17/08/2022
Peringatan 17 Agustus di Bawah Pemerintahan Borjuis di Kabupaten Bima
"77 Tahun Merdeka, Masyarakat Kami Masih Dijajah Kerusakan Infrastruktur. Tuntutan: (1) Mendesak Pemda Bima (Bupati/DPRD) memperbaiki jalan rusak di Desa Kala dan O'o melalui APBD-P 2022; (2) Mendesak Perbaikan seluruh jalan rusak di Kecematan Donggo dan Soromandi melalui APBD 2023; (3) Mendesak Pemda Bima memulihkan seluruh jalan rusak di Kabupaten Bima; (4) Mendesak Pemda untuk transparan dalam kebijakan dibidang Infrastruktur; (5) Mendesak kebijakan publik dibidang Pembangunan melalui proses-proses yang manusiawi dan demokratis."
Telah tiba saatnya kebengisan, kelicikan, dan kepongahan dibakar-hanguskan. Api keresahan, kemuakan, ketidakpuasan, hingga kebencian mendalam terhadap tatanan diakumuLasikan. Semuanya harus memerah. Sekarang mosi tidak percaya terhadap pemerintahan dan demokrasi borjuis harus menyala. Bukan sekedar melawan, tapi terutama memperbesar kekuatan dan merawat harapan akan perubahan yang lahir dari motor penggerak sejarah: perjuangan massa. Selama tirani berkuasa kita semua telah ditempatkan dalam lubang kehinaan. Di pedesaan, pedalaman, pesisir, dan pinggiran; anak-anak buruh tani, nelayan, dan masyarakat adat tidak bisa beroleh pendidikan dan kesehatan yang layak. Bersama orangtuanya, mereka dimiskinkan, dibodohkan, bahkan dimatikan. Perampasan dan penggusuran lahan menjadi tontonan rutin. Tidak ada kebebasan, kesejahteraan, dan keadilan. Semuanya sirna atas nama pembangunan onggokan kakayaan dan kemajuan tumpukan keuntungan.
Di perkotaan dan ibu-ibu kota; anak-anak buruh, tukang ojek, sopir, pedagang kaki lima, memelas kantong oleh meroketnya ongkos pendidikan. Bersama orangtuanya, mereka berkalang penderitaan. Deritanya tiada terkira: mulai dari susah bayar kontrakan, diputus hubungan kerja, dikejar-kejar rentenir ke mana-mana, pelecehan di jalan atau tempat kerja, dibubar-paksakan polisi pamong praja, hingga ditilang polantas saat berkendara. Di tempat-tempat keramaian dan jalan raya; pengemis, pengamen, pemulung, dan penganggur, diperlakukan sekenanya. Kekuasaan memandangnya tapi dengan memicingkan mata. Setiap dongahan muka liris dan uluran tangan lemas, selalu dihadapi dengan kebijakan-kebijakan sinis. Maka ngamen, ngemis, mulung, ngemis, bahkan nganggur—kerap berbuah ejekan, maki-caciaan, dan hinaan pedas.
Di tempat-tempat hiburan; PSK, penjaja minuman keras, dan kurir-kurir narkoba; terpaksa menerabas harga diri, moralitas dan norma, karena tidak ada cara lain untuk mempertahankan hidupnya. Mereka distigma menjadi sampah masyarakat, tapi sumber prestise dan pundi pendapatan-tambahan buat aparat-aparat bersenjata hingga keuntungan besar buat kapitalis dan oligark. Semua daya hidup kita direnggut oleh kelas borjuis. Mereka menggerayangi tubuh kita secara rakus: menguliti kulit-kulit kasar kita, meremukan tulang-tulang keropos kita, menghisap keringat dan darah amis kita, hingga semuanya tiada tersisa. Kekuasaan politik dan ekonomi komplotan itu mengotak-kotakan kita guna menyangsikan sesama. Tetapi hari-hari ini segala curiga di antara kita sirna. Karena tiada lagi garis demarkasi di antara kita. Sebagai individu-individu tertindas, terhisap, termiskinkan, dan sebentar lagi punah—kita semuanya sama. Maka tidak ada alasan untuk tak bersatu bertempur mengusik ketentraman penguasa. Dalam Ideologi Jerman, Karl Marx pernah berkata:
“Kondisi yang sama, kontradiksi yang sama, minat yang sama, selalu memanggil semua kebiasaan yang serupa di mana-mana [perlawanan, pembangkangan, pemberontakan] ... individu yang terpisah hanya akan membentuk kelas hanya sejauh mereka harus melakukan pertempuran bersama melawan kelas yang lain....”
