10/07/2017
"Perlunya Sikap Moderat dalam Kehidupan"
Intisari Khutbah Jum'at Masjid Ulul Albab Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya
Oleh:
Dr. KH. Abdussalam Nawawi, M.Ag
(Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel)
Dalam surat al-Baqarah, ayat 143, Allah SWT berfirman yang artinya: Dan demikian (p**a) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang moderat; agar kiranya kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Kata “Ummatan Wasathan” dalam ayat ini menggambarkan agar kiranya kita semua, selaku umat Nabi Muhammad Saw., senantiasa mengembangkan pola kehidupan yang moderat; baik ucapan, pikiran maupun tindakan. Moderat bisa dimaknai segala bentuk tindakan dan ucapan yang sesuai dengan takaran, proporsional, tidak overdosis alias berlebihan, dan tidak ekstrim. Dan contoh terbaik kehidupan moderat dalam semua lini dan praktik sepanjang masa adalah Nabi -Agung- Muhammad.
Dalam salah satu kesempatan Nabi mengatakan: min husni Islamil mar’i tarkuhu ma ya’nihi, di antara hal yang memastikan keislaman seseorang baik adalah meninggalkan hal-hal yang tidak memberikan kemanfaatan. Maka, aspek manfaat sangat penting dalam kehidupan, sehingga kita tidak perlu bertindak berlebihan, kasar dan overdosis. Cukuplah, kita terus mengembangkan prinsip-prinsip kemanfatan kepada yang lain, termasuk pada dirinya sendiri.
Banyak riwayat yang menjelaskan tentang moderasi yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat, komunitas non Muslim hingga seluruh jagat alam semesta ini, sepanjang hidup beliau.
Salah satunya, teguran nabi kepada Sahabat Umar ibn Khattab agar tidak berlebihan dalam bertindak. Diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad mempunyai hutang kepada Zaid, yang beragama Yahudi, yakni 80 kilogram kurma dengan perjanjian membayar dengan tempo yang telah disepakati. Hutang ini sengaja dilakukan oleh Nabi untuk diberikan kepada salah satu Kampung yang masyarakatnya masuk Islam secara kolektif, sementara di bait al-maal kosong tidak ada barang yang akan diberikan. Namun, sayang sekali Zaid menagih utangnya dengan keras dan memaksa sambil memegang keras salah satu anggota tubuh Nabi, padahal waktu menagih utangnya belum jatuh tempo sesuai dengan kesepakatan awal.
Karena prilaku kasar Zaid kepada Nabi nampak di depan Umar dan ia melihatnya, sepontan Umar marah besar sambil mengayunkan pedang untuk mengancam Zaid. Atas tindakan Zaid ini, Nabi mengatakan kepada Umar agar menyudahi amarahnya: lebih baik anda suruh Zaid berkata dan bertindak yang baik, tidak perlu mengumbar amarah. Atas sarannya, pedang dimasukkan kembali oleh Umar. Dan umar akhirnya, mengambilkan barang di bait al-maal untuk membayar hutang ke Zaid dengan jumlah yang sama, 80 kilogram kurma. Hanya saja, Nabi berpesan agar Umar menambahi 2 shak kurma sebagai ganti atas amarah Umar kepada Zaid. Sungguh menyejukkan, layak direnungkan.
Cerita ini menggambarkan bahwa sikap proporsional, moderat dan tidak berlebihan sangatlah penting dalam kehidupan kita. Betapa teguran Nabi kepada Umar, menggambarkan sikap Umar mengangkat pedang untuk mengancam Zaid adalah tindakan berlebihan.
Sama dengan cerita, orang Araby (Ndeso) yang masuk masjid Nabi, terus kencing sambil berdiri di area masjid. Para sahabat merespon keras dengan amarah, tapi Nabi membiarkan. Bahkan, Nabi mengatakan: biarkan dan tinggalkan dia. Lantas sucikan tempat najis itu. Soal kencing ini, menarik. Nabi mengajarkan untuk “Tidak perlu mudah emosi (mudah terbakar amarah), mengusir apalagi memukul”. Bisa dibayangkan, bila para sahabat marah dan mengusir terlebih memukul, maka mudharatnya akan nampak lebih besar. Misalnya, najis akan melebar ke mana-mana dan orang Araby itu akan memiliki dendam sesumat dalam benaknya. Inilah yang kemudian pesan Nabi memiliki momentumnya: innama buithtum muyassirina, wala tub’athu mu’sirina (sesungguhnya kamu semua diutus untuk memberikan kemudahan, bukan malah memberikan kesulitan).
Pada akhirnya, dunia dengan segala isi dijadikan oleh Allah SWT. dalam visi keseimbangan. Karenanya, segala tindakan kita yang berlebihan, ekstrim dan mudah mengumbar amarah kepada sesama dipastikan akan merusakan tatanan semesta yang imbang ini hingga jatuh dalam kerusakan dan keniscataan tanpa makna (ma la ya’nihi).
Oleh karenanya, kita memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk senantiasa istiqamah menghadirkan kehidupan ini dengan pola tingkah dan ucap yang moderat dan tidak ekstrim kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim sebab Allah mengajarkan: bahwa DiriNya memulyakan anak cucu Adam, tanpa ada perbedaan sedikitpun. Amin ya Rabbal ‘alamin.
PERLUNYA SIKAP MODERAT DALAM KEHIDUPAN
Dr. KH. Abdussalam Nawawi, M.Ag (Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel) Dalam surat al-Baqarah, ayat 143, Allah SWT berfirman yang artinya: Dan...
PESMA.UINSBY.AC.ID