25/09/2025
Sastra, Pasar, dan Bahaya Elitisme
Oleh Muhammad Subhan
ESAI saya berjudul "Benarkah Buku Sastra Susah Laku?" (Majalahelipsis.id, 22 September 2025) yang dibagikan pianis dan komponis Ananda Sukarlan di laman Facebook-nya kembali mendapat respons menarik dari penyair Tan Lioe Ie.
Saya juga membaca esai Fileski Walidha Tanjung berjudul "Sastra, Echo Chamber, dan Krisis Representasi Publik" (Negerikertas.com, 22 September 2025) dan esai Denni Meilizon di laman Facebook-nya berjudul “Buku Sastra yang Susah Laku dan Kucing Berpakaian Manusia”, tetapi saya lebih tertarik menanggapi catatan Tan Lioe Ie.
Di kolom komentar, Tan Lioe Ie menulis panjang. Intinya, ia mengatakan bahwa penyair jangan terlalu larut dalam “mimpi idealis” seperti pasar yang luas.
Menurutnya, yang penting adalah berkarya dengan otentik, menoleh ke luar diri, berinovasi dengan bentuk baru, bereksperimen, dan terus bergerak meski hanya sedikit yang mengapresiasi.
Ia juga menyebut contoh sejarah seni (Ezra Pound, Hemingway, Picasso, Chairil, Rendra, dan lain-lain) untuk mendukung gagasannya.
Secara umum saya sepakat. Catatannya sangat bergizi, cerdas, tentu didukung sumber bacaan yang kuat, meski beberapa bagian masih perlu didiskusikan.
Sebuah pertanyaan: apakah benar sastra cukup hidup dari “otentisitas” dan eksperimen, tanpa sungguh-sungguh memikirkan relasi dengan khalayak yang lebih luas?
Sering kali, untuk menghibur diri, sastrawan—dalam hal ini penyair—beretorika “yang penting tetap berkarya.” Namun, sikap seperti ini kerap berujung pada romantisme steril.
Tan Lioe Ie mengutip Sutardji agar tidak terjebak dalam “mannerism,” tapi lupa bahwa Sutardji sendiri bukan hanya eksperimentalis, melainkan juga figur publik yang menumbuhkan pembacanya lewat forum-forum, buku, dan media.
Tanpa pembaca yang terhubung, “otentisitas” hanya akan menjadi gema di ruang hampa.
Mengatakan “pasar bukan ukuran” memang terdengar heroik. Tapi bukankah pasar, dalam pengertian khalayak pembaca, adalah syarat agar sastra hidup?
Apa arti buku puisi yang terbit kalau hanya menumpuk di gudang penerbit, tanpa pernah menyapa pembaca yang lebih luas?
Otentisitas tanpa komunikasi hanyalah kesunyian yang dipelihara.
Tan Lioe Ie memuji Ezra Pound yang belajar dari haiku Jepang, Picasso dari seni Afrika, atau Pujangga Baru dari soneta Italia. Ia mengajak sastrawan Indonesia untuk “menoleh keluar diri.” Tetapi ia lupa menekankan hal yang lebih penting: menoleh ke dalam masyarakat sendiri.
Sastra Nusantara, dari pantun, syair, gurindam, hingga kaba, bukan hanya bentuk formal, tapi jembatan sosial budaya. Jika kita sibuk menoleh keluar, mengagung-agungkan dunia luar—menyerap Afrika, Jepang, atau Barat—sementara lupa mendengar denyut pembaca sendiri, sastra hanya akan berputar di lingkaran festival eksklusif, tidak pernah kembali ke kampung, pasar, atau ruang publik yang lebih luas.
Dalam komentarnya itu, Tan Lioe Ie mengakui bahwa pembaca puisi di Indonesia sangat kecil jumlahnya. Namun, ia berdalih bahwa yang sedikit itu “umumnya cerdas,” sehingga bisa diharapkan terjadi “multiplier effect”. Inilah logika nyaman yang justru berbahaya.
Kalau penyair hanya puas dengan audiens segelintir orang “cerdas”—seperti yang sering hadir di festival-festival sastra—bukankah itu sama dengan menyerahkan sastra kepada elitisme? Bukankah ini justru pengkhianatan terhadap fungsi sosial sastra yang pernah dijunjung W.S. Rendra, Wiji Tukul, Taufiq Ismail, dan penyair-penyair perlawanan? Sastra yang hidup hanya di ruang eksklusif adalah sastra yang kehilangan denyut kebangsaan.
Tan Lioe Ie menyebutkan perlunya bentuk alternatif: audiobook, audiovisual, dan sebagainya. Di sini saya sepakat, dan beberapa esai saya juga menawarkan hal serupa. Tetapi sekali lagi, ini hanya solusi teknis. Masalah utama sastra bukan sekadar bentuk buku, melainkan bagaimana ia hadir sebagai kebutuhan kultural masyarakat.
Audiobook bisa diproduksi, video puisi bisa disebar, tetapi kalau penyair tidak membangun jembatan emosional dan relevansi sosial dengan masyarakat, teknologi hanya akan mempercepat keterasingan.
Mari lihat contoh yang ia sebut sendiri: Chairil Anwar. Benar, Chairil tidak langsung diterima. Tapi pada akhirnya ia diakui justru karena puisinya mewakili keresahan dan suara kolektif bangsanya di tengah revolusi. Ia bukan hanya bereksperimen, tapi juga menyalurkan gairah zaman. Begitu p**a Rendra, keberaniannya di era represif relevan karena publik membutuhkannya sebagai cermin.
Dengan kata lain, karya besar tidak lahir semata dari otentisitas individual, melainkan dari interaksi dengan kebutuhan sosial dan kultural masyarakatnya.
Tanpa konteks sosial, otentisitas hanyalah kepuasan diri.
Sastra tidak cukup sekadar bergerak, bereksperimen, dan otentik. Ia harus mencari jalan agar bisa dipahami, dirasakan, dan dimiliki masyarakat luas. Bukan berarti mengejar pasar secara vulgar—semuanya mesti mengikuti pasar, tidak!—, tetapi membangun pasar kultural, yaitu pasar yang lahir dari kebutuhan akan makna, bukan sekadar konsumsi.
Sastra harus kembali ke fungsinya sebagai ruang refleksi kolektif. Bila penyair hanya berpuas diri dengan segelintir pembaca “cerdas,” ia sedang menutup pintu pada kemungkinan besar: sastra yang kembali menjadi detak jantung bangsa.
Saya sepakat bahwa kita, sebagai masyarakat sastra, tidak boleh patah semangat. Tapi keliru jika menganggap “otentisitas dan eksperimen” cukup sebagai pembenaran. Justru karena tantangan besar—minat baca rendah, distribusi lemah, dominasi media sosial, dan lain-lain—sastrawan harus lebih berani membangun strategi keterhubungan dengan publik.
Sastra tidak boleh berhenti sebagai ruang eksperimen individual. Ia harus hadir sebagai ruang bersama, tempat masyarakat menemukan dirinya kembali. Hadirnya festival-festival sastra yang tidak ekslusif bisa menjadi jembatan ke arah itu.
Inilah ideal yang sesungguhnya: sastrawan bukan sekadar menulis demi cinta, tetapi menulis demi manusia.
Sastra mesti berpihak pada kemanusiaan, menjadi ruang bersama tempat nilai-nilai lahir dan tumbuh, sekaligus menyejahterakan sastrawannya agar ia tidak sekadar menjadi hamba kata-kata, melainkan juga penggerak hidup yang nyata. []
Baca juga di https://majalahelipsis.id/sastra-pasar-dan-bahaya-elitisme/