01/08/2018
UPACARA ADAT SADRANAN HUTAN ADAT WONOSADI DESA BEJI, NGAWEN, GUNUNGKIDUL
Upacara sadranan dilakukan setiap tahun di hutan wonosadi yang berlokasi di dusun duren dan sidorejo desa beji, kecamatan ngawen, gunungkidul, yogyakarta. upacara adat ini di laksanakan setelah panen padi ke dua setiap tahunnya. Upacara adat Sadranan Wonosadi merupakan wujud rasa syukur warga Beji terhadap Tuhan YME Karena telah diberi berkah selama satu tahun.
Dalam mitosnya upacara adat sadranan di hutan adat wonosadi untuk mengenang dua pengeran keturunan majapahit yang lari ke barat setelah majapahit runtuh, yaitu pangeran onggo dan lotjo dengan ibu bernama roro resmi, yang dulu bercocok tanam di hutan wonosadi dan dikirim makanan sehari sekali lalu meminta seminggu sekali lalu meminta sebulan sekali lalu meminta dikirm makanan setahun sekali dan kedua pengeran tersebut mukso di lokasi lembah ngenuman yang dijadikan tempat upacara sadranan, sehingga setiap setahun sekali dilakukan upacara adat sadranan untuk mengirim.
Kegiatan sadranan sebelum dilakukan di hutan wonosadi, kegiatan yang sama juga dilakukan di 4sendang yang berada di bawah hutan wonosadi, sebagai bentuk puji syukur atas air yang melimpah, kegiatan sadranan ini diikuti oleh warga dari 14 padukuhan di desa beji, dengan membawa sesajen(nasi lauk pauk, ingkung, buah-buahan) dan gunungan(hasil panen warga sekitar hutan wonosadi) yang diarak dari bawah hutan menuju atas bukit ngenuman lokasi upacara adat sadranan dilakukan, arak-arakan dimulai pukul 09.00 dan upacara adat dimulai pukul 10.30 WIB dan upacara adat ini dihadiri lebih dari 500 warga dan wisatawan dari luar daerah.
Setelah upacara adat sadranan selesai di taman rororesmi dilakukan pertunjukan kesenian tradisional yang ada di desa beji, dari rinding gumbeng, gejlok lesung, reok, tek tek, kerawitan, tari-tari.