31/08/2026
SEJARAH KERAJAAN MATARAM ISLAM ( FINAL PART )
π£ . PERANG SUKSESI JAWA
Setelah itu Mataram terus mengalami konflik internal.
VOC semakin dalam mencampuri politik kerajaan.
Muncullah serangkaian Perang Suksesi Jawa.
Perang Suksesi Jawa I
1704β1708
Konflik antara Amangkurat III dan Pakubuwono I.
VOC ikut campur.
Perang Suksesi Jawa II
1719β1723
Konflik semakin kompleks dan kembali melibatkan VOC.
Perang Suksesi Jawa III
1749β1757
Inilah yang akhirnya mengubah peta politik Jawa secara permanen.
---
π₯ PERJANJIAN GIYANTI β MATARAM TERBELAH
1755
VOC memanfaatkan konflik antara:
Pakubuwono III
dan
Pangeran Mangkubumi.
Melalui Perjanjian Giyanti, Mataram dibagi menjadi dua kekuatan utama:
π’ Kasunanan Surakarta
Dipimpin:
Pakubuwono III
π΅ Kesultanan Yogyakarta
Dipimpin:
Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi:
Sri Sultan Hamengkubuwono I.
Jadi kalau kita membuat garis keturunannya secara politik:
Demak
β
Pajang
β
Mataram Islam
β
Perjanjian Giyanti 1755
βοΈγγγγγγγγγβοΈ
Surakartaγγγ Yogyakarta
Tetapi belum selesai.
---
βοΈ 9. MANGKUNEGARAN
Pada 1757 muncul penyelesaian berikutnya melalui Perjanjian Salatiga.
Raden Mas Said, yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa, memperoleh wilayah kekuasaan sendiri.
Lahir:
Kadipaten Mangkunegaran
Dengan penguasa:
Mangkunegara I
Sehingga peta politik Jawa menjadi semakin kompleks:
Kasunanan Surakarta
Kesultanan Yogyakarta
Kadipaten Mangkunegaran
Kemudian pada 1813 muncul satu lagi:
Pakualaman
Dipimpin Paku Alam I.
---
πΊοΈ JADI, BAGAIMANA PETA AKHIRNYA?
Secara sederhana:
DEMAK
β
β
PAJANG
β
β
MATARAM ISLAM
β
ββββββββββ΄βββββββββ
β β
Perpecahan 1755 β
β β
βββββββ΄ββββββ β
β β β
SURAKARTA YOGYAKARTA β
β β β
β β β
MANGKUNEGARAN PAKUALAMAN β
---
βͺοΈ LALU APA PERAN ISLAM DALAM POLITIK JAWA?
Ini justru bagian paling menarik.
Islam di Jawa tidak sekadar menjadi agama masyarakat.
Ia menjadi salah satu sumber legitimasi kekuasaan.
Ada setidaknya lima tahap penting.
1. Islamisasi kerajaan
Demak menggunakan identitas Islam untuk membangun legitimasi setelah kemunduran Majapahit.
2. Ulama menjadi aktor politik
Para ulama bukan hanya pendakwah.
Mereka terlibat dalam jaringan sosial, pendidikan, perdagangan dan legitimasi penguasa.
3. Sultan menjadi gelar politik
Mataram kemudian mengadopsi gelar Sultan, memperkuat identitas Islam kerajaan.
4. Islam berakulturasi dengan budaya Jawa
Muncul perpaduan:
syariat + tradisi Jawa + budaya keraton.
Contohnya kalender Jawa-Islam Sultan Agung.
5. Setelah kolonialisme menguat
VOC kemudian memainkan politik kerajaan:
> pecah, dukung salah satu pihak, lalu minta konsesi sebagai imbalan.
Ini membuat konflik internal kerajaan Jawa menjadi semakin mudah dimanfaatkan.
---
π₯ SATU HAL YANG SERING TERLEWAT
Kalau kita melihat sejarah ini hanya sebagai:
> Demak β Pajang β Mataram β Yogyakarta/Solo
kita kehilangan cerita besarnya.
Sesungguhnya ada perubahan model kekuasaan:
Demak:
βͺοΈ Islam + perdagangan + pesisir
β
Pajang:
βͺοΈ Islam + aristokrasi pedalaman
β
Mataram:
βͺοΈ Islam + konsep kerajaan Jawa + ekspansi militer
β
Mataram pasca-Sultan Agung:
βοΈ konflik suksesi + perebutan legitimasi
β
Abad ke-18:
π° VOC masuk sebagai "penengah" tetapi berubah menjadi kekuatan politik
β
1755:
π₯ Mataram terbelah
β
Surakarta & Yogyakarta:
π dua pusat kekuasaan Jawa yang tetap mempertahankan tradisi Islam-Jawa.
Dan di sinilah ironi sejarahnya:
Kerajaan-kerajaan Islam Jawa tidak runtuh terutama karena satu perang besar dengan bangsa Eropa.
Mereka justru terkikis sedikit demi sedikit melalui konflik internal, perebutan takhta, dan keterlibatan VOC dalam perang saudara.
Pelajaran politiknya sangat kuat:
> Ketika elite lebih sibuk memenangkan perebutan kekuasaan daripada menjaga persatuan kerajaan, kekuatan asing tidak perlu merebut kerajaan itu dengan pedang. Cukup menjadi penengahβlalu perlahan menjadi pengendali.
Itulah salah satu kunci memahami mengapa dari Mataram yang pernah menjadi kekuatan dominan di Jawa, akhirnya lahir Surakarta dan Yogyakarta yang berada dalam bayang-bayang kekuasaan kolonial Belanda.