15/08/2024
MENTAL INFERIOR
Pagi itu saya ingin menggerutu. Saat menghadiri acara di sebuah hotel, tiba-tiba perut terasa mulas, pertanda ada sesuatu yang hendak dikeluarkan. Urusan menjadi rumit lantaran pada beberapa toilet yang coba saya masuki, tidak tampak kran ataupun penyemprot air untuk cebok. Jangan p**a pernah terpikir untuk menemukan ember beserta gayung bentuk love. Yang bertengger congkak di dinding kamar kecil itu justru segulung tisu rol. Kita orang Indonesia yang bertahun-tahun cebok menggunakan air, ketika berada di tempat yang konon merupakan wilayah beradab malah disuguhi kertas untuk menggosok lubang pantat seusai buang air besar. Apa sebenarnya yang ada di pikiran para perancang hotel atawa mall itu ketika mereka mendesain toilet?
Atas nama modernitas, kita rela membebek. Seolah segala yang berasal dari Barat adalah maju belaka. Sementara yang lokal dianggap primitif, kampungan, terbelakang. Penjajah memang sudah lama minggat. Namun mental inlander yang dibentuk selama tiga setengah abad kolonial rupanya telah melekat tak hendak lepas. Bangsa taklukan cenderung menjadi pengekor sang penakluk. Silau oleh peradaban barat, membuat kita menutup mata dan menelan bulat-bulat segala gaya hidup, pemikiran, pakaian, makanan, sampai dengan cara cebok sekalian.
Cobalah jalan-jalan ke tempat piknik di kota Anda, niscaya akan ketemu tempat wisata yang dengan norak memajang replika ikon Eropa, entah itu menara Eiffel ataupun kincir Belanda. Kadangkala tiruan patung Liberty serta merlion Singapura yang tampak kikuk, nongkrong menanti orang-orang yang keranjingan swafoto. Ornamen huruf-huruf berukuran raksasa dipajang di area dekat pintu masuk yang alih-alih menjadikan tampak keren, malah lebih kepada menimbulkan kesan janggal. Sebagian lagi tanpa sungkan melabeli diri sebagai “little Tokyo”, “Santorini-nya Jogja”, dan embel-embel lain seolah tidak cukup kalau hanya menyandang nama daerah yang asli. Ciri khas daerah yang justru jadi keunikan tersendiri, porak-poranda demi memenuhi selera rendah standar pendengung media sosial–bahwa tempat wisata haruslah instagrammable.
Mental inferior menyebabkan pengidapnya cenderung memuja berlebihan apa-apa yang berasal dari luar. Tak sadar bahwa dalam banyak hal, identitas diri tidak kalah bahkan pada beberapa kasus lebih maju ketimbang budaya Barat. Ada kisah menarik sewaktu berlangsung perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar. Seorang Youtuber asal Serbia, David Vujanic, menjadi viral setelah ia menceritakan pengalamannya di Twitter tentang aktifitas “cebok” selama berada di Qatar. Vujanic mengatakan bahwa "bokongnya sangat bersyukur" setelah menemukan bidet di toilet negara tuan rumah Piala Dunia 2022. "Sudah menggunakan bidet toilet di Qatar selama sebulan. Saya benar-benar ngeri kami hanya menggunakan tisu toilet di Inggris/Eropa. Ini adalah hal terbaik yang pernah ada," kicau influencer tersebut di akun Twitter-nya.
Beberapa media memuat celotehan Vujinic sambil menampilkan beberapa komentar tanggapan, "Eropa akhirnya keluar dari zaman kegelapan," timpal satu orang di Twitter, sementara yang lain berkomentar, "Butuh Piala Dunia bagi orang-orang untuk belajar cara mencuci pantat mereka."
Tentu saja, tak ada larangan bagi siapa pun yang berminat mengikuti cara Barat dalam bidang per-cebok-an, yakni dengan cebok pakai tisu. Tapi jangan p**a di masyarakat yang budaya ceboknya turun-temurun pakai air, ada toilet yang kering-kerontang. Bagi kami, sebersih apa pun cebok menggunakan tisu, tetap saja masih tersisa ada rasa lengket-lengket yang gimana gitu.
Merdeka!
***