08/03/2021
ADAT ISTIADAT PAGAR BAGI NEGERI
Masalah demi masalah akan selalu timbul dalam setiap pergumulan hidup manusia, meski kerap sulit bagi manusia itu untuk mengimbangi dan mengontrolnya, juga menjadi takdir bagi manusia akan adanya jiwa yang BAIK dan jiwa yang BURUK dalam diri setiap manusia.
Manusia yang memiliki jiwa yang baik tentu akan menyelesaikan setiap masalahnya dengan cara yang baik, sebaliknya manusia yang memiliki jiwa yang buruk akan menyelesaikan masalahnya dengan cara yang buruk p**a, termasuk BUNUH DIRI. Selain faktor genetika, lingkungan juga menjadi faktor utama hadirnya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk dalam diri manusia.
Berfalsafah pada falsafah hidup yang telah ditanamkan oleh nenek moyang leluhur suku bangsa Toraja sejak dahulu kala, yakni "Tallu Lolona" :
1. Lolo Tau (Manusia)
2. Lolo Patuoan (Hewan)
3. Lolo Tananan sisola Bangunan Banua (Tumbuh-tumbuhan dan Rumah)
Falsafah "Lolo Tau" dengan tegas mengajarkan manusia Toraja agar hidup saling mengasihi, saling menjaga antar sesama dan mampu memanusiakan manusia! Manusia diberikan kesempatan untuk hidup di dunia agar manusia itu dapat menjalankan tugasnya dan bertanggungjawab kepada manusia lainnya.
Itulah sebabnya orangtua wajib bertanggungjawab kepada anak-anaknya, sebaliknya ketika si anak telah dewasa ia berkewajiban p**a untuk merawat orangtuanya hingga raga orangtuanya itu berpindah ke liang lahat dan rohnya kembali kepada Sang Penciptanya di Nirwana (Membali Puang).
Kini menjadi sebuah fenomena akan maraknya kasus BUNUH DIRI yang dilakukan oleh manusia Toraja, terlebih lagi didominasi para generasi muda Toraja. Apa sebab..?
Karena nilai-nilai Etika, Moral dan Keyakinan (Adat) nenek moyang suku bangsa Toraja itu mulai terlupakan, perlahan tergerus oleh adat istiadat dan kebudayaan nenek moyang bangsa lain / ASING (impor) yang oleh oknum-oknum penggeraknya terus mencoba mereduksi adat istiadat dan kebudayaan asli nenek moyang suku bangsa Toraja itu menjadi dualisme.
Perlahan namun pasti bahwa nilai-nilai adat istiadat dan kebudayaan itu mulai memudar, mengakibatkan manusia Toraja mulai terjangkit MIOPIA WAKTU. Ia mulai lupa dirinya sedang berada dimana, dan hendak akan kemana..?
Ketika masalah hidup menimpa, tak sedikit manusia itu yang sudah enggan untuk mengemban tanggung jawabnya kepada sesamanya, termasuk kepada orangtuanya. Manusia itu tidak lagi berupaya untuk mencari solusi dari setiap masalahnya, melainkan ingin menyelesaikan masalahnya dengan cara yang instan, yakni BUNUH DIRI.
Manusia yang tengah dalam masalah itu mulai melupakan fungsi dari Adat Istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang leluhurnya, bahwa "Adat Istiadat Toraja tempatnya berlindung orang-orang yang lemah dan tertindas, Adat Istiadat Toraja tempatnya terbentur orang-orang yang kuat dan sewenang-wenang, Adat Istiadat Toraja pagar bagi negerinya".
Sejarah Lakipadada Sang Pencari Penangkal Ajal mengandung banyak nilai moral yang dapat kita petik bersama, nilai-nilai moral itu haruslah ditanamkan kepada para generasi muda Toraja saat ini, sebagai warisan kepada generasi muda berikutnya, kepada anak-cucu kita nantinya. Bahwa, kita harus terus berjuang untuk hidup, demi orang-orang yang kita cintai.