27/08/2012
Bupati Pekalongan: Tradisi Syawalan Sebagai Sarana Silaturahmi
KAJEN – Minggu pagi(26/8), ribuan warga berbondong-bondong memadati Kawasan Objek Wisata Linggoasri, Kajen, Kabupaten Pekalongan untuk menyaksikan acara Syawalan. Acara tahunan yang digelar seminggu setelah Lebaran itu berlangsung meriah.
Sebelum diperebutkan, gunungan megono, nasi kuning, dan gunungan hasil bumi serta buah dikirab dari Balai Desa Linggoasri menuju Lapangan Parkir Wana Wisata di desa tersebut. Peserta kirab terdiri atas cucuk lampah sebagai pimpinan rombongan, diikuti rombongan silat temanten, grup rebana, kesenian ngarak pengatin sunat, kuda kepang,egrang dan masyarakat Desa Linggoasri serta tak ketinggalan sepasang gajah (Edo dan Shinta). Peserta kirab dilepas Wakil Bupati, Fadia Arafiq, sekitar pukul 09.30. Bupati Pekalongan Drs. H. Amat Antono, MSi serta anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) bergabung dengan peserta kirab menuju tempat acara gunungan megono.
Bupati Pekalongan, Drs. H. Amat Antono MSi mengawali sambutannya dengan menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1433H dan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh masyarakat yang hadir.
Selanjutnya Bupati menyampaikan bahwa tradisi Syawalan ini untuk terus dilestarikan. “Tradisi ini sangat baik dan patut dilestarikan karena merupakan sarana untuk saling bertatap muka, bersilaturahim, saling memaafkan sekaligus untuk merayakan kemenangan setelah selama satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa serta untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik,”ungkapnya.
Bupati juga menyampaikan terimakasih kepada panitia Syawalan yang telah mempersiapkan acara ini dengan baik. Dan mengajak kepada masyarakat untuk menjaga tradisi tahunan tersebut serta memajukan objek wisata Linggoasri.
”Mari kita jaga tradisi Syawalan dan Linggoasri adalah milik kita bersama sehingga saya harapkan dukungan dari masyarakat semakin baik untuk memajukan acara Syawalan ini dan kedepan agar menjadi tujuan utama masyarakat dalam merayakan Syawalan”,tandasnya.
Dan untuk memajukan serta meningkatkan objek wisata Linggoasri yang lebih representatif dan dapat menarik minat pengunjung dari luar kota kedepan Pemkab akan bekerjasama dengan DPRD dan untuk merealisasikannya.
Sementara itu Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Asip Kholbihi dalam sambutannya, atas nama masyarakat Kabupaten Pekalongan mengucapkan terima kasih pada Pemkab yang telah menyelenggarakan acara Syawalan dari tahun ke tahun. Dalam kesempatan Syawalan kali ini Asip mengajak pada seluruh masyarakat untuk terus menerus merekatkan persatuan dalam rangka membangun bersama Kabupaten Pekalongan yang lebih sejahtera.
Sementara kepala Dinas Pemuda Olah Raga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporaparbud), Drs.H.Muritno, MM melaporkan, tradisi syawalan dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri berupa parade budaya yang didukung oleh masyarakat Desa Linggoasri dan sekitarnya. “Syawalan merupakan ungkapan rasa syukur pada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Barokah, Hidayah dan Innayah-Nya, sehingga dapat melewati Bulan suci Ramadhan dengan selamat dan lancar serta dalam suasana yang khidmat / fitri bertemu dengan sanak keluarga, teman/ sahabat dekat dan handai taulan dan saling memaafkan” ujar Muritno.
Membuka acara perebutan gunungan nasi megono, diawali terlebih dahulu dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati dan diserahkan kepada Ketua DPRD. Upacara Tradisi Syawalan dimulai sekitar pukul 10.00 dan diawali dengan penampilan kesenian kuda kepang, egrang dan atraksi silat temanten yang diiringi kesenian rebana. Acara dihadiri Sekda dan para Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Pekalongan, Muspida, masyarakat Desa Linggoasri dan sekitarnya serta pengunjung dari berbagai daerah yang ikut menyaksikan acara tersebut.