GRD komite sektor yaspim

GRD komite sektor yaspim kemenangan sosialisme hanya ada pada pemuda yang hebat dan cerdas.!

28/07/2021
Selamat dan Sukses atas terpilihnya Kamerad Ancik Yunarto sebagai Ketua Umum GRD Komite kota Makasaar.Semoga amanah sert...
27/07/2021

Selamat dan Sukses atas terpilihnya Kamerad Ancik Yunarto sebagai Ketua Umum GRD Komite kota Makasaar.

Semoga amanah serta dapat membangkitkan atmosfer gerakan dikota makassar.

Ernest MandelPengenalan Kepada Teori Ekonomi Marxis Versi Online:   Marxists Internet Archive, 2006.Alih bahasa:   Nesto...
08/01/2021

Ernest Mandel
Pengenalan Kepada Teori Ekonomi Marxis

Versi Online: Marxists Internet Archive, 2006.
Alih bahasa: Nestor Paz Zamora, 2006




I. Teori Nilai dan Nilai Lebih
Dalam analisa terakhir, setiap langkah maju dalam sejarah peradaban telah terjadi karena peningkatan produktivitas kerja. Selama sekelompok manusia tertentu dengan susah payah memproduksi dengan cukup untuk mempertahankan hidup mereka sendiri, selama tidak ada surplus diatas produk kebutuhan tersebut, adalah tidak mungkin terjadi pembagian kerja dan kemunculan pekerja tangah ahli, artis atau kaum terpelajar. Dibawah kondisi tersebut, prasyarat untuk spesialisasi semacam itu tidak didapatkan.



I.1 Produk Surplus Sosial

Selama produktivitas kerja tetap pada tingkat dimana satu orang hanya dapat menghasilkan cukup untuk kebutuhan hidupnya sendiri, pembagian sosial tidak terjadi dan diferensiasi sosial apapun didalam masyarakat adalah tidak mungkin. Dibawah kondisi tersebut, semua orang adalah produsen dan mereka semua ada pada tingkat ekonomi yang sama.

Setiap peningkatan dalam produktivitas kerja melewati titik rendah tersebut membuat surplus kecil menjadi mungkin, dan seketika terdapat surplus produk, seketika dua tangan manusia dapat memproduksi lebih dari yang dia butuhkan untuk kebutuhan hidupnya sendiri, kemudian kondisi telah dibentuk untuk sebuah perjuangan bagaimana surplus tersebut akan dibagikan.

Sejak saat ini, pengeluarkan total kelompok sosial tidak lagi terdiri hanya dari kerja kebutuhan untuk keberlangsungan hidup produsennya. Beberapa dari hasil kerja tersebut sekarang dapat digunakan untuk melep***an sebuah seksi masyarakat dari kewajiban untuk berkerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri.

Kapan saja situasi tersebut muncul, sebuah seksi masyarakat dapat menjadi klas berkuasa, yang karakteristik luar biasanya adalah emansipasinya dari kebutuhan untuk bekerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri.

Sejak saat itu, kerja produsen dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dari kerja tersebut terus digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup si produsen itu sendiri dan kita menyebut bagian ini sebagai kerja kebutuhan, bagian yang lainnya digunakan untuk menjaga klas berkuasa dan kita memberikannya nama surplus kerja.

Mari kita mengilustrasikan hal tersebut dengan contoh yang sangat jelas dalam perbudakan perkebunan, seperti yang terjadi di daerah-daerah tertentu dan periode Kekaisaran Romawi, atau seperti yang kita temukan di Barat India dan pulau Afrika Portugis dimulai pada abad keenembelas, dalam perkebunan sangat luas yang didirikan disana. Di area tropis tersebut, bahkan makanan budak secara umum tidak disediakan oleh tuannya, para budak harus menghasilkannya sendiri dengan bekerja pada sebidang kecil tanah pada hari minggu dan produk dari kerja tersebut membangun simpanan makanan dia. Selama enam hari dalam seminggu para budak bekerja di perkebunan dan tidak menerima apapun dari produk kerja dia. Hal tersebut adalah kerja yang menciptakan produk surplus sosial, diserahkan oleh para budak seketika dihasilkan dan menjadi milik tunggal pemilik budak

Kerja seminggu, yang dalam kasus ini adalah tujuh hari, dapat dibagi menjadi dua bagian: kerja satu hari, Minggu, yang menyusun kerja kebutuhan, kerja tersebut yang menyediakan produk untuk kebutuhan hidup para budak dan keluarganya; kerja enam hari yang lain adalah kerja surplus dan semua produknya menjadi kepunyaan pemilik budak, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dan juga memperkaya dirinya sendiri.

Wilayah besar dari awal Abad Pertengahan memberikan kita gambaran yang lainnya. Tanah di wilayah tersebut dibagi menjadi tiga bagian: tanah komunal terdiri dari hutan, padang rumput, rawa-rawa, dsb; tanah yang dikerjakan oleh petani hamba untuk kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarganya; dan terakhir, tanah yang dikerjakan oleh petani hamba dalam rangka untuk menopang tuan feodal. Kerja seminggu selama periode tersebut biasanya enam hari, bukan tujuh. Kerja seminggu tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama: petani hamba bekerja tiga hari di tanah dimana hasilnya menjadi milik dia; tiga hari yang lainnya dia bekerja di tanah tuan feodal, tanpa bayaran, memberikan kerja gratis bagi klas berkuasa.

Produk dari setiap tipe kerja yang sangat berbeda dapat didefinisikan dalam dua ungkapan yang berbeda. Ketika produsen melakukan kerja kebutuhan, dia menghasilkan produk kebutuhan. Ketika dia melakukan kerja surplus, dia menghasilkan produk surplus sosial.

Demikian, produk surplus sosial adalah bagian dari produksi sosial yang dihasilkan oleh klas yang bekerja tetapi diambil oleh klas berkuasa, terlepas dari bentuk yang diambil oleh produk surplus sosial, entah hal tersebut produk alami, atau komoditi untuk dijual, atau uang.

Nilai lebih sederhananya adalah bentuk moneter dari produk surplus sosial. Ketika klas berkuasa mengambil bagian produksi masyarakat yang sebelumnya disebut sebagai “produk surplus” secara eksklusif dalam bentuk moneter, kemudian kita menggunakan istilan “nilai lebih” ketimbang “produk surplus”

Seperti yang akan kita lihat nanti, bagaimanapun, hal tersebut diatas hanya menyusun pendekatan awal bagi definisi nilai lebih.

Bagaimana produk surplus sosial menjadi ada? Hal tersebut muncul sebagai konsekwensi dari sebuah pengambilalihan gratis, hal tersebut adalah, sebuah pengambil alihan tanpa kompensasi, oleh klas berkuasa dari bagian produksi klas yang berproduksi. Ketika para budak bekerja enam hari seminggu di perkebunan dan produk total kerjanya diambil oleh pemilik budak tanpa kompensasi apapun bagi para budak, asal usul produk surplus sosial disini adalah kerja gratis, kerja tanpa bayaran, yang disediakan oleh para budak bagi pemilik budak. Ketika petani hamba bekerja tiga hari seminggu di tanah milik tuan tanah, asal usul dari pemas**an tersebut, dari produk surplus sosial, juga dapat ditemukan dalam kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dihasilkan oleh petani hamba.

