16/06/2025
Peralihan menuju energi bersih telah meningkatkan permintaan global terhadap mineral-mineral
penting seperti nikel, tembaga, kobalt, dan litium. Kendaraan listrik (EV) dan infrastruktur energi
terbarukan memerlukan input mineral yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan teknologi
konvensional. Indonesia, yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, saat ini mendominasi
produksi nikel global. Pemerintah melarang ekspor nikel mentah pada tahun 2020 untuk
mendorong manfaat nilai tambah, yang kemudian memicu lonjakan investasi dalam industri
pemurnian dan pengolahan nikel di dalam negeri.
Ekstraksi nikel sangat bergantung pada proses pirometalurgi yang menggunakan energi secara
intensif, terutama metode Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Proses ini, yang secara luas
digunakan di Indonesia, menghasilkan emisi tinggi dan membutuhkan smelter yang ditenagai
oleh batu bara, sehingga berkontribusi besar terhadap pencemaran.
Halmahera Tengah, khususnya wilayah Weda Bay, merupakan pusat utama kegiatan
penambangan dan pengolahan nikel. Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP)
mengoperasikan fasilitas penambangan dan peleburan skala besar. Wilayah ini bergantung
pada pembangkit listrik tenaga batu bara, yang bertentangan dengan target energi bersih
Indonesia. Ekspansi industri telah memicu konflik lahan, hilangnya sumber daya alam bagi
masyarakat adat, serta meningkatnya risiko kesehatan akibat masuknya pekerja migran dan
penyakit yang terkait dengan pencemaran. Industri ini memang telah mendorong aktivitas
ekonomi, namun juga memperburuk sengketa lahan, degradasi lingkungan, dan ketegangan
sosial, terutama bagi komunitas lokal yang menggantungkan hidup pada mata pencaharian
tradisional.