Kota Malili, ID

Kota Malili, ID Halaman ini dimaksudkan mengedukasi warga Kota Malili dengan menyediakan postingan rutin seperti dan .

Halaman ini juga memuat untuk memperoleh informasi kejadian insidental

16/05/2025

๐—ฃ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฎ๐—บ: ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ณ ๐—ง๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ ๐—ง๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ

โ€œ๐‘ป๐’‚๐’“๐’Š๐’‡ ๐‘ป๐’“๐’–๐’Ž๐’‘ ๐’‚๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’‰ ๐’Œ๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‹๐’‚๐’Œ๐’‚๐’ ๐’†๐’Œ๐’๐’๐’๐’Ž๐’Š ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‘๐’‚๐’๐’Š๐’๐’ˆ ๐’Ž๐’‚๐’‰๐’‚๐’ ๐’…๐’‚๐’ ๐’Ž๐’‚๐’”๐’๐’Œ๐’Š๐’”๐’•๐’Š๐’Œ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’‘๐’†๐’“๐’๐’‚๐’‰ ๐’…๐’Š๐’•๐’†๐’“๐’‚๐’‘๐’Œ๐’‚๐’ ๐‘จ๐’Ž๐’†๐’“๐’Š๐’Œ๐’‚ ๐‘บ๐’†๐’“๐’Š๐’Œ๐’‚๐’• ๐’…๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’ƒ๐’†๐’ƒ๐’†๐’“๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’…๐’†๐’Œ๐’‚๐’…๐’†.โ€
โ€”๐‘ณ๐’‚๐’˜๐’“๐’†๐’๐’„๐’† ๐‘บ๐’–๐’Ž๐’Ž๐’†๐’“๐’”, ๐’Ž๐’‚๐’๐’•๐’‚๐’ ๐‘ด๐’†๐’๐’•๐’†๐’“๐’Š ๐‘ฒ๐’†๐’–๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐‘จ๐‘บ

Ketika Lawrence Summers melontarkan kutipan itu, dunia mungkin menatap pada hubungan dagang AS-Tiongkok dari lensa Washington, Beijing, atau Wall Street. Namun di ujung timur Sulawesi Selatan, jauh dari riuhnya Gedung Putih atau bursa saham New York, gema tarif Trump terasa dalam bentuk yang berbedaโ€”ia menghampiri dengan suara yang lebih sunyi: penurunan harga nikel, penurunan permintaan dari smelter Tiongkok, dan akhirnya, perlambatan denyut ekonomi Luwu Timur.

Daerah ini sempat mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif sebesar -1,39 persen pada 2021, terpukul oleh pandemi. Namun bangkit dengan spektakuler di 2022, mencapai lonjakan 9,66 persen, bahkan melampaui laju pertumbuhan Sulawesi Selatan yang hanya 5,10 persen. Sayangnya, euforia itu tak bertahan lama. Pada 2024, laju ekonomi Luwu Timur kembali melambat tajam menjadi hanya 3,27 persenโ€”turun hampir dua pertiga, dan lagi-lagi di bawah rerata provinsi.

Naik-turun yang drastis ini menyingkap satu kenyataan: struktur ekonomi Luwu Timur masih sangat rentan, bahkan mungkin terlalu tergantung pada satu sumber tenagaโ€”tambang.

๐™†๐™š๐™ฉ๐™ž๐™ ๐™– ๐™‰๐™ž๐™ ๐™š๐™ก ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™™๐™ž ๐™Ž๐™–๐™ฃ๐™™๐™–๐™ง๐™–๐™ฃ ๐™๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™–๐™ก
Dalam lima tahun terakhir, sektor pertambangan menyumbang hampir separuh dari PDRB Luwu Timur. Pada 2023, kontribusinya sempat mencapai 50,30 persen. Meskipun turun sedikit menjadi 44 persen pada 2024, tak ada sektor lain yang mendekati kekuatannya. Tambang, terutama nikel, telah menjadi tulang punggung yang menopang hampir semua sendi ekonomi daerahโ€”mulai dari serapan tenaga kerja tidak langsung, konsumsi lokal, hingga pendapatan daerah.

