01/09/2025
Senin, 1 September 2025
Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara Melalui Bidang Penyuluhan, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mengawal Swasembada Pangan Melalui Peningkatan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian” di Baros Farm House, Desa Tawainalu, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur. Kegiatan ini menghadirkan kurang lebih 100 orang peserta yang terdiri dari penyuluh pertanian se kabupaten kolaka timur, perwakilan Gapoktan dan Kelembagaan Ekonomi Petani.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Taufik, M.Si, dalam arahannya bahwa Swasembada pangan bukan hanya tentang ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan, keamanan dan keberlanjutan pasokan pangan bagi masyarkat. Terbentuknya Brigade Pangan di harapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, mewujudkan ekosistem agribisnis modern, serta menciptakan swasembada pangan nasional melalui pengelolaan lahan yang terstruktur dengan infrastruktur dan teknologi modern.
Kepala Dinas Tanaman pangan dan Peternakan Kolaka Timur Ridwan, SP.,M.Si juga turut hadir. beliau menekankan bahwa modernisasi pertanian membutuhkan dukungan listrik hingga ke sawah sebagai fondasi innovasi. Dalam jangka panjang, listrik di sawah membuka peluang penggunaan drone dan alat mesin pertanian canggih, sehingga menarik minat petani milenial. Contoh keberhasilan di Kecamatan Ladongi, di mana IP (Indeks Pertanaman) mencapai 2,50 melalui dukungan waduk yang memungkinkan dua kali tanam dan panen dalam satu tahun selama dua tahun terakhir. Di harapkan p**a bahwa di setiap desa terdapat satu penangkar.
Kepala Bidang Penyuluhan Distannak Sultra Dr. Mazhfia Umar, turut menyampaikan terkait Pembentukan dan Proses Bisnis Brigade Pangan untuk Mendukung Pertanian Modern Berbasis Padi di Lokasi Cetak Sawah Rakyat. Cetak sawah di Kolaka Timur tahun ini merupakan yang terbesar di Sulawesi Tenggara, yang menjadi lokasi pilot bagi Brigade Pangan, organisasi petani milenial yang dikelola oleh 15 anggota mengelola 150–200 ha lahan.
Pemanfaatan Gapoktan sebagai titik serah pupuk untuk memudahkan distribusi sarana produksi. Proses pembentukan Brigade Pangan ini meliputi rekrutmen petani berkomitmen, musyawarah pembentukan, usulan ke BPP dengan persetujuan kepala desa, Babinsa, dan Babinkamtibmas, serta pengajuan bantuan alsintan.
Keberhasilan brigade pangan sangat ditentukan pada proses rekrutmen. Bagaimana penyuluh selalu pendamping mampu mengenal petani yang berkarakter memiliki tanggung jawab, memegang teguh komitmen dan nilai nilai kejujuran Untuk mengelola brigade pangan.