Satgas BNN MUQ

Satgas BNN MUQ Organisasi yang menjalankan operasi P4GN ( Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunanan dan Peredaran Gelap Narkoba ) di lingkungan sekolah.

ada game terbaru tentang bahayanya narkoba serta pencegahannya. ayo ! try it out ! caranya klik link di bawah ini dan pi...
15/04/2014

ada game terbaru tentang bahayanya narkoba serta pencegahannya. ayo ! try it out ! caranya klik link di bawah ini dan pilih game yang ingin anda mainkan.. direkomendasikan buat orang tua yang peduli dengan anaknya :)
http://dedihumas.bnn.go.id/archives/permainan

Website Informasi dan Edukasi Narkoba merupakan website Humas BNN yang bertujuan melakukan pencegahan narkoba, dengan menyajikan informasi secara interaktif melalui media online.Kami dedikasikan website ini untuk para orang tua, pengajar, profesional dan pelajar. Ayo mari bergabung berantas narkoba!

25/12/2013

mau main game seru ? game ini berkaitan dengan pemberantasan narkoba lho ! gak percaya ? buktikan aja sendiri :D
silahkan klik link dibawah ini untuk memainkan gamenya

http://dedihumas.bnn.go.id/archives/permainan

selamat mencoba..

25/12/2013

Ketiga Anakku Hancur akibat Narkoba

Oleh rudi qunsul | Senin, 27 Mei 2013 jam 13:44:12

Telah banyak kisah dan cerita mengenai dampak dari Narkoba yang membelenggu para keluarga. Banyak yang berakhir duka, namun tidak sedikit yang pulih dan bers**acita karena mukjizat dan pengampunan dari Tuhan. Seperti yang dialami oleh Ibu Usdety kala ketiga anaknya harus menjadi pengguna narkoba.

Berawal pada suatu hari kala ketiga anaknya masih duduk dibangku sekolah dasar, seusai pulang sekolah mereka berkumpul didalam kamar. Curiga karena tidak ada suara dan aktivitas yang terdengar, Ibu Usdety menghampiri kamar dan mengetuk pintu untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan. Betapa terkejutnya dia ketika melihat didalam kamar, ketiga anknya dan teman-temannya sedang menggunakan narkoba.

Beranjak dewasa, ketiga anak Ibu Usdetty menjadi pribadi yang s**a memberontak. Terutama ketika meminta uang, mereka dapat memaksa sang ibu untuk memberikannya. Hal ini seringkali membuat Ibu Usdety marah dan naik pitam. Ada satu situasi dimana emosi tidak terkendali akibat kelakuan sang anak, Ibu Usdety memukul, membenturkan kepala anaknya ketembok dan juga menendangnya. Sang anak pun bukan sadar malah mengancam-mengancam sang ibu, bahkan keluar dari rumah.

Bahkan pernah sang anak bersandiwara dengan menelepon sang ibu bahwa dirinya sedang disandera oleh seseorang dan meminta sang ibu untuk menyerahkan sejumlah uang untuk menebus dirinya. Merasa ketakutan dan ingin agar anaknya selamat, Ibu Usdety segera menyerahkan uang. Namun ketika uang telah diserahkan, yang ada hanyalah sang anak memakai uang tersebut untuk menggunakan narkoba lagi. Penyanderaan itu ternyata hanyalah skenario belaka agar mereka dapat terus menggunakan narkoba.

Segala cara telah dilakukan oleh Ibu Usedty agar sang anak sembuh dari ketergantungan. Namun semuanya terasa sia-sia karena ketiga anaknya telah jauh terperosok dalam jurang maut. Bahkan Dave, anak pertamanya harus mengalami kejadian yang mengancam keselamatan nyawanya sendiri. Dirinya mengalamo overdosis, diantar oleh sebuah becak kerumahnya dengan kondisi tidak sadarkan diri dan diketemukan didalam sebuah comberan.

Dave segera dibaringkan ditempat tidur. Anak-anaknya yang lain segera membantu untuk menyadarakan Dave. Namun semuanya berkata bahwa Dave sudah tidak ada lagi (tidak bernyawa). Disinilah Ibu Usdety merasa mendapat sebuah pukulan yang hebat. Meninggal karena sakit adalah hal yang masih bisa diterima. Namun meninggal karena overdosis narkoba, adalah hal yang tidak bisa diterimanya.

