04/09/2026
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat sekaligus Ketua Harian Dekranasda NTB, H. Lalu Wiranata, S.IP., M.A., beserta pengurus mendampingi Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Ibu Sinta M. Iqbal, dalam Rapat Koordinasi Dekranasda NTB bersama perwakilan pengurus Dekranasda 10 kabupaten/kota se-NTB, Kamis (3/9/2026), di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB.
Rapat koordinasi tersebut digelar untuk memperkuat sinergi pelaksanaan program kerja Dekranasda, mengevaluasi program yang telah dan belum terlaksana di masing-masing kabupaten/kota, sekaligus mematangkan persiapan menghadapi Pameran Kriya Nusa 2026.
Dalam rapat, masing-masing perwakilan Dekranasda kabupaten/kota menyampaikan perkembangan program kerja yang telah dilaksanakan maupun yang masih dalam proses. Paparan tersebut menjadi bahan evaluasi bersama untuk melihat capaian, kendala, serta kebutuhan penguatan program ke depan.
Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Ibu Sinta M. Iqbal, menegaskan bahwa sinergi dan kolaborasi antara provinsi dengan kabupaten/kota menjadi kunci dalam memperkuat pembinaan para perajin.
“Sampai saat ini kita harus mengakui bahwa sinergi antara provinsi dan kabupaten/kota masih perlu diperkuat. Karena itu, hari ini kita ingin memperkuat kembali sinergi dan kolaborasi yang sudah kita bangun sejak awal kepengurusan ini, agar ke depan arahnya semakin jelas,” ujar Ibu Sinta M. Iqbal.
Menurutnya, pembinaan perajin tidak dapat hanya dilakukan dari tingkat provinsi. Kabupaten/kota memiliki posisi penting karena bersentuhan langsung dengan para perajin dan menjadi bagian utama dalam penguatan pembinaan dari sisi hulu.
“Para perajin harus terus kita beri motivasi. Dari provinsi tentu akan kita dukung, tetapi dari sisi hulunya juga harus dibantu oleh kabupaten dan kota,” lanjutnya.
Sejalan dengan arahan tersebut, Disperindag NTB mengambil peran dalam memperkuat pengembangan industri kerajinan melalui pembinaan pelaku industri, peningkatan kualitas dan daya saing produk, pengembangan potensi bahan baku lokal, peningkatan kapasitas produksi, hingga perluasan akses pasar.
H. Lalu Wiranata mengatakan, pengembangan industri kerajinan harus dibangun secara terpadu dari hulu hingga hilir. Pembinaan yang dilakukan di kabupaten/kota perlu terhubung dengan dukungan pemerintah provinsi agar pengembangan produk tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Sinergi ini penting agar pembinaan tidak berjalan sendiri-sendiri. Apa yang dilakukan di kabupaten/kota perlu terhubung dengan program provinsi, sehingga potensi perajin dan produk kerajinan kita dapat terus dikembangkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan industri kerajinan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut kualitas, desain, kemasan, inovasi, kontinuitas produksi, serta kemampuan produk menembus pasar yang lebih luas.
Karena itu, Disperindag NTB terus mendorong agar pembinaan industri kerajinan dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi, dengan memperkuat peran kabupaten/kota sebagai garda terdepan dalam mendampingi perajin di daerah.
Selain evaluasi program kerja, rapat juga membahas persiapan Pameran Kriya Nusa 2026 yang akan berlangsung pada 26–30 September 2026 di Hall A dan Hall B Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Pembahasan persiapan meliputi aspek teknis kegiatan, koordinasi antardaerah, kesiapan produk, serta hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk memastikan keikutsertaan NTB berjalan optimal.
Pameran Kriya Nusa menjadi ruang strategis bagi NTB untuk memperkenalkan produk kriya dari 10 kabupaten/kota, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi produk kerajinan daerah untuk dikenal dan menjangkau pasar yang lebih besar.
Melalui sinergi Dekranasda dan dukungan Disperindag NTB, pengembangan industri kerajinan diharapkan semakin terarah, mulai dari penguatan perajin di tingkat daerah, peningkatan kualitas dan daya saing produk, hingga perluasan akses pasar.
Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara provinsi dan kabupaten/kota, potensi kriya dari 10 kabupaten/kota di NTB diharapkan dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah yang berkualitas, kompetitif, dan mampu memberikan nilai tambah bagi para perajin serta perekonomian daerah.