Kota Kediri

Kota Kediri Adalah kota terbesar ke-3 di Jawa Timur, setelah Surabaya dan Malang.
=> https://www.facebook.com/dahanapura Di kota ini jugalah, pabrik rokok kretek PT. Mr. M.

Kota Kediri merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang mempunyai 2 gunung yaitu : Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang. Kota ini dinobatkan sebagai peringkat pertama Indonesia Most Recommended City for Investment pada tahun 2010 berdasarkan survey oleh SWA yang dibantu oleh Business Digest, unit bisnis riset grup SWA. Hal ini semakin menguatkan posisi Kota Kediri sebagai kota terbaik untuk be

rbisnis dan berinvestasi. Gudang Garam berdiri dan berkembang. Luas wilayah Kota Kediri sekitar 63,40 km² atau (6.340 ha) yang terdiri atas 3 Kecamatan dan 46 kelurahan. Dan merupakan kota kecil di Provinsi Jawa Timur. Dan berpenduduk sekitar 267.435 jiwa (2010). Berikut adalah luas Kota Kediri dan jumlah penduduk dirinci menurut per kecamatan :
- Kecamatan Kota : 14,90 km², 85.730 jiwa.
- Kecamatan Mojoroto : 24,60 km², 86.152 jiwa.
- Kecamatan Pesantren : 23,90 km², 69.097 jiwa. Awal mula Kediri sebagai pemukiman perkotaan dimulai ketika Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke Dahanapura, menurut Serat Calon Arang. Dahanapura ("Kota Api") selanjutnya lebih dikenal sebagai Daha. Sepeninggal Airlangga, wilayah Medang dibagi menjadi dua: Panjalu di barat dan Janggala di timur. Daha menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu dan Kahuripan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala. Panjalu oleh penulis-penulis periode belakangan juga disebut sebagai Kerajaan Kadiri/Kediri, dengan wilayah kira-kira Kabupaten Kediri sampai Kabupaten Madiun sekarang. Semenjak Kerajaan Tumapel (Singasari) menguat, ibukota Daha diserang dan kota ini menjadi kedudukan raja vazal, yang terus berlanjut hingga Majapahit, Demak, dan Mataram. Kediri jatuh ke tangan VOC sebagai konsekuensi Geger Pecinan. Jawa Timur pada saat itu dikuasai Cakraningrat IV, adipati Madura yang memihak VOC dan menginginkan bebasnya Madura dari Kasunanan Kartasura. Karena Cakraningrat IV keinginannya ditolak oleh VOC, ia memberontak. Pemberontakannya ini dikalahkan VOC, dibantu Pakubuwana II, sunan Kartasura. Sebagai pembayaran, Kediri menjadi bagian yang dikuasai VOC. Kekuasaan Belanda atas Kediri terus berlangsung sampai Perang Kemerdekaan Indonesia. Perkembangan Kota Kediri menjadi swapraja dimulai ketika diresmikannya Gemeente Kediri pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan Staasblad (Lembaran Negara) no. 148 tertanggal 1 Maret 1906[3]. Gemeente ini menjadi tempat kedudukan Residen Kediri dengan sifat pemerintahan otonom terbatas dan mempunyai Gemeente Raad ("Dewan Kota"/DPRD) sebanyak 13 orang, yang terdiri dari delapan orang golongan Eropa dan yang disamakan (Europeanen), empat orang Pribumi (Inlanders) dan satu orang Bangsa Timur Asing. Sebagai tambahan, berdasarkan Staasblad No. 173 tertanggal 13 Maret 1906 ditetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun. Baru sejak tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Stbl No. 498 tanggal 1 Januari 1928, Kota Kediri menjadi "Zelfstanding Gemeenteschap" ("kota swapraja" dengan menjadi otonomi penuh). Kediri pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 menjadi salah satu titik rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman. Kediri pun mencatat sejarah yang kelam juga ketika era Pemberontakan G30S PKI karena banyak penduduk Kediri yang ikut menjadi korbannya. Kota berpenduduk 312.000 (2012) jiwa ini berjarak ±128 km dari Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur terletak antara 07°45'-07°55'LS dan 111°05'-112°3' BT.[4] Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m diatas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan 0-40%
Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m). Secara administratif, Kota Kediri dibagi 3 kecamatan yaitu
- Kecamatan Mojoroto (barat)
- Kecamatan Kota (Tengah)
- Kecamatan Pesantren (timur)
