29/05/2018
"UNTUK APA UPDATE STATUS?
(Renungan Malam Facebookers)
Bagi para pengguna Facebook,
tentunya sudah tidak asing lagi
dengan istilah "update status". Setiap
hari, bahkan setiap jam selalu ada
kalimat-kalimat baru untuk
dikirimkan ke "beranda" teman-
teman sesama Facebookers. Bahkan,
jarang kita temukan adanya kalimat
yang persis sama antara "status"
seorang teman dengan teman yang
lainnya. Sangat kreatif! Lantas,
mengapa kita jadi "kecanduan" untuk
meng-update status? Salah satu
alasannya yaitu sebagaimana yang
difirmankan Allah dalam surat Al-
Ma'arij ayat ke-20 yang
terjemahannya:"Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh
kesah lagi kikir" (QS. Al-Ma'arij: 19)Pada ayat selanjutnya, Allah
menjelaskan: "Apabila ia ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah. Dan
apabila ia mendapat kebaikan ia amat
kikir, kecuali orang-orang yang
mengerjakan shalat." (QS. A1-Ma'arij:
20-22). Nah, apakah kita termasuk di
dalamnya? Allahua'lam. Saat kita
sedang mendapatkan nikmat dari
Allah SWT, ada dua reaksi yang
biasanya muncul dari kita: Ada yang
bersyukur dan ada yang kufur. Yang
bersyukur, minimal mengucapkan
hamdalah saat mendapatkannya, lalu
sebagian ada yang langsung meng-
update status dengan kalimat syukur
tersebut sebagai luapan
kegembiraan. Yang kufur, salah
satunya dengan menyombongkannya
di hadapan khalayak, naudzubillah.
Lain halnya jika kita mendapatkan
cobaan dari Allah. Sebagian dari kita
ada yang menyikapinya dengan
senantiasa bersabar dan tawakkal,
namun tidak sedikit p**a yang bahkan
sampai suuzdon kepada Allah,
astaghfirullah.Begitulah sekelumit
fenomena disekitar kita. Dan
fenomena tersebut kadang
diungkapkan melalui status di
Facebook, seperti status beberapa
teman yang saya kutip
berikut:"*alhamdulillah sampai
sumbar lagi..""innalillahi :
'(""haaah...kecewa lg :(doesn't need
to dream for it.hopefully this is the
last time.. ""Ku rasakan bahagia
setelah lebaran..!" Dan masih banyak
lagi. Di lain hal, manusia juga
cenderung ingin diperhatikan. Saat
kita update status, tentunya kita
mengharapkan respon dari teman-
teman berupa "jempol" sebagai tanda
s**a atau mengomentarinya jika
diperlukan. Namun demikian, hal
yang sepatutnya kita renungkan
adalah: Sejauh mana manfaat atau
bahkan mudhorat yang bisa kita
dapatkan dari "update status"? Mari
kita evaluasi sejenak. Dari Abu
Hurairah radhiallahuanhu,
sesungguhnya Rasulullah
Shallallahuโalaihi wasallam bersabda:
"Siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaklah dia berkata baik
atau diam.." (Riwayat Bukhori dan
Muslim) Dari hadits diatas, kita hanya
mendapati dua pilihan: berkata yang
baik atau diam, tidak ada pilihan
ketiga. Kembali ke "status". Status
juga bisa dimaknai sebagai
"perpanjangan tangan" dari lidah kita.
Saat kita tidak bisa berbicara dengan
orang banyak yang berjauhan, kita
gunakan media, diantaranya dengan
menelepon, pesan singkat (SMS),
termasuk dengan meng-update
status di Facebook. Jadi, bisa kita
simpulkan (sekali lagi) bahwa status
di Facebook merupakan
"perpanjangan tangan" dari lidah dan
mulut kita. Berkaitan dengan hadits
diatas, juga dapat kita pahami bahwa
untuk meng-update status, juga harus
dengan (hanya) dua pilihan: status
yang baik, atau tidak sama sekali.
Update-lah status dengan kebaikan!
Itu kata kuncinya. Bayangkan, akun
kita yang memiliki teman ratusan
bahkan ribuan akan membaca
kebaikan setiap harinya. Misalnya,
saat kita update dengan kalimat:
"Teman-teman, sudah sholat Dzuhur?"
atau, "Yuk Sobat, sebelum tidur
tilawah dulu". Dari kalimat tersebut,
kita tidak pernah mengetahui ada
berapa banyak teman kita yang
ternyata melaksanakan apa yang baru
saja kita sampaikan. Kalaupun
misalnya tidak ada yang tergugah
dengan perkataan kita di status, toh
insya Allah tetap akan ada pahala
untuk kita, karena yang dinilai Allah
adalah ikhtiar kita, sedangkan
hasilnya adalah hak Allah. Rasulullah
SAW bersabda, "Setiap yang ma'ruf
adalah sedekah, dan orang yang
menunjukkan jalan kepada kebaikan
(akan mendapatkan pahala) seperti
pelakunya." (HR. Bukhari nomor 374
dan Muslim nomor 1005),
subhanallah! Oleh karena itu, mari
kita menjadi orang yang beruntung,
yaitu orang yang saling menasehati
dalam kebenaran dan kesabaran (QS.
Al-'Ashr). Mari kita update status dan
kiriman-kiriman lainnya dengan
kebaikan-kebaikan, seperti: nasehat-
nasehat, motivasi Islami, ayat al-
Quran atau hadits, informasi-
informasi yang bermanfaat untuk
ummat dan kebaikan lainnya, dan
mari tinggalkan perkataan dan
ketikan yang tidak berguna!Semoga
ikhtiar kita diridhoi-Nya. Allahua'lam.