03/08/2013
KEMATIAN TRAGIS DI MALAM IDUL FITRI
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Petang hampir sirna. Berganti
serinai malam yang perlahan jatuh di altar langit. Adzan Maghrib
baru berkumandang di sejumlah masjid dan mushala. Tanda bulan
suci Ramadhan baru berakhir dan malam lebaran akhirnya tiba.
Gema takbir membahana dan tahmid menggema dari segenap
penjuru kampung. Namun, suara takbir dan tahmid itu serasa tak
menyentuh kalbu Sumadi (36 tahun, bukan nama sebenarnya).
Ia sepertinya tak peduli dengan hari lebaran, hari di mana umat
Islam dianugerahi kemenangan usai menunaikan ibadah puasa
selama sebulan. Ia hanya duduk diam, tercenung di teras rumah
dengan memegang botol minuman keras. Pandangannya kosong
menatap langit. Sorot matanya menerawang jauh, seakan melihat
dunia lain yang lebih menyenangkan.
Di saat seluruh umat Islam bersuka cita menyambut hari
kemenangan dengan takbir dan tahmid, lelaki itu meninggal dunia
begitu mengenaskan. Lidahnya menjulur dan matanya melotot.
Jenazahnya pun terus berbalik arah ketika akan dimakamkan.
Melihat Sumadi duduk termangu seraya menenggak minuman
keras, Surti (30 tahun, bukan nama sebenarnya), istri Sumadi
hanya mengelus dada. Dia sempat menggeleng-gelengkan kepala,
melihat ulah suaminya yang tak peduli dengan suara takbir yang
berkumandang dari sejumah masjid dan mushala.
Dia tak habis pikir dan terheran-heran kenapa suaminya masih
terus menenggak minuman keras di malam Idul Fitri.
“Mas, malam lebaran bukannya merayakan dengan tabiran kok
malah minum!?” sungut istrinya
“Kamu itu ngomong apa? Memangnya kenapa jika aku minum?
Apa gak boleh?” protes Sumadi, enteng.
“Mas semestinya pergi ke masjid, ikut takbiran, bukannya
mabok...!”
Sumadi diam saja, tidak menjawab. Otaknya seperti digelayuti
hawa panas; akibat reaksi alkohol yang mengalir ke ubun-ubun.
Melihat ulah Sumadi yang cuek dengan keadaan sekitar membuat
Surti kesal dan kecewa.
Apalagi, Sumadi sudah lama memiliki kebiasaan minum yang tak
kunjung henti. Kendati demikian, Surti masih berharap agar
suaminya di malam lebaran itu mau menghormati hari kemenangan
umat Islam tersebut.
Bahkan, tidak sedikit orang yang meneteskan air mata di malam
lebaran, karena merasa sedih ditinggal pergi bulan suci Ramadhan,
bulan yang penuh berkah dan maghfirah.
Karena kesal, Surti akhirnya masuk ke dalam rumah. Sayang,
protes diam Surti itu lagi-lagi tidak menghentikan kebiasaan buruk
Sumadi. Ia justru merasa tidak ada lagi yang mengusik lagi. Ia
kembali menenggak botol minuman keras yang ada di tangannya.
Setelah itu, ia tersenyum seakan meraih kemenangan yang tiada
tara karena merasa melayang dan terbang ke angkasa biru. Padahal
kemenangan yang dicecap Sumadi itu adalah kemenangan semu.
Setelah lama berjibaku dengan minuman keras, Sumadi seperti
dicekam perasaan kesepian. Apalagi, ia sudah diprotes oleh Surti.
Karena rasa sepi, sendiri dan sunyi itulah akhirnya ia memutuskan
keluar rumah. Ia lalu berjalan dengan langkah sempoyongan,
menyusuri jalan.
Bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya, bergumul dengan
aroma bau tubuhnya yang tidak sedap. Sesekali ia terhuyung,
hampir jatuh; tetapi kedua kakinya masih bisa meniti jalan dengan
benar, tidak sampai terpeleset ke selokan jalanan.
Sewaktu berjalan terhuyung-huyung itu, Sumadi sempat
berpapasan dengan tetangga yang sudah kenal akrab dengannya.
