Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara

Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara Akun resmi Bimbingan & Pelayanan Islam (BPI) RSI Sultan Hadlirin Jepara.

Cahaya Kelahiran Nabi Muhammad saw.Rabi’ul Awwal atau yang lebih dikenal sebagai bulan Maulid merupakan salah satu bulan...
24/08/2026

Cahaya Kelahiran Nabi Muhammad saw.

Rabi’ul Awwal atau yang lebih dikenal sebagai bulan Maulid merupakan salah satu bulan yang memiliki tempat istimewa di hati umat Islam. Bulan ini mengingatkan kita pada kelahiran sosok agung yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia, yaitu Nabi Muhammad saw.

Kehadiran Rasulullah saw. membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Beliau bukan hanya menyampaikan risalah Allah Swt., tetapi juga memberikan teladan nyata dalam seluruh aspek kehidupan. Akhlak, perilaku sehari-hari, hubungan sosial, hingga tata cara beribadah kepada Allah Swt. telah beliau contohkan agar dapat diikuti oleh umatnya.

Besarnya pengaruh kehadiran Rasulullah saw. digambarkan dalam sebuah riwayat dari sahabat Anas bin Malik r.a. yang dikutip dalam kitab Munyatul al-Murtaji, terjemah Maulid al-Barzanji halaman 81:

> لمَّا كانَ اليومُ الَّذي دخلَ فيهِ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّمَ المدينةَ أضاءَ منْها كلُّ شيءٍ، فلمَّا كانَ اليومُ الَّذي ماتَ فيهِ أظلمَ منْها كلُّ شيءٍ

“Pada hari ketika Rasulullah saw. memasuki kota Madinah, segala sesuatu di sana memancarkan cahaya. Namun, ketika beliau wafat, segala sesuatu di Madinah seakan menjadi gelap.”

Riwayat tersebut menggambarkan betapa besar makna kehadiran Rasulullah saw. bagi masyarakat Madinah dan umat manusia secara keseluruhan. Kedatangan beliau ibarat hadirnya cahaya yang menerangi kehidupan, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan keimanan, ilmu, akhlak, dan petunjuk Allah Swt.

Kegembiraan masyarakat Madinah atas kedatangan Rasulullah saw. juga tergambar dalam riwayat yang dinisbatkan kepada sahabat al-Barra’ bin ‘Azib r.a. Penduduk Madinah menyambut kedatangan beliau dengan penuh kebahagiaan. Bahkan, kegembiraan tersebut dituangkan dalam syair yang sangat terkenal:

> طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
> وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا، مَا دَعَا لِلهِ دَاعِ
> أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا، جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ

“Telah terbit purnama di atas kita dari lembah Wada’. Kita wajib bersyukur ketika seorang penyeru mengajak kepada jalan Allah. Wahai Rasul yang diutus kepada kami, engkau datang membawa perintah yang harus ditaati.”

Ungkapan tersebut menjadi gambaran kecintaan, kegembiraan, dan rasa syukur atas hadirnya Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah dan rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman:

> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Karena itu, memperingati bulan Maulid hendaknya tidak berhenti pada ungkapan kecintaan secara lisan atau seremonial semata. Kecintaan kepada Rasulullah saw. seharusnya diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semakin besar kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw., semestinya semakin kuat p**a keinginan kita untuk mengikuti sunnah dan meneladani akhlaknya.

Semoga momentum Rabi’ul Awwal menjadi sarana bagi kita untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah saw. Semoga kita senantiasa mendapatkan bimbingan untuk berjalan di atas jalan yang diridai Allah Swt., bangga menjadi umat Nabi Muhammad saw., serta mampu mengamalkan sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

17/08/2026

KEMERDEKAAN DARI DALAM: MEMPERKUAT KERUKUNAN DAN PERSATUAN DI RSI SULTAN HADLIRIN
Oleh: Khoirul Manan

Alhamdulillah, atas rahmat dan karunia Allah Swt., kita masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat kemerdekaan Republik Indonesia hingga usia ke-81 tahun. Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu membebaskan diri dari egoisme, perpecahan, iri hati, dan sikap saling menjauhkan.

Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, persatuan harus dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk di internal Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Hadlirin. Sebab, pelayanan yang baik kepada masyarakat akan lahir dari lingkungan kerja yang rukun, saling menghargai, dan mampu bekerja sebagai satu kesatuan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 103:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah kelompok bukan terletak pada satu orang, melainkan pada kemampuan untuk bersatu dalam kebaikan. Di lingkungan rumah sakit, perbedaan tugas, profesi, latar belakang, maupun cara pandang tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun sekat. Justru, perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.

Kemerdekaan internal RSI dapat dimaknai sebagai kemerdekaan untuk bekerja tanpa sekat ego sektoral, bebas dari prasangka, dan terbuka untuk saling menguatkan. Dokter, perawat, tenaga kesehatan, tenaga administrasi, petugas pelayanan, maupun seluruh unsur rumah sakit memiliki peran yang berbeda, tetapi mempunyai tujuan yang sama, yaitu memberikan pelayanan terbaik dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat hingga terwujud semangat “Kini Lebih Baik”.

Allah Swt. juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Persaudaraan bukan sekadar hubungan yang dibangun ketika semuanya berjalan baik. Persaudaraan justru terlihat ketika ada perbedaan, persoalan, atau kesulitan. Ketika terjadi perbedaan pendapat, kita memilih tabayun. Ketika ada kekurangan, kita saling mengingatkan. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, kita hadir. Dan ketika ada keberhasilan, kita mampu memberikan apresiasi tanpa merasa kehilangan.

Pesan tentang persatuan tersebut semakin relevan ketika kita melihat musibah gempa bumi yang menimpa saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT dan menimbulkan dampak bagi masyarakat di sejumlah daerah terdampak. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan, rasa kemanusiaan dan kepedulian harus tetap menjadi perekat persatuan.

Atas musibah tersebut, marilah kita menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga Allah Swt. memberikan tempat terbaik bagi mereka yang meninggal dunia, memberikan kesembuhan kepada mereka yang terluka, serta memberikan kekuatan, keselamatan, dan ketabahan kepada seluruh masyarakat NTT yang terdampak.
Musibah di NTT juga menjadi pengingat bahwa kita adalah satu bangsa dan satu keluarga besar Indonesia. Ketika saudara kita berduka, kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kepedulian dapat diwujudkan melalui doa, bantuan, dukungan, dan berbagai bentuk aksi kemanusiaan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Semangat tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
(QS. Al-Ma'idah [5]: 2)

Di sinilah Rumah Sakit Islam memiliki ruang pengabdian yang sangat besar. Rumah sakit bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga tempat menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. Kerukunan internal akan melahirkan pelayanan yang lebih baik. Persatuan akan memperkuat kerja sama. Dan kepedulian antarsesama akan menghadirkan suasana pelayanan yang penuh kasih sayang.

Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika bangsa ini terbebas dari penjajahan, tetapi juga ketika kita mampu memerdekakan hati dari kebencian, memerdekakan diri dari egoisme, dan memerdekakan lingkungan kerja dari perpecahan.

Mari menjadikan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dari dalam. Mulai dari internal Rumah Sakit Islam Sultan Hadlirin, kita bangun budaya saling menghormati, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan bersama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Alhamdulillah, atas rahmat dan karunia Allah Swt., kita dapat merasakan nikmat kemerdekaan hingga hari ini.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga kita mampu menjaga amanah para pejuang dengan menegakkan nilai-nilai Islam, mempererat ukhuwah, menjaga kerukunan dan persatuan di internal Rumah Sakit Islam, serta menjadikan tempat kerja sebagai ladang pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan rahmat dan pertolongan kepada bangsa Indonesia, khususnya saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah di Nusa Tenggara Timur.

“Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”

14/08/2026

MENJAGA AMANAH: Ketika Tanggung Jawab Diserahkan kepada yang Bukan Ahlinya
Oleh: Ust. Khoirul Manan

Dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, maupun dalam memberikan pelayanan kepada sesama, amanah merupakan salah satu fondasi penting yang menopang keberlanjutan, keadilan, dan ketertiban. Ketika amanah dijaga dengan penuh tanggung jawab, ketenteraman dan keberkahan dapat terwujud. Sebaliknya, ketika amanah disia-siakan, kerusakan tatanan kehidupan hanya tinggal menunggu waktu.

Pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga amanah tersebut tersirat secara tegas dalam salah satu hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari. Hadis ini memberikan peringatan bahwa salah satu bentuk penyia-nyiaan amanah adalah ketika suatu urusan diserahkan kepada orang yang tidak memiliki keahlian di bidangnya.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika Rasulullah Saw. sedang berada dalam sebuah majelis dan menyampaikan ilmu kepada para sahabat.

Tiba-tiba, datang seorang Arab Badui dan bertanya, "Kapan hari kiamat itu terjadi?"
Rasulullah Saw. tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Beliau tetap melanjutkan pembicaraannya hingga selesai. Sebagian sahabat yang hadir mengira beliau tidak menyukai pertanyaan tersebut, sementara sebagian lainnya menduga beliau tidak mendengarnya.
Setelah menyelesaikan pembicaraannya, Rasulullah Saw. kemudian mencari penanya tersebut.

"Di mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?"

Penanya menjawab, "Saya, wahai Rasulullah."

Rasulullah Saw. kemudian bersabda:
"Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat."

Penanya kembali bertanya, "Bagaimana bentuk menyia-nyiakan amanah itu?"
Beliau Saw. menjawab:

"Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat."
(HR. Al-Bukhari)

Hadis tersebut mengandung peringatan yang sangat mendalam. Amanah bukan sekadar sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, melainkan tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan kemampuan, kejujuran, dan kesungguhan.

Menjalankan amanah berarti menempatkan tugas, jabatan, kewenangan, dan tanggung jawab kepada orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Ketika suatu urusan diserahkan kepada pihak yang tidak memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai, potensi munculnya kesalahan, ketidakadilan, serta kerusakan dalam sebuah sistem menjadi semakin besar.

Karena itu, memilih seseorang untuk menjalankan suatu tugas seharusnya tidak semata-mata didasarkan pada kedekatan, kepentingan, atau pertimbangan pribadi. Kompetensi, integritas, tanggung jawab, dan kemampuan menjalankan tugas harus menjadi pertimbangan utama.

Sikap Rasulullah Saw. yang menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan menunjukkan adab dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak mengabaikan orang yang bertanya, tetapi juga tidak mengorbankan hak para sahabat yang sedang mendengarkan penjelasan beliau.

Setelah menyelesaikan pembicaraannya, Rasulullah Saw. kembali kepada penanya dan memberikan jawaban dengan penuh kelembutan serta kebijaksanaan.
Hal ini menjadi teladan bahwa dalam menjalankan amanah, seseorang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan, tetapi juga harus memiliki adab, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Penyia-nyiaan amanah tidak hanya berdampak kepada individu, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Ketika jabatan dan tanggung jawab tidak lagi diberikan berdasarkan kompetensi dan integritas, maka kualitas pelayanan dan pengambilan keputusan dapat mengalami kemunduran.

Dalam kondisi demikian, orang yang tidak memiliki kemampuan dapat memperoleh kepercayaan, sementara mereka yang memiliki kompetensi dan integritas justru tidak mendapatkan ruang yang semestinya.
Pada akhirnya, persoalan amanah bukan hanya tentang siapa yang memegang jabatan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tanggung jawab diberikan dan dijalankan.