Kita akan melihat lebih jauh dalam asal usul nilai lebih kapitalis, itu untuk mengatakan, pendapatan klas borjuasi dalam masyarakat kapitalis, adalah hal yang sama: hal tersebut adalah kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dimana proletar, pekerja upahan, memberi para kapitalis tanpa menerima nilai apapun sebagai pertukaran.

I.2 Komoditi, Nilai Guna dan Nilai Tukar

Kita sekarang telah mengembangkan beberapa definisi dasar yang akan digunakan sepanjang penjelasan selanjutnya. Beberapa yang lainnya harus ditambahkan pada poin tersebut.

Setiap produk dari kerja manusia normalnya memiliki kegunaan, dia harus bisa memuaskan kebutuhan manusia. Kita oleh karena itu dapat mengatakan bahwa setiap produk kerja manusia memiliki nilai guna. Istilah “nilai guna” akan, bagaimanapun juga, digunakan dalam dua makna yang berbeda. Kita akan berbicara nilai guna sebuah komoditas; kita juga akan berbicara tentang nilai guna, saat kita merujuk, sebagai contoh, pada sebuah masyarakat dimana hanya nilai guna yang dihasilkan, itu untuk mengatakan, dimana produk diciptakan untuk konsumsi langsung baik oleh produsen itu sendiri atau oleh klas berkuasa yang mengambil alihnya.

Bersama dengan nilai guna tersebut, sebuah produk kerja manusia dapat juga memiliki nilai yang lain, sebuah nilai tukar. Hal tersebut dapat dihasilkan untuk pertukaran di pasar, dengan tujuan untuk dijual, ketimbang konsumsi langsung oleh produsen atau klas yang kaya. Sebuah produk massal yang telah diciptakan untuk tujuan dijual tidak dapat lagi dianggap sebagai produksi dari nilai guna yang sederhana; hal tersebut sekarang adalah sebuah produksi komoditas.

Komoditas, oleh karena itu, adalah produk yang diciptakan untuk dipertukarkan di pasar, bertentangan dengan produk yang dibuat untuk konsumsi langsung. Setiap komoditas harus memiliki baik nilai guna dan nilai tukar.

Komoditas harus memiliki nilai guna atau tidak ada orang yang akan membelinya, karena pembeli pada akhirnya memikirkan konsumsi, dengan memuaskan beberapa kekurangannya dengan pembelian tersebut. Sebuah komoditas tanpa nilai guna bagi siapapun akan berakibat tidak dapat dijual, akan menyusun sebuah produksi tak berguna, tidak akan memiliki nilai tukar karena dia tidak memiliki nilai guna.

Disisi yang lain, setiap produk yang memiliki nilai guna tidak serta merta memiliki nilai tukar. Dia memiliki nilai tukar hanya pada tingkatan bahwa masyarakat itu sendiri, dimana komoditas dihasilkan, didasarkan pada pertukaran, adalah sebuah masyarakat dimana pertukaran merupakan praktek yang umum.

Adakah masyarakat dimana produk tidak memiliki nilai tukar? Dasar bagi nilai tukar, dan benteng bagi perdagangan dan pasar, disusun oleh tingkatan perkembangan pembagian kerja tertentu. Dalam rangka agar produk tidak secara langsung dikonsumsi oleh produsennya, adalah esensiil bahwa setiap orang tidak terlibat dalam menghasilkan sesuatu yang sama. Jika komonitas tertentu tidak memiliki pembagian kerja, atau hanya bentuk dasarnya saja, kemudian adalah jelas bahwa tidak ada alasan bagi keberadaan pertukaran. Normalnya, petani gandum tidak memiliki sesuatu untuk dipertukarkan dengan petani gandum lainnya. Tetapi seiring pembagian kerja terjadi, seiring ada kontak antara kelompok-kelompok sosial yang memproduksi nilai guna berbeda, kemudian pertukaran datang, awalnya atas dasar kadang kala, kemudian atas dasar yang permanen. Dengan jalan tersebut, sedikit demi sedikit, produk yang dibuat untuk dipertukarkan, komoditas, membuat kemunculan mereka disamping produk tersebut yang hanya dibuat untuk konsumsi langsung produsen mereka.

Dalam masyarakat kapitalis, produksi komoditas, produksi nilai tukar, telah mencapai perkembangan terbesarnya. Hal tersebut adalah masyarakat pertama dalam sejarah manusia dimana bagian besar produksi terdiri dari komoditas. Adalah tidak benar, bagaimanapun juga, bahwa semua produksi dibawah kapitalisme adalah produksi komoditas. Dua kelas dari produk tetapi masih nilai guna.

Kelompok pertama terdiri dari semua hal yang diproduksi oleh petani untuk konsumsinya sendiri, semuanya dikonsumsi secara langsung di lahan pertanian dimana produk tersebut dihasilkan. Produksi untuk konsumsi-sendiri semacam itu oleh petani terdapat bahwa di negeri-negeri kapitalis maju seperti Amerika Serikat, meskipun hal tersebut hanya menyusun bagian kecil dari keseluruhan produksi pertanian. Secara umum, semakin terbelakang pertanian sebuah negeri, semakin besar bagian produksi pertanian yang menuju konsumsi-sendiri. Faktor tersebut membuatnya sangat sulit untuk menghitung dengan tepat pendapatan nasional negeri semacam itu.

Kelompok kedua produk dalam masyarakat kapitalis bukanlah komoditas tetapi tetap hanya nilai guna yang terdiri dari semua hal yang dihasilkan dirumah. Meskipun fakta bahwa cukup banyak kerja manusia terlibat dalam tipe produksi rumah tangga seperti itu, hal tersebut masih tetap merupakan sebuah produksi nilai guna dan bukan komoditas. Setiap saat ketika semangkuk sup dibuat atau sebuah kancing dijahit oleh seorang penjahit, hal tersebut menyusun produksi, tetapi bukanlah produksi untuk pasar.

Kemunculan produksi komoditi dan kemudian regularisasi dan jeneralisasinya telah secara radikal merubah cara kerja manusia dan bagaimana mereka mengorganisir masyarakat.

I.3 Teori Alienasi Marxis

Tidak dapat diragukan anda telah mendengar teori alienasi Marxis. Kemunculan regularisasi dan jeneralisasi produksi komoditas berhubungan secara langsung dengan karakter yang meluas dari fenomena alienasi tersebut

Kita tidak dapat bergulat dengan aspek pertanyaan tersebut tetapi adalah sangat penting untuk memberikan perhatian untuknya, karena sejarah perdagangan meliputi lebih dari era kapitalis. Hal tersebut juga termasuk produksi komoditas skala kecil, yang akan kita diskusikan nanti. Juga terdapat sebuah masyarakat p***a kapitalis yang berdasarkan atas komoditas, masyarakat transisional antara kapitalisme dan sosialisme, seperti masyarakat Soviet hari ini, karena Soviet masih bergantung dalam tingkatan yang besar pada pondasi produksi nilai tukar. Saat kita sudah memahami karakteristik pokok tertentu dari masyarkat berdasarkan komoditas, kita dapat dengan siap melihat kenapa tidak mungkin untuk menaklukan fenomena tertentu dari alienasi dalam periode transisi antara kapitalisme dan sosialisme, seperti dalam masyarakat Soviet, sebagai contoh

Jelas sekali fenomena alienasi tersebut tidak terjadi – setidaknya dalam bentuk yang sama – dalam sebuah masyarkat dimana produksi komoditi tidak diketahui dan dimana hidup individu dan aktivitas sosialnya disatuakn dalam bentuk yang masih dasar. Manusia bekerja, tetapi secara umum tidak sendirian, seringkali dia menjadi bagian dari kelompok kolektif yang memiliki struktur yang sedikit banyak organik. Kerja dia adalah transformasi langsung terhadap benda material. Semua ini bermakna bahwa aktivitas kerja, tindakan produksi, tindakan konsumsi, dan hubungan antara individu dan masyarakatnya diatur oleh kondisi keseimbangan yang memiliki stabilitas dan tingkat permanen yang relatif.

