Taman Baca Sahabat Buku

Taman Baca Sahabat Buku Tempat Membaca Buku

MENTAL INFERIORPagi itu saya ingin menggerutu. Saat menghadiri acara di sebuah hotel, tiba-tiba perut terasa mulas, pert...
15/08/2024

MENTAL INFERIOR

Pagi itu saya ingin menggerutu. Saat menghadiri acara di sebuah hotel, tiba-tiba perut terasa mulas, pertanda ada sesuatu yang hendak dikeluarkan. Urusan menjadi rumit lantaran pada beberapa toilet yang coba saya masuki, tidak tampak kran ataupun penyemprot air untuk cebok. Jangan p**a pernah terpikir untuk menemukan ember beserta gayung bentuk love. Yang bertengger congkak di dinding kamar kecil itu justru segulung tisu rol. Kita orang Indonesia yang bertahun-tahun cebok menggunakan air, ketika berada di tempat yang konon merupakan wilayah beradab malah disuguhi kertas untuk menggosok lubang pantat seusai buang air besar. Apa sebenarnya yang ada di pikiran para perancang hotel atawa mall itu ketika mereka mendesain toilet?

Atas nama modernitas, kita rela membebek. Seolah segala yang berasal dari Barat adalah maju belaka. Sementara yang lokal dianggap primitif, kampungan, terbelakang. Penjajah memang sudah lama minggat. Namun mental inlander yang dibentuk selama tiga setengah abad kolonial rupanya telah melekat tak hendak lepas. Bangsa taklukan cenderung menjadi pengekor sang penakluk. Silau oleh peradaban barat, membuat kita menutup mata dan menelan bulat-bulat segala gaya hidup, pemikiran, pakaian, makanan, sampai dengan cara cebok sekalian.

Cobalah jalan-jalan ke tempat piknik di kota Anda, niscaya akan ketemu tempat wisata yang dengan norak memajang replika ikon Eropa, entah itu menara Eiffel ataupun kincir Belanda. Kadangkala tiruan patung Liberty serta merlion Singapura yang tampak kikuk, nongkrong menanti orang-orang yang keranjingan swafoto. Ornamen huruf-huruf berukuran raksasa dipajang di area dekat pintu masuk yang alih-alih menjadikan tampak keren, malah lebih kepada menimbulkan kesan janggal. Sebagian lagi tanpa sungkan melabeli diri sebagai “little Tokyo”, “Santorini-nya Jogja”, dan embel-embel lain seolah tidak cukup kalau hanya menyandang nama daerah yang asli. Ciri khas daerah yang justru jadi keunikan tersendiri, porak-poranda demi memenuhi selera rendah standar pendengung media sosial–bahwa tempat wisata haruslah instagrammable.

Mental inferior menyebabkan pengidapnya cenderung memuja berlebihan apa-apa yang berasal dari luar. Tak sadar bahwa dalam banyak hal, identitas diri tidak kalah bahkan pada beberapa kasus lebih maju ketimbang budaya Barat. Ada kisah menarik sewaktu berlangsung perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar. Seorang Youtuber asal Serbia, David Vujanic, menjadi viral setelah ia menceritakan pengalamannya di Twitter tentang aktifitas “cebok” selama berada di Qatar. Vujanic mengatakan bahwa "bokongnya sangat bersyukur" setelah menemukan bidet di toilet negara tuan rumah Piala Dunia 2022. "Sudah menggunakan bidet toilet di Qatar selama sebulan. Saya benar-benar ngeri kami hanya menggunakan tisu toilet di Inggris/Eropa. Ini adalah hal terbaik yang pernah ada," kicau influencer tersebut di akun Twitter-nya.

Beberapa media memuat celotehan Vujinic sambil menampilkan beberapa komentar tanggapan, "Eropa akhirnya keluar dari zaman kegelapan," timpal satu orang di Twitter, sementara yang lain berkomentar, "Butuh Piala Dunia bagi orang-orang untuk belajar cara mencuci pantat mereka."

Tentu saja, tak ada larangan bagi siapa pun yang berminat mengikuti cara Barat dalam bidang per-cebok-an, yakni dengan cebok pakai tisu. Tapi jangan p**a di masyarakat yang budaya ceboknya turun-temurun pakai air, ada toilet yang kering-kerontang. Bagi kami, sebersih apa pun cebok menggunakan tisu, tetap saja masih tersisa ada rasa lengket-lengket yang gimana gitu.

Merdeka!
***

27/04/2024

KEMENYELURUHAN

Sementara rapat resmi masih berlangsung, seorang peserta tampak sibuk menggeser-geserkan jempolnya pada layar ponsel. Ia demikian khusyu menonton video-video pendek pada sebuah platform media sosial. Tidak menunggu satu video tuntas, ia mengusap layar ke atas sehingga tampil video baru. Ia seolah sedang berada di alam yang berbeda dari aula tempat rapat yang ia ikuti.

Penyebarluasan akses internet membuat banjir informasi datang susul-menyusul. Manusia merasa seolah tertinggal laju zaman apabila tidak memelototi layar gawai barang satu hari.
Berbeda dengan buku yang memuat informasi menyeluruh dari awal hingga akhir. Internet lebih memilih menampilkan potongan-potongan kecil dari banyak informasi, lalu menyajikannya kepada pembaca (atau penonton?).

Orang menghabiskan banyak waktu untuk menonton reels instagram, short youtube, maupun video pendek di Tiktok berdurasi satu menit, mengunyah kepingan-kepingan informasi random dan berubah-ubah topik, dari mulai konten ceramah agama, debat capres, resep masakan, sampai teknik reproduksi manusia.

