Negara West Papua

Negara West Papua NEGARA WEST PAPUA
(486)

Mewujudkan Kemerdekaan anda harus mampu memahami Kapitalisme-Imperialisme dan Alternatifnya. Tanpa itu Indonesia tidak a...
17/08/2024

Mewujudkan Kemerdekaan anda harus mampu memahami Kapitalisme-Imperialisme dan Alternatifnya. Tanpa itu Indonesia tidak akan pernah mencapai kata "Merdeka 100%" menurut Tan Malaka, demikian juga dengan kemerdekaan yang diperjuangkan oleh rakyat Papua. Tidak bisa dipahami kemerdekaan secara setengah-setengah, putus-putus alias parsial.

26/02/2023

Jangan Sandera tuntutan TPNPB!!!

Belakangan ini, dalam rencana operasi pembebasan sandera Pilot maskapai Susi Air, Philips Mark Mehrtens di Nduga, Militer/(TNI-Polri) lagi gencar-gencarnya melakukan pendekatan terhadap tokoh gereja, dewan adat, tokoh pemuda, tokoh masyarakat untuk bernegosiasi dengan TPNPB agar membebaskan sandra.

Kita tahu upaya ini tidak akan pernah berhasil berhub**g mereka yang didekati sama sekali tidak memiliki garis koordinasi atau tidak ada hub**gan apapun dengan Panglima TPNPB Ndugama Darakma, Brigjen Egianus Kogoya.

Di pihak lain, Benny Wenda Ketua United Liberation Movement For West Papua (ULMWP) mendesak TPNPB membebaskan Pilot Selandia Baru tanpa syarat, pertanyaan tersebut disampaikan melalui Press Release yang dimuat di website resmi ulmwp.org, Selasa (21/2).

Dalam semua pernyataan yang dimuat, bisa kita simpulkan Benny benar-benar tidak menghendaki perang TPNPB di seluruh tanah Papua, menolak segala macam bentuk perlawanan dengan cara kekerasan termasuk penyandraan yang dilakukan dibawah pimpinan Egianus Kogoya.

Artinya, perjuangan yang dipimpin Benny Wenda hanya bertumpu pada perjuangan Damai melalui lobi-lobi politik (diplomatik) di luar negeri tanpa ada tekanan apapun.

Apalagi yang diharapkan apabila rakyat Papua hanya dijadikan objek dari perjuangan. Dengan mengarahkan pikiran rakyat bahwa Papua Merdeka jatuh begitu saja dari langit atau diberikan secara cuma-cuma oleh Indonesia, Amerika atau negara-negara Melanesia di Pasifik pada dasarnya hanya bersandar pada belas kasihan penguasa negara-negara kolonial – kapital.

Pandangan kuno, basi, kampungan yang mempertahankan sikap penokohan terhadap seseorang yang menganggap dirinya presiden akan datang membawa kemerdekaan di Papua tidak lagi berlaku, di abad ini.

Sudah tentu pikiran dangkal di atas bertolak belakang dengan mayoritas gerakan muda di Papua yang meyakini 'Papua Merdeka' hanya bisa dicapai melalui Pemberontakan yang sadar:

Pendidikan, pengorganisiran, penyadaran aksi-aksi massa secara kolektif (demonstrasi di seluruh kota), pemogokan, pembangkanagan dll, tanpa menanggalkan perjuangan "gerilya" yang dipimpin oleh Panglima Tertinggi TPNPB Goliat Tabuni.

Dalam konteks gerilya secara sadar kami sama-sama meyakini bahwa perang pembebasan yang dilancarkan TPNPB hanyalah taktik menuju pembebasan nasional (Papua Merdeka). Disinilah letak perbedaan stratam yang paling nampak.

Dengan perbedaan stratak, terbukti setiap kicauan yang dikeluarkan Benny melalui semua media-media mainstream di indonesia maupun internasional tidak tidaklah berarti sama sama sekali untuk di dengarkan.

Apa bedanya dengan suara seorang Musafir yang sedang bernyanyi–nyanyi di tengah gurun pasir? Artinya, jelas bahwa tidak ada satu-kutu busuk manapun yang mampu menghentikan perang TPNPB di seluruh Papua atau mendesak TPNPB untuk membebaskan Pilot selama tujuan politik itu belum tercapai.

Akhirnya dengan mendesak TPNPB membebaskan pilot Susi Air tanpa memberikan dukungan penuh atas tuntutan TPNPB merupakan bagian dari tindakan penyanderaan terhadap tuntutan Papua Merdeka.