Kita seharusnya tidak, tentu saja, menggambarkan dengan indah masyarakat primitif, yang tunduk pada tekanan dan bencana periodik karena kemiskinan ekstrimnya. Keseimbangannya terus menerus dirongrong oleh kekurangan, kelaparan, bencana alam, dsb. Tetapi periode antara bencana, terutama sekali setelah pertanian telah mencapai perkembangan tertentu dan ketika kondisi iklim menguntungan, masyarkat semacam itu memberikan seuam aktivitas manusia tingkat yang besar dalam kesatuan, harmoni dan stabilitas.

Konsekwensi malapetaka dari pembagian kerja seperti penghilangan semua aktivitas estetis, inspirasi artistik dan aktivitas kreatif dari tindakan produksi dan penggantiannya dengan tugas yang murni mekanis dan berulang-ulang tidak terdapat dalam masyrakat primitif. Bertentangan dengannya, sebagian besar seni, musik, pahatan, lukisan, tarian, mulanya berhubungan dengan produksi, dengan kerja. Hasrat untuk memberikan bentuk menarik untuk produk yang akan digunakan entah oleh individu, keluarganya, atau kelompok sedarah yang lebih besar, menemukan ekspresi normal, harmonis dan organik didalam kerangka kerja sehari-hari.

Kerja tidak dilihat sebagai kewajiban yang dibebankan dari luar, pertama kali karena kerja jauh lebih tidak keras, jauh lebih tidak melelahkan dibanding di bawah kapitalisme hari ini. Hal tersebut menyesuaikan diri lebih dekat pada irama organisme manusia seperti halnya kepada irama alam. Banyaknya hari kerja setiap tahun jarang melewati 150 sampai 200, sedangkan di bawah kapitalisme jumlahnya secara berbahaya mendekati 300 dan kadang kala bahkan lebih besar lagi. Lebih dari itu, ada sebuah kesatuan antara produsen, produknya dan konsumsinya, karena secara umum dia memproduksi untuk penggunaan dirinya sendiri atau untuk mereka yang dekat dengannya, sehingga pekerjaannya memiliki aspek fungsional secara langsung. Alienasi modern pada dasarnya berasal dari perpecahan antara produsen dan produknya, menghasilkan kedua-duanya dari pembagian kerja dan produksi komoditas. Dengan kata lain, adalah konsekwensi dari bekerja untuk pasar, untuk konsumen yang tak dikenal, sebagai ganti konsumsi oleh produsen itu sendiri.

Sisi lain dari gambaran tersebut adalah bahwa masyarakat yang hanya menghasilkan nilai guna, yang itu adalah, barang-barang yang akan dikonsumsi secara langsung oleh produsennya, selalu di masa lampai merupakan masyarakat miskin. tidak hanya karena dia tunduk kepada resiko alam tetapi dia juga harus membentuk batasan yang sangat sempit bagi keinginan manusia, karena hal tersebut harus menyesuaikan dengan tepat pada derajat kemiskinan dan variasi terbatas dari produk. Tidak semua keinginan manusia adalah bawaan alami bagi manusia. Ada interaksi tetap antara produksi dan keinginan, antara perkembangan tenaga produktif dan kenaikan keinginan yang baru. Hanya dalam masyarakat di mana produktivitas kerja akan dikembangkan ke titik yang paling tingginya, di mana suatu variasi tanpa batas dari produk akan tersedia, maka akan menjadi mungkin bagi manusia untuk mengalami ekspansi terus menerus dari keinginannya, sebuah perkembangan potensi tidak terbatas dirinya sendiri. Sebuah perkembangan terintegrasi dari umat manusia.

I.4 Hukum Nilai

Salah satu konsekwensi dari kemunculan dan jeneralisasi progresif dari produksi komoditas adalah bahwa kerja itu sendiri mulai untuk mengambil karakteristik reguler dan dapat diukur; dengan kata lain, kerja berhenti menjadi sebuah aktivitas yang terikat pada irama alam dan sesuai dengan irama fisiologis manusia itu sendiri.

Hingga abad kesembilanbelas dan mungkin bahkan ke dalam abad keduapuluh, petani di berbagai daerah Eropa Barat tidak bekerja dengan reguler, yaitu, mereka tidak bekerja dengan intensitas yang sama tiap bulan dalam setahun. Ada periode dalam tahun bekerja ketika mereka bekerja keras dan ada periode lain, terutama sepanjang musim dingin, ketika semua aktivitas sama sekali berhenti. Hal tersebut terdapat pada area pertanian paling terbelakang dari kebanyakan negeri-negeri kapitalis yang masyarakat kapitalis, selama pengembangannya, menemukan sebuah sumber yang paling menarik dari cadangan tenaga manusia, di sini suatu tenaga kerja tersedia untuk empat hingga enam bulan setahun pada gaji yang jauh lebih rendah, mengingat fakta bahwa bagian dari penghidupannya disediakan oleh aktivitas pertaniannya.

Ketika kita melihat pertanian yang lebih perkembang dan makmur, yang membatasi kota-kota besar, sebagai contoh, dan yang pada dasarnya berada di jalan menjadi terindustrialisasi, kita melihat pekerjaan tersebut jauh lebih reguler dan jumlah kerja yang dijalankan jauh lebih besar, didistribusikan dengan cara reguler sepanjang tahun, dengan musim tidak menanam semakin dihapuskan. Hal ini benar tidak hanya untuk jaman kita tetapi bahkan sangat awal seperi pada Abad Pertengahan, setidaknya sejak abad keduabelas kedepan. Semakin dekat kita pada kota, yaitu, pada pasar, semakin kerja petani menjadi kerja untuk pasar, yaitu, produksi komoditi, dan semakin diatur dan sedikit banyak kerja dia menjadi stabil, sama seperti jika dia bekerja didalam perusahaan industri.

Diekspresikan dengan cara yang lain, semakin produksi komoditi menjadi dijeneralisi, semakin besar regulasi kerja dan semakin masyarakat menjadi terorganisir pada dasar sebuah sistem perhitungan yang didirikan atas kerja.

