07/12/2025
OMPU JOLAK MARIBU
Ompu Jolak Maribu keturunan dari RAJA ISOMBAON generasi ke 19 adalah seorang tokoh penting dalam tradisi lisan dan sejarah lokal masyarakat Batak Angkola, khususnya yang bermarga Dalimunthe. Ia dikenal sebagai pendiri kampung (huta) pertama di wilayah Angkola, yang bernama Sitamiang.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Oppu Jolak Maribu:
• Asal Marga: Oppu Jolak Maribu berasal dari marga Dalimunthe. Marga Dalimunthe sendiri merupakan salah satu marga Batak yang tersebar di daerah Tapanuli Selatan (Angkola ,Mandailing, Labuhana Batu dan sekitarnya ), yang juga dikenal sebagai Munthe di daerah Batak Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak.
• Peran Sejarah: Menurut tradisi, kemunculan Oppu Jolak Maribu terjadi Pada masa akhir kekuasaan Radjendra Chola di wilayah tersebut. Ia memainkan peran sentral dalam mendirikan pemukiman awal di Tano Angkola.
• Pendirian Kampung: Kampung Sitamiang ( Bait Sesembahan) yang didirikannya dianggap sebagai pemukiman perintis di daerah Angkola. Pemukiman lain yang muncul setelahnya adalah Pargarutan, yang secara harfiah berarti "tempat mengasah pedang". Dan nama ama lain di Angkola
• Kepercayaan : kepercayaan yang berlebihan pada leluhur Dalam kaum kaum ataupun Yang terputus dari Kepercayaan orang lain yang memiliki pandangan berbeda, (spilled isolation )
• Keturunan: Marga Dalimunthe dalam tradisi lisan Angkola umumnya muncul sebagai keturunan langsung dari Oppu Jolak Maribu.
Informasi mengenai Oppu Jolak Maribu terutama bersumber dari tradisi lisan dan catatan sejarah lokal masyarakat Batak Angkola, dan ia dihormati sebagai tokoh leluhur dan perintis di wilayah tersebut.
Kisah Ompu Jolak Maribu, yang berlatar pada awal abad ke-12 awal, adalah narasi epik tentang perlawanan, migrasi, dan perjuangan seorang pemimpin Batak untuk menjaga kemurnian adat dan budayanya di tengah gempuran kekuatan kerajaan-kerajaan besar di Sumatera.
Masa Kecil di Tanah Bila (Awal Abad ke-12)
Di sebuah desa kecil yang damai di tepi Sungai Bila—sebuah wilayah strategis yang kini berada di sekitar Labuhanbatu—lahirlah Jolak Maribu. Pada masa itu, awal abad ke-12,
Sumatera berada dalam bayang-bayang kekuatan maritim besar. Meskipun serangan langsung Kerajaan Chola dari India Selatan telah berlalu, pengaruh dan ketakutan akan ekspedisi asing masih membekas kuat di ingatan masyarakat pesisir dan dataran rendah.
Jolak Maribu dibesarkan dalam keluarga kepala kaum adat yang sangat menghargai tradisi leluhur. Sejak kecil,
ia dan keenam saudaranya dididik tentang partuturan mardalihan natolu (sistem kekerabatan), hukum adat, dan seni berperang. Ayahnya sering mengajarkan mereka bahwa tanah dan budaya leluhur Batak sedang terancam oleh dua kekuatan besar: pengaruh maritim asing dan ekspansi Kerajaan Dharmasraya yang mulai mendominasi politik di Sumatera bagian tengah dan selatan.
Jolak Maribu tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, memiliki pandangan jauh ke depan, dan kemampuan memimpin yang alami, membuatnya menonjol di antara teman-temannya di Bila.
Masa Dewasa: Panglima Perang dan Migrasi Paksa
Saat Jolak Maribu beranjak dewasa, situasi politik di Bila menjadi tidak stabil. Desakan dari kerajaan-kerajaan Melayu yang berafiliasi dengan Dharmasraya semakin kuat, memaksa masyarakat lokal untuk tunduk pada tatanan politik dan budaya baru.
Menyadari bahwa tanah kelahiran mereka tidak lagi aman untuk mempertahankan cara hidup asli Batak, Jolak Maribu mengambil keputusan drastis. Ia memimpin eksodus besar-besaran kaumnya—sebuah migrasi heroik menuju pedalaman yang lebih aman, berbukit, dan terisolasi di wilayah Angkola (Tapanuli Selatan).
Dalam perjalanan panjang melintasi hutan belantara dan medan sulit, Jolak Maribu diakui sebagai Panglima Perang Batak tertinggi. Misi mereka jelas: mendirikan benteng pertahanan terakhir untuk menjaga kedaulatan adat dan menolak segala bentuk pengaruh asing.
Perang Melawan Pengaruh Asing dan Penolakan Ugamo Malim
Di Angkola, Jolak Maribu menghadapi tantangan yang kompleks. Selain ancaman eksternal dari sisa pengaruh Chola, ekspansi Melayu, dan hegemoni Dharmasraya, ia juga menghadapi isu internal terkait Ugamo Malim, sistem kepercayaan lokal yang mulai mengakar kuat di pedalaman.