"Ada satu kekuatan, satu keyakinan dengan sangat tenang saya menghampirinya. Sembari saya coba pegan badannya, mendekatkan telinga ke dadanya, memang nggak ada ternyata. Saya hanya gini " Tuhan kehendakmu itu baik" dan tidak terpikir bahwa anak ini hidup atau mati," ungkap Ibu Desty.

Namun mukjizat itupun terjadi. Dave tersedak dan dapat sadar kembali. Hal ini merupakan hal yang begitu memberkati Ibu Usdetty. "Saya bersyukur, saya bermazmur dan puji Tuhan. Disitulah saya bisa mengungkapkan perasaan saya. Saya tumpahkan banget (perasaan bersyukur)"

Namun hal tersebut tidak membuat jera Dave dan kedua adiknya, lagi-lagi mereka menggunakan narkoba. Hal yang membuat Ibu Usdety jengkel dan marah, bahkan ingin agar perasaan sayang kepada mereka menjadi hilang. Namun dirinya tetap mendapat kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi hal ini.

"Saat hati saya sudah lelah, saat hati saya udah nggak kuat lagi untuk mengasihi, berjuang dan berkorban untuk mereka, ada satu kasih pengganti yaitu kasih Kristus, yang masuk kedalam hati saya dan memperkuat saya lagi. Dan ketika saya menyadari, saya tahu bahwa itu adalah kasih Tuhan sendiri. Tuhan gak mau anak-anaknya binasa. Dan salah satunya adalah anak saya sendiri."

Salah satu yang terus menguatkan dirinya adalah, penyerahan diri melalui senbuah doa. Doa Ibu Usdety kepada anaknya bertahun-tahun terjawab ketika ketiga anaknya berhenti total dari narkoba. "Apa yang engga mungkin, bagi Tuhan menjadi mungkin. Walaupun begitu kelam, begitu berliku-liku dan begitu pahit perjuangan saya, tetapi ada satu sisi yang saya terima, karena ketika saya tidak mampu, ada Tuhan yang memampukan saya."

25/12/2013

“Remaja, Narkoba dan Cita-cita”

Sejak masih muda hingga saat ini (26 tahun), sudah puluhan fase yang dilalui oleh Johni. Jika mengingat fase-fase itu, Johni mengira bahwa ia terkena skizofrenia atau penyakit semacam itu. ?Siapapun pasti setuju bila dikatakan bahwa menjadi orang muda tidaklah segampang dan seenak kelihatannya,? ujar Johni.

Umur sepuluh tahun Johni bercita-cita menjadi guru, lalu insinyur. Tapi cita-cita itu kandas karena kemudian ia tahu bahwa insinyur pun banyak yang nganggur. Pada saat duduk di bangku SMP, Johni bercita-cita menjadi yakuza karena terobsesi tato naga dan film tembak-tembakan yang ditonton bersama teman-temannya. Ketika kelas tiga SMP Johni mulai berpikir untuk meniti karier menjadi assasin, karena kedengarannya keren – lagipula pada tahun 1998 ketika reformasi bergulir, cita-cita menjadi menteri atau seperti BJ Habibie tidaklah relevan.

Saat kawan-kawannya ditanya tentang cita-cita, mereka menjawabnya dengan antusiasme berlebihan. Guru, presiden, insinyur, tentara, PNS, dan karier-karier yang menjanjikan kemapanan. Tapi sepulang sekolah mereka pesta g***a, ke sekolah aja bawa pil BK, setiap bulan kena razia. Johni berpikir saat itu, betapa percumanya punya cita-cita.

Di bangku SMK Johni memutuskan untuk menjadi anak baik-baik. Tidak ikut-ikutan merokok, tidak pacaran, karena masuk Seni Rupa ITB adalah sebuah impian yang memerlukan perjuangan maha dahsyat. Kegagalan masuk ITB, membawa Johni ke petualangan baru yaitu masuk ke dalam kehidupan jalanan kota Bandung. Ternyata sangat mudah mendapatkan satu paket gele (g***a), beli saja di warung rokok. Minuman keras berkeliaran setiap malam minggu. Johni masih ingat, waktu itu topi miring dioplos dengan bir. Kadang anggur putih atau vodka. Lucunya, mereka minum di sebuah lahan kosong tepat di samping Polsek. Kadang anak muda memang seperti kecoak yang punya indera keenam di punggungnya. Langsung tahu jika ada gerakan mencurigakan di seputar tubuhnya.