Ketika kita meneliti pembagian kerja yang cukup maju didalam sebuah komune pada permulaan perkembangan perdagangan dan kerajinan tangan pada Abad Pertengahan, atau kolektif dalam peradaban seperti Byzantium, Arab, Hindu, Cina dan Jepang, faktor umum tertentu muncul. Kita terkejut oleh fakta bahwa integrasi sangat maju dari pertanian dan berbagai macam teknik kerajinan tangan terjadi dan regularitas kerja terjadi di pedesaan seperti halnya kota, sehingga suatu sistem penghitungan dalam makna kerja, dalam jam-kerja, telah menjadi kekuatan yang mengatur semua aktivitas dan bahkan struktur kolektif. Dalam bab mengenai hukum nilai dalam Teori Ekonomi Marxis saya , saya memberi serangkaian contoh sistem perhitangan tersebut dalam jam-kerja. Terdapat desa India dimana kasta tertentu memegang monopoli kerajinan tangan pandai besi tetapi terus bekerja pada waktu yang sama dalam rangka memberi makan dirinya sendiri. Aturan yang dibentuk adalah sebagai berikut: ketika pandai besi bekerja untuk membuat alat atau senjata untuk pertanian, klien menyediakan bahan baku dan juga bekerja di tanah si pandai besi selama seluruh periode dimana si pandai besih bekerja membuat alat atau senjata tersebut. Ini adalah sebuah jalan yang sangat jelas untuk menyatakan bahwa pertukaran diatur oleh keseimbangan dalam jam-kerja.

Di pedesaan Jepang pada Abad Pertengahan, sebuah sistem perhitungan dalam jam-kerja, dalam makna harafiah dari istilah tersebut, terjadi didalam masyarakat desa. Akuntan desa menyimpan semacam buku besar dimana dia memas**an jumlah jam kerja yang dilakukan masing-masing penduduk desa pada lahan penduduk yang lainnya, karena pertanian sebagian besar masih didasarkan pada kerja bersama, dengan pemanenan, konstruksi pertanian dan peternakan dilaksanakan bersama-sama. Jumlah jam-kerja yang dikerjakan oleh anggota satu rumah tangga untuk anggota rumah tangga yang lainnya dihitung sangat hati-hati. Pada akhir tahun, pertukaran harus seimbang, itu adalah, anggota rumah tangga B diharuskan untuk memberikan rumah tangga A jumlah jam-kerja yang sama yang telah diberikan oleh rumah tangga A untuk rumah tangga B selama sepanjang tahun. Orang Jepang bahkan melihat hingga titik - hampir seribu tahun yang lalu! - di mana mereka memperhitungkan bahwa anak-anak memberikan kuantitas kerja yang lebih kecil dibanding orang dewasa, sehingga satu jam kerja anak-anak "berharga" hanya setengah jam kerja orang dewasa. Keseluruhan sistem perhitungan didirikan sepanjang garis tersebut.

Ada contoh lainnya yang memberikan ktia pengertian yang mendalam untuk sistem perhituangan berdasarkan waktu-kerja tersebut: perubahan sewa feodal dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya. Dalam masyarakat feodal, produksi surplus pertanian dapat mengambil tiga bentuk yang berbeda: sewa dalam bentuk kerja (corvée), sewa yang setimpal, dan uang sewa.

Ketika perubahan dibuat dari sewa dalam bentuk kerja menjadi sewa yang setimpal, jelas sekali bahwa sebuah proses perubahan terjadi. Ketimbang memberikan tuan tanah tiga hari kerja setiap minggu, petani sekarang memberikan dia kuantitas gandum, ternak, dsb tertentu, atas dasar musiman. Sebuah perubahan kedua terjadi dalam perubahan dari sewa yang setimpal menjadi uang sewa.

Dua perubahan tersebut harus didasarkan oleh perhitungan cukup tepat dalam jam-kerja jika satu diantara dua kelompok tersebut tidak peduli untuk mengalami kerugian dalam proses tersebut. Sebagai contoh, jika pada waktu perubahan pertama berlangsung, petani memberikan tuan tanah jumlah gandum yang hanya membutuhkan 75 hari kerja, sementara sebelumnya dia memberikan pada tuan tanah 150 hari kerja dalam tahun yang sama, kemudian perubahan sewa dalam bentuk kerja menjadi sewa yang setimpal akan menghasilkan pemiskinan tiba-tiba bagi tuan tanah dan pengayaan cepat bagi para petani hamba.

Tuan tanah – kau dapat mengandalkan mereka! – berhati-hati dalam memastikan terjadinya perubahan sehingga bentuk sewa yang berbeda mendekati keseimbangan. Tentu saja perubahan pada akhirnya dapat menjadi buruk bagi satu klas-klas yang berpartisipasi, sebagai contoh, terhadap tuan tanah, jika kenaikan tajam dalam harga pertanian terjadi setelah sewa dirubah dari sewa yang setimpal menjadi uang sewa, tetapi hasil semacam itu menjadi historis dalam karakter dan bukan merupakan akibat secara langsung dari pertukaran secara intrinsik.

Asal usul ekonomi berdasarkan perhitungan waktu-kerja tersebut juga jelas muncul dalam pembagian kerja didalam pedesaan seperti yang terjadi antara perganian dan kerajinan tangan. Untuk jangka waktu yang lama pembagian cukup belum sempurna. Sebuah seksi petani terus menghasilkan sebagian sandangnya sendiri untuk periode sejarah yang panjang, dimana di Eropa Barat berlangsung hampir selama seribu tahun;, itu adalah, sejak permulaan kota-kota Abad Pertengahan hingga abad kesembilanbelas. Teknik pembuatan pakaian tentu saja bukan merupakan misteri bagi para penanam.

Sejak saat sistem pertukaran reguler antara petani dan pengerajin tekstil didirikan, keseimbangan standar juga didirikan – sebagai contoh, satu ell pakaian (sebuah ukuran yang berkisar antara 27 hingga 48 inci) akan ditukarkan dengan 10 pon mentega, tidak untuk 100 pon. Tentu saja petani mengetahui, dari dasar pengalaman mereka sendiri, waktu-kerja kebutuhan untuk menghasilkan kuantitas pakaian tertentu. Jika tidak ada keseimbangan yang sedikit banyak tepat antara waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan pakaian dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan mentega yang kemudian dipertukarkan, akan terjadi kenaikan cepat dalam pembagian kerja. Jika produksi pakaian lebih menguntungakan ketimbang produksi mentega, produsen mentega akan mengganti produksinya menjadi pakatian. Karena masyarakat diatas hanya pada permulaan pembagian kerja yang ekstrim, yaitu, masyarakat masih pada titik dimana batasan antara teknik-teknik berbeda belum ditandai dengan jelas, jalan dari satu aktivitas ekonomi menuju yang lainnya masih dimungkinkan, terutama sekali ketika capaian material yang cukup dimungkinkan oleh cara perubahan semacam itu.

Dalam kota-kota Abad Pertengahan juga, terdapat keseimbangan perhitungan yang cukup cermat atara berbagai macam kerajinan tangan dan ditulis dalam piagam yang menspesifikasikan hampir hingga menit jumlah waktu-kerja kebutuhan untuk produksi berbagai macam barang. Tidak dapat dipahami bahwa dibawah kondisi semacam itu seorang pembuat sepatu atau pandai besi mendapatkan jumlah uang yang sama untuk produk yang menghabiskan setengah waktu-kerja yang mana seorang penenun atau pekerja tangan ahli butuhkan dalam rangka untuk mendapatkan jumlah uang yang sama untuk produk mereka.

