20/07/2019
Supermarket Alami
Hutan, laut, sungai, lembah adalah supermarket alami bagi orang Papua. Semua kebutuhan sehari-hari seperti sayur, ubi, ikan, udang dan lainya dapat diperoleh di sana. Dari dahulu terdahulu, mereka mengambil secara gratis, tanpa meminta ataupun membeli. Alam itu sungguh murah bagi kehidupan orang Papua. Mereka (orang Papua) hidup di atas tanah leluhurnya. Mereka hidup dari tanah leluhur yang kini dikenal tanah adat itu. Tidak hanya itu, hutan, laut, sungai dan habitatnya telah menjadi tempat berlatih hidup membentuk jiwa kepemimpinan dan menjadi tempat menemukan jati diri sebagai orang Papua.
Hutan, laut, dan sugai justru mendekatkan manusia Papua pada Sang Pencipta Yang Agung atau Ugatame(Tuhan: bahasa Mee-red). Hal ini tergambar dalam roman berjudul “Namaku Teweraut” dari rimba rawa Asmat, karya Ani Sekarningsih. Di sana ada istilah “Ceserasem” artinya lapangan suci di tengah hutan tempat bersemayam arwa leluhur orang Asmat. Dari kata itu nampak sisi religi manusia Asmat. Ada kepercayaan bahwa di tengah hutan adat itulah tempat arwa leluhur bersemayam. Ini bukan animisme. TB. Taylor menegaskan “sebenarnya agama yang kita anut sekarang ini berawal dari animisme. Maka tidak ada suku bangsa yang menyembah hutan dan sungai. Yang ada adalah menyembah anima (roh) yang ada di dalam hutan (kayu dan batu) sebagai pancaran Allah.
Peradaban berganti, zaman sudah digital. Kekerasan terhadap hutan, sungai, laut dan lembah bukan hal baru di tanah Papua. Perubahan zaman tanpa ampun membuat supermarket alami itu menghilang secara pelan namun pasti dari tanah Papua. Hutan, laut dan sungai mulai tercemar dengan unsur kimia. Kekerasan terhadap hutan semakin memprihatinkan dengan datangnya sekongkolan raksasa jahat itu. Mereka datang membongkar tanpa memasang kembali. Mereka datang mengambil tanpa mengajari rakyat untuk cara mengelola dengan kekinian zaman.
Nah… ini menarik. Bersama perginya waktu, hutan Papua semakin mengalami degradasi akibat kekerasan yang dilakukan oleh manusia. Pengambilan kayu oleh legal maupun illegal logging, pembakaran hutan oleh masyarakat serta pemboman ikan sungguh merusak keperawan Papua (supermarket alami). Eksploitasi hutan di Papua makin parah, cukong dengan legal maupun illegal loging melakukan “over explotasion”. Tidak lagi mempedulikan penanaman kemabli atau reboisasi terhadap hutan yang rusak. Oya…lihat ni, kerusakan hutan Papua mencapai 600.000 M3/bulan. Orang Papua tidak menyadari akan hal itu. Di atas kerja keras masyarakat cukong tertawa dan berkata “dasar manusia bodok, ditupu, diiming-iming kok mau ha…ha…”.
Anehnya, bukan masyaraka saja yang menjadi lecehan cukong. Justru para pejabat DPRP, DPRD, gubernur dan bupati. Mereka ini adalah orang pintar, kaum intelek, namun bisa tertipu dan diiming-iming dengan sejumlanh uang. Sepertinya mereka melihat rusaknya hutan sebagai hal biasa, justru bersekongkol dengan cukong. Pemerintah kita aneh. Pemerintah belum memikirkan bagaimana supermarket alami itu kembali menjadi supermerket di zaman ini. Artinya kemampuan mengelola sumber daya lama di zaman digital ini menjadi tugas berat pemerintah. Sudah cukup dengan pendidikan yang membuat orang Papua buta dengan supermarket alami dan sesamannya. Cukup dengan pendidikan yang membuat orang Papua harus bertanya siapakah dirinya.
Ini ada yang parah b**g. Dana otonomi bernilai triyunan rupiah banjir di Papua. Sementara itu, satu tahun lalu di Puncak Jaya dikabarkan pelayanan kesehatan dan pendidikan terhenti selama beberapa hari karena pegawainya belum digaji selama tiga bulan. Andaikata akibat tidak adanya uang mengapa hutan terus digadai tanpa ada pengawasan dan pengelolaan sebagai aset pendapatan daerah. Untuk itu, hutan harus dikelola dengan kekinian zaman dan manusia Papua harus dibentuk p**a dengan pendidikan praktis. Kalau tidak seperti itu, alam Papua akan terus rusak, hancur dan Yohokimo kasus pertama. Kasus lain akan menyusul. Tunggu saja.
Saat ini rendanya sumber daya manusia Papua adalah pukulan berat bagi masyarakat. Bisa kita bayangkan, mereka belum bisa mengelola berbagai farietas umbi dan pisang untuk kebutuhan hidupnya. Mereka tidak begitu memahami cara untuk mengelola dan menyimpan umbi dan pisang dalam jangka waktu yang lama. Mungkin inilah bentuk korban dari sistem pendidikan yang tidak mengindahkan kebutuhan sosial (Social leality).
Sekolah memampukan masyarakat hanya untuk mampu membuat proposal, meminta uang kepada pemerintah. Masyarakat sendiri jadi malas untuk bekerja. Apalagi saat ini uang beredar begitu banyak di Papua. Dan memang saat ini uang adalah segalanya. Harus ada usaha pemanusiaan manusia muda, peningkatan taraf kualitas manusia agar mampu mengelola kekayaan alam di sekitarnya. Harapan dan perjuangan kita adalah bagaimana masyarakat kita memanfaatkan dan menjadikan sumber daya alam Papua yang ada itu menjadi supermarket alami di zaman ini. Berartikan, kita harus bagun manusianya dolo d**g! Ya…Iya!! [Longginus Pekey]
Tulisan ini perah dimuat di Majalah Selangkah Online.