Partai Gema Bangsa Sulsel

Partai Gema Bangsa Sulsel Partai Politik Gema Bangsa Sulawesi Selatan

19/03/2026

Epilog
Musikalisasi Puisi Ramadhan
“CINTA YANG BERPUASA”, 30 Malam Perjalanan Ramadhan”

Setelah Ramadhan Pergi

Ramadhan telah pergi. Ia tidak membawa koper, tidak meninggalkan alamat. Ia hanya datang seperti cahaya yang singgah sebentar di jendela hati kita.

Sebulan lamanya ia duduk di ruang hidup kita. Ia mengetuk kita saat sahur, menemani kita saat lapar, dan mendengar doa-doa yang kadang bahkan tidak kita mengerti maknanya sendiri.

Selamat Hari Raya Idul fitri 1447 H

Taqobbalallahu minna waminkum
Barakallahu Fiikum
Mohon maaf lahir bathin

Daeng Ketua & Kel.

Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun
Wassalamu alaikum wr.wb

17/03/2026

Hari ke-29
Lebaran Itu Bernama Baju Baru

Di malam kedua puluh sembilan Ramadhan, gema kemenangan semakin dekat. Toko-toko ramai, baju-baju baru dipilih dengan penuh harap, seolah-olah hari raya selalu identik dengan pakaian yang segar dan indah. Namun Ramadhan diam-diam mengingatkan kita bahwa yang paling baru seharusnya bukan hanya pakaian yang dikenakan, melainkan hati yang diperbarui oleh taubat, kesabaran, dan kasih sayang. Puisi ini mengajak kita merenung: bahwa lebaran yang sejati bukan sekadar tentang apa yang terlihat di tubuh, tetapi tentang apa yang telah berubah di dalam jiwa.

Daeng ketua

16/03/2026

Hari ke-28
Mudik: Antara Kerinduan dan Kembali ke Jalan-Nya

Di malam kedua puluh delapan Ramadhan, perjalanan pulang mulai terasa—bukan hanya menuju kampung halaman, tetapi juga menuju hati yang lebih jernih. Mudik adalah tentang kerinduan: pada rumah, pada keluarga, pada kenangan yang lama menunggu. Namun Ramadhan mengajarkan bahwa pulang yang paling dalam adalah kembali ke jalan-Nya. Puisi ini mengajak kita merenung, bahwa setiap langkah pulang sejatinya adalah langkah memperbaiki diri—agar saat tiba, bukan hanya tubuh yang sampai, tetapi juga hati yang lebih dekat kepada Allah.

Daeng ketua

15/03/2026

Hari ke-27
Menjelang Akhir: Jangan Biarkan Ia Berlalu Biasa

Di malam kedua puluh tujuh Ramadhan, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Malam-malam terakhir datang membawa harap yang dalam—barangkali di salah satunya tersimpan kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Saat Ramadhan hampir sampai di ujungnya, hati diajak untuk tidak lengah. Jangan biarkan ia berlalu seperti malam-malam biasa. Perbanyak doa, lembutkan sujud, dan kuatkan harap—karena mungkin inilah kesempatan yang tak akan terulang dengan cara yang sama.

Daeng ketua

14/03/2026

Keduapuluhenam
Malam Takbiran: Tangis Perpisahan dan Janji Cinta

Di hari kedua puluh enam Ramadhan, gema takbir mulai terasa di kejauhan—menggetarkan langit dan mengetuk relung hati. Malam takbiran bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang perpisahan yang diam-diam mengharukan. Ada tangis yang tak selalu terlihat, karena kita tahu bulan penuh rahmat ini akan segera berlalu. Puisi ini menjadi ruang untuk berjanji kembali: bahwa cinta yang tumbuh selama Ramadhan tak akan selesai bersama gema takbir, melainkan terus hidup dalam amal dan keteguhan setelahnya dan bertemu kembali Ramadhan selanjutnya.

Daeng ketua

13/03/2026

Hari Keduapuluhlima
THR dan Ramadhan: Antara Berkah dan Gengsi

Di hari kedua puluh lima Ramadhan, kita mulai bersiap menyambut hari kemenangan—bersama tradisi, kebiasaan, dan juga godaan. THR hadir sebagai berkah, tanda syukur atas rezeki yang Allah titipkan. Namun di antara niat berbagi dan membahagiakan, kadang terselip gengsi yang diam-diam menggeser makna. Puisi ini mengajak kita merenung: apakah yang kita rayakan adalah keberkahan, atau sekadar pengakuan? Ramadhan mengajarkan bahwa nilai bukan pada seberapa besar yang dibelanjakan, tetapi seberapa tulus yang dibagikan.