Disini kembali kita melihat dengan jelas mekanisme sistem perhitungan dalam jam-kerja, sebuah masyarakat yang berfungsi pada dasar ekonomi waktu-kerja, yang secara umum menjadi karakteristik seluruh tahapan yang kita sebut dengan produksi komoditas skala-kecil. Hal tersebut adalah tahapan yang terjadi antara ekonomi yang sepenuhnya alami, dimana hanya nilai guna dihasilkan, dan masyarakat kapitalis, dimana produksi komoditi meluas tanpa batasan.



I.5 Penentuan Nilai Tukar Komoditas

Setelah kita telah menentukan bahwa produksi dan pertukaran komoditas menjadi reguler dan dijeneralisir dalam masyarakat yang berdasarkan waktu-kerja, pada sebuah sistem perhitungan jam-kerja, kita telah siap untuk memahami kenapa pertukaran komoditi, dalam asal usul dan sifat inherennya, bersandar pada dasar pokok sistem perhitungan dalam jam-kerja dan sebagai konsekuensi mengikuti hukum umum ini: nilai tukar sebuah komoditi ditentukan oleh kuantitas kerja kebutuhan untuk menghasilkannya. Kuantitas kerja dihitung oleh lama waktu yang diambil untuk menghasilkan komoditi tersebut.

Definisi umum dari teori nilai kerja adalah dasar bagi baik ekonomi politik borjuis klasik sejak abad ketujuhbelas hingga awal abad kesembilanbelas, sejak William Petty hingga Ricardo; dan teori ekonomi Marxis, yang mengambil teori nilai kerja dan menyempunakannya. Bagaimanapun, definisi umum harus dikualifikasikan dalam beberapa hal.

Pada pokoknya, tidak semua manusia diberikan kapasitas kerja yang sama, dengan kekuatan yang sama atau tingkat keahlian yang sama. Jika pertukaran nilai komoditi bergantung hanya pada kuantitas kerja yang dilakukan secara individualis, itu adalah, pada kuantitas kerja yang dilakukan oleh setiap individu dalam produksi komoditi, kita akan tiba pada keabsurdan berikut ini: produsen yang lebih malas atau tidak ahli, dan semakin besar jumlah jam yang dia lakukan untuk membuat sepasang sepat, semakin besar nilai sepatu tersebut!

Itu tentu saja tidak mungkin karena nilai tukar bukanlah penghargaan moral untuk kemauan s**a rela untuk bekerja belaka tetapi sebuah ikatan objektif yang dibentuk antara produsen yang independen dalam rangka untuk menyeimbangkan berbagai macam kerajinan tangan dalam masyarakat berdasarkan baik atas pembagian kerja dan sebuah ekonomi waktu-kerja. Dalam masyarakat seperti itu menyia-nyiakan kerja tidak mendapatkan kompensasi, bertentangan dengannya, hal tersebut secara otomatis dihukum. Siapapun yang memberikan waktu lebih banyak dalam memproduksi sepasang sepatu dari pada jam rata-rata yang dibutuhkan-sebuah rata-rata yang ditentukan oleh rata-rata produktivitas kerja dan direkam dalam Piagam Guild, sebagai contoh! – orang semacam itu telah menyia-nyiakan kerja manusia, bekerja tanpa hasil untuk jumlah jam. Ia tidak akan menerima apapun sebagai ganti jam yang disia-siakan tersebut.

Diekspresikan dengan jalan yang lain, nilai tukar komoditi tidak ditentukan oleh kuantitas kerja yang dihabiskan oleh tiap individu produsen yang terlibat dalam produksi komoditi tersebut tetapi oleh kuantitas kerja yang secara sosial dibutuhkan untuk memproduksinya. Ekspresi “secara sosial dibutuhkan” bermakna: kuantitas kerja kebutuhan dibawah kondisi rata-rata produktivitas kerja yang ada dalam negeri dan waktu tertentu.

Kualifikasi diatas memiliki penerapan yang sangat penting ketika kita meneliti berfungsinya masyarakat kapitalis lebih dekat.

Pernyataan penjelasan yang lain harus ditambahkan disini. Apa yang kita maksud dengan “kuantitas kerja”? Pekerja berbeda dalam kualifikasi mereka. Apakah ada keseimbangan total antara kerja satu jam seseorang dengan kerja orang lain, tanpa mempertimbangkan perbedaan semacam itu dalam keahllian? Sekali lagi pertanyaan bukanlah mengenai moral tetapi berkaitan dengan logika internal dari sebuah masyarakat yang berdasarkan keseimbangan antara keahlian, sebuah keseimbangan dalam pasar, dan dimana gangguan apapun dari keseimbangan tersebut akan segera menghancurkan keseimbangan sosial.

Apa yang akan terjadi, sebagai contoh, jika kerja satu jam oleh pekerja yang tidak ahli berharga sebanyak kerja satu jam pengerajin tangan yang ahli, yang telah melakukan empat hingga enam tahun sebagai pekerja magang untuk mendapatkan keahliannya? Tentu saja, tidak ada yang mau menjadi tenaga ahli. Jam kerja yang dilakukan dalam mempelajari kerajinan tangan akan menjadi jam yang terbuang sia-sia karena pengerajin tangan tidak akan mendapatkan kompensasi untuk hal tersebut setelah memiliki ijasah keahlian.

Dalam sebuah ekonomi yang didirikan atas dasar sistem penghitungan jam-kerja, orang yang lebih muda akan berkeinginan untuk menjadi ahli hanya jika waktu yang hilang selama periode pelatihannya kemudian diberikan bayaran. Definisi kita tentang nilai tukar komoditi oleh karena itu harus dilengkapi sebagai berikut: “Satu jam kerja oleh pekerja hali harus dianggap sebagai kerja kompleks, sebagai kerja melipatgandakan, sebagai perkalian dari satu jam kerja tidak ahli; koefisien dari perkalian tentu saja tidak bisa serampangan tetapi harus didasarkan atas biaya mendapatkan keahlian tersebut.“ Harus ditegaskan, untuk melewatinya, bahwa selalu ada kekaburan dalam penjelasan umum tentang kerja melipatgandakan dalam Uni Soviet dibawah Stalin yang telah berlangsung hingga hari ini. Dinyatakan bahwa kompensasi untuk kerja seharunya berdasarkan atas kuatitas dan kualitas kerja, tetapi konsep kualitas tidak lagi dipahami dalam pengertian ungkapan Marxis, yaitu, sebagai kualitas yang dapat diukur secara kuantitatif dengan cara koefisien khusus dari pelipatgandaan. Bertentangan dengannya, ide kualitas digunakan dalam makna ideologi borjuis, menurut yang mana kualitas kerja dianggap ditentukan oleh kegunaan sosialnya, dan hal tersebut digunakan untuk membenarkan pendapatan para pemimpin, penari balet dan para manajer industri, yang sepuluh kali lebih tinggi dari pendapatan pekerja tidak ahli. Teori semacam itu berasal dari wilayah pembenaran (apologetics) meskipun perluasannya digunakan untuk membenarkan perbedaan besar dalam pemas**an yang terjadi dibawah Stalin dan terus terjadi di Uni Soviet hari ini, meskipun dalam tingkatan yang lebih kurang.

