Sememu water city

Sememu water city sememu water city

23/08/2025

Masih 0,.. tetap di syukuri di openi di telateni

09/08/2025

Merayakan tahun ke-12 saya di Facebook. Terima kasih atas dukungan berkelanjutan. Saya tidak mungkin berhasil tanpa Anda semua. 🙏🤗🎉

09/08/2025
20/07/2025

Santri Mbeling
Episode: 02

dan Preman Terminal

Pagi hari kereta sudah memasuki stasiun Jatinegara. Panji dan Deni bergegas turun kemudian berjalan ke jalan raya. Melihat keramaian kota metropolitan,,, Panji sangat kagum, karena banyak bangunan megah dan rame. Walau kota surabaya juga rame dan megah,, namun tak seramai dan semegah ibu kota.

“Den,,, uangku hanya cukup untuk makan 1 atau 2 hari lagi.” kata Panji sambil menikmati secangkir kopi hitam di kedai pinggir jalan.

“Tenang saja Panji. Aku banyak teman di sini, lagian,,, kita bisa ngamen.” Kata Deni.

“Baiklah kalau begitu, aku juga biasa ngamen waktu di surabaya, ujar panji. Sekarang kita mau kemana?” Kata Panji.

“Kita ke terminal cililitan dulu, ke tempat teman ku.” jawab Deni tak lama kemudian naik bus.

Tak seberapa lama setelah naik bus kota, sampailah Panji dan Deni di terminal cililitan. Deni pun bertemu dengan teman temannya yang juga berasal dari kota pahlawan surabaya.

“Lu bawah siapa Den.” tanya jack yang berwajah sangar dengan lengan penuh tato.

Dia Panji temanku, dia lagi pengen main aja ke Jakarta.“ Jawab Deni.

“Panji,,, makan dulu ke warung, minta saja, bilang suruh Jack.
Ayo den, kamu juga sarapan dulu.” Kata Jack.

“Siap…” Jawab Deni lalu beranjak ke warung.

Sambil makan di warung,,, Panji berkata, “Den,,, si jack itu sepertinya orang berpengaruh di kawasan ini?!”

“Dia ketua geng di terminal Cililitan. Dia juga menguasai beberapa lahan parkir di wilayah ini. Jack mempunyai banyak anak buah yang berasal dari surabaya.
Jadi,,, kamu jangan takut.
Walaupun Jack seorang preman yang kejam,,, Jack orangnya baik, apalagi pada orang sesama dari surabaya.” Jawab Deni.
“Setelah makan,,, kita parkiran, kita bantu si jack.”

“Baiklah.” Jawab Panji.

Di area parkir si jack duduk santai bersandar dinding toko.
“Panji,,, sini kamu” panggil jack.

“Iya Bang, ada apa?” jawab Panji.

“Duduk sini. Hemmm,,, kamu terlihat masih kecil. Emang umur berapa kamu?” Tanya si Jack.

Umur ku 15 tahun lebih bBang, baru lulus sekolah.” jawab Panji kemudian menyulut rokok.

“Kamu sering berkelahi tidak?” tanya jack kemudian menuangkan bir bintang ke dalam gelas.

“Tidak pernah bang, hanya mencuri dan mabuk saja.” jawab Panji.

“Ini bir, minumlah.” kata jack kemudian menyodorkan gelas berisi bir bintang.
“Kalau kamu gabung dengan ku,,, kamu harus jadi orang pemberani seperti Deni. Kamu harus berani memukuli orang, kalau terpaksa,,, kamu bunuh. Hidup di kota Jakarta ini kejam panji. Untuk bisa bertahan hidup,, demi sesuap nasi,,, kadang kita harus ribut dengan kelompok lain.Apa kamu sanggup,,,? “ Kata Jack.

“Sanggup bang. Tapi,,, rencananya aku mau pergi ke kabupaten Banten dulu.” Jawab Panji.

“Ngapain kamu ke kabupaten Banten,,,?” tanya jack heran.
“Emang kamu mau cari ilmu kebal dulu kesana,,,? “

“Aku ingin belajar Ngaji di pesantren sebentar. Kalau aku gak betah,,, aku akan kesini lagi.” Jawab Panji.

Mendengar pengakuan panji,,, jack diam sambil menghisap dalam dalam rokok nya. Jack teringat masa kecilnya dulu, yang ingin mesantren tapi orang tuanya tidak ada biaya. Karena kemiskinan,,, jack akhirnya terjun ke lembah hitam, dengan menjadi preman di ibukota.

“Panji,,, mengapa kamu ingin Ngaji ke pesantren,,,?” tanya jack yang matanya berkaca kaca.