Namun inilah sisi rapuh dari ketergantungan itu: nikel bukan komoditas yang berdiri sendiri. Ia hidup dalam ekosistem global, dalam rantai pasok industri baja tahan karat, baterai, dan teknologi tinggi. Dan ketika satu mata rantai tergangguโ€”seperti oleh tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat kepada barang-barang impor dari Tiongkokโ€”getarnya bisa terasa hingga ke Morowali, Bahodopi, bahkan ke poros-poros pengangkutan bijih nikel di Luwu Timur.

Ketika produk manufaktur Tiongkok menjadi lebih mahal di pasar AS, ekspor mereka menurun. Pabrik-pabrik di Tiongkok pun menurunkan produksinya. Imbasnya? Permintaan nikel berkurang. Dan karena pasar logam adalah pasar yang sangat sensitif terhadap ekspektasi global, harga nikel dunia pun ikut terkoreksi.

Dalam konteks inilah, tarif yang ditetapkan oleh Gedung Putih berubah menjadi semacam gempa ekonomi di tanah tambang Sulawesi. Tidak langsung merontokkan, tapi cukup untuk membuat retakan yang terasa.

๐™Ž๐™–๐™–๐™ฉ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐˜ฝ๐™ž๐™˜๐™–๐™ง๐™– ๐™๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜ฟ๐™ž๐™ซ๐™š๐™ง๐™จ๐™ž๐™›๐™ž๐™ ๐™–๐™จ๐™ž
Dalam ekonomi daerah yang sangat ditopang oleh komoditas, ketika harga turun, semua ikut turunโ€”dari pendapatan asli daerah, serapan tenaga kerja, hingga belanja konsumsi rumah tangga. Luwu Timur tidak sendiri. Ini adalah masalah klasik di banyak daerah berbasis tambang. Namun pertanyaannya adalah: ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—บ๐—ฎ, ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ฟ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ป๐—ฎ๐—ณ๐—ฎ๐˜€?

๐——๐—ถ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐—ณ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜„๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ. ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฅ๐—ฃ๐—๐— ๐—— ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜‚ ๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฎ๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜‚๐˜€.

Apakah sektor pertanian bisa diberi insentif untuk bangkit? Data menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat non-tambang di Luwu Timur masih menggantungkan hidup pada pertanianโ€”baik sawah, hortikultura, maupun perkebunan seperti kakao dan kelapa. Tapi selama ini, sektor ini hidup dalam kesunyianโ€”tertinggal dalam hal akses modal, infrastruktur, dan pasar. Jika insentif pupuk, irigasi modern, dan jaminan harga dasar diberikan secara konsisten, sektor ini punya ruang untuk kembali menggeliat.

Namun kebangkitan pertanian tidak cukup hanya pada hulu. Harus ada upaya serius mendorong agroindustriโ€”yakni pengolahan hasil pertanian di tingkat lokal. Kakao, misalnya, selama ini hanya dikirim sebagai biji mentah. Padahal, jika didorong menjadi pasta kakao, cokelat olahan, atau bahkan produk kosmetik berbasis kakao, nilai tambahnya bisa berkali lipat dan menumbuhkan lapangan kerja. Demikian juga kelapa yang selama ini hanya menjadi kopra, bisa diolah menjadi VCO, sabun, atau produk pangan sehat yang kini sedang tren.

Bagaimana dengan wisata geologi dan maritim? Luwu Timur memiliki garis pantai yang panjang, danau-danau purba, serta lanskap geologis hasil aktivitas vulkanik dan tambang yang sebenarnya bisa dikembangkan menjadi ekowisata edukatif. Tapi semua itu butuh infrastruktur, narasi, dan kemauan membangun keunikan lokalโ€”bukan meniru Bali, tapi menemukan daya tarik Luwu Timur sendiri.