Daeng ketua

12/03/2026

Hari Keduapuluempat
Syukur: Rahasia Bahagia Orang Beriman

Di hari kedua puluh empat Ramadhan, kita diajak berhenti sejenak untuk menghitung bukan apa yang kurang, tetapi apa yang telah cukup. Syukur adalah rahasia yang membuat hati tetap lapang meski keadaan tak selalu mudah. Ia mengubah yang sederhana menjadi bernilai, yang sedikit terasa cukup, dan yang berat menjadi ringan dijalani. Ramadhan menuntun kita memahami bahwa kebahagiaan orang beriman bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada dalamnya rasa terima kasih kepada Allah atas setiap nikmat yang tak pernah benar-benar berhenti.

Daeng ketua

11/03/2026

Hari Keduapuluhtiga
Silaturahmi: Menyambung yang Pernah Retak

Di hari kedua puluh tiga Ramadhan, hati diajak untuk melangkah lebih jauh dari sekadar ibadah pribadi. Silaturahmi menjadi jembatan yang menyambung kembali jarak yang pernah tercipta, merajut ulang benang-benang yang sempat terurai. Dalam setiap salam, ada kerendahan hati; dalam setiap maaf, ada keberanian untuk melembutkan ego. Ramadhan mengajarkan bahwa hubungan yang diperbaiki adalah bagian dari ibadah—karena cinta kepada Allah tak akan utuh tanpa cinta kepada sesama.

Daeng ketua

10/03/2026

Hari Keduapuluhdua
Zakat Fitrah : Menyempurnakan Cinta

Di hari kedua puluh dua Ramadhan, cinta yang telah kita latih melalui puasa, doa, dan sabar menemukan bentuk nyatanya dalam zakat fitrah ; cinta yang tidak boleh hanya tinggal dihati namun harus berwujud Ia bukan sekadar kewajiban, tetapi penyempurna—membersihkan yang kurang, melengkapi yang belum utuh. Melalui tangan yang memberi, kita belajar bahwa kebahagiaan Idulfitri tak boleh hanya milik diri sendiri. Zakat fitrah adalah cara Ramadhan mengajarkan bahwa cinta sejati selalu ingin memastikan tak ada yang tertinggal dalam kegembiraan.

Daeng ketua

09/03/2026

Hari Keduapuluhsatu
Memuliakan Orang Tua: Surga yang Masih Bernapas

Di malam kedua puluh satu Ramadhan, hati diajak kembali pada sumber cinta yang paling awal: orang tua. Dalam doa-doa mereka yang tak selalu terdengar, tersimpan penjagaan yang tak pernah putus. Memuliakan orang tua bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan pulang menuju ridha Allah. Mereka adalah surga yang masih bernapas—yang tatapannya menguatkan, yang nasihatnya meneduhkan, yang restunya melapangkan langkah. Di bulan penuh ampunan ini, semoga kita tak terlambat untuk berbakti, sebelum waktu mengubah rindu menjadi penyesalan.

Daeng ketua

09/03/2026

Hari Keduapuluh
Keindahan Ramadhan di Warung Makan

Di malam kedua puluh Ramadhan, keindahan tak selalu hadir dalam sunyi masjid atau panjangnya doa. Ia justru tampak di sudut warung sederhana—pada tirai yang digantung sebagai tanda hormat, pada panci yang tetap mengepul demi kehidupan. Puisi ini berbicara tentang adab, tentang menahan bukan hanya lapar tetapi juga amarah, tentang iman yang tidak perlu berteriak untuk membuktikan dirinya. Di antara aroma masakan dan kain tipis yang menjaga pandangan, kita belajar bahwa Ramadhan yang indah adalah Ramadhan yang lembut—yang menjaga tanpa melukai, dan menghormati tanpa menghakimi.

Daeng ketua

Address

Jalan Adipura Raya No. 8A . Kel. Karuwisi Utara , Panakkukang
Makassar
90216

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Partai Gema Bangsa Sulsel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share