23/03/2016
HUKUMAN (Punishment) YANG MENDIDIK UNTUK MEMOTIVASI BELAJAR SISWA
Seorang guru, pasti mengetahui pentingnya motivasi belajar dalam kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai pengelola proses belajar mengajar perlu mempertahankan semangat belajar siswa. Bukti-bukti menunjukkan bahwa siswa hanya giat belajar jika ia termotivasi untuk belajar. Dengan demikian maka guru perlu mengenal cara-cara untuk memotivasi belajar siswa agar pembelajaran tetap berlangsung seperti yang diinginkan guru.
Kenyataan pembelajaran di kelas, jarang sekali dijumpai siswa yang selalu tertib, diam, tidak ramai di setiap pelajaran. Apalagi pada mapel-mapel yang dianggap siswa mudah seperti mata pelajaran Biologi yang menganggap mudah karena hanya hafalan saja, lain dengan mata pelajaran matematika dan fisika, sehingga dengan anggapan seperti itu siswa dengan mudahnya mengabaikan saat pelajaran berlangsung. Terlihat pada jam-jam pelajaran ke-7 dan ke-8 jelas sekali siswa tidak lagi mempunyai motivasi belajar apalagi jika kemampuan guru dalam penguasaan kelas juga kurang, dapat dipastikan suasana KBM menjadi kacau, banyak aktivitas yang tidak berhubungan dengan akademis. Guru yang mengajar di kelas merasa kesulitan dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Karena tidak jarang dalam mengikuti pelajaran tidak pernah serius, maunya selalu bercanda, suasana kelas jadi ramai karena siswa bicara sendiri dan berlaku urakan. Jika salah satu siswa bicara salah, satu kelas kompak menyoraki dengan suara lantang “ huuuuuu…….”. Demikian juga jika ada siswa yang membuat kelucuan, pasti dengan serentak satu kelas tertawa terbahak-bahak, persis seperti ada pertunjukan badut. Guru yang mengajar selalu mengingatkan untuk tenang dan belajar dengan serius, mendengarkan pelajaran, bahkan di setiap pertemuan lebih dari 5 kali, sehingga lebih banyak waktu terbuang daripada waktu untuk pelajaran. Guru selalu mengingatkan untuk diam, tetapi diingatkan belum 10 menit sudah ramai lagi, sehingga setiap kali mengingatkan dengan tujuan agar siswa kembali diam dan tenang, dan kelas dapat berkonsentrasi lagi dalam pelajaran. Dan jika disuruh bertanya tentang pelajaran hampir semua siswa diam, diam disini bukan karena faham tetapi karena memang tidak tahu yang harus ditanyakan. Dan apabila ada salah satu siswa yang bertanya, siswa lain langsung menyoraki “huuu…’, padahal yang menyoraki kalau ditanya pasti juga diam.
Sebagai guru, tidak dapat begitu saja menyalahkan siswa, karena memang banyak faktor yang mempengaruhi dan jika guru terpaksa berbuat kasar terhadap siswa, menunjukkan kalau kita adalah guru yang gagal menjalankan pengelolaan pembelajaran secara professional. Dan pasti akan banyak kecaman terhadap profesi guru. Kekerasan oleh guru terhadap murid seperti kata pakar pendidikan Arief Rachman ”Guru hanya punya kesadaran mengajar, tetapi tidak punya kesadaran mendidik. Jika guru punya kesadaran mengajar, ketika bersikap tegas, harus disertai dengan kebijaksanaan,” kata Arief kepada Media Indonesia http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTI5MzU . Untuk menghadapi keadaan kacau / gaduh saat KBM atau agar siswa dapat termotivasi kembali dalam KBM, salah satunya guru dapat memberikan hukuman yang bersifat mendidik.
Hukuman yang bersifat mendidik yang dapat diberikan guru dapat dalam berbagai bentuk seperti; pengasingan, kecaman, sindiran ataupun teguran terhadap siswa. Hukuman yang guru berikan bertujuan untuk menunjukkan kesalahan siswa. Siswa yang mendapat hukuman dapat mengetahui kekeliruannya dan memperbaiki diri dalam pengalaman belajar selanjutnya. Motivasi belajar dapat timbul melalui hukuman yang tidak berlebihan dan diterapkan pada waktu yang tepat. Dalam hal ini yang terpenting ialah menunjukkan kepada siswa jalan keluar untuk mengatasi hukuman itu.
Bentuk hukuman mendidik yang paling sering digunakan guru adalah teguran. Teguran yang sesungguhnya merupakan hukuman juga, dan tidak akan dirasakan siswa sebagai hukuman jika disampaikan secara kekeluargaan dan cukup halus. Cara ini akan lebih efektif untuk memperbaiki kesalahan siswa, jika dibandingkan dengan sindiran ataupun kecaman keras. Hukuman dalam bentuk celaan sedapat mungkin dihindarkn guru, karena kemungkinan besar dapat menimbulkan rasa putus asa dalam diri siswa, sehingga motivasi belajarnya mati.
Selain teguran, hukuman yang mendidik dapat juga dengan cara pemberian tugas. Tugas-tugas yang diberikan guru hendaknya terjangkau oleh siswa, tidak terlalu sulit atau berat. Karena tugas-tugas yang terlalu sulit atau tidak sesuai dengan kemampuan siswa hanya menimbulkan motivasi belajar yang rendah pada diri siswa. Tugas yang diberikan guru sebagai hukuman yang mendidik biasanya diberikan saat siswa tidak mengerjakan PR, lupa membawa buku tugas, perbaikan nilai setelah remidi lebih dari 2 kali dan sebagainya. Sebagai guru harus dapat memberikan tugas pada saat atau keadaan yang tepat. Misalnya tidak mengerjakan PR, disuruh mengerjakan PR di luar kelas setelah selesai masuk kelas kembali menyerahkan PR nya, tidak di suruh keluar kelas selama 2 jam pelajaran tanpa diberi tugas mengerjakan PR, sehingga siswa keluyuran di luar kelas atau bahkan jajan di kantin sekolah. Atau kalau siswa lupa membawa buku tugas, tidak perlu siswa di suruh pulang ke rumah mengambil, suruh saja pinjam buku di perpustakan dan mengerjakan soal di selembar kertas.
Dalam pemberian tugas untuk mendidik, guru harus pandai-pandai membuat variasi tugas sehingga siswa tidak merasa bosan dengan tugas yang diberikan. Dan juga dalam pemberian tugas jangan terlalu sering ataupun terlalu jarang. Tugas yang terlalu sering membosankan siswa dan menimbulkan rasa ingin menghindarkan diri dari tugas-tugas tersebut. Sebaliknya tugas yang terlalu jarang diberikan akan menimbulkan kemalasan dalam memecahkan masalah, karena jarang mendapatkan tantangan yang menyebabkan siswa terbiasa berpikir untuk menentukan jawaban terhadap masalah yang dikemukakan guru sehingga siswa menjadi pasif, dan jelas tidak diinginkan guru.
Jadi dalam pembelajaran di kelas guru dapat memberikan hukuman yang mendidik kepada siswa supaya selain membuat efek jera tetapi juga siswa mendapatkan manfaat positif dari hukuman tersebut, sehingga dapat lebih meningkatkan motivasi belajar dan nantinya meningkatkan juga hasil belajar.