Dan berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara: Kecamatan Gampengrejo dan Kecamatan Banyakan. Sebelah selatan: Kecamatan Kandat, Kecamatan Ngadiluwih, dan Kecamatan Semen. Sebelah timur: Kecamatan Wates dan Kecamatan Gurah. Sebelah barat: Kecamatan Banyakan dan Kecamatan Semen. Di sini terdapat industri rokok domestik. Perusahaan rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia, sekitar 16.000 warga kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini, selain itu Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar terhadap pemkot Kediri. Kota Kediri juga mengembangkan industri skala rumah tangga. Kota ini berkembang seiring meningkatnya kualitas dalam berbagai aspek. Mulai pendidikan, pariwisata, perdagangan, birokrasi pemerintah, hingga olahraga. Di bidang pariwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata seperti Kolam Renang Pagora, Water Park Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng dan Taman Sekartaji. Selain itu kota Kediri juga menawarkan hiburan jalanan seperti yang bisa di jumpai di Jalan Dhoho ataupun di Taman Sekartaji. Seperti Kota Yogyakarta yang memiliki Malioboro, Kota Kediri juga memiliki Jalan Dhoho dimana di jalan ini bisa dikatakan sebagai salah satu pusat ekonomi di Kediri dan merupakan surga belanja di Kediri. Jalan Dhoho merupakan pusat kota dan pusat perbelanjaan pakaian yang sangat ramai di Kota Kediri. Suasana Jalan Dhoho menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta, dimana di Jalan Dhoho ini terdapat banyak pedagang nasi tumpang dan pecel lesehan yang tiap malam dipenuhi oleh masyarakat kediri dari kawula muda sampai tua yang mencari hiburan di malam hari dengan nuansa kebersamaan. Selain Jalan Dhoho, Jalan Panglima Sudirman yang hanya beberapa meter saja dari jalan Dhoho menawarkan surga belanja yang hampir sama dengan jalan Dhoho. Jika di Jalan Dhoho didominasi oleh toko-toko atau outlet-outlet ritel seperti butik, distro toko-toko baju, dll maka di Jalan Panglima Sudirman ini lebih didominasi oleh tempat wisata kuliner walaupun ada juga beberapa outlet ritel di sini seprti Puri Batik dan Busana Muslim NORO, Spa dan butik khusus muslimah, dll. Sedangkan Taman Sekartaji terletak di barat sungai dan merupakan tempat yang nyaman untuk menikmati Kota Kediri di malam hari sembari menyantap berbagai jajanan yang dijual di sekitar bunderan Sekartaji. Kota Kediri menerima penghargaan sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi.[rujukan?] Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang sedang berkembang. Pertumbuhan ekonomi di kota Kediri begitu pesat, hal ini juga didorong oleh sifat konsumtif masyarakat Kediri. Banyaknya perguruan tinggi swasta dan pondok pesantren menarik banyak pendatang yang secara tidak langsung ikut menggairahkan perekonomian kota ini. Perekonomian di Kota ini juga banyak dipengaruhi oleh aktivitas pondok pesantren besar di pusat kota seperti Pondok Modern Darul Ma'rifat Gontor 3 Kediri, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Walibarokah Kediri, Pondok Pesantren Wahidiyah, dsn, di mana setiap awal bulan selalu mengadakan acara pengajian akbar yang mengundang ribuan anggotanya, dll. Selain di bidang Agama Islam, Agama Katolik cukup pesat berkembang di kota ini, ditandai dengan adanya Gua Maria Puh Sarang. Sarana transportasi di Kota Kediri cukup beragam. Selain tersedia angkutan kota (angkot) berwarna kuning, tersedia juga taksi. Sering kali di berbagai sudut kota bisa ditemui angkutan wisata bernama "Becak Gowes" atau "Mobil Gowes" yang banyak disewakan di beberapa titik di Kota Kediri sebagai sarana wisata sehat dan murah meriah bagi warga Kota Kediri maupun wisatawan yang ingin berkeliling Kota Kediri dengan alternatif transportasi yang berbeda. Sebagai Kota terbesar ketiga di Jawa Timur dan dengan adanya Perusahaan-perusahaan International dan Multinasional di Kediri, serta semakin meningkatnya kunjungan wisata ke Kediri membuat hotel-hotel yang ada di Kediri sering menolak pengunjung karena tidak tersedianya kamar. Akibatnya banyak wisatawan ataupun pendatang yang ingin menginap di Kediri harus berputar hingga ke kota-kota sekitar Kediri. Pembangunan hotel-hotel baru dirasa sangat diperlukan di Kota Kediri yang sedang berkembang pesat ini. Para Investor banyak membangun kawasan hunian baru berupa perumahan dan villa di sudut-sudut Kota Kediri, walau demikian munculnya hotel-hotel baru dirasa dibutuhkan untuk menjaga stabilitas perkembangan Kota Kediri yang sedang berkembang sangat pesat. Di bidang pendidikan, kota ini memiliki puluhan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang salah satunya sudah menyandang Sekolah Berstandar Internasional (SBI), beberapa Perguruan Tinggi lokal, Madrasah, hingga Pondok Pesantren. Pada tahun 2013, telah dibangun Kampus IV Universitas Brawijaya di lahan seluas 23 ha di Mrican, Kota Kediri. Pembangunan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain yang sedang berlangsung adalah pembangunan Politeknik Negeri Kediri. Kehadiran Perguruan-Perguruan Tinggi Negeri ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat Kota Kediri. Universitas Brawijaya Kampus Kediri telah membuka pendaftaran mahasiswa baru sejak tahun 2011 dan sejak tahun itu p**a perkuliahan sudah dilaksanakan. Beberapa Perguruan Tinggi yang berada di Kota Kediri antara lain:
- Universitas Brawijaya (Kampus IV)
- Poltekkes Kemenkes Malang (Prodi Kebidanan)
- Politeknik Negeri Kediri
- Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri
- Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri
- Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
- Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I)
- Universitas Kadiri (UNIK)
- Universitas Islam Kadiri (UNISKA)
- Universitas Islam Tribakti
- Universitas Terbuka
- Akademi Kebidanan Medika Wiyata Kediri
- Politeknik Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Teknik Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kediri
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prima Visi
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Wahidiyah
- Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Kadiri
- Cahaya Art School Kediri - Pendidikan Seni Rupa Tradisional dan Modern
- dll. Pondok Pesantren Modern yang berada di Kota Kediri
- Pondok Pesantren Lirboyo
- Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo
- Pondok Pesantren Wali Barokah (LDII)
- Pondok Pesantren Darul Ma'rifat Gontor 3
- Pondok Pesantren Kedunglo
- Pondok Pesantren Queen Al-Falah
- Pondok Pesantren Al Ishlah
- Pondok Pesantren Nurul Huda
- Pondok Pesantren Nurul Amien
- Pondok Pesantren Salafiyyah
- Pondok Pesantren Darussalam
- Pondok Pesantren Maunah Asri
- Pondok Pesantren As Salam
- Pondok Pesantren Al Fatih
- Pondok Pesantren Al Hidayah
- Pondok Pesantren Al Qur'an Amien
- Pondok Pesantren Putri Hidayat Mubtadi'aat
- Pondok Pesantren Tribakti Lirboyo
- dll. Selain itu Kota Kediri mencatat prestasi nasional dengan sukses menyelenggarakan Muktamar NU tahun 1999 dan memboyong Piala Liga Indonesia IX & XII (Sepak bola) pada tahun 2003 & 2006 melalui kesebelasan Persik serta mendapat predikat Kota Investasi 2003 versi Jawa Pos dan predikat Kota Sehat Nasional 2005 oleh Menteri Kesehatan. Sebagai Kota Tahu, makanan dan oleh-oleh khas Kota Kediri yang utama terdiri dari Gethuk Pisang, Krupuk Pasir, Sate Bekicot, Nasi Tumpang. Oleh-oleh khas Kediri ini bisa didapatkan di Jalan Pattimura Kota Kediri yang menjadi Sentra Oleh-Oleh khas Kediri. Untuk menyantap Nasi Pecel Tumpang, bisa dinikmati pada pagi hari ataupun malam hari. Pada malam hari, penjual Nasi Pecel Tumpang banyak ditemui di lesehan sepanjang Jalan Dhoho Kota Kediri. Lesehan Nasi Pecel Tumpang ini biasanya buka hingga pagi hari dan merupakan kawasan wisata kuliner yang sangat ramai. Harganya sekitar Rp 5.000,- per porsi, bisa ditambah dengan tusukan telur puyuh, usus, kulit, maupun lauk lainnya. Tempat Wisata :
- Gua Selomangleng, di Kelurahan Pojok
- Candi Setono Gedong peninggalan Kerajaan Hindu di Jalan Dhoho
- Museum Airlangga, di Kelurahan Pojok
- Museum Fotografi Kediri
- Gua Selobale di lereng Gunung Klothok
- Trekking Gunung Maskumambang
- Makam dan Situs Bersejarah Mbah Bancolono di Puncak Gunung Maskumambang
- Makam dan Situs Bersejarah Sunan Geseng
- Masjid Auliyya Setono Gedong
- Makam Kuno Mbah Wassil
- Masjid Banjar Mlati, Masjid Tertua di Kota Kediri
- Masjid Agung Kota Kediri
- Klenteng Tjio Hwie Kiong
- Gereja Merah, khas era Kolonialisme
- Monumen Kediri SyuWaterpark Selomangleng, di Kelurahan Pojok
- Kolam Renang Pagora
- Kolam Renang Tirtoyoso
- Taman Wisata Ubalan
- Gumul Paradise Island
- Alun-Alun Kota Kediri
- Dermaga Joyoboyo
- GOR Joyoboyo
- Wisata Kuliner Soto Kediri Bok Ijo di Terminal Tamanan
- Pusat Tahu Takwa dan Gethuk Gedang di Jalan Pattimura
- Kuliner Pecel di Jalan Dhoho
- Taman Sekartaji
- Kuliner Jagung Bakar di Bundaran Sekartaji