Jefry Wenda

Holandia, 23 Februari 2023

12/01/2020
04/08/2019

Bagi seorang aktifis massa yang sejati, selain dia mempunyai sikap hidup aktifis massa, dia juga harus menempatkan diri dalam praktek yang lebih keras. Tugas utama seorang aktifis massa adalah dia mampu menyelami kehidupan massa, menemukan akar persoalan dan bersama dengan massa mampu menyelesaikan persoalan massa dengan jalan perjuangan massa. Bagi seorang aktifis massa, dia harus mampu melakukan kerja secara komprehensif dengan metode yang benar.Prinsip pertama yang harus dijalankan adalah bahwa untuk menemukan masalah yang dihadapi oleh massa dan apa yang menjadi penyebab pokoknya, seorang aktifis massa harus melakukan sebuahISAK (investigasi social dan analisis kelas) sehingga dia dan massa mampu menyimpulkan jalan keluarnya secara tepat berdasarkan kepada situasi objektif yang ada. Kedua, seorang aktifis massa juga harusmampu belajar dan memajukan prakteknya. Agar prakteknya terus maju seiring dengan perubahan waktu, maka dia harus mampu merangkum, menilai dan menyimpulkan pengalaman prakteknya. Dengan demikian maka seorang aktifis massa akan belajar dari kesalahan masa lalu dan memperbaikinya serta terus memajukan praktek yang sudah dilakukan. Ketiga,Kritik Oto Kritik (KOK) menjadi sarana belajar seorang aktifis massa. Karena dari situlah dia akan mampu belajar untuk mengakui kesalahan dan mau untuk memperbaikinya serta sekaligus memperbaiki situasi yang ada di dalam kolektif untuk menghilangkan subjektifisme.

20/07/2019

Supermarket Alami

Hutan, laut, sungai, lembah adalah supermarket alami bagi orang Papua. Semua kebutuhan sehari-hari seperti sayur, ubi, ikan, udang dan lainya dapat diperoleh di sana. Dari dahulu terdahulu, mereka mengambil secara gratis, tanpa meminta ataupun membeli. Alam itu sungguh murah bagi kehidupan orang Papua. Mereka (orang Papua) hidup di atas tanah leluhurnya. Mereka hidup dari tanah leluhur yang kini dikenal tanah adat itu. Tidak hanya itu, hutan, laut, sungai dan habitatnya telah menjadi tempat berlatih hidup membentuk jiwa kepemimpinan dan menjadi tempat menemukan jati diri sebagai orang Papua.

Hutan, laut, dan sugai justru mendekatkan manusia Papua pada Sang Pencipta Yang Agung atau Ugatame(Tuhan: bahasa Mee-red). Hal ini tergambar dalam roman berjudul “Namaku Teweraut” dari rimba rawa Asmat, karya Ani Sekarningsih. Di sana ada istilah “Ceserasem” artinya lapangan suci di tengah hutan tempat bersemayam arwa leluhur orang Asmat. Dari kata itu nampak sisi religi manusia Asmat. Ada kepercayaan bahwa di tengah hutan adat itulah tempat arwa leluhur bersemayam. Ini bukan animisme. TB. Taylor menegaskan “sebenarnya agama yang kita anut sekarang ini berawal dari animisme. Maka tidak ada suku bangsa yang menyembah hutan dan sungai. Yang ada adalah menyembah anima (roh) yang ada di dalam hutan (kayu dan batu) sebagai pancaran Allah.

Peradaban berganti, zaman sudah digital. Kekerasan terhadap hutan, sungai, laut dan lembah bukan hal baru di tanah Papua. Perubahan zaman tanpa ampun membuat supermarket alami itu menghilang secara pelan namun pasti dari tanah Papua. Hutan, laut dan sungai mulai tercemar dengan unsur kimia. Kekerasan terhadap hutan semakin memprihatinkan dengan datangnya sekongkolan raksasa jahat itu. Mereka datang membongkar tanpa memasang kembali. Mereka datang mengambil tanpa mengajari rakyat untuk cara mengelola dengan kekinian zaman.