Nilai pertukaran komoditi, kemudian, ditentukan oleh kuatitas kerja yang secara sosial dibutuhkan untuk produksinya, dengan kerja ahli dilihat sebagai perkalian kerja sederhana dan koefisien penggandaan menjadi kuantitas yang dapat diukur secara masuk akal.

Ini adalah inti dari teori nilai Marxis dan dasar semua teori ekonomi Marxis secara umum. Serupa, teori produk surplus sosial dan kerja surplus, yang kita diskusikan pada bagian awal tulisan ini , menyusun dasar semua sosiologi Marxis dan hal tersebut adalah jembatan yang menghubungkan analisis sosiologi dan sejarah Marxis, teori klas-klasnya dan perkembangan masyarakat secara umum, untuk teori ekonomi Marxis, dan lebih tepat, untuk analisis Marxis terhadap karakter semua masyarakat produksi-komoditi pra kapitalis, kapitalis dan p***a kapitalis.
I.7 Asal Usul dan Sifat Nilai Lebih

Dan sekarang, apakah nilai lebih? Ketika kita mempertimbangkan hal tersebut dari sudut pandang teori nilai Marxis, jawabannya telah ditemukan. Nilai lebih adalah bentuk moneter dari produk surplus sosial¸yaitu, hal tersebut adalah bentuk moneter dari bagian produksi pekerja yang dia serahkan pada pemilik alat produksi tanpa menerima apapun sebagai gantinya.

Bagaimana penyerahan tersebut dapat dilaksanakan dalam praktek pada masyarakat kapitalis? Kejadian tersebut mengambil tempat melalui proses pertukaran, seperti semua operasi penting dalam masyarakat kapitalis, yang selalu merupakan hubungan pertukaran. Kapitalis membeli tenaga kerja dari pekerja, dan sebagai tukar dari upah tersebut, kapitalis mengambil alih seluruh produksi dari pekerja tersebut, semua nilai yang baru dihasilkan yang telah dimas**an kedalam nilai produksi tersebut.

Kita oleh karena itu dapat mengatakan sejak saat ini bahwa nilai lebih adalah perbedaan antara nilai yang dihasilkan oleh pekerja dan nilai tenaga kerjanya sendiri. Apakah nilai tenaga kerja? Dalam masyarakat kapitalis, tenaga kerja adalah sebuah komoditi, dan seperti nilai komoditas yang lainnya, nilainya tergantung dari kuantitas kerja kebutuhan secara sosial untuk memproduksi dan mereproduksi tenaga kerja, yaitu, biaya hidup pekerja dalam makna luas. Konsep upah minimum atau sebuah upah rata-rata tidaklah secara fisiologi rigid tetapi memas**an keinginan yang berubah seiring kemajuan dalam produktivitas kerjar. Keinginan tersebut cenderung meningkat paralel dengan kemajuan dalam teknik dan hal tersebut karenanya tidak dapat dibandingkan dengan tingkatan keakuratan apapun, dalam periode yang berbeda. Upah minimum tahun 1830 tidak dapat dibandingkan secara kuantitatif dengan pada tahun 1960, seperti teoritikus partai Komunis Perancis telah memahaminya pada penderitaannya. Tidak ada cara valid untuk membandingkan harga sepeda motor pada tahun 1960 dengan harga sejumlah kilogram daging di tahun 1830 dalam rangka untuk mendapatkan kesimpulan bahwa motor “berharga” kurang dibanding daging.

Setelah memahami hal tersebut, kita sekarang dapat mengulangi bahwa biaya hidup tenaga kerja menyusun nilainya dan bahwa nilai lebih adalah perbedaan antara biaya hidup tersebut dan nilai yang diciptakan oleh tenaga kerja tersebut.

Nilai yang dihasilkan oleh tenaga kerja dapat dihitung dengan cara sederhana melalui lamanya waktu yang digunakan. Jika pekerja bekerja sepuluh jam, dia menghasilkan nilai sepuluh jam kerja. Jika biaya hidup pekerja, yaitu, sama dengan upahnya, juga sepuluh jam kerja, maka tidak ada nilai lebih yang dihasilkan. Hal ini adalah hanya kasus khusus dari aturan yang lebih umum: ketika jumlah total dari produk kerja sama dengan produk yang dibutuhkan untuk memberi makan dan menjaga produsen, tidak ada produk surplus sosial.

Tetapi dalam masyarakat kapitalis, tingkat produktivitas kerja membuat biaya hidup pekerja selalu kurang dari kuantitas nilai baru yang diciptakan. Hal ini berarti bahwa seorang pekerja yang bekerja selama sepuluh jam tidak membutuhkan sama dengan sepuluh jam untuk menopang dirinya sendiri agar sesuai dengan rata-rata kebutuhan dari waktu tersebut. Upah seimbang dia selalu hanya sebuah pecahan dari kerja harian dia; semua hal melewati pecahan tersebut adalah nilai lebih, kerja gratis yang diberikan oleh pekerja dan diambil alih oleh kapitalis tanpa sebuah ganti rugi yang seimbang. Jika perbedaan tersebut tidak ada, tentu saja, kemudian tidak ada majikan yang akan menyewa pekerja manapun, karena pembelian tenaga kerja semacam itu tidak akan membawa keuntungan bagi pembelinya.



I.8 Validitas Teori Nilai Kerja

Untuk menyimpulkan, kita menghadirkan tiga bukti tradisional dari teori nilai kerja.

Yang pertama adalah bukti analitis, yang memulai dengan memerinci harga sebuah komoditi kedalam elemen-elemen penyusunnya dan menunjukan bahwa jika proses dilihat cukup jauh, hanya kerja yang akan ditemukan.

Harga setiap komoditi dapat direduksi menjadi sejumlah komponen: penyisihan uang untuk mesin dan bangunan, yang kita sebut dengan pembaharuan dari kapital tetap; harga bahan baku dan produk tambahan; upah; dan akhirnya, semua hal yang merupakan nilai lebih, seperti keuntungan, sewa, pajak, dsb.

Selama dua komponen terakhir diperhatikan, upah dan nilai lebih, telah ditunjukan bahwa kedua hal tersebut adalah sederhana dan murni kerja. Mengenai bahan baku, kebanyakan dari harga bahan baku tersebut sebagian besar dapat direduksi pada kerja; sebagai contoh, lebih dari 60 persen biaya penambangan batu bara merupakan upah. Jika kita mulai dengan memerinci biaya manufaktur rata-rata komoditi menjadi 40% untuk upah, 20% nilai lebih, 30% untuk bahan baku dan 10% dalam kapital tetap; dan jika kita berasumsi bahwa 60% biaya bahan baku dapat direduksi menjadi kerja, maka kita telah memiliki 78% total biaya direduksi menjadi kerja. Sisa biaya bahan baku diperinci menjadi biaya bahan baku lainnya – dapat direduksi karena 60% kerja – ditambah biaya penyisihan untuk mesin.

Harga mesin dalam bagian besarnya terdiri dari kerja (sebagai contoh, 40%) dan bahan baku (sebagai contoh, 40% juga). Bagian kerja dalam biaya rata-rata semua komoditas berturut-turut melewati hingga 83%, 87%, 89,5%, dsb. Jelas bahwa semakin jauh pemerincian tersebut dijalankan, semakin keseluruhan biaya cenderung dapat direduksi menjadi kerja, dan hanya kerja.

