05/07/2016
[ Di Rumah Keluarga Syahputra ]
"KRIING KRIING"
"HOOAMP… Hmp… Udah jam berapa, ya?" ucapku sambil melihat jam weker
"HUUWAAA… Udah jam segini! Aku terlambat lagi…" teriakku yang hampir menggemparkan kota Biak (٥°□ °)
*Kota Biak: Nama kota di PAPUA
Aku lalu bersiap-siap untuk ke sekolah
15 menit berlalu, aku berlari keluar rumah
[ Di Jalanan ]
"Ini semua karena semalam banyak pelanggan di warung bakso tempatku bekerja paruh waktu" batinku sambil berlari dengan kecepatan penuh menuju sekolah
Aku terus berlari tanpa henti…
10 menit berlalu, aku sampai digerbang sekolah dan menuju kelasku…
[ Di Kelasku ]
"Andho Syahputra? Apakah dia terlambat lagi?" terdengar suara seseorang yang sedang menyebut namaku
Akhirnya aku sampai didepan pintu kelas dan tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membuka pintu kelas dan berkata
"HADIR PAK! Hosh… Hosh… Hosh…" ucapku sambil mengontarkan nafas kelelahan ( x₃x)
"Ini yang ke 5 kalinya kamu terlambat lagi selama seminggu!" ucap seorang bapak botak yang memakai kacamata, yang bukan lain adalah wali kelasku
"Apakah aku akan berdiri didepan kelas lagi, pak?" tanyaku sambil menggaruk kepala ( ̄^ ̄゜)
"Oh tidak lagi nak! Hukumanmu bapak ubah dengan membersihkan ruang olahraga sampai bersih…" ucap wali kelasku dengan ramahnya ( ̄ー+ ̄)
"Itu hukuman bagi siswa yang terlambat selama… 4 HARI SELAMA SEMINGGU!!" lanjut wali kelasku dengan mengubah mimik bicaranya ke nada besar ( °Θ°)
"Tapi pak, sebenarnya aku bu—"
"Tidak ada tapi-tapi lagi, CEPAT KERJAKAN SEEKAARAANNG!" ucap bapak botak itu yang memotong pembicaraanku ( `ิิ,д´ิ)
"TAP TAP TAP"
"BAIK PAK! WAAAAAAA— !!!" aku segera berlari ke ruang olahraga (TxT)
Namaku Andho Syahputra, aku sama seperti siswa SMU lainnya, tapi aku hidup seorang diri tanpa adanya kedua orang tua. Orang tuaku meninggal sejak aku berumur 10 tahun dan aku dibesarkan oleh nenek dan kakek. Saat 4 tahun berlalu nenekku meninggal karena faktor usia, saat 2 tahun setelah nenekku meninggal, diikuti oleh kakekku yang juga meninggal dunia. Aku hidup sendiri dan bekerja paruh waktu untuk berjuang meneruskan hidup
[ Di Ruang Olah Raga ]
"SIALAN!! Awas kau bapak botak akan aku balas kau!!" ucapku dengan nada kesal sambil memegang sapu ( ಠ益ಠ)
"TAP TAP TAP"
"DUAK" bunyi tabrakan
"ARGH!" suara seorang lelaki
"Aduh! Sial apa aku semalam" ucapku sambil memegang bokongku (ㄒoㄒ)
Ketika aku kembali membersihkan ruangan, aku cukup kaget dengan melihat satu ruangan kosong yang mengeluarkan cahaya putih yang tidak jelas
"SIING"
Tapi yang membuatku ketakutan lagi jika dibalik ruangan itu akan mengeluarkan sesuatu yang tidak-tidak, YAH kalian pasti tau maksud dari ucapanku
"GLEK" (⇀ ↼‶)
"A… Aku… Harus memberanikan diri…" batinku
"CEKLEK"
Aku memberanikan diri untuk membuka pintu itu, cahayanya sangat menyilaukan mata. Namun ketika aku mencoba menjauh dari cahaya itu dan ingin memberitahukan kejadian ini ke guru
"SYUUUUUUTT" tiba-tiba tubuhku tertarik ke dalam cahaya aneh itu
"HUUUUWWAAAAA…" teriakku ( ٥°ロ°)
Kepergianku ke dalam cahaya itu sangat panjang perjalanannya
"WAAAAAAAA…" setelah itu, aku terdampar disebuah tempat yang entah apa namanya. Tempat yang cukup aneh bagiku, rasanya seperti ada di negeri dongeng, tapi aku berharap ini semua hanya mimpi
"HUUWAAA! Aduhh…" Teriakku saat terjatuh dari cahaya (T^T)
Aku berjalan kesana kemari untuk mencari jalan keluar dan warga di tempat itu, tapi tak ada seorangpun yang kutemukan. Hanyalah pohon-pohon aneh dan tumbuhan lainnya yang belum pernah kujumpai di Biak
"KRUUK KRUUK"
Aku lelah dan perutku menangis kelaparan karena tadi pagi aku belum sempat sarapan, lalu aku melihat pohon berbentuk kuda nil. Aku juga melihat buah yang berbentuk seperti lonceng berwarna kuning
"KRAUK KRAUK KRAUK" (٥╥﹏╥)
Tanpa pikir panjang akupun langsung memakannya, rasanya memang manis dan enak, tapi itu membuat kepalaku sedikit pusing. Aku mencoba berjalan kembali, tapi tubuhku rasanya lemas sekali sampai akhirnya aku terjatuh dan tidak sadarka