Ayolah kawan, tirani kekuasaan itu memanggilmu segera. Jalan raya yang setiap harinya selalu dicemari oleh lalu-lalang mobil mewah pemerintah dan penguasaha. Tidakkah kamu bosan, tiap hari melihat muka mereka? Tak pernahkah merasa perjalananmu terganggu oleh tingkah elit-elit di negeri? Didandani fasilitas canggih hingga uang belanja dari anggaran rakyat mereka plesiran ke sana-ke mari. Tiba pemilu jalanan kembali dihakmiliki hanya untuk koar-koar omong kosong belaka. Bahkan saat ada hajatan keluarga, jalan-jalan umum bisa saja disulap jadi tempat pribadi dan kelompok seenak jidadnya. Hari-hari ini jalanan tidak pantas lagi dibiarkan untuk pesta-pesta penguasa. Bahkan jalan raya tak boleh melelulu dilewati oleh produk-produk pemodal juga. Karena sekarang, jalan-jalan umum haruslah tempat berlangsungngnya festival rakyat, perjuangan massa. Itulah mengapa pendudukan, pemogokan, pembangkangan, hingga pemberontakan sipil haruslah diwujudkan secepat kilat. Victor Bolshevik pernah berucap:
“…kualitas yang paling dibutuhkan untuk tampil menjadi pemenang ialah keberanian. Upaya yang dilakukan tidak sedikit, namun hasilnya sepadan. Ada banyak rintangan di sepanjang jalan. Perangkap jahat menunggu orang yang kurang ajar. Keberanian dibutuhkan untuk mengambil langkah pertama ... berani dan nekat mengambil risiko dalam setiap ayunan langkah....”
Kawan, sikap pemberani bahkan nekat sekarang sangat-sangat diperlukan. Hanya keberanian itu perlu dinyatakan di jalanan. Jika keberanian teekunci di ruangan mungkin ini bila bukan ketakutan, merupakan keegosian kasar. Ego seharusnya membuatmu jadi pribadi adi manusia: kaya akan kepedulian, memiliki hasrat pembebasan, dan gandrung pada kemanusiaan. Dengarkan! William Blake mengajarkan: 'segala hal yang hidup, tidak hidup sendirian, tak untuk dirinya sendiri'. Kepada sesama perlu kiranya berkomitmen bukan hanya merebut jalanan, melainkan p**a membangun kepemimpinan revolusioner (organisasi pelopor). Sebagai individu-individu kita harus bersekutu dengan kaum-kaum tertindas, terhisap, dan termiskinan. Inilah satu-satunya cara terampuh memperjuangkan perubahan. Itulah mengapa kita tiada cukup terlibat dalam pemberontakan-pemberontakan nyata, tapi terutama terorganisir dan sadar akan rencana-rencana menuju pembangunan masyarakat masa depan. Bukankah sudah lama kita merindukan masyarakat merdeka, setara, dan bercinta kasih di antara sesamanya? Masyarakat yang diucap Marx dan Engels begitu baik dan mempesona:
“...masyarakat paguyuban, masyarakat di mana gerak perkembangan dari setiap individu menjadi prasyarat bagi gerak perkembangan seluruh masyarakat.”
Jembatan menuju masyarakat seperti itu haruslah dibangun segera. Terutama dengan mempercepat pembangunannya lewat perjuangan hari-hari ini secara bersama-sama. Ayolah kawan, jangan terlalu naif untuk mengakui: bahwa dirimu sekarang bukankah tengah merindukan tatanan yang manusiawi? Kami yakin kalian semua tengah merindukan kehidupan yang adil-adil, baik-baik, dan indah-indah. Alexander Berkman memberi tahu kalau seluruh kemajuan manusia terdiri atas perjuangan demi keselamatan dan perdamaian yang lebih besar juga keamanan dan kesejahteraan yang lebih tinggi. Maka dorongan alami manusia, bukan persaingan, penundukan, dan eksploitasi. Melainkan kerja sama dan saling melindungi. Tapi di bawah kapitalisme-imperialisme, itu semua tak pernah didapati. Itulah mengapa kebebasan dan kebahagiaan sangatlah kita rindui. Bagi Berkman kecenderungan ini berusaha mengekspresikan dan menegaskan wujudnya terlepas dari rintangan, kesulitan, dan terutama hambatan-hambagan ciptaan tirani. Untuk inilah diperlukan perjuangan-perjuangan tanpa henti:
"Setiap kemajuan membutuhkan perjuangan yang berat. Butuh banyak pertikaian panjang untuk menghancurkan perbudakan; butuh perlawanan dan pemberontakan untuk mendapatkan hak paling mendasar bagi rakyat; harus terjadi revolusi untuk menghapus feodalisme dan [kapitalisme] ... tidak ada satupun sejarah di bumi ini, tidak dalam zaman sejarah manapun di mana kejahatan sosial besar dihapuskan tanpa perjuangan sengit dengan kekuatan yang ada ... [tetapi] bisa dipastikan bahwa pemerintah dan modal tidak akan membiarkan dirinya secara perlahan disingkirkan jika mereka bisa mencegahnya; mereka juga tidak akan 'menghilang' dengan ajaib hanya karena beberapa orang pura-pura percaya. Butuh sebuah revolusi untuk menyingkirkannya.”
Medan Juang, Perjuangan Sepanjang Kehidupan
Atas nama kaum tertindas, terhisap dan miskin; panjang umur perjuangan!
“Berorganisasi, Berpropaganda, dan Berlawan untuk Kemenangan Sosialisme!”
Unduh di sini: https://drive.google.com/file/d/1nmjuRrcAklLhehqLsmTW_T7hc2rwgZqE/view?usp=drivesdk (Kritik terhadap Pemerintahan dan Demokrasi Borjuis di Bima)