Makanan Khas Kota Kediri :
- Gethuk Pisang
- Stik/Emping Tahu
- Tahu Taqwa/Kuning
- Sate/Kripik Bekicot

Dalam pemerintahan, dikendalikan oleh Walikota bersama DPRD. DPRD Kota Kediri adalah lembaga perwakilan rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat Kota Kediri pada pemilu legislatif setiap lima tahun sekali. Anggota DPRD Kota Kediri periode 2009-2014 terdiri atas 30 kursi. Daftar Walikota Kediri sejak tahun 1929:
1. L.K. Wennekendonk (1929-1936)
2. J.G. Ruesink (1936-1940)
3. Scheltema (1940-1941)
4. Dr. J.R. Lette (1941-1942)
5. R. Soeprapto (1945-1950)
6. Dwidjo Soemarto (1950-1960)
7. Soedjono (1960-1966)
8. Hartojo (1966-1968)
9. Anwar Zainudin (1968-1973)
10. Drs. Soedarmanto (1973-1978)
11. Setijono (1978-1989)
12. Wijoto (1989-1999)
13. H.A. Maschut (1999-2009)
14. dr. Samsul Ashar, Sp.PD (2009-2013)
15. Abdullah Abubakar, SE (2013-sekarang)

sumber :
http://www.kedirikota.go.id/

Kota Kediri merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang mempunyai 2 gunung yaitu : Gunung Klotok dan Gunung Maskumamb...
30/03/2014

Kota Kediri merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang mempunyai 2 gunung yaitu : Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang. Kota ini dinobatkan sebagai peringkat pertama Indonesia Most Recommended City for Investment pada tahun 2010 berdasarkan survey oleh SWA yang dibantu oleh Business Digest, unit bisnis riset grup SWA. Hal ini semakin menguatkan posisi Kota Kediri sebagai kota terbaik untuk berbisnis dan berinvestasi. Di kota ini jugalah, pabrik rokok kretek PT. GUDANG GARAM Tbk berdiri dan berkembang.