Dan tak kalah penting, UMKM lokal. Sejauh ini, mereka belum menjadi bagian dari ekosistem pertambangan. Padahal, jika diberi akses ke pasar dan pelatihan profesional, mereka bisa menjadi penyedia barang dan jasa untuk kawasan industri: katering, peralatan kerja, logistik, hingga perawatan. Inklusi ekonomi semacam ini tak hanya menumbuhkan UMKM, tapi juga menciptakan rantai nilai lokal yang memperkuat ekonomi dari dalam.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tapi justru karena tidak mudah, ia harus dimulai sekarang. Terlalu lama Luwu Timur berlari dengan satu kaki. ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐˜€๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ธ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎโ€”๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐—ป, ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜„๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜๐—ฎ, ๐—จ๐— ๐—ž๐— โ€”๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ต, ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ ๐—น๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป.

๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ
Seperti yang ditunjukkan oleh lonjakan 2022, Luwu Timur bukan tidak bisa bangkit. Tapi kebangkitan itu tidak boleh hanya bergantung pada harga nikel atau suhu politik Washington. Dibutuhkan strategi jangka panjang yang tidak hanya fokus pada "berapa ton bijih keluar", tapi juga pada seberapa dalam nilai tambah tinggal di daerah ini.

Jika tidak ada langkah nyata sekarang, maka setiap keputusan yang lahir jauh di luar negeri akan terus menjadi pukulan mendadak bagi Luwu Timurโ€”entah itu tarif Trump, perubahan kebijakan iklim di Eropa, atau perlambatan ekonomi global.

Padahal, membangun ekonomi seharusnya bukan perkara menunggu krisis datang. Ini adalah soal menyiapkan bantalan sejak dini, agar ketika guncangan dari Washington, Beijing, atau pasar global tiba, kita punya penyangga yang cukupโ€”dan tidak jatuh terlalu keras.

๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—บ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€, ๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ณ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ง๐—ฟ๐˜‚๐—บ๐—ฝ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ โ€œ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ผ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ.โ€ ๐—ก๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐—น๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐—น, ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐˜‚ ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ธ๐—ฎ๐—ธ๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ฏ๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐—ผ๐—ธ๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—บ-๐—ฑ๐—ถ๐—ฎ๐—บ. ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜€๐—ผ๐—ฎ๐—น ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—น๐—ผ๐—น๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด, ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—ฎ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ธ๐˜๐˜‚๐—ฟ ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ.

๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ญ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐—นKalau kita bicara soal Malili hari ini, pasti semua sepakat: ini ko...
15/05/2025

๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ ๐—ž๐—ผ๐˜๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ญ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ป๐—ถ๐—ฎ๐—น

Kalau kita bicara soal Malili hari ini, pasti semua sepakat: ini kota kecil yang tenang tapi penuh warna. Lihat saja, di pasar atau di warung kopi, kamu bisa dengar orang ngobrol pakai bahasa Bugis, Toraja, bahkan Jawa atau Bali. Tapi pernah nggak kamu kepikiran, sejak kapan Malili jadi tempat seramai dan seberagam ini? Jawabannya ternyata sudah sejak lamaโ€”bahkan sejak zaman kolonial Belanda.

Awalnya, Malili adalah wilayah yang cukup terpencil, dihuni oleh masyarakat asli suku Padoe. Mereka ini hidup di daerah pedalaman, jauh dari pusat-pusat kerajaan, tinggal di kaki gunung dan tepian sungai. Hidupnya bergantung pada hutan, berkebun, dan berburu. Tapi situasi mulai berubah ketika Belanda masuk ke Luwu dan memperluas pengaruh kekuasaannya sampai ke pesisir dan pedalaman. Seiring dengan itu, gelombang orang dari luar pun mulai berdatangan.

Sekitar tahun 1930-an, muncul gelombang besar pendatang dari Jawa. Sebagian besar dari mereka datang lewat program transmigrasi zaman kolonial, sebagian lainnya dibawa sebagai tenaga kerja paksa atau rodi. Mereka disebar ke berbagai wilayah untuk membuka lahan dan bekerja di perkebunanโ€”termasuk di sekitar Malili dan Tomoni. Banyak dari mereka akhirnya tidak kembali ke kampung asal, tapi menetap, menikah, dan membangun desa-desa baru. Sampai hari ini, keturunan mereka masih hidup di sini, menjadi bagian dari wajah Malili yang kita kenal sekarang.

