15/07/2026
Bobby Nasution berkantor di Nias, "Datang dengan cinta dan pulang meninggalkan cinta"
Sering kali membuat saya takdzim dengan gaya memimpin Gubernur Sumatera Utara ini, Bapak Bobby Nasution. Cara komunikasi yang dilakukannya dengan masyarakat seolah tak ada sekat, jadi wajar terbangun hubungam emosi yang sangat dekat meski terkadang lewat jalan yang dramatis.
Sore itu setelah meninjau jembatan yang rusak parah, dia datang ketengah-tengah masyarakat yang sudah berkerumun. Mengajak mereka berdialog untuk menyerap aspirasi sekaligus menyampaikan rencana perbaikan jembatan yang sudah rusak.
Suasana dramatis itupun terjadi, salah seorang warga berteriak emosi dari belakang kerumunan karena khawatir perbaikan jembatan tidak terjadi. Beberapa petugas dari Pemko pun mencoba menahannya untuk tidak maju ke depan dan bahkan berupaya menariknya untuk menjauh ke belakang. Tapi badannya yang tegap membuat mereka sedikit kesulitan. Saya memperhatikannya sambil mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyapanya.
Benar saja, setelah aksinya saling dorong dengan petugas dan berteriak dengan nada emosi, saya melihatnya mencoba mencari sebatang rokok kepada teman disebelahnya. Sayapun dengan sigap tidak mau melewatkan kesempatan itu, dengan suara sedikit keras saya memanggilnya "Bang, kesini ada rokok". Dia menoleh kearah saya yang sudah menunggu dengan wajah penuh senyum.
Saya menunggu dengan sabar, momen disaat dia menurunkan suaranya yang terus bergumam mengeluarkan luapan hatinya. Setelah melihatnya mulai diam, saya pun mulai bicara pelan. "Bang, ini proses negoisasi. Abang tidak usah khawatir, pembangunan disini pasti terjadi". Diapun langsung sambut dengan curhatan kondisi mereka di pulau yang jauh dari daratan Sumatera ini. Saya mencoba menenangkannya dengan kalimat, "Bang, sudah beberapa kali pak Gubernur datang kesini. Bahkan beberapa hari ini dia akan berkantor di pulau ini. Apakah abang masih ragu dengan cintanya Bobby serta keinginannya untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat di kepulauan Nias ini? "
Saya menoleh keraut wajahnya yang mulai berubah, pelan-pelan dia mulai berbicara dengan wajah tersenyum "Kalau itu, 100% saya percaya. Bapak Bobby sangat peduli dengan kami di Pulau Nias ini".
Saya tidak mau menyia-nyiakan suasana hatinya yang sudah mulai tenang itu dengan cepat menimpalinya " Kalau begitu abang ganti teriakan tadi dengan kalimat yang bagus". Dengan wajah senang bercampur haru dia langsung mengangkat tangannya "Hidup Gubernur SUMUT Bobby Nasution".
Akhirnya saya lega, Bobby datang dengan cinta maka disaat pergi ia juga harus meninggalkan cinta.