Sebagai insan yang beriman, setiap tugas dan peran yang kita jalani, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan kesehatan, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat, merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, hadis Rasulullah ﷺ tersebut layak menjadi cermin bagi kita semua. Amanah harus diberikan kepada orang yang tepat, kepada mereka yang memiliki kemampuan dan integritas untuk menjalankannya.

Mari senantiasa mengasah kompetensi, bekerja secara profesional, menjaga kejujuran, dan menjalankan setiap tanggung jawab dengan penuh kesungguhan.
Sebab, menjaga amanah bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah tugas, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT.

13/08/2026

BUKAN SEKADAR BERLARI. MENJAGA YANG KITA CINTAI
Oleh : Ahmad Fajar Inhadl

Ada banyak cara untuk menunjukkan bahwa kita peduli. Ada yang memberikan tenaga, pikiran, waktu, dan ada p**a yang mengambil langkah sederhana untuk ikut menjaga sesuatu yang kita cintai.

Karena itu, "Running 4 Health" tidak boleh hanya kita lihat sebagai kegiatan olahraga. Di balik setiap langkah, ada pesan tentang kepedulian terhadap tempat kita bekerja dan mengabdikan diri.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; satu sama lain saling menguatkan.”, (HR. Bukhari dan Muslim).

RSI Sultan Hadlirin bukan sekadar gedung tempat kita bekerja. Di dalamnya ada pasien yang berharap kesembuhan, keluarga yang menitipkan orang tercinta, dan ada lebih dari seribu kehidupan yang ikut bergantung pada keberlangsungannya.

Karena itu, menjaga RSI bukan hanya tugas pimpinan. Menjaga RSI adalah bagian dari amanah kita bersama.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Ada yang berkontribusi melalui pelayanan, kedisiplinan, gagasan, efisiensi, keramahan, menjaga nama baik institusi, dan ada yang ikut menyemarakkan kegiatan seperti "Running 4 Health".

Yang penting bukan seberapa besar kontribusi kita, tetapi apakah kita bersedia mengambil bagian.

Sebab "Apa yang kita cintai, pasti akan kita jaga."

Dan semangat "Go The Extra Mile" bukan hanya tentang berlari lebih jauh. Ia adalah keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang bisa saya lakukan agar RSI menjadi lebih baik karena saya pernah berada di dalamnya?”

Maka mari kita berlari.
Bukan sekadar mengejar garis finis.
Bukan sekadar mengejar medali.

Tetapi sebagai simbol bahwa kita peduli, kita memiliki, dan kita ingin melihat RSI terus tumbuh dan memberikan manfaat.

Semoga setiap langkah menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah, menguatkan kebersamaan, dan menghadirkan RSI yang kini lebih baik, dan terus bertumbuh menjadi lebih baik.

"Running 4 Health" Bukan Sekadar Berlari. Tetapi Menjaga yang Kita Cintai."

Semoga Allah mudahkan setiap ikhtiar kita.

Ikhtiar menjaga amanah tubuh sehat ada di tautan berikut : https://rsijepara.com/eventrsi/running






11/08/2026

Tiga Jalan Menuju Kemuliaan: Menyelaraskan Hati, Lisan, dan Raga

Setiap manusia terlahir membawa potensi kemuliaan yang luar biasa. Namun, kemuliaan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi takhta atau seberapa menumpuk harta, melainkan dari bagaimana seseorang mengelola tiga instrumen utama dalam dirinya.

Sebagaimana dirangkum indah dalam untaian hikmah klasik yang kerap dirujuk dalam literatur penyucian jiwa seperti kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi raga manusia terdiri dari tiga bagian vital yang masing-masing dianugerahi kehormatan khusus oleh Allah SWT: hati, lisan, dan anggota badan.

1. Hati yang Mengenal dan Mengesakan (Al-Qalbu)
Hati adalah raja dan poros utama dari seluruh kehidupan seorang hamba. Kemuliaan tertinggi sebuah hati tercapai ketika ia dihidupkan dengan ma’rifatullah (mengenal Allah) dan tauhid (mengesakan-Nya).