Nah… ini menarik. Bersama perginya waktu, hutan Papua semakin mengalami degradasi akibat kekerasan yang dilakukan oleh manusia. Pengambilan kayu oleh legal maupun illegal logging, pembakaran hutan oleh masyarakat serta pemboman ikan sungguh merusak keperawan Papua (supermarket alami). Eksploitasi hutan di Papua makin parah, cukong dengan legal maupun illegal loging melakukan “over explotasion”. Tidak lagi mempedulikan penanaman kemabli atau reboisasi terhadap hutan yang rusak. Oya…lihat ni, kerusakan hutan Papua mencapai 600.000 M3/bulan. Orang Papua tidak menyadari akan hal itu. Di atas kerja keras masyarakat cukong tertawa dan berkata “dasar manusia bodok, ditupu, diiming-iming kok mau ha…ha…”.

Anehnya, bukan masyaraka saja yang menjadi lecehan cukong. Justru para pejabat DPRP, DPRD, gubernur dan bupati. Mereka ini adalah orang pintar, kaum intelek, namun bisa tertipu dan diiming-iming dengan sejumlanh uang. Sepertinya mereka melihat rusaknya hutan sebagai hal biasa, justru bersekongkol dengan cukong. Pemerintah kita aneh. Pemerintah belum memikirkan bagaimana supermarket alami itu kembali menjadi supermerket di zaman ini. Artinya kemampuan mengelola sumber daya lama di zaman digital ini menjadi tugas berat pemerintah. Sudah cukup dengan pendidikan yang membuat orang Papua buta dengan supermarket alami dan sesamannya. Cukup dengan pendidikan yang membuat orang Papua harus bertanya siapakah dirinya.

Ini ada yang parah b**g. Dana otonomi bernilai triyunan rupiah banjir di Papua. Sementara itu, satu tahun lalu di Puncak Jaya dikabarkan pelayanan kesehatan dan pendidikan terhenti selama beberapa hari karena pegawainya belum digaji selama tiga bulan. Andaikata akibat tidak adanya uang mengapa hutan terus digadai tanpa ada pengawasan dan pengelolaan sebagai aset pendapatan daerah. Untuk itu, hutan harus dikelola dengan kekinian zaman dan manusia Papua harus dibentuk p**a dengan pendidikan praktis. Kalau tidak seperti itu, alam Papua akan terus rusak, hancur dan Yohokimo kasus pertama. Kasus lain akan menyusul. Tunggu saja.

Saat ini rendanya sumber daya manusia Papua adalah pukulan berat bagi masyarakat. Bisa kita bayangkan, mereka belum bisa mengelola berbagai farietas umbi dan pisang untuk kebutuhan hidupnya. Mereka tidak begitu memahami cara untuk mengelola dan menyimpan umbi dan pisang dalam jangka waktu yang lama. Mungkin inilah bentuk korban dari sistem pendidikan yang tidak mengindahkan kebutuhan sosial (Social leality).

Sekolah memampukan masyarakat hanya untuk mampu membuat proposal, meminta uang kepada pemerintah. Masyarakat sendiri jadi malas untuk bekerja. Apalagi saat ini uang beredar begitu banyak di Papua. Dan memang saat ini uang adalah segalanya. Harus ada usaha pemanusiaan manusia muda, peningkatan taraf kualitas manusia agar mampu mengelola kekayaan alam di sekitarnya. Harapan dan perjuangan kita adalah bagaimana masyarakat kita memanfaatkan dan menjadikan sumber daya alam Papua yang ada itu menjadi supermarket alami di zaman ini. Berartikan, kita harus bagun manusianya dolo d**g! Ya…Iya!! [Longginus Pekey]

Tulisan ini perah dimuat di Majalah Selangkah Online.

14/07/2019

Bila penglihatan kita belum kabur dan hati nurani ini belum tertidur, tidak sulit bagi kita untuk mengakui bahwa kelompok atau golongan tertentu yang diuntungkan oleh Negara adalah kelas penguasa. Ya, Negara adalah Negaranya kelas penguasa. Dulu Negara adalah milik kelas pemilik budak. Sebutlah Negara Romawi. Baik Republik maupun Kekaisarannya, adalah negaranya kelas pemilik budak. Negara tersebut melayani kepentingan pemilik budak.

Dulu Negara adalah milik para raja dan aparatnya. Sebutlah sekian banyak Negara-kota Kanaan, kerajaan-kerajaan kecil Israel, Yehuda, dan Aram, serta kerajaan-kerajaan raksasa seperti Asyur, Babel, dan Media-Persia. Negara-negara tersebut melayani istana dengan pengambilan upeti, persepuluhan dari hasil bumi dan ternak kaum tani di Asia Barat.

Dulu Negara adalah milik para tuan tanah dan para pemuka agama. Kerajaan Inggris, Kerajaan Prancis, Kerajaan Spanyol, dan sebagainya, membuat para serf, hamba sahaya, bekerja setengah pekan di tanah-tanah milik para baron dan tanah-tanah milik gereja dan biara.