Luas wilayah Kota Kediri sekitar 63,40 km² atau (6.340 ha) yang terdiri atas 3 Kecamatan dan 46 kelurahan. Dan merupakan kota kecil di Provinsi Jawa Timur. Dan berpenduduk sekitar 267.435 jiwa (2010). Berikut adalah luas Kota Kediri dan jumlah penduduk dirinci menurut per kecamatan :
- Kecamatan Kota : 14,90 km², 85.730 jiwa.
- Kecamatan Mojoroto : 24,60 km², 86.152 jiwa.
- Kecamatan Pesantren : 23,90 km², 69.097 jiwa.

Awal mula Kediri sebagai pemukiman perkotaan dimulai ketika Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke DAHANAPURA, menurut Serat Calon Arang. Dahanapura ("Kota Api") selanjutnya lebih dikenal sebagai Daha. Sepeninggal Airlangga, wilayah Medang dibagi menjadi dua: Panjalu di barat dan Janggala di timur. Daha menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu dan Kahuripan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala. Panjalu oleh penulis-penulis periode belakangan juga disebut sebagai Kadiri/Kediri, dengan wilayah kira-kira Kabupaten Kediri sampai Kabupaten Madiun sekarang.
Semenjak Kerajaan TUMAPEL - Singasari menguat, ibukota Daha diserang dan kota ini menjadi kedudukan raja vazal, yang terus berlanjut hingga Majapahit, Demak, dan Mataram.
Kediri jatuh ke tangan VOC sebagai konsekuensi Geger Pecinan. Jawa Timur pada saat itu dikuasai Cakraningrat IV, adipati Madura yang memihak VOC dan menginginkan bebasnya Madura dari Kasunanan Kartasura. Karena Cakraningrat IV keinginannya ditolak oleh VOC, ia memberontak. Pemberontakannya ini dikalahkan VOC, dibantu Pakubuwana II, sunan Kartasura. Sebagai pembayaran, Kediri menjadi bagian yang dikuasai VOC. Kekuasaan Belanda atas Kediri terus berlangsung sampai Perang Kemerdekaan Indonesia.
Perkembangan Kota Kediri menjadi swapraja dimulai ketika diresmikannya Gemeente Kediri pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan Staasblad (Lembaran Negara) no. 148 tertanggal 1 Maret 1906[3]. Gemeente ini menjadi tempat kedudukan Residen Kediri dengan sifat pemerintahan otonom terbatas dan mempunyai Gemeente Raad ("Dewan Kota"/DPRD) sebanyak 13 orang, yang terdiri dari delapan orang golongan Eropa dan yang disamakan (Europeanen), empat orang Pribumi (Inlanders) dan satu orang Bangsa Timur Asing. Sebagai tambahan, berdasarkan Staasblad No. 173 tertanggal 13 Maret 1906 ditetapkan anggaran keuangan sebesar f. 15.240 dalam satu tahun. Baru sejak tanggal 1 Nopember 1928 berdasarkan Stbl No. 498 tanggal 1 Januari 1928, Kota Kediri menjadi "Zelfstanding Gemeenteschap" ("kota swapraja" dengan menjadi otonomi penuh).
Kediri pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 menjadi salah satu titik rute gerilya Panglima Besar Jendral Sudirman.
Kediri pun mencatat sejarah yang kelam juga ketika era Pemberontakan G30S PKI karena banyak penduduk Kediri yang ikut menjadi korbannya.