Bukti kedua adalah bukti logika, dan ini merupakan yang ditulis dalam permulaan Kapital-nya Marx. Buku tersebut telah membingungkan cukup banyak pembaca, karena buku tersebut tentu saja bukanlah pendekatan pedagogis paling sederhana pada pertanyaan tersebut.

Marx mengajukan pertanyaan tersebut dengan cara demikian. Jumlah komoditi adalah sangat besar. Hal tersebut dapat dipertukarkan, yang berarti bahwa komoditi tersebut harus memiliki kualitas yang sama, karena semua hal yang dapat dipertukarkan dapat diperbandingkan dan semua hal yang dapat diperbandingkan harus memiliki setidaknya satu kesamaan kualitas. Benda-benda yang tidak memiliki kesamaan kualitas adalah, dengan definisi, tidak dapat saling dibandingkan.

Mari kita menyelidiki setiap komoditi tersebut. Kualitas apa yang mereka miliki? Pertama sekali, mereka memiliki kumpulan tak terhingga dari kualitas alami: berat, panjangnya, kepadatan, warna, ukuran, sifat molekular; singkatnya, semua kualitas fisik, kimia dan kualitas alami mereka yang lainnya. Apakah ada salah satu dari kualitas fisik yang dapat menjadi dasar untuk membandingkan mereka sebagai komoditi, berfungsi sebagai ukuran umum dari nilai tukar mereka? Mungkinkah itu berat? Tentu saja tidak, karena satu pon mentega tidak memiliki nilai yang sama dengan satu pon emas. Apakah itu volume atau panjangnya? Contoh-contoh akan segera menunjukan bahwa semua kualitas fisik tersebut tidak dapat menjadi ukuran umum dari nilai tukar. Singkatnya, semua hal tersebut yang menyusun kualitas alami komoditi, semua hal yang merupakan kualitas fisik atau kimia dari komoditi tersebut, tentu saja menentukan nilai gunanya, kegunaan relatifnya, tetapi bukan nilai tukarnya. Nilai tukar harus sebagai akibatnya diringkas dari semua hal yang menyusun kualitas fisik alami dalam komoditas tersebut.

Kualitas umum harus ditemukan dalam semua komoditi tersebut yang bukan fisik. Kesimpulan Marx adalah bahwa satu-satunya kualitas umum dalam komoditi tersebut yang bukan fisik adalah kualitas komoditi tersebut karena merupakan produksi dari kerja manusia, dari kerja abstrak manusia.

Kerja manusia dapat dilihat dalam dua jalan yang berbeda. Kerja manusia dapat dianggap sebagai kerja kongkret khusus, seperti kerja pembuat roti, pemotong daging, pembuat sepatu, penenun, pandai besi, dsb. Tetapi selama hal tersebut dilihat sebagai kerja kongkret khusus, hal tersebut dilihat dalam aspek kerja yang menghasilkan hanya nilai guna.

Dibawah kondisi tersebut kita memperhatikan hanya kualitas fisik dari komoditi dan hal tersebut merupakan kualitas yang tidak dapat dibandingkan. Satu-satunya hal yang komoditi miliki dalam kesamaan dari titik pandang untuk menukarkan mereka adalah bahwa semua hal tersebut dihasilkan oleh kerja abstrak manusia, yaitu, oleh produsen yang berhubungan satu sama lainnya atas dasar keseimbangan sebagai hasil dari fakta bahwa mereka semua menghasilkan barang-barang untuk pertukaran. Kualitas umum komoditi, sebagai akibatnya, berdampingan dalam fakta bahwa semua komoditas tersebut merupakan produk kerja abstrak manusia dan adalah hal tersebut yang menyediakan ukuran bagi nilai tukar mereka, dari kemampuan tukar mereka. Itu adalah, sebagai akibat, kualitas kerja kebutuhan secara sosial dalam produksi komoditi yang menentukan nilai tukar mereka.

Mari kita segera menambahkan bahwa rasionalisasi Marx disini adalah baik abstrak dan sulit dan setidaknya masih dapat dipertanyakan, sebuah titik yang banyak diambil oleh lawan Marxisme dan digunakan untuk menyerang, bagaimanapun tanpa sukses.

Apakah fakta bahwa semua komoditas dihasilkan oleh kerja abstrak manusia benar-benar satu-satunya kualitas yang mereka miliki secara umum, terlepas dari kualitas alami mereka? Tidak sediki penulis yang berpikir mereka telah menemukan yang lainnya. Secara umum, bagaimanapun juga, hal tersebut selalu direduksi entah pada kualitas fisik atau pada fakta bahwa mereka adalah produk kerja abstrak.

Bukti ketiga dan terakhir dari ketepatan teori nilai kerja adalah bukti oleh reduksi pada ke-absurd-an. Hal tersebut, lebih lagi, merupakan bukti yang paling bagus dan paling “modern”.

Bayangkan sesaat sebuah masyarakat dimana kerja hidup manusia sepenuhnya hilang, yaitu, sebuah masyarakat dimana semua produksi telah 100 persen otomatis. Tentu saja, selama kita tetap dalam tahap transisi saat ini, dimana beberapa kerja telah sepenuhnya otomatis, yaitu, sebuah tahapan dimana pabrik-pabrik tidak menggunakan pekerja berdiri seiring pabrik lainnya dimana kerja manusia masih dimanfaatkan, tidak ada persoalah teoritis khusus, karena hal tersebut hanya merupakan pertanyaan mengenai transfer nilai lebih dari satu perusahaan ke perusahaan yang lainnya. Hal tersebut adalah sebuah ilustrasi hukum penyeimbangan angka keuntungan, yang akan kita teliti nanti.

Tetapi mari kita bayangkan bahwa perkembangan tersebut telah didorong pada tingkat ekstrimnya dan kerja manusia telah sepenuhnya dihilangkan dari semua bentuk produksi dan layanan jasa. Dapatkan nilai terus ada dibawah kondisi tersebut? Dapatkah ada sebuah masyarkat dimana tidak ada yang memiliki pemas**an tetapi komoditi terus memiliki nilai dan dijual? Tentu saja situasi semacam itu adalah absurd. Produksi massal besar akan diproduksi tanpa produksi tersebut menciptakan pemas**an apapun, karena tidak ada manusia yang terlibat dalam produksi tersebut. Tetapi seseorang ingin “menjual” produk tersebut dimana tidak ada lagi pembeli!

Adalah jelas bahwa distribusi produk dalam masyarakat semacam itu tidak akan efektif lagi dalam bentuk penjualan komoditas dan sesungguhnya menjual akan menjadi semakin absurd karena kelimpahan produksi oleh otomatisasi umum.

Diekspresikan dengan cara yang lain, sebuah masyarakat dimana kerja manusia akan secara total dihilangkan dari produksi, dalam makna ungkapan yang paling umum, termasuk juga layanan, akan menjadi sebuah masyarakat dimana nilai tukar juga akan dihilangkan. Hal ini membuktikan validitas teori tersebut, sementara kerja manusia hilang dari produksi, nilai juga hilang mengikutinya.



