaan Pepera Ilegal?
Kenapa Rakyat Papua masih melakukan perlawanan terhadap Kolonial indonesia ?

Untuk mendiskusikan, untuk menjawab Semua pertanyaan yang muncul harus ada wadah, organisasi. Jika kawan kawan tidak libatkan diri dalam gerakan kawan kawan tidak akan memahami setiap Persoalan yang terjadi di tanah Papua.

Kepada ; Seluruh Kawan Kawan Mahasiswa Papua di Makassar

Bahwa ; Kami Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Makassar sedang membuka pendidikan politik dan Open Rekrutmen Anggota Tahun Tahun 2026

Batas pendaftaran:
Senin, 14 Juli - Agustus 2026
Informasi selengkapnya kawan kawan hubungi nomor HP :
1. 08132891326 (Castro)
2. 082116205843 (Nopri)
Biaya pendaftaran: 20K

kita mendidik Negara Dengan perlawanan dan mendidik rakyat tertindas dengan organisasi perlawanan, Papua adalah surga yang jatu di Ujung Bumi, Indonesia datang untuk menganjurkan surga Papua maka perlawanan terhadap Kolonial Indonesia adalah keharusan....

Makassar, 14 Juli 2026

14/07/2026
14/07/2026

Aliansi Mahasiswa Papua-AMP komite kota kendari.

14/07/2026

( AMP-KKS ) ✊🏾

Address

Jalan Numbay
Jayapura

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aliansi Mahasiswa Papua-AMP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share