25/09/2025
Apakah Proses Drilling yang Dilakukan oleh PT Chevron di Gunung Halimun Bogor Menjadi Penyebab Gempa Bumi Beberapa Hari Lalu?
Beberapa hari terakhir masyarakat di wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya dihebohkan oleh kejadian gempa bumi yang terasa cukup keras dibeberapa wilayah. Gempa ini terjadi berkali-kali yang telah tergolong sebagai swarm earthquake karena terjadi diwaktu yang cukup rapat di satu wilayah saja. Rangkaian gempa ini disebabkan oleh aktivitas Sesar Bayah-Salak Segmen Cianten yang melintang dari wilayah Bayah hingga Kabupaten Bogor. Tapi walaupun sudah dijelaskan penyebab gempa adalah sesar Cianten, warga sekitar sana lebih percaya kalau sumber gempa tersebut disebabkan oleh aktivitas Drilling PT Chevron.
Asumsi liar yang sudah dipercayai ini muncul karena di area tersebut terdapat kegiatan drilling panas bumi yang dulu dikelola oleh PT Chevron (melalui unit Chevron Geothermal Salak) dan kini dikelola oleh pihak lain. Dugaan ini diklaim Masyarakat menjadi penyebab rangkaian gempa tersebut. Padahal untuk memahami klaim ini, perlu melihat kondisi lapangan, fakta ilmiah, dan analisis yang cukup membutuhkan waktu.
Sejak awal 1990an kawasan sekitar Gunung Salak dan Gunung Halimun memang menjadi salah satu lokasi proyek panas bumi terbesar di Jawa Barat. Pada tahun 1994, PT Chevron melalui anak usahanya mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Salak. Setelah beberapa kali peralihan kepemilikan, kini proyek tersebut dikelola oleh Star Energy. Pengeboran sumur produksi, sumur injeksi, dan sumur pemantauan sudah berlangsung puluhan tahun dan diatur ketat oleh regulasi lingkungan dan energi. Dengan kata lain, aktivitas pengeboran di kawasan ini bukanlah hal baru dan telah lama menjadi bagian dari operasi panas bumi.
Secara teori, kegiatan manusia di bawah permukaan seperti injeksi fluida, fracking, termasuk drilling memang dapat memicu “induced seismicity” atau gempa yang dipicu aktivitas manusia. Namun, gempa yang dipicu manusia umumnya berukuran kecil dan tidak dirasakan secara luas. Pernah berada disekitar kegiatan yang lagi menanam tiang pancang? Nah getarannya seperti itu.
Untuk gempa di Bogor yang baru-baru ini terjadi, hingga saat ini tidak ada laporan resmi maupun publikasi ilmiah yang menyebutkan bahwa aktivitas pengeboran PT Chevron atau proyek panas bumi di Gunung Halimun secara langsung menjadi penyebabnya. Tim Geologi Star Energy menegaskan gempa tidak terkait aktivitas pengeboran. “Kami sudah 30 tahun beroperasi di Salak. Ini murni fenomena alam. Jika ada potensi bahaya, tentu kami yang pertama memberi tahu warga,” jelasnya. BMKG juga menegaskan bahwa berdasarkan data seismograf yang dipasang sejak beberapa bulan lalu, gempa yang terjadi dan menimbulkan perhatian masyarakat berasal dari aktivitas sesar aktif (sesar Cianten).
Untuk bisa menyimpulkan bahwa pengeboran panas bumi memicu gempa, ilmuwan perlu menganalisis data seismik lokal untuk mengetahui mekanisme sumber gempa dan kedalamannya, memodelkan perubahan tekanan fluida bawah tanah di sekitar sumur aktif, serta melihat korelasi ruang dan waktu antara aktivitas pengeboran atau injeksi dengan kejadian gempa. Tanpa data itu, pernyataan semacam “drilling menyebabkan gempa” hanya sebatas dugaan. Dalam kasus pengeboran panas bumi di Gunung Halimun itu sudah berlangsung lama, sehingga kalaupun ada efek terhadap seismisitas lokal, mestinya sudah terdeteksi sejak dulu.
Dengan demikian, berdasarkan informasi dan sumber terpercaya saat ini, tidak ada bukti yang kuat bahwa gempa bumi beberapa hari lalu di Bogor atau Gunung Halimun disebabkan oleh proses drilling yang dilakukan PT Chevron. Dugaan semacam itu lebih tepat disebut sebagai hipotesis yang belum terbukti. Penelitian lebih lanjut tentu tetap penting dilakukan agar masyarakat memperoleh kepastian berbasis data ilmiah, tetapi hingga ada temuan resmi yang dipublikasikan, gempa tersebut sebaiknya dipahami sebagai fenomena tektonik alamiah yang wajar terjadi di daerah dengan sesar aktif seperti Jawa Barat.
Salam