Hati merupakan rumah bagi rasa ikhlas, tawakal, harapan (raja’), serta rasa takut yang mendalam (khauf) hanya kepada Sang Pencipta. Ketika hati berhasil mengenal Rabbya, ia menjadi tenang, tidak mudah digoyahkan oleh perhiasan duniawi, dan menjadi fondasi kokoh bagi seluruh amalan fisik.

2. Lisan yang Basah dengan Kebaikan (Al-Lisan)
Lisan adalah penerjemah dari apa yang bersemayam di dalam dada. Ia menjadi mulia bukan karena kelihaian memenangkan perdebatan, melainkan saat dibasahi dengan dzikir, melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, dan merangkai tutur kata yang menyejukkan.

Lisan yang terjaga adalah lisan yang aktif menyampaikan kebenaran, menyebarkan kedamaian, memberi nasihat kebajikan, serta mampu menahan diri dari ghibah dan kebohongan. Mengendalikan lisan adalah cerminan dari kematangan agama seseorang.

3. Anggota Badan yang Bergerak Mewujudkan Taat (Al-Jawarih)
Keyakinan di dalam hati dan ucapan yang manis di lisan belum cukup tanpa pembuktian nyata. Tangan, kaki, mata, dan telinga memperoleh kemuliaan saat digerakkan dalam ketaatan ibadah dan melayani sesama hamba Allah (khidmatul 'ibad).

Setiap langkah kaki menuju majelis ilmu, setiap uluran tangan untuk meringankan beban orang lain, dan setiap indra yang dijaga dari maksiat adalah bentuk rasa syukur atas raga yang diamanahkan.

Kesempurnaan iman seseorang tidak dicapai secara parsial. Hati dipatok untuk mengenal (lil-ma'rifah), lisan dituntun untuk mengingat (lidz-dzikr), dan anggota badan digerakkan untuk menaati (lith-tha'ah). Ketika ketiga instrumen ini berpadu secara selaras, lahirlah sosok mukmin sejati: pribadi yang anggun dalam hubungannya dengan Allah (hablum minallah) sekaligus membawa keberkahan nyata bagi kehidupan bermasyarakat (hablum minannas).

07/08/2026

PACE, PELUH, dan PAHALA
Oleh: Ahmad Fajar Inhadl

Senyum sumringah dan deru roda yang berputar dalam kemeriahan GOWES Anak Sultan beberapa waktu lalu rasanya masih terekam jelas di ingatan kita. Ratusan kayuhan pedal, tawa di sepanjang rute, dan kebersamaan yang hangat adalah bukti betapa indahnya ketika olahraga menyatukan kita dalam energi positif.

Namun, mengayuh pedal sepeda—sebagaimana melangkah dalam kehidupan—bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Di depan kita, sebuah garis tantangan baru sudah melambai: Running for Health (13 September 2026).

Mengapa kita begitu bersemangat menjaga kebugaran fisik ini?

Sebab dalam Islam, tubuh sehat bukanlah sekadar tren gaya hidup, melainkan sebuah amanah teologis. Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa mukmin yang kuat dan sehat jauh lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kuat hatinya, kuat imannya, dan tentu saja kuat fisiknya agar tak mudah menyerah saat berkhidmah.

Rasulullah SAW juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hak-hak tubuh melalui sabda beliau kepada Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA: "Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu yang wajib engkau penuhi." (HR. Bukhari)

Menjaga kebugaran dengan berolahraga adalah cara kita memenuhi "hak tubuh" tersebut agar tidak cepat ringkih dimakan usia.

Inspirasi dari Teladan Para Ulama
Jika kita menengok sejarah, para ulama besar terdahulu bukanlah sosok yang hanya berdiam diri di atas sajadah atau di balik meja kitab. Mereka adalah pribadi yang sangat memperhatikan kekuatan fisik dan kebugaran tubuh demi menopang perjuangan ilmu.