“Lebaran kok masih juga mabok? Nanti bisa ditarik malaikat
loh...!” ujar sang tetangga, mengingatkan.
Dasar Sumadi sudah gelap mata dan hatinya telah karat, ia justru
menjawab sengit, “Halahhhh, malaikat apaan!”
Tidak ada basa-basi untuk berhenti sejenak, saling menyapa
dengan baik apalagi mengucap salam, Sumadi malah meneruskan
jalannya yang goyah. Sementara, tetangganya yang tadi menyapa
malah berjalan ke arah masjid.
Di jalanan kecil dari rumahnya itu, Sumadi terus melangkah
seperti kunang-kunang yang terbang tak tentu arah. Kendati
demikian, Sumadi masih bisa menyusuri jalanan ke sebuah
tempat, dimana dia dan teman-temannya biasa kumpul untuk
nongkrong.
Di tempat tongkrongan itu, ketiga temannya sudah lebih dulu
datang dan menunggu kedatangan Sumadi. Tanpa banyak bicara,
ia lalu mengambil papan dadu dan mereka pun langsung bermain
dadu diselingi minum minuman keras.
Lidah Menjulur dan Mata Melotot ...
Gema takbir masih terus berkumandang, sesekali diiringi tabuhan
bedug yang dipukul bertalu-talu, membuat suasana lebaran kian
semarak. Tetapi, Sumadi dan ketiga temannya itu tidak peduli
dengan gema takbir tersebut, mereka justru bermain dadu dan
menenggak alkohol.
Tiba-tiba, tepat menjelang Isya`, tubuh Sumadi gemetaran.
Sebetulnya, ia ingin melanjutkan permainan dadu dan menenggak
alkohol lagi. Tetapi, tubuhnya yang sudah dimasuki minuman
sejak dari rumah seperti tidak kuat menanggung beban berat yang
dipikulnya.
Tanpa dinyana-nyana oleh ketiga temannya, ia tiba-tiba diterpa
ketidakberdayaan dan lemah dalam seketika. Tubuh Sumadi
gemetaran. Lidahnya menjulur-julur. Mata terbelalak.
“Ah payah, kamu ini…baru minum segitu aja sudah mabok dan
tidak kuat,“ ledek temannya, seraya menyenggol tubuh Sumadi.
Tetapi, tubuh Sumadi sudah benar-benar lemas dan tidak berdaya,
hingga ia tersungkur ke tanah.
Teman-teman Sumadi masih merasa tidak percaya dengan apa
yang terjadi dan bahkan menyangka bahwa Sumadi sedang
berpura-pura mabuk.
Tetapi Sumadi tetap diam tidak berkutik, apalagi bangkit lagi untuk
bermain dadu. Sumadi tetap terkapar, tidak mampu bangun
kembali. Berikutnya, ia malah kejang-kejang. Lidahnya menjulur,
kedua matanya tiba-tiba melotot. Seseorang dari mereka kemudian
memeriksa kondisi tubuh Sumadi, dan orang itu merasa bahwa
tubuh Sumadi mengalami panas cukup tinggi.
“Sumadi, ada apa denganmu?” tanya salah seorang temannya
seraya mengguncang-guncang tubuh Sumadi yang sudah kaku.
Sumadi nyaris tidak bergerak..
Melihat tak ada tanda-tanda Sumadi bisa bangun, apalagi bangkit
untuk berdiri, ketiganya kemudian membopong tubuh Sumadi
untuk diantar ke rumah. Karena tidak ada tanda-tanda Sumadi
kembali bernafas normal, akhirnya pihak keluarga melarikan
Sumadi ke rumah sakit.
Sayangnya, Sumadi tidak bisa diselamatkan. Di tengah perjalanan
ke rumah sakit itu, Sumadi menghembuskan nafas terakhirnya.
Sumadi tidak bisa bangun lagi untuk selama-lamanya.
Sumadi, lelaki warga kampung Semangka (bukan nama
sebenarnya), sejatinya bukan dikenal sebagai seorang pemabuk
berat. Mengingat ia hanya seorang buruh bangunan dengan
penghasilan yang tidak seberapa besar.
