06/06/2023
Soekarno lahir dari pasangan Soekemi Sosrodihardjodan Ida Ayu Nyoman Rai pada 6 Juni 1901 di Surabaya. Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Surabaya. Semasa sekolah dasar hingga tamat, Soekarno indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto), politisi kawakan pendiri Syarikat Islam.
Soekarno lalu melanjutkan sekolah di HBS (Hogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah memupuk rasa nasionalisme dalam sanubarinya. Usai lulus HBS pada 1920, beliau pindah ke ibukota Jawa Barat dan lanjut ke THS (Technische Hoogeschool) atau sekolah Teknik Tinggi yang sekarang disebut Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau berhasil meraih gelar insinyur pada 25 Mei 1926.
Kiprah Soekarno pun berlanjut ke bidang politik. Kemudian, pria yang akrab disapa B**g Karno ini merumuskan ajaran Marhaenisme serta mendirikan sebuah partai yang bernama PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927. Tujuan diberdirikannya partai ini adalah untuk menuju Indonesia merdeka.
Kompeni yang tidak senang dengan pergerakan B**g Karno lantas mengambil tindakan agar pemerintahan Hindia-Belanda saat itu masih bisa berdiri kokoh di tanah jajahannya. Akibatnya pada 29 Desember 1929, Belanda menjebloskan B**g Karno ke penjara Sukamiskin yang berada di di Bandung.
Delapan bulan mendekam di jeruji besi, Soekarno pun baru disidangkan. Dalam pidato pembelaannya yang berjudul "Indonesia Menggugat", beliau menggambarkan kondisi politik internasional dan keadaan rakyat Indonesia di bawah belenggu kolonialisme.
Pembelaannya itu membuat Belanda semakin marah hingga pada Juli 1930, PNI dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan diasingkan ke Ende, Flores, pada tahun 1933. Empat tahun kemudian beliau dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah menelan berbagai pil pahit, perjuangan B**g Karno tidaklah sia-sia. Pada Agustus 1945 dirinya bersama Mohammad Hatta dan tokoh nasional lainnya menyusun naskah proklamasi yang akhirnya dibacakan pada 17 Agustus 1945. Pembacaan naskah ini sekaligus mengukuhkan kedaulatan.