Johni terjerumus ke dalam pergaulan jalanan, karena faktor frustasi yang ditunjang dengan lingkungan dan pergaulan jalanan. Lingkungan memang merupakan stimulan terhebat. Dan remaja adalah bunglon dengan kemampuan meniru paling jitu. Sayangnya, kemampuan itu tidak disertai dengan filter yang memadai, jadinya cuma ilmu sapi. Ngikut doang tanpa tahu tujuan dan akibatnya.

Remaja dianggap sebagai masa rentan sehubungan banyaknya perubahan yang terjadi pada dirinya (fisik dan emosional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mampu mengendalikan dirinya (tidak mengikuti dorongan yang meletup-letup) ternyata lebih bisa terhindar dari masalah narkoba.

Kematangan emosi juga terkait dengan bagaimana mereka mengatasi persoalan yang muncul. Mereka yang mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin ternyata lebih terhindar dari bahaya narkoba.

Membiasakan remaja untuk mampu mengambil keputusan secara rasional dan mandiri merupakan salah satu cara yang sangat disarankan untuk para orang tua.

Hal yang paling menarik yang ditemukan pada penelitian ini adalah jawaban responden terhadap apa yang membuat mereka tidak mau bereksperimen dengan narkoba. Mulai dari? takut masuk neraka? atau? takut Tuhan marah? sampai ke keyakinan remaja bahwa? narkoba itu kan dosa?.

Dasar iman pada diri remaja adalah salah satu faktor protektif terandal. Iman diyakini remaja dapat membawa mereka kepada keluhuran budi dan moralitas. Remaja mengakui kesetiaan mereka terhadap iman yang mereka pilih membawa sejahtera dan damai di hati. Ini adalah hal pribadi yang tidak dapat dipungkiri. Memang, kebenaran yang didasari iman itu akan tertanam dalam hati kita dan kelak menjadi lentera yang menerangi jalan ketika kita menghadapi tantangan dan pilihan dalam hidup.

Tingkat spiritual ini tentunya menjadi pedoman bagi remaja untuk membuat pilihan-pilihan bijaksana mulai dari dunia online sampai kepada pilihan mengenai narkoba.

Sebagian besar remaja tahu membedakan yang baik dan buruk karena mereka memiliki faktor protektif alami dalam diri mereka. Selama mereka tidak mengeraskan hati dan memungkiri kebenaran yang tertulis di hati mereka, harapan untuk Indonesia bebas narkoba masih ada.

Oleh karena itu, Pusat Pencegahan Badan Narkotika Nasional, mengembangkan metode pencegahan yang diimplementasikan dengan kegiatan alternatif dalam bentuk olahraga atau berkesenian seperti teater, musik dan tari untuk mengasah kepekaan jiwa, rasa dan naluri. Dengan olah raga tentunya bisa mendorong mereka bergaya hidup sehat. ?Semua itu merupakan kegiatan alternatif yang bisa menjadi sarana bagi para remaja untuk tidak terjerat pada narkoba. Kegiatan alternatif sangat penting bagi anak-anak pelajar ataupun mahasiswa. Karena ini nantinya akan berkaitan dengan metode komunikasi dan informasi yang efektif tentang anti penyalahgunaan narkoba.

25/12/2013

Cerita Mantan Pecandu Narkoba PDF Print E-mail

Pengalaman selama sepuluh tahun terjerat dalam ketergantungan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Narkoba ) membuat Jaky atau Black (35) ini sadar bahwa pecandu perlu orang lain untuk menghentikannya. Seperti pecandu lain, semula Jaky hanya mencoba, lama-lama menjadi kecanduan, hingga pada suatu kondisi dia merasa tak berguna sama sekali hidupnya. Dia merasa melakukan sesuatu yang sia-sia.
Bagi Jaky, kondisi itu tidak untuk disesali, tapi dijadikan bahan pelajaran bahwa hidup tidak hanya berhenti pada satu kondisi. Ada kondisi lain bernama perubahan. Hidup sebelum menjadi pecandu adalah dunia normal. Hidup pada saat jadi pecandu adalah dunia adiksi. Dan, hidup setelah pulih adalah hidup lebih dari sekadar normal.



Maka setelah melewati dunia adiksi, Jaky memilih membagi pengalaman hidupnya itu pada orang lain, pecandu maupun mantan pecandu. Jaky pulih selain karena dorongan yang kuat dari dirinya juga berkat bantuan keluarga dan teman-temannya yang terus mendukung upayanya untuk bebas dari ketergantungan narkoba. Berbagai macam terapi dan pengobatan dijalani dengan ikhlas.