II. Kapital dan Kapitalisme


II.1 Kapital dalam Masyarakat Pra Kapitalis

Antara masyarakat primitif yang didirikan atas ekonomi alami dimana produksi terbatas pada nilai guna yang digunakan untuk konsumsi sendiri oleh para produsennya, dan masyarakat kapitalis, disitu terbentang periode panjang dalam sejarah manusia, melingkupi secara esensiil semua peradaban manusia, yang berhenti sebelum mencapai garis depan kapitalisme. Marxisme mendefinisikan mereka sebagai masyarakat dimana produksi komoditi skala-kecil berlaku umum. Sebuah masyarakat jenis tersebut telah akrab dengan produksi komoditi, barang-barang yang dibuat untuk pertukaran dipasar dan bukan untuk konsumsi langsung oleh produsennya, tetapi produksi komoditi semacam itu belum dijeneralisir, seperti dalam masyarakat kapitalis.

Dalam sebuah masyarakat yang didirikan atas produksi komoditi skala kecil, dua jenis operasi ekonomi berjalan. Petani dan pekerja tangan ahli yang membawa produk mereka ke pasar ingin menjual barang-barang yang nilai gunanya tidak dapat mereka gunakan dalam rangka untuk mendapatkan uang, alat tukar, untuk mendapatkan barang-barang yang lain, yang nilai gunanya dibutuhkan oleh mereka atau dianggap memiliki nilai guna yang lebih penting dari barang-barang yang mereka miliki.

Petani membawa gandum ke pasar yang dia jual untuk mendapatkan uang, dengan uang tersebut dia membeli, kita sebut saja, pakaian. Pekerja tangan ahli membawa pakaian mereka ke pasar, dimana dia jual untuk uang, dengan uang tersebut dia membeli, kita sebut saja, gandum.

Apa yang kita dapatkan disini, kemudian adalah operasi: menjual untuk membeli. Komoditi – Uang – Komoditi (Commodity – Money – Commodity), C – M – C yang memiliki karakter esensiil sebagai berikut: nilai kedua perbedaan yang besar dalam formula tersebut adalah, dengan definisi, tepat sama.

Tetapi didalam produksi komoditi skala-kecil muncul, disamping pekerja tangan ahli dan petani kecil, orang yang lain, yang melangsungkan jenis operasi ekonomi yang berbeda. Ketimbang menjual untuk membeli, dia membeli untuk menjual. Jenis orang tersebut pergi ke pasar tanpa komoditi apapun; dia adalah pemilik uang. Uang tidak dapat dijual; tetapi uang dapat digunakan untuk membeli, dan itu adalah yang dia lakukan: membeli untuk menjual, untuk menjual ulang: M – C – M’.

Ada perbedaan pokok antara dua jensi operasi tersebut. Operasi yang kedua tidak masuk akal jika pada akhirnya kita berhadapan dengan nilai yang tepat sama seperti yang kita miliki pada mulanya. Tidak ada orang yang membeli komoditi untuk dijual agar mendapatkan nilai yang sama dengan yang telah dia bayarkan. Operasi “membeli untuk menjual” masuk akal hanya jika penjual tersebut membawa nilai tambah, sebuah nilai lebih. Itulah mengapa kita menyatakan disini, dengan definisi. M’ lebih besar dari M dan tersusun dari M+m; m merupakan nilai lebih, jumlah peningkatan dalam nilai M.

Kita sekarang mendefinisikan kapital sebagai nilai yang ditingkatkan oleh nilai lebih, entah hal tersebut terjadi dalam proses sirkulasi komoditas, seperti dalam contoh yang telah diberikan, atau dalam produksi, seperti dalam sistem kapitalis. Kapital oleh karena itu adalah setiap nilai yang diperbesar oleh nilai lebih, hal tersebut oleh karena itu terdapat tidak hanya dalam masyarakat kapitalis tetapi juga dalam semua masyarakat yang didirikan atas produksi komoditi kecil. Untuk alasan tersebut dibutuhkan untuk membedakan dengan jelas antara hidup kapital dan hidup corak produksi kapitalis, masyarakat kapitalis. Kapital jauh lebih tua dibanding corak produksi kapitalis. Kapital kemungkinan telah ada 3.000 tahun yang lalu, sedangkan corak produksi kapitalis hanya berumur 200 tahun.

Bentuk apa yang diambil oleh kapital dalam masyarakat pra kapitalis? Pada dasarnya adalah kapital riba dan kapital perdagangan atau komersial. Jalan dari masyakakat pra kapitalis menuju masyarakat kapitalis dikarakterkan oleh penetrasi kapital kedalam bidang produksi. Corak produksi kapitalis adalah corak produksi pertama, bentuk organisasi sosial pertama, dimana kapital tidak terbatas pada peran tunggal sebagai perantara dan pengeksploitasi terhadap bentuk produksi non-kapitalis, terhadap produksi komoditas skala kecil. Dalam corak produksi kapitalis, kapital mengambil alat produksi dan mempenetrasi secara langsung kedalam produksi itu sendiri.



II.2 Asal Usul Corak Produksi Kapitalis

Apa asal usul corak produksi kapitalis? Apa asal usul masyarakat kapitalis seperti yang telah berkembang selama 200 tahun terakhir?

Pertama kali terdapat pada pemisahan produsen dari alat produksi tersebut. Kemudian, adalah pendirian alat produksi tersebut sebagai monopoli didalam tangan satu klas sosial, borjuasi. Dan akhirnya, adalah kemunculan klas sosial lainnya yang telah dipisahkan dari alat produksinya dan oleh karena itu tidak memiliki sumber lainnya untuk bertahan hidup selain menjual tenaga kerjanya pada klas yang telah memonopoli alat produksi.

Mari kita melihat tiap asal usul corak produksi kapitalis tersebut, yang pada saat yang sama karakteristik pokok dari sistem kapitalis juga.

Karakteristik pertama: pemisahan produsen dari alat produksinya. Hal tersebut adalah kondisi pokok dari keberadaan sistem kapitalis tetapi hal tersebut juga merupakan yang secara umum paling lemah dipahami. Mari kita menggunakan sebuah contoh yang terlihat bersifat paradoks karena diambil dari awal Abad Pertengahan, yang dikarakterkan oleh perhambaan.

Kita mengetahui bahwa massa produsen-petani merupakan hamba yang terikat pada tanah. Tetapi ketika kita mengatakan bahwa hamba tersebut terikat pada tanah, kita menyatakan secara tidak langsung bahwa tanah juga “terikat” pada hamba, itu adalah, tanah merupakan milik klas sosial yang selalu memiliki dasar untuk menyediakan kebutuhannya, tanah yang cukup untuk bekerja sehingga individu hamba dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga bahkan ketika dia bekerja dengan alat yang paling primitif. Kita tidak melihat rakyat ditakdirkan untuk mati karena kelaparan jika mereka tidak menjual tenaga kerja mereka. Dalam masyarakat semacam itu, tidak ada pemaksaan ekonomi untuk menyewa seseorang, untuk menjual tenaga kerja seseorang pada kapitalis.

Hal tersebut dengan kata lain dapat kita katakan dengan menyatakan bahwa sistem kapitalis tidak dapat berkembang dalam masyarakat semacam itu. Kebenaran umum tersebut juga memiliki penerapan modern dalam jalan kolonialis mengenalkan kapitalisme pada negeri-negeri Afrika selama abad kesembilanbelas dan awal abad duapuluh.

Address

Makassar

Telephone

+6282349201690

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GRD komite sektor yaspim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share