24/12/2024
Meneruskan surat terbuka dari kawan saya di Maros
Yth. Danny Pomanto
di Bumi
Pak, sebenarnya saya mau mewakili masyarakat Maros, tetapi takutnya teman-teman yang lain tidak mau. Mau minta izin sama Pak Chaidir beliau lagi umrah, masa mau saya ganggu.
Jadi, saya mewakili satu blok kompleks saya di Maros saja. Kebetulan saya ketua kerukunan warga di sini. Pelantikannya bulan lalu sambil makan ayam goreng dan ketawa-ketawa.
Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas air yang telah Maros kirim ke Makassar. Itu sungguh di luar dugaan. Kami tidak menyangka air dari selokan kami di kabupaten ini akan sampai ke kota yang Bapak pimpin.
Saya buka internet, ini kali kedua Bapak bilang begitu. Pada 21 Desember 2017, Bapak juga mengumumkan bahwa Maros yang telah lancang mengirim banjir ke Makassar. Berarti setelah 7 tahun 2 hari, Bapak kembali punya kesimpulan yang sama.
Kali ini bahkan tambah jauh. Sampai ke Pangkep dan Barru juga dibawa-bawa. Duh, gimana ya, Pak? Jadi nda enak sama Bapak. Saya mau minta maaf mewakili masyarakat Pangkep dan Barru, itu terlalu mustahil, Pak. Sedangkan mewakili satu Kabupaten Maros saja saya tidak berani.
Jadi, mohon jangan marah, Pak. Ini saya tambah pakai emot tangan salam namaste. Tetapi saya ketik saja biar panjang.
Mudah-mudahan permintaan maaf dari saya dan tetangga saya di kompleks, bisa merepresentasi rasa bersalah itu.
Maros memang salah. Selalu mengirim air ke Makassar. Jangankan air comberan, air bersih saja kami selalu alirkan ke Makassar, dipipakan dari Lekopancing kemudian diolah oleh PDAM kota Bapak, dan jadi minuman sehat untuk warga Bapak.
Sekali lagi, jangan marah sama Maros ya, Pak. Kita toss.
Oh iya, di Maros tidak banjir kok. Karena kami telah mengirim semuanya ke Makassar. Di sini kering. Tidak ada orang yang mengungsi. Tidak ada dapur darurat. Tidak ada lansia yang digotong karena terjebak.
Suratnya saya sudahi ya, Pak. Masa masih marah. Senyum ya. Plis. Semoga selalu sehat dan banyak uang.
Wassalam
Ttd
Imam Dzulkifli