Imam Asy-Syafi'i dan Seni Memanah: Sang mahaguru mazhab ini tidak hanya jenius dalam ilmu fikih, tetapi juga seorang pemanah ulung yang sangat tangkas. Beliau membiasakan latihan fisik sejak muda hingga dalam sebuah riwayat disebutkan, dari 10 anak panah yang dilepaskan Imam Asy-Syafi'i, hampir semuanya tepat sasaran. Beliau paham betul bahwa ketajaman berpikir harus ditopang oleh kebugaran fisik.

Imam Ibnul Qayyim dan Olahraga Fisik: Dalam kitab fenomenal beliau, At-Thibbun Nabawi (Pengobatan Cara Nabi), Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah secara khusus membahas pentingnya olah gerak tubuh. Beliau menjelaskan bahwa olahraga yang teratur dapat menguatkan organ, memperlancar aliran darah, dan menyegarkan jiwa. Beliau menegaskan bahwa setiap anggota tubuh yang terbiasa dilatih akan tumbuh kuat dan terhindar dari penyakit.

Kisah Ulama Sepuh yang Tetap Bugar: Dikisahkan tentang seorang ulama syekh yang sudah berusia di atas 80 tahun, namun masih sangat lincah, sanggup melompati parit, dan berjalan jauh tanpa lelah. Ketika murid-muridnya bertanya apa rahasianya, beliau tersenyum dan menjawab: "Anggota tubuh ini selalu kami jaga dari perbuatan maksiat di masa muda, maka Allah menjaganya untuk tetap kuat hingga masa tua kami."

Pelajaran Spiritual dari Running
Ada pelajaran spiritual yang sangat indah dari filosofi berlari (running):

Tentang Istikamah (Consistency of Pace): Di lintasan lari, pemenang sejati bukanlah dia yang melesat paling kencang di awal lalu tumbang di pertengahan rute. Pemenang adalah dia yang tahu mengukur kemampuan, menjaga pace (irama langkah), dan konsisten hingga garis finish. Bukankah ini cerminan dari ibadah kita? Allah sangat mencintai amalan yang istikamah meskipun sederhana.

Fokus pada Lintasan Sendiri: Saat berlari bersama ribuan peserta, kita tidak disibukkan untuk menjatuhkan atau iri pada langkah orang lain. Kita berjuang menaklukkan rasa lelah dan batasan diri sendiri. Begitu p**a dalam kehidupan, fokuslah membenahi diri (fastabiqul khairat), bukan sibuk membandingkan takdir kita dengan orang lain.

Niat yang Menjelmakan Keringat Menjadi Pahala: Kaidah fikih mengajarkan al-umuuru bi maqaasidihaa—setiap hal tergantung pada niatnya. Jika langkah lari kita pada 13 September nanti diniatkan untuk menjaga amanah tubuh pemberian Allah, menyebarkan syiar hidup sehat, dan mempererat tali silaturahmi, maka setiap tetes keringat yang jatuh akan bernilai ibadah.

Mari kita jaga api semangat dari perayaan Gowes kemarin untuk menyongsong Running for Health, 13 September 2026 mendatang.

Siapkan fisik kita, luruskan niat di dada, dan mari kita melangkah bersama menuju hidup yang lebih sehat, segar, dan penuh berkah. Sampai jumpa di garis start!

Ikhtiar menjaga amanah tubuh sehat ada di tautan berikut : https://rsijepara.com/eventrsi/running






05/08/2026

AKAL SEHAT DAN WAKTU

Oleh: Ust. Khoirul Manan

Kesibukan seseorang bukan berarti menghabiskan seluruh waktunya pada pekerjaan yang sedang dihadapi. Justru orang yang berakal adalah mereka yang mampu mengatur dan membagi waktunya secara seimbang, berpindah dari satu aktivitas yang bermanfaat menuju aktivitas bermanfaat lainnya.

