31/08/2013
--Semangat Agustus dan Tugas Generasi Muda--
Saudara-saudara!
Saya sangat berbangga hati atas semangat kemerdekaan yang sedang menggelorakan jiwa kita semua pemuda dan rakyat Indonesia di bulan agustus tahun ini.
Saudara-saudara! Marilah kita semua, seluruh rakyat Indonesia, agar jangan henti-hentinya mengucapkan puji syukur pada Tuhan bahwa dia telah memberikan pada kita ketabahan hati dalam berbangsa dan merayakan kemerdekaan Indonesia ke 68 pada tanggal 17 Agustus 2013 beberapa waktu yang lalu
Lebih dahulu masih dalam suasana kemenangan Idul Fitri tanggal 8 Agustus kemarin, saya kira belumlah terlambat bagi saya menyampaikan ucapan permohonan maaf kepada segenap rakyat Indonesia dan masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya untuk semua kesalahan-kesalahan saya, sebagai manusia dan sebagai pemuda yang mempunyai tanggung jawab terhadap perubahan bangsa Indonesia dan Sulawesi Tenggara tanpa terkecuali. Ampunilah segala kesalahanku itu!
Enam pulah delapan tahun sudah negara kita di proklamirkan, betapa dalam 68 tahun kemerdekaan kita itu menghadapi banyak sekali kesulitan, tetapi bangsa Indonesia tetap mampu berdiri dan terus hidup.
Izinkanlah saya pada kesempatan Agustus saat sekarang ini, sebagai bulan yang mengobar-ngobarkan semangat kemerdekaan untuk berbicara arti pentingnya tugas kaum muda bangsa kita. Kaum muda sebagai roh, kaum muda sebagai jiwa dan kaum muda sebagai palu godamnya kelanjutan perjuangan bangsa Indonesia yang akan menghancurkan semua rintangan penghadang perubahan menuju cita-cita Agustus 1945.
Saudara-saudara!
Kiranya menjadi penting bagi saya untuk terlebih dahulu untuk sedikit memaparkan semangat yang tertinggal dalam jiwa generasi muda Indonesia dalam masa sekarang sebelum saya menguraikan tugas sejarah dan warisan sejarah dalam semangat perjuangan yang di wariskan dari para pendahulu-pendahulu pejuang kemerdekaan diatas pundak generasi muda.
Setelah kemerdekaan di kumandangkan dan gemanya menggetarkan hati segenap rakyat di seantero nusantara, kegembiraan dan bahagia atas merdekanya Indonesia tercurahkan dalam tawa haru dan air mata, akan tetapi perjuangan belumlah selesai atau sampai pada titik akhir. Kemerdekaan hanyalah jembatan emas yang kelak lebih menjamin kemenangan terakhir yakni masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera. Diatas jembatan emas itulah kita generasi muda Indonesia harus mengambil peranan dan tanggung jawab mengantarkan bangsa kita pada cita-citanya yang mulia.
Untuk semua tujuan dan pekerjaan mulia ini membutuhkan jiwa yang tangguh. Berbicara pembangunan dan perubahan itu mudah-mudah saja, bekerja itulah yang sulit akan tetapi mengerti itulah yang paling susah. Saudara-saudaraku rasanya begitu penting membuat soal mengenai pemahaman demikian guna menjawab apakah pemuda dalam era kapitalistik seperti sekarang masih memiliki kesadaran yang di butuhkan guna memberikan jiwa pada pembangunan bangsa kita.
Yah, alam kapitalistik seperti kataku! Seperti apakah alam kehidupan di dalamnya? Marilah kita memberi kesepadanan pengertian tentang kehidupan kapitalistik. Masyarakat Indonesia yang hidup dalam corak kehidupan masyarakat gotong royong telah menjadikan corak kehidupan demikian menjadi “weltanschauung” pandangan hidup bangsa dan masyarakatnya. Akan tetapi, seperti semua perjuangan pembangunan tidaklah selalu berjalan sekehendak hati kita, setiap perkembangan selalu menghadapi samudera-samudera rintangan yang menghemparkan kita dalam pusaran kehancuran. Ditengah-tengah niat mulia merubah penghidupan rakyat menjadi sentosa, lahirlah peristiwa politik penting dalam negeri di tahun 60an yang laksana air bah menghancurkan semuanya. Alam kehidupan masyarakat gotong-royong dihancurkan dan diarahkan menganut corak kehidupan kapitalistik dan semua usaha pembangunan yang didorong oleh rasa persaudaraan dan kekeluargaan diatomisasi menjadi serpihan-serpihan kehidupan individualisme, dimana dalam kehidupan seperti itu, seseorang tidak lagi mengenal dan ambil peduli dengan siapa ia bertetangga, kehidupan berjalan sendiri-sendiri tanpa ada rasa persamaan dan persaudaraan lagi.
Dalam dinamika kehidupan demikianlah generasi muda tumbuh dan berkembang. Alam kapitalisme telah menjadi basis yang melingkupi semua bentuk kesadaran pemuda-pemuda bangsa kita. Sikap individualisme, sikap hedonisme (hura-hura), sikap apatisme dan runtuhnya rasa nasionalisme dikalangan generasi muda adalah ukuran penilaian yang paling pantas untuk memberikan penyimpulan kesadaran umum generasi muda Indonesia dan terkhusus kaum muda di Sulawesi Tenggara.
Akan tetapi, bukan berarti kita lantas berputus asa dan berdiam diri saja dalam kenyataan kehidupan seperti itu, keyakinan harus senantiasa di tumbuhkan dalam setiap gerak yang kita lakoni bahwa perubahan akan selalu berdialektika memenuhi semua ruang harapan masyarakat yang berkeinginan hidup sejahtera, damai dan sentosa dan pemuda pada saatnya akan terbangun dari tidur panjangnya dan kembali menjadi pelopor dalam setiap dentuman perubahan bangsa ini.