Kota berpenduduk 312.000 (2012) jiwa ini berjarak ±128 km dari Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur terletak antara 07°45'-07°55'LS dan 111°05'-112°3' BT.[4] Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m diatas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan 0-40%
Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).
Secara administratif, Kota Kediri dibagi 3 kecamatan yaitu
- Kecamatan Mojoroto (barat)
- Kecamatan Kota (Tengah)
- Kecamatan Pesantren (timur)
Dan berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara: Kecamatan Gampengrejo dan Kecamatan Banyakan.
Sebelah selatan: Kecamatan Kandat, Kecamatan Ngadiluwih, dan Kecamatan Semen.
Sebelah timur: Kecamatan Wates dan Kecamatan Gurah.
Sebelah barat: Kecamatan Banyakan dan Kecamatan Semen.
Di sini terdapat industri rokok domestik. Perusahaan rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia, sekitar 16.000 warga kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini, selain itu Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar terhadap pemkot Kediri. Kota Kediri juga mengembangkan industri skala rumah tangga.

Kota ini berkembang seiring meningkatnya kualitas dalam berbagai aspek. Mulai pendidikan, pariwisata, perdagangan, birokrasi pemerintah, hingga olahraga.

Di bidang pariwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata seperti Kolam Renang Pagora, Water Park Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng dan Taman Sekartaji. Selain itu kota Kediri juga menawarkan hiburan jalanan seperti yang bisa di jumpai di Jalan Dhoho ataupun di Taman Sekartaji. Seperti Kota Yogyakarta yang memiliki Malioboro, Kota Kediri juga memiliki Jalan Dhoho dimana di jalan ini bisa dikatakan sebagai salah satu pusat ekonomi di Kediri dan merupakan surga belanja di Kediri.
Jalan Dhoho merupakan pusat kota dan pusat perbelanjaan pakaian yang sangat ramai di Kota Kediri. Suasana Jalan Dhoho menyerupai Jalan Malioboro di Yogyakarta, dimana di Jalan Dhoho ini terdapat banyak pedagang nasi tumpang dan pecel lesehan yang tiap malam dipenuhi oleh masyarakat kediri dari kawula muda sampai tua yang mencari hiburan di malam hari dengan nuansa kebersamaan. Selain Jalan Dhoho, Jalan Panglima Sudirman yang hanya beberapa meter saja dari jalan Dhoho menawarkan surga belanja yang hampir sama dengan jalan Dhoho. Jika di Jalan Dhoho didominasi oleh toko-toko atau outlet-outlet ritel seperti butik, distro toko-toko baju, dll maka di Jalan Panglima Sudirman ini lebih didominasi oleh tempat wisata kuliner walaupun ada juga beberapa outlet ritel di sini seprti Puri Batik dan Busana Muslim NORO, Spa dan butik khusus muslimah, dll. Sedangkan Taman Sekartaji terletak di barat sungai dan merupakan tempat yang nyaman untuk menikmati Kota Kediri di malam hari sembari menyantap berbagai jajanan yang dijual di sekitar bunderan Sekartaji.

Kota Kediri menerima penghargaan sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi.[rujukan?] Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang sedang berkembang. Pertumbuhan ekonomi di kota Kediri begitu pesat, hal ini juga didorong oleh sifat konsumtif masyarakat Kediri. Banyaknya perguruan tinggi swasta dan pondok pesantren menarik banyak pendatang yang secara tidak langsung ikut menggairahkan perekonomian kota ini. Perekonomian di Kota ini juga banyak dipengaruhi oleh aktivitas pondok pesantren besar di pusat kota seperti Pondok Modern Darul Ma'rifat Gontor 3 Kediri, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Walibarokah Kediri, Pondok Pesantren Wahidiyah, dsn, di mana setiap awal bulan selalu mengadakan acara pengajian akbar yang mengundang ribuan anggotanya, dll. Selain di bidang Agama Islam, Agama Katolik cukup pesat berkembang di kota ini, ditandai dengan adanya Gua Maria Puh Sarang.