Sementara itu, orang Bugis juga mulai menetap di Malili. Karena dulunya Malili masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Luwu, budaya Bugis sangat terasa di sini. Bahkan, sejak 1916, Belanda pernah menunjuk bangsawan Bugis sebagai pemimpin lokal di Maliliโ€”sebagai cara untuk โ€˜menjinakkanโ€™ daerah yang mulai penting secara ekonomi. Sejak saat itu, bahasa Bugis mulai digunakan luas, sampai sekarang pun masih jadi salah satu bahasa yang umum terdengar di kampung-kampung.

Tak lama kemudian, orang Toraja mulai ikut datang. Mereka biasanya mencari lahan subur di dataran tinggi, untuk bertani dan berladang. Meski jumlahnya tidak sebanyak orang Jawa atau Bugis, tapi kehadiran mereka memperkaya keragaman budaya di Malili. Selain itu, ada juga pendatang dari Bali, Madura, Sunda, dan bahkan Tionghoa yang ikut masuk, meski jumlahnya lebih kecil. Mereka datang dengan motivasi yang beragam: ada yang berdagang, ada yang jadi pengrajin, ada yang ikut transmigrasi gelombang selanjutnya.

Menariknya, meskipun datang dari berbagai latar belakang, para pendatang ini bisa hidup berdampingan dengan masyarakat asli Padoe. Bahkan, banyak proses budaya yang saling memengaruhi. Contohnya dalam upacara pernikahan: adat Padoe yang dulu sangat khas, sekarang mulai mirip dengan adat Bugis. Bahasa pun ikut berubahโ€”anak-anak Padoe banyak yang tumbuh besar dengan bahasa Bugis atau Jawa di rumah mereka.

Begitulah Malili dibentukโ€”bukan oleh satu suku atau satu budaya saja, tapi oleh pertemuan dan percampuran banyak identitas. Setiap keluarga punya cerita tentang dari mana asal leluhurnya. Ada yang datang karena dipindahkan, ada yang karena ikut keluarga, ada p**a yang sekadar singgah lalu jatuh cinta dengan tanah ini dan memutuskan tinggal. Semuanya menyatu, pelan-pelan membentuk karakter Malili yang ramah, terbuka, dan guyub seperti sekarang.

Jadi, kalau kamu sedang duduk di warung kopi atau lewat di pasar dan melihat wajah-wajah yang beragam, ingatlahโ€”semua itu bagian dari sejarah panjang yang dimulai sejak zaman kolonial. Sejarah yang nggak tertulis di buku pelajaran, tapi terasa dalam obrolan sehari-hari, dalam masakan, dalam adat, dan tentu saja dalam keramahan warga Malili itu sendiri

๐——๐—ฎ๐—ณ๐˜๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ:
๐Ÿญ. ๐—•๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ, ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ผ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ. (๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿญ๐Ÿด). ๐—ฆ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฒ๐—ด๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜†๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ถ๐—ด๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ. ๐—จ๐—ป๐—ถ๐˜ƒ๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—›๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐—ฑ๐—ฑ๐—ถ๐—ป.
๐Ÿฎ. ๐—•๐—ฎ๐˜€๐—ฟ๐—ถ, ๐—›. (๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿญ). ๐—ฅ๐—ฒ๐˜ƒ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐˜ ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฑ๐—ผ๐—ฒ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ฒ๐˜๐—ป๐—ถ๐˜€ ๐—น๐—ผ๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—ฑ๐—ถ ๐—ž๐—ฎ๐—ฏ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ฒ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ ๐—ฆ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฒ๐˜€๐—ถ ๐—ฆ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป. ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—”๐—ฟ๐—ธ๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐˜€๐—ฎ๐—ฟ.
๐Ÿฏ. ๐—ฆ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป, ๐—”. ๐— . (๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฌ๐Ÿฑ). ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—•๐˜‚๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜„๐˜‚ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐˜‚๐—ฟ. ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ถ๐˜ ๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ผ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ

13/05/2025

๐——๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ถ, ๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐—ง๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐˜๐—ฎ๐—ป: ๐—–๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐—ฏ๐—ฎ๐˜€โ€“๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐—ฝ๐—ฎ

Pemerintahan Ibasโ€“Puspa baru saja menapaki masa awal kepemimpinannya di Luwu Timur. Sebagaimana lazimnya masa transisi kekuasaan, rakyat Luwu Timur kini menaruh harapan, namun juga menyimpan kehati-hatian. Bukan karena pesimisme, melainkan karena sejarah panjang pembangunan daerah ini telah cukup memberi pelajaran: bahwa janji politik, betapa pun indahnya, tak otomatis menjelma menjadi perubahan nyata.

