02/04/2026
*“Pulangnya Seorang Mujahidah"*
Satu lagi saudara kita, sahabat kita, teman kita yang kembali kepada-Nya. Sebuah kepastian yang tak terbantahkan—namun kapan waktunya, itu tetap menjadi rahasia Allah.
Pagi tadi, menjelang siang, nama itu diumumkan di grup WhatsApp. Awalnya walau terasa menghentak, namun saya belum terlalu jauh mencari tahu. Hingga seseorang menyebutkan bahwa almarhumah tinggal di Komplek Pao-Pao dan berasal dari Bima.
Yaa Allah… seketika hati saya bergejolak dan ingatan saya langsung tertuju kepada akhuna Ayip Maulana—salah satu anggota UPA kami di Grup Al Biruni.
Saya segera menghubungi beliau. Hanya satu kalimat singkat: “Sepertinya ada berita?”
Beberapa detik kemudian, beliau menelpon. Suaranya bergetar, setengah terisak.
Yaa Allah,
Saudaranya itulah yang meninggal dunia.....
Sejenak terhenti,
Ingatan saya menelusuri lorong waktu menghadirkan kembali sebuah momen saat acara buka puasa di Hotel Swiss-Belinn Panakkukang dua tahun lalu. Bersama Moms Ros, almarhumah memperkenalkan diri—bahwa ia adalah saudara dari akh Ayip Maulana.
Sebuah keluarga sederhana, namun penuh keshalihan. Akh Ayip selain sebagai guru Qur'an di sekolah juga beliau imam rawatib di masjid dekat rumahnya. Bacaan Al-Qur’annya syahdu, khas ikhwah dari Nusa Tenggara yang lembut dan menyentuh hati.
Suatu hari, di hari Jum’at, saya melakukan safari silaturahim ke beberapa binaan—terutama mereka yang berstatus perantau, jauh dari keluarga. Rumah akh Ayip menjadi tujuan kedua setelah dari rumah salah seorang binaan di Samata juga orang Bima namun beda UPA dengan Ayip.
Saat tiba di lokasi, saya sempat ragu. Rumah itu tampak seperti tak berpenghuni—bahkan sekilas seperti rumah kosong yang mirip kandang. Namun yang bikin heran juga karena ada beberapa lembar pakaian akhwat yang dijemur menggantung di dekat dinding.
Saya mencoba bertanya ke tetangga. Dan benar, itulah rumahnya.
Saya menghampiri pagar yang masih tergembok, mengucapkan salam. Tak lama, akh Ayip keluar dan menyambut dengan hangat, lalu mempersilakan masuk.
Maasyaallah alangkah kagetnya.
Di dalam, suasananya tak jauh berbeda. Sederhana—bahkan sangat sederhana. Saya dipersilakan duduk di atas tikar yang dibentangkan. Tak ada perabot yang lazim. Lantai kami duduk kasar dan dingin. Pikiran saya berkecamuk....bagaimana mereka hidup dalam kondisi seperti ini.
Saat itu, batin saya menangis…
Selama ini, setiap bertemu di forum UPA, beliau tak pernah memperlihatkan kondisi kehidupannya. Wajahnya kalem dan cerah, tidak ada keluhan. Tidak ada raut kekurangan.
Yaa Allah… betapa kurang bersyukurnya saya selama ini.
Melihat kondisi tersebut, saya merasa malu di hadapan Allah atas nikmat yang selama ini saya terima.
Hari ini, beliau kembali diuji dengan kehilangan orang tercinta.
Fii amanillah akh Ayip…
Tetaplah kuat.
Selamat jalan Ukhti Nursiana…
InsyaAllah engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Engkau bukan hanya seorang muslimah, tapi juga seorang pejuang—mujahidah.
Hari ini keluarga menangisimu…
Namun kelak di akhirat, mereka akan bangga atasmu.
اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعف عنها
Allahummafirlahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa’fu ‘anhaa.