07/10/2016
Thomas Wolfe : "I prefer to get my rejections in the mail but I wanted to meet you, the man who first read Hemingway, F. Scott Fitzgerald and said, genius.
Every son of a bitch publisher in New York hates my book."
Maxwel Perkins : "Mr. Wolfe, we intend to publish your book."
kita, sebagaimana kutipan-kutipan motifasi berkata, tidak pernah tahu sudah sedekat apa diri kita dg kesuksesan. Thomas Wolfe mendatangi kantor Max Perkins dengan perasaan putus asa bahwa naskah bukunya pasti akan ditolak lagi dan tidak akan pernah masuk dapur cetak. Dia telah menggilir separuh kantor penerbitan buku di New York dan tidak ada redaktur yang melihat bahwa naskahnya memiliki potensi. karena itu p**a, sebelum masuk ke gedung Scribner's Son Publisher, Wolfe tidak berharap terlalu banyak. Dia lebih s**a penolakan naskahnya diberitahukan melalui surat pos. Tapi dia ingin bertemu dengan Perkins, orang pertama yang membaca karya Hemingway dan Fitzgerald, dan menyadari bahwa orang tua itu memang berbeda. Perkins ingin menerbitkan naskah Wolfe. Penilaian Perkins tidak salah, sebab setelah nanti diterbitkan, buku itu meraih best seller dan menjadikan penulisnya sebagai salah satu novelis yang paling berpengaruh di Amerika Serikat dan bahkan dunia. Dialah si jenius, Maxwel Perkins.
Penasaran cerita lengkapnya?
Tonton Filmnya di Perpustakaan Umum Kabupaten Mojokerto
Jl. Raya Jabon no.190
Sabtu 29 Oktober 2016
Pukul 16.00 WIB