Celakanya, banyak orang yang setelah mengkonsumsi konten-konten pendek itu lantas merasa seakan baru mengalami semacam pencerahan. Lebih parah dari itu, merasa mengetahui segala. Sindrom Dunning-Kruger Effect merebak–orang yang tak tahu apa-apa justru merasa sebagai paling tahu. Akhirnya timbul kondisi matinya kepakaran sebagaimana dijabarkan Tom Nichols dalam bukunya: The Death of Expertise. Atau seperti kata Imam Al-Ghazali: rajulun la yadri walakinnahu la yadri fa innahu la yadri. Orang yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Kemenyeluruhan menjadi barang mahal dan langka. Sudah teramat jarang terlihat orang membaca buku di taman atau di ruang publik. Orang-orang membeli buku namun tak kunjung membaca isinya. Pun bila dibaca, ia tak selesai. Tontonan gawai dengan visualisasi warna-warni jauh lebih atraktif ketimbang deretan huruf-huruf pada lembaran kertas kusam. Bahkan dalam hal menonton video, orang enggan merampungkan mengikuti konten berdurasi lebih dari tiga puluh menit dan lebih rela menyambar tayangan tiga puluh detik.

Akibat dari fenomena ini tentu bisa ditebak, video-video pendek membuat orang yang mengkonsumsinya kehilangan komprehensivitas dalam berpikir. Pemahaman yang didapat merupakan pemahaman sepotong-sepotong yang bisa jadi melenceng jauh dari maksud ataupun tujuan sebenarnya. Dalam beberapa hal, misalnya ceramah pendakwah dan pernyataan tokoh politik, sengaja dipangkas oleh si pembuat konten supaya pesan yang ditangkap penonton bahkan berlawanan dengan isi pesan yang asli.

Tentang internet yang mendangkalkan pikiran, Nicholas Carr membahasnya panjang lebar dalam The Shallows–edisi terjemahan Indonesianya terbit sejak 2011. Ia menguraikan, bahwa membaca buku cetak membuat kita dapat memfokuskan perhatian, mendorong aktivitas berpikir mendalam dan kreatif. Sebaliknya, internet memaksa manusia menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca serba kilat dan cepat menelan informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam.

Begitulah. Dengan modal menonton Reels, Short, dan video Tiktok saban hari, orang sudah merasa cukup modal buat mengomentari segala hal. Aku berkomentar, maka aku ada!

***

Bergembira memperingati Isra Miraj bersama TBM Sahabat Buku.
08/02/2024

Bergembira memperingati Isra Miraj bersama TBM Sahabat Buku.

Yuk, belajar membersamai tumbuh kembang anak di TBM Sahabat Buku.
26/11/2023

Yuk, belajar membersamai tumbuh kembang anak di TBM Sahabat Buku.

"Buku apakah yang ketika dibaca, membuatmu terharu luar biasa?""Buku rekening."
13/09/2023

"Buku apakah yang ketika dibaca, membuatmu terharu luar biasa?"

"Buku rekening."

Selamat ulang tahun, Karawang.
13/09/2023

Selamat ulang tahun, Karawang.

Ingat, jangan mengganti kata "pada" menjadi "padahal" 😏
13/09/2023

Ingat, jangan mengganti kata "pada" menjadi "padahal" 😏


Punya buku-buku bacaan yang tidak terpakai? Ketimbang dipakai bungkus kacang, lebih bermanfaat kalau disumbangkan.
10/09/2023

Punya buku-buku bacaan yang tidak terpakai? Ketimbang dipakai bungkus kacang, lebih bermanfaat kalau disumbangkan.

MEMAHAMI KOMIKScott McCloudPernah ada masa ketika buku komik dianggap sebagai sesuatu yang nista. Sekolah melakukan razi...
26/08/2023

MEMAHAMI KOMIK
Scott McCloud

Pernah ada masa ketika buku komik dianggap sebagai sesuatu yang nista. Sekolah melakukan razia dan bila ada siswa kedapatan membawa barang tersebut, guru lekas menyitanya. Orang tua mengomeli anaknya habis-habisan, sebab si anak menggunakan uang jajannya untuk menyewa komik di tempat penyewaan. Membaca komik sama dengan menyia-nyiakan waktu. Ia dianggap berbahaya, bahkan menyebabkan anak-anak jadi bodoh.

Scott McCloud membuktikan bahwa semua anggapan itu keliru.
Disusun dalam bentuk panel-panel sebagaimana buku komik bergambar, Understanding Comics benar-benar menyajikan sesuatu yang sama sekali baru. Yang barangkali tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Dengan jenaka, ia mengupas sampai dengan landasan filsafat terdalam tentang komik.

Jika selama ini komik dianggap sebagai karya rendahan, maka tanyakanlah kepada setiap kutu buku yang Anda temui, bacaan apa yang mereka kunyah mandiri pertama kali? Sebagian besar akan menjawab komik, setidaknya cerita bergambar. Komik berfungsi sebagai jembatan yang mengantarkan seseorang menjadi pecandu buku kelas berat.

Jika Anda merasa merasa menyia-nyiakan waktu dengan membaca komik, niscaya anggapan itu akan berubah setelah membaca buku ini. Scott McCloud berhasil menjadikan cara pandang kita terhadap komik tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

***

Address

Perumnas Bumi Telukjambe Blok S No. 457
Karawang
41361

Telephone

+628972507307

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taman Baca Sahabat Buku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share