Sejumlah program andalan merekaโ€”Kartu Lutim Pintar, Kartu Lutim Sehat, Kartu Lutim Lansia, serta janji dana Rp2 miliar per desa, penguatan UMKM, dan dukungan untuk petaniโ€”menjadi tonggak simbolik yang menandai dimulainya era baru. Namun program-program ini juga menghadirkan pertanyaan krusial: ๐’”๐’Š๐’‚๐’‘๐’‚ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’Š๐’–๐’๐’•๐’–๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’? ๐’ƒ๐’‚๐’ˆ๐’‚๐’Š๐’Ž๐’‚๐’๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Œ๐’‚๐’๐’Š๐’”๐’Ž๐’†๐’๐’š๐’‚? ๐’…๐’‚๐’ ๐’”๐’†๐’‹๐’‚๐’–๐’‰ ๐’Ž๐’‚๐’๐’‚ ๐’‘๐’†๐’๐’‚๐’Œ๐’”๐’‚๐’๐’‚๐’‚๐’๐’๐’š๐’‚ ๐’…๐’‚๐’‘๐’‚๐’• ๐’…๐’Š๐’–๐’Œ๐’–๐’“ ๐’”๐’†๐’„๐’‚๐’“๐’‚ ๐’‚๐’Œ๐’–๐’๐’•๐’‚๐’ƒ๐’†๐’?

๐Ÿญ. ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—บ ๐—ฃ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—š๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—–๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Kartu Lutim Pintar menjanjikan pendidikan gratis dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Secara moral, ini adalah komitmen yang patut diapresiasi. Tapi jika hanya menggratiskan iuran sekolah tanpa memperbaiki kualitas pendidikan, maka hasilnya adalah akses tanpa mutu.

Banyak sekolah di Luwu Timur masih bergantung pada guru honorer dengan kompetensi yang beragam. Sarana penunjang seperti perpustakaan, laboratorium, dan konektivitas digital masih jauh dari merata. Di sisi lain, tantangan anak-anak bukan cuma biaya sekolah, tetapi juga ongkos transportasi, akses makanan bergizi, dan lingkungan belajar yang mendukung.

Tanpa intervensi serius pada aspek kualitas guru, inovasi pembelajaran, dan pemerataan mutu antarwilayah, Kartu Lutim Pintar berisiko menjadi kebijakan โ€œpenggugur kewajibanโ€ belaka. Pemerintah harus menunjukkan bagaimana kartu ini akan mendorong peningkatan prestasi, bukan hanya menghilangkan beban administratif.

๐Ÿฎ. ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—บ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐˜: ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป, ๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐——๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐˜‚?

Kartu Lutim Sehat adalah janji besar lain yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat. Ia diklaim sebagai jalan menuju layanan kesehatan universal berbasis KTP, tanpa diskriminasi administratif. Namun justru karena skalanya sangat luas, tantangan implementasinya pun jauh lebih berat.

Kita tahu, banyak puskesmas di wilayah pelosok masih kekurangan tenaga medis, bahkan dokter. Fasilitas rawat inap terbatas. Rujukan dari desa ke kabupaten seringkali memakan waktu, biaya, dan kejelasan. Obat-obatan kerap tidak tersedia sesuai resep.

Tanpa penguatan kapasitas layanan di tingkat dasar, Kartu Lutim Sehat hanya akan menjadi kartu penenang, bukan kartu penyembuh. Janji ini menuntut reformasi sistem, bukan sekadar perluasan kepesertaan. Pemerintah harus bersedia memperbaiki sistem distribusi tenaga kesehatan, memperluas fasilitas dasar, dan menjamin ketersediaan layanan selama 24 jam.