“Di surabaya,,, aku sedang dicari polisi Bang, karna kasus pencurian.
Mungkin Mama ku sangat marah kepada ku, dan tidak mau menerima ku lagi. Mungkin juga aku akan disel beberapa bulan bahkan bisa setahun. Dari pada aku tidak sekolah,,, lebih baik aku belajar Ngaji di pesantren. Walaupun aku tau dari majalah,,, yaa saya coba saja, apakah aku bisa dan beta tinggal di pesantren.” Jawab Panji.

“Jadi,,, kamu mau mesantren itu karena terpaksa! Kamu anak yang jujur dan pemberani. Dari pada jadi preman seperti ku,,, lebih baik jadi santri, walau santri Nakal.
Baiklah Panji,,, aku tidak memaksamu harus ikut kelompok ku. Habis ini ikut aku, aku antar kamu naik bis ke serang Banten. Setelah itu kamu oper naik angkot atau bus metro mini.” kata jack.
“Mumpung masih sore.”

“Baiklah Bang.” kata Panji.

Sore itu,,, Jack mengantar Panji naik bis ke jurusan kota serang Banten.

Panji,,, ini uang buat ongkos naik bis, dan buat jajan kamu di Pondok Pesantren. Belajar Ngaji yang sungguh sungguh yaa,,, biar tidak seperti aku. Doakan aku panjang umur dan bisa Tobat. Kalau kamu ke Jakarta,,, singgahlah ke tempatku.” Kata Jack.

“Iya Bang. Terimakasih atas kebaikan abang. Sampai jumpa lagi.” Kata Panji lalu masuk kedalam bus.

Tak lama kemudian… Bus melaju perlahan lahan menuju kota serang kabupaten Banten.

Karena bus nya melaju pelan pelan sambil cari penumpang,,, jam 7 malam bus baru memasuki area terminal serang.

Setelah turun dari bis,,, Panji mencari angkutan umum untuk pergi ke pesantren.
Setelah tanya sana sini,, ternyata angkutan umum menuju kecamatan kramat watu terakhir jam 6 sore.

Dengan langkah gontai,,,Panji duduk di bangku terminal dan terpaksa menunggu hingga pagi hari.

Waktu terus berlalu, malam merambat pelan. Sepelan penjual bakso yang mendorong gerobaknya.

Pada tengah malam,,, ketika Panji duduk sendiri di bangku terminal,, ada seorang pemuda duduk di sebelah nya, bertanya, “Adik mau kemana, kok bawah tas sendirian di terminal?”

“Saya mau pergi ke pesantren Ar Rahman Mas, di kecamatan kramat waktu. Saya kemalaman, tidak ada angkutan umum, jadi terpaksa menunggu pagi.” Jawab Panji.

“Emang dari mana adik ini,,,? “ tanya pemuda tadi.

“Dari surabaya Mas.” jawab Panji.

“Silahkan diminum. Ini rokok, ambillah buat adik, ini ada uang seribu untuk naik bis metromini.
Ongkosnya bis hanya 200 rupiah. Bilang saja turun pesantren Ar Rahman, pasti tahu kondekturnya.
Kamu santai saja ya disini, kalau ada yang ganggu,, bilang saja keponakan bang ipin.” Kata Ipin.

“Baiklah Bang, Terimakasih.” Kata Panji.

Setelah itu,,, Bang ipin pergi meninggalkan Panji sendirian.

Karena menghormati santri,,,,Bang ipin pun berpesan kepada beberapa preman sekitar terminal serang untuk tidak mengganggu Panji.

~ bersambung

19/07/2025

Makam Kyai Benowo.
Episode 01

Makam Mbah Wali

Sambil memikirkan ijazahnya… Damar duduk termenung di teras depan rumah, sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi dingin.

“Mas Damar… sore-sore mbok ya mandi, lalu ganti baju. Lagi mikirin apa? Kok melamun saja.” Ujar Ibu Mina sambil menyapu halaman rumah.

“Lagi mikirin ijazah sekolah Bu. Ijazahnya tidak bisa di ambil. Karena punya tanggungan 3 juta.” Jawab Damar.

“Ya sudah, kamu cari kerjaan, kamu kumpulkan uangnya. Nanti di tambahin sama Ibu. Jangan main saja, berhenti mabuk. Jangan keluyuran gak jelas. Kamu kan sudah besar, yang rajin sholat. Biar hidup mu berkah. Kita ini keluarga miskin.” Kata sang Ibu lalu menyudahi menyapunya.