Apalagi, dari hasil perkawinannya dengan Surti, keduanya
melahirkan dua orang anak yang masih membutuhkan banyak
biaya untuk sekolah.
Tidak mustahil, jika kehidupan rumah tangga Sumadi tergolong
biasa-biasa saja dan tidak ada hal yang mengagumkan. Mungkin,
bisa dikata tergolong miskin. Sebagai buruh bangunan, tentunya
tidak setiap hari Sumadi mendapat kontrak kerja sebagai buruh
bangunan.
Nahasnya, kemiskinan ini makin diperparah dengan kebiasaan
minumnya. Sesuatua yang oleh agama harus dijauhi oleh siapapun
tanpa pandang bulu.
Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya
(meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.
Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum)
khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat
Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah [5]: 90-91)
Kaki Terbalik ...
Keesokan harinya, tepat di hari Idul Fitri, jenazah Sumadi
dikebumikan. Pihak keluarga dirundung duka. Mereka tidak
menyangka jika Sumadi harus meninggal di usia yang belum
tergolong tua apalagi lanjut usia.
Tidak mustahil, kalau meninggalnya Sumadi itu dianggap janggal
karena ia meninggal tidak dalam kondisi normal, melainkan akibat
minuman keras.
Tapi, kejanggalan lain ternyata masih menghimpit prosesi
pemakaman Sumadi dan itu terjadi ketika penggali kubur
mengalami kesulitan saat menggali liang lahatnya. Sewaktu liang
kubur Sumadi digali, tanah liang kuburnya dipenuhi akar-akar
pohon.
Padahal, di sekitar liang lahat Sumadi itu sama sekali tidak ada
pohon besar. Akar-akar pohon yang cukup menyulitkan itu,
akhirnya, membuat liang lahat Sumadi digali tidak cukup dalam.
Cerita keanehan tidak berhenti di situ. Saat jenazahnya siap
dimasukkan ke liang lahat, tiba-tiba kejadian aneh terjadi lagi.
“Astaghfirullah.....!” pekik Ustadz Khalid (50 tahun, bukan nama
sebenarnya) terkaget begitu tutup kerandanya dibuka. Karena, ia
menjumpai posisi jenazah terbalik di mana kepala yang
seharusnya terletak di sebelah Utara, ternyata terbalik ada di
sebelah Selatan.
Padahal, ketika berangkat dari rumah duka, semua yakin kalau
posisi kepala almarhum ada di bagian depan. Para pelayat lain pun
bingung, memandang ke arah Ustadz Khalid.
“Dibalik saja,“ suruh Ustadz Khalid.
Tiga orang kemudian serempak membetulkan posisi mayat
Sumadi, dan dengan segera memutar posisi kaki almarhum ada di
sebelah Selatan. Tetapi, begitu mayat mau dimasukkan ke liang
lahat, kembali keanehan terjadi. Dengan sendirinya, posisi mayat
Sumadi terbalik seperti tadi.
Kejadian itu, tentunya, membuat keluarga almarhum terpukul,
terutama istri dan sanak keluarga terdekat. Tapi apa boleh dikata,
demikianlah rahasia Ilahi yang harus kita terima, yang bisa
dijadikan proses pembelajaran bagi orang-orang yang masih
hidup di dunia ini.
“Balik lagi,” pinta Ustadz Khalid, setelah para pelayat bingung dan
mulai panik dengan kejadian yang nyaris tidak terduga dan
disangka-sangka tersebut.
Tiga orang kemudian serempak membetulkan posisi mayat
Sumadi, dan dengan segera memutar posisi kaki almarhum ada di
sebelah Selatan. Untung, kali ini tidak ada lagi hal yang janggal
sebagaimana kejadian semula. Akhirnya jenazah Sumadi pun
segera dimasukkan ke liang lahat.
Dari cerita atau iktibar ini, saya berharap orang lain bisa
mengambil hikmah atau pelajaran yang ada dalam kisah nyata ini,
bahwa kita tidak boleh main-main dengan ucapan maupun
perbuatan, apalagi pada hari-hari besar Islam seperti hari raya Idul
Fitri.
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah
lama terkunci …