๐Ÿฏ. ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐˜‚ ๐—Ÿ๐˜‚๐˜๐—ถ๐—บ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ๐—ฎ: ๐—›๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—–๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ, ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐˜†๐—ฎ๐˜๐—ฎ

Penghargaan terhadap lansia adalah wajah dari masyarakat yang beradab. Kartu Lutim Lansia diklaim sebagai bentuk penghormatan kepada warga usia senja. Tapi penghormatan tidak cukup hanya simbolik. Apa isi dari kartu ini? Apa manfaat riilnya?

Apakah lansia akan mendapatkan bantuan langsung tunai? Apakah mereka mendapat prioritas dalam layanan kesehatan? Adakah kebijakan transportasi gratis, atau bantuan nutrisi dan aktivitas sosial?

Kalau tidak dibarengi dengan data terpadu dan penargetan yang jelas terhadap lansia miskin atau rentan, maka kartu ini bisa menjadi proyek yang boros namun tidak efektif. Pemerintah perlu menjawab: apakah ini sekadar bentuk pengakuan, atau juga skema perlindungan sosial yang berkelanjutan?

๐Ÿฐ. ๐——๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐——๐—ฒ๐˜€๐—ฎ ๐—ฅ๐—ฝ๐Ÿฎ ๐— ๐—ถ๐—น๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ: ๐—ฃ๐—ผ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ, ๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ฆ๐—ถ๐—ฎ๐—ฝ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฆ๐——๐—  ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฎ?

Komitmen untuk menyalurkan dana Rp2 miliar per desa adalah kebijakan ambisius. Namun pengalaman dari program serupa menunjukkan bahwa besarnya anggaran tidak selalu berbanding lurus dengan dampaknya.

Banyak desa masih menghadapi kendala dalam manajemen keuangan, perencanaan partisipatif, dan akuntabilitas penggunaan dana. Sementara itu, pengawasan dari masyarakat sipil masih lemah dan cenderung pasif.

Tanpa pelatihan SDM, sistem transparansi digital, serta pelibatan warga dalam musyawarah desa yang bermakna, dana ini berisiko dimanfaatkan secara tidak tepat atau justru mengulang pola pembangunan fisik yang dangkal dan tidak berkelanjutan.

๐Ÿฑ. ๐—จ๐— ๐—ž๐—  ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ถ: ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ท๐—ถ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—•๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ฏ๐—ผ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚

Penguatan UMKM dan petani telah menjadi lagu lama dalam kampanye politik. Tapi selama ini, banyak program berakhir di pelatihan-pelatihan seremonial, tanpa kelanjutan sistemik.

UMKM menghadapi masalah akses modal, keterbatasan pasar, dan keterpinggiran dari rantai distribusi. Sementara petani bergulat dengan biaya produksi, harga hasil panen yang tidak stabil, dan ketergantungan pada tengkulak.

Apa strategi Ibasโ€“Puspa? Apakah akan ada koperasi modern? Akses pasar digital? Jaminan harga panen? Kalau tidak ada inovasi dan kebijakan afirmatif yang melindungi mereka, maka janji ini hanya menjadi pengulangan tanpa solusi.

๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜€๐—ถ ๐—”๐—ธ๐—ต๐—ถ๐—ฟ: ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚, ๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ต ๐—Ÿ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ

Pemerintahan Ibasโ€“Puspa berada di titik krusial. Mereka datang dengan mandat rakyat, tetapi juga dengan utang janji yang harus dibayar dengan kerja konkret. Setiap program unggulan harus diuji dengan pertanyaan: siapa yang diuntungkan, bagaimana pelaksanaannya, dan bagaimana rakyat bisa mengawasi?

Kartu Lutim Pintar, Kartu Lutim Sehat, Kartu Lutim Lansiaโ€”semuanya memiliki potensi menjadi kebijakan transformatif. Tapi juga bisa menjadi proyek politis yang penuh seremoni tapi minim dampak, jika tidak dibarengi dengan desain kebijakan yang matang dan mekanisme evaluasi yang terbuka.