Bukankah Sorak-sorai kegembiraan rakyat selalu terpancar dalam wajah penuh harapan ketika bulan Agustus tiba, perlulah sesadar-sadarnya kepada kita semua kaum muda Indonesia agar benar-benar memahami dan memahami benar-benar bahwa peranan pemuda memiliki arti penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia,
Saudara-saudaraku kaum muda sekalian!
Telah sekian banyak torehan sejarah penting yang merupakan buah karya perjuangan dan merupakan landasan perubahan bangsa kita dimana pemuda selalu menjadi pelopor dalam setiap perubahan-perubahan itu. Katakanlah peristiwa-peristiwa seperti; sumpah pemuda, perlawanan anti fasis, proklamasi kemerdekaan, revolusi fisik, dan perjuangan menentang imperialisme p***a Indonesia merdeka. Pemuda telah memberikan sumbangsihnya kepada ibu pertiwi, ibu yang telah melahirkannya.
Saudara-saudaraku!
Lantas apa yang hendak kaum muda kerjakan kini untuk mewujudkan harapan perubahan yang diimpikan semua masyarakat di negeri kita?
Sekarang tepat saatnya bagi saya menguraikan tugas generasi muda setelah sedikit memberikan gambaran semangat yang tersisa dalam kesadaran generasi muda.
Adalah sangat diperlukan untuk berpikir tentang persoalan ini karena dalam satu pemikiran tertentu bisa dikatakan bahwa pemudalah yang akan berhadapan dengan tugas-tugas aktual untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia sejahtera. Setidaknya generasi muda yang akan mampu menyelesaikan tugas-tugas untuk membentuk sebuah sistem sosial, yang akan membantu masyarakat mempertahankan kebangsaan kita dan meletakkan sebuah pondasi yang kuat, yang dapat dibangun hanya oleh sebuah generasi yang mulai bekerja di bawah kondisi yang baru, dalam sebuah situasi dimana hubungan-hubungan yang berdasar pada penghisapan manusia atas manusia sudah tidak ada lagi.
Dan selanjutnya, berangkat dari sudut pandang ini yang disesuaikan dengan tugas-tugas yang menghadang pemuda, Saya harus mengatakan bahwa tugas-tugas dari pemuda secara umum, bisa diringkas dalam satu kata tunggal, yaitu: b e l a j a r.
Memang, ini hanya sebuah "kata tunggal". Yang tentunya tidak menjawab persoalan yang prinsipiil dan paling esensial: apa yang dipelajari, dan bagaimana mempelajari ? Dan di sini inti keseluruhannya adalah bahwa dengan transformasi dari yang usang, pengasuhan, pelatihan dan pendidikan terhadap generasi muda harus di orientasikan membentuk masyarakat Indonesia. Oleh karena itulah mengapa kita harus berhitung serinci mungkin dengan persoalan tentang apa dan bagaimana pemuda harus belajar, apabila hal itu diinginkan untuk mengangkat nama pemuda indonesia, bagaimana pemuda diajarkan sedemikian rupa sehingga mampu menyelesaikan dan mewujudkan apa yang telah dimulai para founding father bangsa ini.
Kita tidak membutuhkan penjejalan, tapi kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran dari setiap generasi muda dengan sebuah pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar mengenai keindonesian.
Kita tak dapat mempercayai pengajaran, pelatihan dan pendidikan apabila mereka membatasi hanya pada ruang sekolah dan dipisahkan dari proses kehidupan. Prinsipnya pemuda harus membuat dirinya terdidik.
Sekarang saya akan mencoba menjawab persoalan bagaimana kesemuanya ini harus dipelajari. Jawabannya adalah: hanya dengan menghubungkan secara tidak terpisah setiap tahap dalam aktivitas dalam pelatihan, pendidikan dan pengajaran, dengan perjuangan untuk semua masyarakat Indonesia dalam melawan para musuh bangsa kita.
Yah, tentu saja hanya dengan belajar tidak cukup saudara-saudara!,
Generasi muda masih memiliki sebuah kehararusan dan tanggung jawab membentuk Investment Of Human Skill yakni pemupukan modal kejujuran, keterampilan dan keahlian terutama sekali pembentukan kader-kader progresif dalam generasi muda. Selanjutnya adalah membangun Mental Investment; pemupukan modal mental. Modal cara berfikir. Modal pandangan hidup. Modal tekad. Modal batin.
Generasi muda sekalian! Inilah pekerjaan-pekerjaan yang harus kita selesaikan sambil memberi isi dan penyempurnaan pada kekurangan-kekurangan dalam usaha perubahan yang sedang kita mulai
Marilah kaum muda Indonesia bangkit bersama, berjalan menuju perubahan sejati bangsa kita, diatas pundak kita generasi mudalah dibebankan tugas pembangunan perubahan masyarakat menuju kealam kehidupan yang senantiasa sentosa dan sejahtera
kepada kaum muda Indonesia marilah kita bersama-sama menorehkan prestasi sejarah! kepada kaum muda Indonesia berilah arti dalam hidupmu guna perubahan rakyat yang sedang terampas hak-haknya
Yakinlah! Generasi muda akan mampu memberikan perubahan.
Terima kasih!
Salam dari saya,
Jaffray Bittikaka
Ketua DPW PERINDO Sulawesi Tenggara
more : http://persatuanindonesia.or.id/artikel/163-semangat-agustus-dan-tugas-generasi-muda