Dalam Kitab Kasyifatus Saja' halaman 10 dijelaskan bahwa seseorang yang berakal hendaknya mampu membagi waktunya sesuai dengan porsinya, yaitu waktu untuk bermunajat dan beribadah kepada Allah Swt., waktu untuk muhasabah (introspeksi diri), waktu untuk memikirkan ciptaan Allah Swt., serta waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti bekerja, makan, dan minum.

Di era modern, menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah yang Allah titipkan kepada setiap manusia. Tubuh yang sehat akan memudahkan seseorang beribadah, bekerja, mengabdi kepada keluarga, serta memberikan manfaat bagi sesama.

Semangat inilah yang juga dihadirkan dalam Event "Gowes Sultan" HUT ke-37 RSI Sultan Hadlirin Jepara. Bersepeda bersama bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi menjadi wujud bagaimana manusia mengelola waktunya untuk menjaga kesehatan, mempererat silaturahmi, sekaligus mensyukuri nikmat tubuh yang sehat. Ketika waktu dimanfaatkan untuk aktivitas yang menyehatkan jasmani dan rohani, maka waktu tersebut menjadi bagian dari amal yang bernilai.

Modal dasar manusia yang berakal adalah memahami apa yang dibutuhkan pada zamannya. Di tengah kesibukan bekerja, meluangkan waktu untuk berolahraga, menjaga kebugaran, dan membangun kebersamaan bukanlah pemborosan waktu, melainkan investasi agar tetap produktif dalam menjalankan amanah kehidupan.

Jangan sampai waktu berlalu begitu saja tanpa menghasilkan manfaat. Sebab kesempatan berbuat baik tidak akan datang dua kali. Habisnya waktu tanpa amal yang bernilai adalah kerugian yang kelak akan disesali.

Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-'Ashr:

وَالْعَصْرِۙ

"Demi masa."

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

"Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian."

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

"Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3).

Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengelola waktu dengan bijaksana, menyeimbangkan ibadah, pekerjaan, keluarga, serta menjaga kesehatan. Karena tubuh yang sehat, hati yang bersih, dan waktu yang dimanfaatkan dengan baik adalah bekal untuk menggapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat.





25/07/2026

CINTA SELALU MELAHIRKAN PENGORBANAN
"Yang Sulit Bukan Berkorban, Tetapi Mencintai".

Ada sebuah kenyataan yang hampir tidak pernah berubah dalam kehidupan manusia. Yaitu kita selalu bersedia berkorban untuk sesuatu yang kita cintai.

Seorang ayah rela bekerja sejak pagi hingga malam demi keluarganya. Seorang ibu dengan tulus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanannya demi anak-anaknya. Seorang penuntut ilmu rela begadang berjam-jam demi memahami satu persoalan. Tidak sedikit p**a orang yang rela menempuh perjalanan jauh, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, atau mengorbankan kepentingan pribadinya demi sesuatu yang benar-benar memiliki tempat di hatinya.

Mengapa semua itu terasa ringan?. Karena cinta memiliki kemampuan mengubah pengorbanan menjadi kebahagiaan.

Sebaliknya, sesuatu yang tidak kita cintai akan selalu terasa berat. Sedikit pengorbanan terasa besar. Sedikit kesulitan menjadi alasan untuk berhenti. Bahkan sesuatu yang sebenarnya mampu kita lakukan pun terasa sulit karena hati belum benar-benar hadir di dalamnya.

Barangkali karena itulah Allah Swt. berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, sungguh Allah Maha Mengetahuinya.", (TQS. Ali 'Imran: 92)

Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar berbicara tentang harta. Ayat ini mengajarkan bahwa jalan menuju al-birr—kebaikan yang sempurna—selalu menuntut kesediaan untuk memberikan sesuatu yang bernilai dalam hati kita. Pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan bukti dari apa yang benar-benar kita cintai.