๐—ฆ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ, ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐˜ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ฟ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐—ป. ๐—ง๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐˜ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป, ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐˜‚๐—น๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐˜€๐—ถ.

Semoga pemerintah baru tidak hanya rajin menebar slogan, tapi juga tekun merawat kepercayaan publik dengan kerja yang nyata dan berpihak pada kepentingan bersama.

๐— ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ผ ๐——๐˜‚๐—น๐˜‚: ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ถ, ๐—ฆ๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐—ง๐˜‚๐—ฎ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ปSebelum ramai kendaraan dan bangunan pemerintahan seperti sekaran...
13/05/2025

๐— ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—น๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ผ ๐——๐˜‚๐—น๐˜‚: ๐—ฆ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ถ, ๐—ฆ๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐—ง๐˜‚๐—ฎ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฎ๐—ป

Sebelum ramai kendaraan dan bangunan pemerintahan seperti sekarang, Malili hanyalah kampung tenang di timur Kerajaan Luwu. Kota ini belum punya jalan besar, belum ada kantor bupati, dan belum dikenal sebagai pusat pemerintahan. Tapi jangan salah, justru dalam kesederhanaan itulah Malili menyimpan sejarah panjang yang menarik dan sering luput dari sorotan.

Malili termasuk wilayah paling timur dalam kekuasaan Kerajaan Luwu, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang berdiri sejak abad ke-13. Pada masa itu, wilayah Malili tidak sepenuhnya berada di bawah kontrol langsung raja, tapi lebih sebagai kawasan penyangga yang dijaga oleh para kepala adat. Hubungan antara kerajaan dan masyarakat lokal berlangsung melalui sistem patronase yang fleksibelโ€”selama warga patuh dan menyerahkan sebagian hasil bumi, mereka dibiarkan mengatur wilayahnya sendiri.

Salah satu komunitas tertua yang mendiami kawasan ini adalah Suku Padoe. Mereka dikenal sebagai penjaga hutan dan pegunungan, hidup dari bertani ladang berpindah, berburu, dan meramu. Dalam budaya Padoe, hutan bukan sekadar tempat tinggal satwa, tapi juga rumah bagi roh leluhur. Itulah sebabnya banyak kawasan di sekitar Malili dulu dianggap โ€œkeramatโ€โ€”tidak boleh dibuka sembarangan, tidak boleh dilalui tanpa ritual.

Masyarakat Malili kala itu mengandalkan Sungai Malili sebagai jalur transportasi utama. Sungai ini seperti โ€œjalan tolโ€ pada zamannya. Perahu-perahu kayu kecil berlayar perlahan, membawa hasil panen seperti padi, sagu, rotan, dan damar menuju hilir untuk ditukar dengan garam, kain, atau perkakas dari kampung lain. Di tepi sungai, anak-anak bermain sambil menangkap ikan, dan orang tua duduk menganyam sambil bercerita tentang nenek moyang.

Yang menarik, pada masa penjajahan Belanda, Malili tidak terlalu disentuh langsung oleh kekuasaan kolonial. Letaknya yang jauh dan medan yang cukup berat membuat wilayah ini seperti "terlindungi secara alami." Belanda lebih banyak berinteraksi dengan pusat Kerajaan Luwu di Palopo. Dari sana, pengaruh kolonial perlahan menyebar, tapi tidak sekuat di daerah-daerah pesisir. Malili tetap hidup dengan caranya sendiri: sederhana, mandiri, dan kuat memegang adat.

Bahkan, ketika kabar tentang kemerdekaan Indonesia mulai menyebar tahun 1945, masyarakat Malili mendengarnya lebih lambat dibandingkan daerah lain. Namun semangat gotong royong dan kebersamaan sudah lama jadi ruh masyarakat di siniโ€”jauh sebelum kata โ€œIndonesiaโ€ menjadi identitas bersama. Sistem kerja bersama di ladang, pembagian hasil panen secara adil, hingga tradisi musyawarah dalam mengambil keputusan sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari.

Hari ini, Malili mungkin sudah berubah. Jalan-jalan aspal menggantikan jalur sungai, dan bangunan beton berdiri menggantikan rumah kayu. Tapi kalau kamu perhatikan baik-baik, sisa-sisa kejayaan masa lalu itu masih ada: dalam nama kampung, dalam tradisi lisan, dalam irama tarian adat, dan dalam semangat hidup masyarakatnya.