Jolak Maribu, dengan pandangan pragmatisnya sebagai pemimpin perang dan pemulih tatanan adat asli, mengambil sikap tegas. Ia menolak dominasi Ugamo Malim dan agama lain, memandang bahwa keyakinan tersebut mungkin menghalangi budaya leluhur, dan persatuan militer yang dibutuhkan untuk menghadapi musuh yang lebih besar, atau mungkin Jolak Maribu ingin mengembalikan tatanan adat yang lebih kuno dan murni sebelum pengaruh baru masuk. Baginya, kedaulatan wilayah dan kemurnian adat adalah prioritas utama.
Ia mengorganisir keenam saudaranya—yang masing-masing adalah pejuang ulung—menjadi dewan perang dan pemerintahan:
1. Parandora Lalak ni Libung: ahli strategi gerilya di hutan lebat. dan Penjaga moral pasukan.
2. Banir Parkolipan: Kuat dan tangguh, penjaga garis pertahanan
3. Lapung Namondol Ondol: Cepat dan lincah, ahli dalam serangan mendadak dan penjaga garis depan pertempuran.
4. Harambir Sumurdung di Laut: intelijen dan ahli menguasai medan perbukitan dan lembah serta medan perang sungai .
5. Homa Taktakon Sabulan: Ahli persenjataan dan Logistik .
6. Datuk Panghubung: Ahli dalam pengobatan tradisional (dapat menghidupkan yang pejuang yang gugur) dan Diplomat ulung yang memastikan aliansi antar-marga , (kaum kaum ) tetap terjaga.
Di bawah kepemimpinan Jolak Maribu , Angkola menjadi medan pertempuran sengit Seperti di aek habaoran yang di ambil dari nama perang yang mengakibatkan darah yang menganak sungai , Mereka berhasil menahan laju ekspansi kerajaan Melayu dan Dharmasraya menggunakan taktik perang hutan yang brilian.
Jolak Maribu fokus pada pemulihan dan penegakan kembali tatanan adat budaya asli, memastikan bahwa Uhum dan ugari batak (hukum Batak) menjadi satu-satunya hukum yang berlaku di tanah mereka.
Desiran angin Danau Toba membawa nostalgia yang mendalam ke hati Datu Ompu Jolak Maribu. Di usianya yang telah lanjut, setelah puluhan tahun mengembara dan menancapkan pasak adat Batak di tanah Angkola, kerinduan akan tanah leluhur memanggilnya pulang.
Di Angkola, misinya telah usai. Bersama para tetua yang setia padanya, ia berhasil membentengi tanah itu dari arus budaya dan kepercayaan asing yang dibawa oleh pedagang dari pesisir. Dengan perang berdarah, Maupun dengan kekuatan poda (nasihat), partuturan (sistem kekerabatan), dan penguatan ugamo leluhur (kepercayaan asli Batak) yang diyakininya sebagai warisan tak ternilai dari Mula Jadi Nabolon.
Suatu pagi, di hadapan para Dalimunthe muda, ia berpesan, "Jagalah adat ini. Ia adalah benteng kalian. Aku harus kembali ke hulu, ke tanah para leluhur. Akar panggilannya lebih kuat dari angin pesisir."
Perjalanan pulang memakan waktu berbulan-bulan. Rombongan kecil Ompu Jelak Maribu, yang kini lebih sering dipanggil dengan sebutan penuh hormat "Raja", melintasi hutan belantara, menuruni lembah curam, dan mendaki perbukitan yang dingin. Di setiap persinggahan, ia menorehkan ajaran.
Akhirnya, sampailah ia di pinggiran sebuah huta (desa) kecil yang menghadap langsung ke perairan biru Danau Toba. Kabar kembalinya sang Datu sakti dari perantauan menyebar bagai api di rerumputan kering. Orang-orang dari berbagai penjuru, dari Munthe hingga Simbolon, datang menyambut.
Di bawah naungan pohon beringin tua di tengah desa, para tetua adat telah berkumpul. Suasana haru menyelimuti pertemuan itu.
"Horas, Ompu! Kami menyambut kepulanganmu!" seru salah satu tetua dengan mata berkaca-kaca.
Ompu Jelak Maribur tersenyum lemah. "Horas, saudara-saudaraku. Tanah ini tidak pernah berubah. Danau ini masih menyimpan suara leluhur kita."
Malam itu, diadakanlah upacara penyambutan besar. Bukan hanya untuk merayakan kepulangan fisik sang datu, tetapi juga untuk merayakan kemenangan spiritualnya. Ia bercerita tentang tantangan di selatan, tentang bagaimana bahasa dan adat nyaris tergerus oleh pengaruh luar.
"Mereka membawa kitab baru, membawa aturan baru. Tapi aku katakan kepada mereka: kita punya pustaha, kita punya turi-turian (cerita rakyat), kita punya partuturan yang mengikat kita lebih kuat dari janji manapun," kisahnya, membuat semua yang mendengar mengangguk penuh kekaguman.
Ompu Jolak Maribu tidak hanya kembali untuk beristirahat. Kepulangannya adalah penguat. Di kampung halamannya di Bila (nama legendaris untuk daerah asal), ia menghabiskan sisa hidupnya untuk menuliskan kembali silsilah (tarombo) dan memperkuat kembali dalihan na tolu (filosofi tiga tungku adat Batak) di kalangan generasi muda yang mulai goyah.
Kisah kepulangannya menjadi legenda baru, pengingat abadi bagi keturunannya, baik yang bermarga Munthe di Toba, Ginting Munthe di Karo, maupun Dalimunthe di Angkola, bahwa akar identitas Batak adalah benteng terkuat yang tidak bisa ditembus oleh pengaruh luar manapun.