Program mengatasi kecanduan narkoba yang dijalani Jaky meliputi beberapa langkah, yaitu pecandu harus punya keinginan untuk berhenti, pecandu harus jujur pada diri sendiri, dan pecandu harus mempunyai keterbukaan pikiran.

Bagi Jaky, kehidupan setelah pulih adalah kehidupan dua arah dan cenderung labil. Mantan pecandu bisa relapse karena masalah yang dihadapi. “Karena itu kami perlu dukungan agar tetap bersih,” kata Jaky. Dukungan itu bisa dari keluarga, pekerjaan, sahabat, mantan pecandu, maupun yang lain.
Jaky menganalogikan mantan pecandu dengan meja. Dukungan bagi mantan pecandu ibarat kaki meja. Satu dukungan sama dengan satu kaki. Kalau hanya ada satu dukungan berarti hanya ada satu kaki. Dua dukungan berarti dua kaki, dan seterusnya. Misalnya ada meja dengan tiga kaki. Kalau satu kaki patah, maka meja itu akan jatuh. Semakin banyak kaki, meja itu akan semakin kuat berdiri. “Jika satu kaki patah, masih ada puluhan kaki lain yang menopang agar meja tetap berdiri,” katanya.

Dengan semangat itulah, Jaky berpikiran bahwa pecandu narkoba harus didukung demi pemulihannya. Karena itu, Jaky bersama teman-temannya di Yayasan Pelita Hati Karawang bersama Dinas Sosial Kabupaten Karawang, tak segan-segan mengadakan kegiatan penyuluhan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba di Sekolah-sekolah, dan tempat-tempat nongkrong anak muda Karawang.

Menurut Jaky, dukungan pada pecandu dan mantan pecandu dilakukan dengan cara membagi pengalaman, harapan, dan kekuatan. “Agar mereka (pecandu dan mantan pecandu) bisa diterima kembali oleh lingkungannya, kembali produktif, dan punya tangungjawab,” ujarnya.

Pemulihan pecandu narkoba, lanjut Jaky, merupakan proses panjang memulihkan fisik, mental, emosional, dan spiritual. Paling gampang pemulihan fisik. “Cukup dengan detosifikasi selesai. Tapi itu belum cukup,” ungkapnya. Setelah mantan pecandu itu bisa mengatasi masalah fisik, secara mental dia kadang-kadang ingin pakai lagi. Maka mentalnya pun harus dipulihkan agar tak kepikiran untuk relapse. “Di sinilah perlunya dukungan orang lain untuk mengingatkan kemungkinan dia untuk relapse,” katanya.

Menurut Jaky, pecandu narkoba adalah korban. Meskipun dia disangka melakukan tindak kriminal, namun sebenarnya itu karena pecandu tersebut tidak bisa melepaskan diri dari kecanduannya. Karena itu perlu pendekatan khusus pada pecandu untuk memulihkannya. “Tidak dengan memasukkannya ke penjara,” Tegasnya.

Karena itu Jaky mendorong agar pemerintah menyediakan tempat rehab bagi pecandu narkoba yang ditangkap. Persoalannya, tempat rehab pun masih susah. Atau kalau toh ada harganya sangat mahal. “Pemerintah seharusnya menyiapkan tempat rehabilitasi yang gratis. Agar penangulangan narkoba bisa lebih optimal,” ujar Jaky.

Selain itu, meski dalam Undang-undang (UU) Narkotika No 22 tahun 1997 menyebut adanya hukuman rehabilitasi bagi pecandu narkoba, dalam praktiknya tidak pernah ada hakim yang menjatuhkan vonis rehab tersebut. “Seharusnya hakim memberikan pilihan apakah pecandu itu mau dihukum penjara atau dihukum rehab. Jadi dia bisa menentukan jalan keluarnya sendiri,” katanya.

Jaky mengaku menikmati hidupnya sekarang. Dia bergabung di Pelita Hati dengan belasan mantan pecandu lain. Mereka saling membagi dan mendukung. Wujud dukungan itu dirasakan anak-anak sekolah melalui penyuluhan dan berbagai kegiatan positif.

dampak fisik dari penyalahgunaan narkotika, ngeri kan sob ? makanya.. jauhi narkoba.. agar hidup kita sehat :)
25/12/2013

dampak fisik dari penyalahgunaan narkotika, ngeri kan sob
? makanya.. jauhi narkoba.. agar hidup kita sehat :)

bahaya penggunaan narkoba..
25/12/2013

bahaya penggunaan narkoba..

Address

Langsa

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Satgas BNN MUQ posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share