Sekarang, Negara adalah milik kaum kapitalis alias kelas borjuis. Melalui kekuasaan eksekutif (pemerintah), parlementer (senat [DPD] & kongres [DPR]), yudikatif (pengadilan negeri, pengadilan tinggi, Mahkamah Agung), alat-alat represi (“hankam”, tentara dan polisi), dan alat-alat ideologis (media, baik cetak maupun elektronik), kelas borjuis mempertahankan eksploitasi baik terhadap kaum buruh (pengambilan nilai lebih) maupun alam (penjarahrayahan kekayaan alam), penindasan terhadap seluruh rakyat pekerja, dan pemb**gkaman terhadap tiap-tiap upaya dari kaum buruh dan rakyat pekerja untuk melawan eksploitasi dan penindasan itu.

Mari kita berjuang untuk mengakhiri Negara borjuis. Mari kita berjuang untuk mendirikan Negara buruh, yang bisa kita pakai untuk mengakhiri penghisapan dan penindasan. Demi suatu masa depan umat manusia yang bersendikan kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan sejati!

08/02/2019

Ini viral dan lucu. Tapi tindakan ini adalah bentuk penyiksaan secara biadab yang dilakukan polisi. Ini melanggar KUHAP. Ini bentuk pelanggaran HAM. Arogansi kepolisian yang tak pernah menggunakan asas praduga tak bersalah terhadap rakyat Papua. Sudah banyak korban anak-anak Papua yang ditangkap, disiksa dan dipenjarakan sepihak tanpa memperdulikan hak-hak korban yang dilindungi oleh hukum dan HAM.

----
The snake was wrapped around his body and neck while police questioned him. This was so cruel treat used by police against people of West Papua before proving any violation.

TPNPBnews:Minggu Pagi 26 Agustus 2018-----Markas TPNPB di Gimagi Distrik Yambi Puncakjaya dalam Kurungan TNI. Prajurit T...
26/08/2018

TPNPBnews:
Minggu Pagi 26 Agustus 2018
-----
Markas TPNPB di Gimagi Distrik Yambi Puncakjaya dalam Kurungan TNI. Prajurit TNI memasuki hutan Gimagi di Yambi guna operasi Markas TPNPB.
SEMENTARA ini Mayjend. Lekkagak Telenggen meloporkan 12 kamp Tenda TNI sekitar Yambi. Ketika warga mendengar 12 kamp tenda TNI di Yambi. Sehingga Warga berencana mengungsi ke hutan.
Sedangkan TPNPB menyatakan siaga, untuk hadapi TNI yang masuk hutan Yambi. Kemungkinan kontak senjata akan terjadi, apabila TNI semakin mendekati Markas.

ILUSTRASI. Foto TPNPB KODAP NGALUM KUPEL.

Sumber: Halaman TPNPB

16/08/2018

Soal penangkapan mahasiswa Papua di Surabaya bukanlah hal yang baru saja dihadapi oleh mahasiswa papua, yang secara umum rakyat dan mahasiswa papua di luar papua. Tentu tindakan biadap ini tidak akan pernah berhenti selama pembebasan nasional itu terwujud.

Mahasiswa papua yang mengemban ilmu diluar–papua sdh tidak harus menutup diri dlm kos, kontrakan, kampus dll. Sdh saatnya smua keluar dari ketiak busuk, yang sering magaku diri “SENIORITAS”, megorgnisir diri anda dalam organisasi gerakan ataupun paguyuban.

Jagan kaget! kalau besok anda di teror, jagan salahkan gerakan kalau besok anda diintimidasi, salah diri anda kenapa menjadi manusia dari Papua, salahkan “Senior” anda yang selalu membatasi anda untuk ertutup dalam ruang kubur anda sendiri.

Mulai dari hari ini siapkan barisan pelopor, konsolidasi dan diskusi harus terus dilakukan, karena kami tidak yakin degan bantuan atau uluran tangan dari pemerintah Papua yang merupakan perpanjangan tangan negara–(Kolonial).

Dan tentu saja, kami hanya yakin degan solidaritas rakyat tertindas diseluruh Dunai dan secara khusus rakyat tertindas di Indonesia. Maka menjadi keharusan bagi gerakan untuk membagun dan merawat solidaritas rakyat terindas.

Post by. Jefry Wenda

Address

West
Jayapura
08956

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Negara West Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share