“Baru lulus sekolah, ijazahnya tidak ada. Mau melamar kerjaan bingung. Pakai ijazah apa melamar di pabrik. Motor juga tidak punya. Ada motor satu, jelek lagi. Dipakai sekeluarga. Bagaimana ini… ? Hidup kok begini - begini saja dari kecil. Punya Hp, jadul lagi. Keluaran tahun 45.” Gumam Damar ngedumel.

“Kak… melamun saaaja? Ini aku kasih pentol cilok.” Kata Shani adiknya Damar nomor dua.

“Makasih.” Kata Damar sambil menerima sekantong plastik kecil.
“Dari mana kamu?”

“Dari sekolah Kak. Tapi, tadi main dulu ke rumah teman. Aku mandi dulu ya? Mau sholat magrib dulu.” Kata Shani sambil berjalan masuk rumah.

“Iya…” Jawab Damar lalu beranjak jalan kaki melewati kebun depan rumahnya.

Tak lama kemudian… Damar duduk di warung kopi Agus Sedih, milik Pak Seno.

“Loh… kamu Mar? dari mana kamu?” tanya Bagas, teman sekolah juga sahabat satu kampung sejak kecil.

“Dari rumah. Apa kamu punya rokok?” Tanya Damar.

“Aaada, ini. Pak Seno, kopi hitam dua.” Ujar Bagas lalu menyulut rokok.

“Ok, siaaap.” Sahut Pak Seno lalu memasak air.

“Punya uang kamu, kok tumben rokok an M∆rlboro Black.” Tanya Damar.

“Iya, punya uang 240 ribu. Dapat undian nomor togel dua angka. Ini untukmu, aku kasih 50 ribu, untuk beli rokok.” Ujar Bagas sambil menyodorkan uang.

“Terima kasih.” ujar Damar sangat senang.

“Ini kopinya.” Ujar Pak Seno lalu meletakkan dua cangkir di atas meja.

“Makasih Pak.” Ujar Bagas lalu menikmati secangkir kopi hitam bersama Damar.

“Dapat nomor togel dimana kamu, kok bisa keluar nomornya.” Tanya Damar.

“Dapat dari mimpi. Semalam… diajak orang-orang tua ke makam Mbah wa-l! Benowo. Setelah pulang, saat aku tidur, aku mimpi dikejar ular. Tadi siang aku pasang nomor 32. Dan sorenya keluar.” Jawab Bagas.

“Ya sudah, nanti malam kalau gak besok aku ke makam Ky∆i Benowo. Aku akan cari nomor togel. Barangkali dapat 4 angka.

Malam merambat pelan. Sepelan penjual bakso yang mendorong gerobaknya. Tak terasa sudah jam 10 malam.

“Bagas… aku pulang dulu ya, mau makan dulu. Lapar aku, sedari siang belum makan.” Ujar Damar.

“Ok siap…” Ujar Bagas, lalu Damar berjalan pulang.

Tak lama kemudian… Damar masuk rumah menuju ke dapur.

“Kamu itu… kalau masuk rumah mbok ya uluk salam. Diajari dari kecil kok gak bisa-bisa.” Seru sang Ibu yang lagi di ruang keluarga lagi nonton televisi.

“Bu… masak apa? lapar perutku.” Tanya Damar.

“Masak sayur lodeh, lauk tahu tempe sama sambel.” Jawab sang Ibu.

“Ok…” Gumam Damar lalu mengambil piring kemudian mengambil nasi, sayur dan tahu tempe. Setelah duduk di sebelah Ibunya di depan televisi.

“Bu… bagaimana caranya ziarah kubur?” Tanya Damar sambil makan.

“Kamu itu keterlaluan kok. Makanya disuruh ngaji berangkat. Biar pinter. Masak, ziarah kubur saja tidak bisa.” Kata sang Ibu.

“Kan dari kecil aku sudah ngaji Bu?” Gumam Damar.

“Iya, ngaji sampai Kelas 5 SD saja. Ziarah kubur itu ya baca Surat yasin dan tahlil. Kan ada buku panduannya. Emangnya… mau ziarah kemana? Kamu sholat saja tidak pernah, kok tiba-tiba ziarah kubur. Makanya sholat 5 waktu yang rajin, jangan malas-malas kayak Bapakmu.” Kata sang Ibu.

“Mau ziarah ke makam Ky∆i Benowo. Bu… apa boleh ziarah ke makam w∆-l!, minta nomor togel?” kata Damar.