Rasulullah Muhammad saw. juga menempatkan cinta sebagai fondasi keimanan. Beliau bersabda: "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.", (HR. Bukhari dan Muslim).

Perhatikan bahwa Rasulullah saw. tidak memulai dengan perintah berkorban. Beliau memulai dengan membangun cinta. Sebab ketika cinta telah tumbuh, pengorbanan akan mengalir dengan sendirinya. Orang yang mencintai Allah akan ringan menjalankan perintahNya. Orang yang mencintai Rasulullah saw. akan berusaha meneladani akhlaknya. Demikian p**a orang yang mencintai amanahnya akan memberikan yang terbaik, meskipun tidak selalu ada yang melihat atau memuji.

Dalam khazanah Islam dikenal sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Yahya bin Abi Katsir: "Ilmu tidak akan diperoleh dengan badan yang dimanjakan."

Ungkapan ini mengingatkan bahwa setiap kemuliaan selalu memiliki harga. Tidak ada ilmu tanpa kesungguhan, tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan, dan tidak ada pengabdian yang bernilai tanpa keikhlasan.

Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah, "Seberapa besar pengorbanan yang harus saya lakukan?" Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, "Apa yang benar-benar saya cintai?".

Sebab hati akan selalu menemukan jalan untuk sesuatu yang dicintainya. Sebaliknya, hati juga sangat pandai menemukan alasan untuk sesuatu yang belum dicintainya.

Dalam dunia pelayanan, pertanyaan ini menjadi sangat penting. Rumah sakit bukan sekadar tempat kita mencari nafkah. Ia adalah tempat orang-orang datang membawa rasa sakit, kecemasan, dan harapan. Di balik setiap pintu ruang perawatan ada keluarga yang sedang berdoa agar orang yang mereka cintai segera sembuh. Di balik setiap senyum yang kita berikan, ada hati yang sedang mencari ketenangan.

Maka ketika kita memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sebagian dari kenyamanan kita untuk menghadirkan pelayanan terbaik, sesungguhnya kita sedang menghadirkan kasih sayang Allah kepada sesama manusia. Pengorbanan itu tidak pernah sia-sia, karena setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan kembali kepada pelakunya sebagai pahala yang terus mengalir.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pengorbanan. Jangan melihatnya sebagai beban yang mengurangi apa yang kita miliki. Lihatlah ia sebagai kesempatan untuk membuktikan apa yang benar-benar memenuhi hati kita.

Jika kita mencintai Allah, maka kita akan rela berkorban demi ridhaNya. Jika kita mencintai Rasulullah saw., kita akan berusaha meneladani akhlaknya dalam melayani manusia. Dan jika kita mencintai amanah yang Allah titipkan kepada kita, maka kita tidak akan berhitung hanya dengan apa yang kita terima, tetapi juga dengan apa yang dapat kita berikan.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita simpan untuk diri sendiri, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan bagi orang lain.

Mari bertanya kepada diri kita masing-masing, bukan dengan nada menghakimi, tetapi dengan kerendahan hati:

"Apakah saya sudah benar-benar mencintai amanah yang Allah percayakan kepada saya?".

Karena ketika cinta telah tumbuh, pengorbanan tidak lagi terasa sebagai kehilangan. Ia berubah menjadi kehormatan. Dari cintalah lahir keikhlasan, dan dari keikhlasan itulah tumbuh pengabdian yang menghadirkan keberkahan bagi banyak orang.

Semoga Allah menanamkan dalam hati kita cinta kepada-Nya, cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada setiap amanah yang dipercayakan kepada kita, serta menjadikan setiap pengorbanan sebagai jalan menuju ridha dan kasih sayang-Nya.






Address

RSI Sultan Hadlirin
Jepara
59431

Telephone

+85229967308

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Bimbingan & Pelayanan Islam RSI Jepara:

Shortcuts

Share

Category