Sarana transportasi di Kota Kediri cukup beragam. Selain tersedia angkutan kota (angkot) berwarna kuning, tersedia juga taksi. Sering kali di berbagai sudut kota bisa ditemui angkutan wisata bernama "Becak Gowes" atau "Mobil Gowes" yang banyak disewakan di beberapa titik di Kota Kediri sebagai sarana wisata sehat dan murah meriah bagi warga Kota Kediri maupun wisatawan yang ingin berkeliling Kota Kediri dengan alternatif transportasi yang berbeda.

Sebagai Kota terbesar ketiga di Jawa Timur dan dengan adanya Perusahaan-perusahaan International dan Multinasional di Kediri, serta semakin meningkatnya kunjungan wisata ke Kediri membuat hotel-hotel yang ada di Kediri sering menolak pengunjung karena tidak tersedianya kamar. Akibatnya banyak wisatawan ataupun pendatang yang ingin menginap di Kediri harus berputar hingga ke kota-kota sekitar Kediri. Pembangunan hotel-hotel baru dirasa sangat diperlukan di Kota Kediri yang sedang berkembang pesat ini. Para Investor banyak membangun kawasan hunian baru berupa perumahan dan villa di sudut-sudut Kota Kediri, walau demikian munculnya hotel-hotel baru dirasa dibutuhkan untuk menjaga stabilitas perkembangan Kota Kediri yang sedang berkembang sangat pesat.

Di bidang pendidikan, kota ini memiliki puluhan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang salah satunya sudah menyandang Sekolah Berstandar Internasional (SBI), beberapa Perguruan Tinggi lokal, Madrasah, hingga Pondok Pesantren. Pada tahun 2013, telah dibangun Kampus IV Universitas Brawijaya di lahan seluas 23 ha di Mrican, Kota Kediri. Pembangunan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain yang sedang berlangsung adalah pembangunan Politeknik Negeri Kediri. Kehadiran Perguruan-Perguruan Tinggi Negeri ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat Kota Kediri. Universitas Brawijaya Kampus Kediri telah membuka pendaftaran mahasiswa baru sejak tahun 2011 dan sejak tahun itu p**a perkuliahan sudah dilaksanakan.
Beberapa Perguruan Tinggi yang berada di Kota Kediri antara lain:
- Universitas Brawijaya (Kampus IV)
- Poltekkes Kemenkes Malang (Prodi Kebidanan)
- Politeknik Negeri Kediri
- Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri
- Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri
- Institut Ilmu Kesehatan (IIK)
- Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I)
- Universitas Kadiri (UNIK)
- Universitas Islam Kadiri (UNISKA)
- Universitas Islam Tribakti
- Universitas Terbuka
- Akademi Kebidanan Medika Wiyata Kediri
- Politeknik Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Teknik Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cahaya Surya
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kediri
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Prima Visi
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Wahidiyah
- Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Kadiri
- Cahaya Art School Kediri - Pendidikan Seni Rupa Tradisional dan Modern
- dll.

Pondok Pesantren Modern yang berada di Kota Kediri
- Pondok Pesantren Lirboyo
- Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo
- Pondok Pesantren Wali Barokah (LDII)
- Pondok Pesantren Darul Ma'rifat Gontor 3
- Pondok Pesantren Kedunglo
- Pondok Pesantren Queen Al-Falah
- Pondok Pesantren Al Ishlah
- Pondok Pesantren Nurul Huda
- Pondok Pesantren Nurul Amien
- Pondok Pesantren Salafiyyah
- Pondok Pesantren Darussalam
- Pondok Pesantren Maunah Asri
- Pondok Pesantren As Salam
- Pondok Pesantren Al Fatih
- Pondok Pesantren Al Hidayah
- Pondok Pesantren Al Qur'an Amien
- Pondok Pesantren Putri Hidayat Mubtadi'aat
- Pondok Pesantren Tribakti Lirboyo
- dll.