“Jangan kurang ajar kamu, ziarah ke makam wali kok minta nomor togel. Dosa..! Lagian… uang hasil judi itu haram, dilarang sama agama kita. Kerja yang baik, biar berkah hidupnya dunia akhirat. Apa kamu mau meniru Bapakmu? Bapakmu sudah tobat, ganti kamu sekarang main togel.” Seru sang Ibu.

“Santai saja Bu, gak usah ngegas ngomongnya. Dosa. Ngomong yang pelan… yang enak di dengar. Anak biar bisa menerima dan mencerna.” Ujar Damar lalu menyudahi makannya.

“Kamu, walau Ibu ngomong pelan ya tidak kamu dengarkan nasehat Ibu. Ibu itu, sebenarnya capek dan bosan menasehatimu. Karna demi kebaikan mu, Ibu tetap menasehatimu dan mendoakan mu. Kamu itu sekarang sudah besar. Baru lulus sekolah. Mbok ya mikir lah sedikit. Kita ini keluarga miskin. Jadi jangan berbuat aneh-aneh. Berhenti mabuk - mabuk an. Berhenti main togel dan jud! online. Makanya ijazah mu ditahan sekolah. Karena uang pembayaran sekolah kamu habiskan buat judi online.” Kata sang Ibu.

“Iya Bu.” Jawab Damar lalu mengambil mengeluarkan motor butut milik ayahnya.

“Mau kemana kamu, malam-malam begini.” Tanya sang Ibu.

“Mau mencari info lowongan kerja Bu.” Jawab Damar sambil menuntun motor butut.

“Iya, hati-hati. Jangan malam-malam.” Ujar sang Ibu, tak lama kemudian, Damar pergi dengan motornya.

Damar melajukan motor butut milik Ayahnya pelan-pelan sambil berkata dalam hati. “Sedari kecil aku dan keluarga ku hidup dalam kemiskinan. Serba kekurangan. Tapi… ya ada saja rezeki untuk makan. Kadang aku kesal dengan keadaan. Tapi… aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku sudah besar dan baru lulus sekolah. Dan sekarang aku mulai mengerti tentang kehidupan. Sedih sekali menjadi orang miskin. Selalu disepelekan, dan tidak dianggap. Benar kata Ibuku, aku harus rajin sholat. Biar berkah hidup ku.
Memang… sejak sekolah SMP hingga lulus sekolah SMA, aku tidak pernah sholat. Jarang sekali aku sholat.”

Tak lama kemudian… Damar menghentikan motornya di parkiran area makam Kyai Benowo.

Setelah memarkirkan motornya… Damar langsung mengambil air wudhu, kemudian menunaikan shalat isya.

Tak lama selesai sholat isya, Damar beranjak ke makam Kyai Benowo.

Setelah mengambil buku panduan ziarah… Damar duduk menghadap makam, lalu membaca surat Yasin.

Selesai membaca surat Yasin, Damar melanjutkan dengan membaca tahlil.

Tak selang lama… Damar menyudahi ziarahnya dengan doa. Kemudian Damar beranjak ke warung kopi.

“Pak… kopi hitam.” Jawab Damar lalu duduk sendirian di atas keramik, paling pojok.

“Untung waktu kecil kau ngaji di mushola dengan Kyai kampung. Jadi… sekarang aku bisa ngaji membaca Al qur’an. Semua itu… berkat didikan Ayah dan Ibuku. Kalau tidak… aku pasti bingung tadi pas ziarah. Tapi… untuk apa aku ziarah di makam Ky∆i Benowo ini, kalau tidak boleh minta nomor togel sama Ibu.” kata Damar dalam hati.

“Ini Mas, kopinya.” Ujar Kang Kaji pemilik warung kopi.

“Iya Pak. Terima kasih.” Ujar Damar lalu menyeruput kopi panas. Setelah itu menyulut rokok.

“Untung dikasih uang 50 ribu sama Bagas. Jadi bisa beli kopi dan rokok. Seumur hidup… tiga kali ini aku ziarah ke makam Benowo. Lama sekali tidak ziarah kesini, suasana area makam, masih saja ramai seperti dulu.” Gumam Damar lirih, sambil melihat seorang pemuda berambut panjang sepinggang, yang lagi tidur-tiduran di bawah tiang penyangga di pojok teras yang remang-remang.

“Siapa pemuda yang tidur - tiduran itu? Seperti orang gila. Rambutnya panjang sepinggang.” Kata Damar dalam hati.

~bersambung

02/06/2025
26/05/2025

Sabar mase

28/02/2025

Indonesian mothers

27/02/2025

Asli apa setingan

Address

Sememu Pasirian
Lumajang
57372

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sememu water city posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share