Malili bukan sekadar titik di peta Luwu Timur. Ia adalah saksi sunyi perjalanan panjang dari kampung sederhana di tepi sungai, menuju kota yang terus tumbuh tanpa kehilangan akarnya.

[MALILI BERCERITA  #10]Setelah sekian lama vakum, Kota Malili, ID] kembali dengan program MALILI BERCERITA Seri ke-10.Pa...
04/12/2021

[MALILI BERCERITA #10]

Setelah sekian lama vakum, Kota Malili, ID] kembali dengan program MALILI BERCERITA Seri ke-10.

Pada seri ini, kita akan membahas bagaimana menata pembangunan daerah tanpa mengorbankan kualitas lingkungan hidup. Juga kita akan bahas mulai dari isu COP 26 sampai dengan Sungai Malili.

Untuk membahas topik tersebut, kita bakal kehadiran Slamet Riadi selaku Kepala Departemen Advokasi dan Kajian dan Samintang .intheway selaku SDGs Ambassador Universitas Hasanuddin. Tentunya, acara ini bakal dipandu oleh CEO sekaligus perapal cerita Kota Malili, ID]

Repost dari kak  -oOo-Andaikan sungai dianggap sebagai ekosistem, pasti akan berpikir lebih keras, bagaimana membuatnya ...
29/11/2021

Repost dari kak

-oOo-

Andaikan sungai dianggap sebagai ekosistem, pasti akan berpikir lebih keras, bagaimana membuatnya selalu hidup berdampingan dengan manusia.

Saya bersedih dengan saudara kita yang rumahnya dihadapkan ke sungai, namun mendapati sungai dihadapannya tak elok dipandang karena ulah oknum tak bertanggungjawab

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga semakin tangguh dan terus tumbuh
16/08/2021

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga semakin tangguh dan terus tumbuh

Mimpi menjadi kenyataan hari ini. Terima kasih sebesar-besarnya atas tontonan menarik yang berbuah emas oleh Womens Doub...
02/08/2021

Mimpi menjadi kenyataan hari ini. Terima kasih sebesar-besarnya atas tontonan menarik yang berbuah emas oleh Womens Double Indonesia .apriyanig ๐Ÿ˜‡๐Ÿฅ‡


Meski tak saling berjabat tangan dan bertatap wajah, semoga kita semua menjadi insan terbaik di hari kemenangan ini.id d...
12/05/2021

Meski tak saling berjabat tangan dan bertatap wajah, semoga kita semua menjadi insan terbaik di hari kemenangan ini.
id dengan sukacita mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin


Pagi ini ledakan meluluhlantakan Gereja Katedral Makassar. .id turut berduka atas kejadian tersebut, kami meyakini keker...
28/03/2021

Pagi ini ledakan meluluhlantakan Gereja Katedral Makassar. .id turut berduka atas kejadian tersebut, kami meyakini kekerasan atas nama apa pun tidak boleh mendapat tempat di negeri ini.

Mari bergabung dalam aliansi   . Jangan biarkan kita kehilangan Sungai Malili yang jernih. Sebarkan pesan ini agar selur...
26/02/2021

Mari bergabung dalam aliansi . Jangan biarkan kita kehilangan Sungai Malili yang jernih. Sebarkan pesan ini agar seluruh pihak terkait dapat menidaklanjutinya secara cepat. Jangan biarkan pesan ini berhenti disini !

.id turut berduka cita kepada warga Sulawesi Barat yang dinihari tadi diguncang gempa berkekuatan 6,2 S.R. Semoga saudar...
15/01/2021

.id turut berduka cita kepada warga Sulawesi Barat yang dinihari tadi diguncang gempa berkekuatan 6,2 S.R. Semoga saudara kita di sana diberi kekuatan dan pemulihan pasca bencana segera dapat dilakukan

Address

Kota Malili, Kabupaten Luwu Timur
Malili
92981

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kota Malili, ID posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Kota Malili, ID:

Share