Selain itu Kota Kediri mencatat prestasi nasional dengan sukses menyelenggarakan Muktamar NU tahun 1999 dan memboyong Piala Liga Indonesia IX & XII (Sepak bola) pada tahun 2003 & 2006 melalui kesebelasan Persik serta mendapat predikat Kota Investasi 2003 versi Jawa Pos dan predikat Kota Sehat Nasional 2005 oleh Menteri Kesehatan.
Sebagai Kota Tahu, makanan dan oleh-oleh khas Kota Kediri yang utama terdiri dari Gethuk Pisang, Krupuk Pasir, Sate Bekicot, Nasi Tumpang. Oleh-oleh khas Kediri ini bisa didapatkan di Jalan Pattimura Kota Kediri yang menjadi Sentra Oleh-Oleh khas Kediri. Untuk menyantap Nasi Pecel Tumpang, bisa dinikmati pada pagi hari ataupun malam hari. Pada malam hari, penjual Nasi Pecel Tumpang banyak ditemui di lesehan sepanjang Jalan Dhoho Kota Kediri. Lesehan Nasi Pecel Tumpang ini biasanya buka hingga pagi hari dan merupakan kawasan wisata kuliner yang sangat ramai. Harganya sekitar Rp 5.000,- per porsi, bisa ditambah dengan tusukan telur puyuh, usus, kulit, maupun lauk lainnya.

Tempat Wisata :
- Gua Selomangleng, di Kelurahan Pojok
- Candi Setono Gedong peninggalan Kerajaan Hindu di Jalan Dhoho
- Museum Airlangga, di Kelurahan Pojok
- Museum Fotografi Kediri
- Gua Selobale di lereng Gunung Klothok
- Trekking Gunung Maskumambang
- Makam dan Situs Bersejarah Mbah Bancolono di Puncak Gunung Maskumambang
- Makam dan Situs Bersejarah Sunan Geseng
- Masjid Auliyya Setono Gedong
- Makam Kuno Mbah Wassil
- Masjid Banjar Mlati, Masjid Tertua di Kota Kediri
- Masjid Agung Kota Kediri
- Klenteng Tjio Hwie Kiong
- Gereja Merah, khas era Kolonialisme
- Monumen Kediri SyuWaterpark Selomangleng, di Kelurahan Pojok
- Kolam Renang Pagora
- Kolam Renang Tirtoyoso
- Taman Wisata Ubalan
- Gumul Paradise Island
- Alun-Alun Kota Kediri
- Dermaga Joyoboyo
- GOR Joyoboyo
- Wisata Kuliner Soto Kediri Bok Ijo di Terminal Tamanan
- Pusat Tahu Takwa dan Gethuk Gedang di Jalan Pattimura
- Kuliner Pecel di Jalan Dhoho
- Taman Sekartaji
- Kuliner Jagung Bakar di Bundaran Sekartaji

Makanan Khas Kota Kediri :
- Gethuk Pisang
- Stik/Emping Tahu
- Tahu Taqwa/Kuning
- Sate/Kripik Bekicot

Dalam pemerintahan, dikendalikan oleh Walikota bersama DPRD.
DPRD Kota Kediri adalah lembaga perwakilan rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat Kota Kediri pada pemilu legislatif setiap lima tahun sekali. Anggota DPRD Kota Kediri periode 2009-2014 terdiri atas 30 kursi.
Daftar Walikota Kediri sejak tahun 1929:
1. Mr. L.K. Wennekendonk (1929-1936)
2. J.G. Ruesink (1936-1940)
3. M. Scheltema (1940-1941)
4. Dr. J.R. Lette (1941-1942)
5. R. Soeprapto (1945-1950)
6. R. Dwidjo Soemarto (1950-1960)
7. Soedjono (1960-1966)
8. Hartojo (1966-1968)
9. Anwar Zainudin (1968-1973)
10. Drs. Soedarmanto (1973-1978)
11. Drs. Setijono (1978-1989)
12. Drs. Wijoto (1989-1999)
13. Drs. H.A. Maschut (1999-2009)
14. dr. Samsul Ashar, Sp.PD (2009-2013)
15. Abdullah Abubakar, SE (2013-sekarang)

sumber :
http://www.kedirikota.go.id/

Address

Loceret
64132

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kota Kediri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share