Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo

Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo Yayasan Al-Hafizh Palopo bergerak dibidang: Pendidikan, Sosial & Keagamaan

Pada tahun 1974, Sholah Athiyah lulus dari Fakultas Pertanian di Mesir dengan kondisi yang jauh dari kata mapan. Ia tumb...
01/06/2026

Pada tahun 1974, Sholah Athiyah lulus dari Fakultas Pertanian di Mesir dengan kondisi yang jauh dari kata mapan. Ia tumbuh di Desa Tafahna Al-Ashraf, sebuah daerah pedesaan yang dilanda kemiskinan. Kehidupannya saat kuliah pun sangat sederhana. Bahkan, beredar kisah bahwa ia hanya memiliki satu celana panjang yang dipakai bergantian setiap hari. Setelah lulus, Sholah dan sembilan sahabatnya yang sama-sama menganggur bertekad mengubah nasib dengan mendirikan usaha peternakan unggas dan perkebunan.

Namun, mimpi itu terbentur masalah klasik: modal. Demi mengumpulkan dana, mereka menjual aset terakhir yang dimiliki keluarga, meminjam uang ke berbagai pihak, hingga melepas perhiasan emas milik istri mereka. Setelah semua usaha dilakukan, modal yang terkumpul masih dirasa belum cukup. Mereka membutuhkan satu investor lagi untuk memperkuat perusahaan yang baru dirintis. Saat itulah Sholah mengajukan ide yang membuat semua orang terdiam. Ia mengusulkan agar "mitra kesepuluh" mereka adalah Allah SWT.

Usulan itu akhirnya disepakati. Mereka bahkan mendatangi notaris dan mencantumkan porsi 10 persen saham yang diniatkan untuk Allah SWT dalam dokumen perusahaan. Dalam kontrak tersebut, mereka mengajukan "syarat" bahwa Allah menjadi pelindung usaha mereka, penjamin keamanan perusahaan, serta penjaga ternak mereka dari berbagai wabah penyakit. Bagi banyak orang, langkah itu terdengar tidak biasa, tetapi bagi mereka itulah bentuk keyakinan dan tawakal yang ingin dijadikan fondasi bisnis.

Usaha mereka kemudian berjalan, dan hasilnya jauh melampaui perkiraan. Panen pertama menghasilkan keuntungan besar yang membuat mereka takjub. Karena merasa keberhasilan itu datang berkat pertolongan Tuhan, mereka terus menambah porsi "saham Allah" menjadi 20 persen, lalu 30 persen, 40 persen, hingga 50 persen. Seiring waktu, keputusan yang mereka ambil menjadi semakin berani. Sholah dan rekan-rekannya akhirnya menyerahkan seluruh saham perusahaan untuk kepentingan sosial. Mereka tidak lagi menganggap diri sebagai pemilik usaha, melainkan karyawan yang menerima gaji bulanan. Seluruh keuntungan perusahaan kemudian disalurkan melalui lembaga Baitul Mal untuk membangun masyarakat. Bagi Sholah, satu-satunya permintaan yang ia panjatkan adalah agar hatinya selalu merasa cukup dan tidak bergantung pada kekayaan.

Dampaknya luar biasa. Desa Tafahna Al-Ashraf yang dulunya miskin perlahan berubah menjadi pusat pendidikan dan ekonomi. Sekolah-sekolah gratis dibangun dari tingkat dasar hingga menengah, termasuk madrasah untuk putra dan putri. Mereka juga mendirikan kompleks pendidikan cabang Universitas Al-Azhar di kawasan pedesaan, lengkap dengan asrama besar bagi para mahasiswi. Ketika pembangunan kampus sempat terkendala akses transportasi, perusahaan yang mereka bangun bahkan membangun jalur kereta, stasiun, dan menyediakan layanan transportasi sendiri agar mahasiswa bisa berangkat kuliah tanpa biaya.

Tak hanya pendidikan, berbagai program pemberdayaan ekonomi juga dijalankan. Pemuda-pemuda pengangguran dilatih menjadi petani modern hingga mampu menembus pasar ekspor. Setiap masa panen, hasil pertanian dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Berbagai program sosial tersebut membuat taraf hidup masyarakat meningkat drastis dan desa itu dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis wakaf produktif di Mesir.

Meski memiliki pengaruh besar, Sholah Athiyah menjalani hidup dengan sangat sederhana. Ia menghindari kamera, menolak pop**aritas, dan berusaha menyembunyikan identitasnya dari sorotan publik. Namun ketika ia wafat pada 11 Januari 2016, rahasia itu tak lagi bisa disimpan. Ratusan ribu hingga lebih dari setengah juta orang memadati jalanan untuk mengantar jenazahnya. Para ulama, pejabat, mahasiswa, hingga masyarakat miskin yang pernah merasakan manfaat kebaikannya datang memberikan penghormatan terakhir. Sosok yang selama hidup bekerja dalam diam itu akhirnya dikenang sebagai salah satu tokoh filantropi paling berpengaruh dalam sejarah modern Mesir, dan oleh banyak orang dijuluki sebagai "Mitra Allah".

25/04/2026

MENGAPA KITA PERLU BERDAKWAH DAN MEMILIKI BINAAN?

By. Satria hadi lubis

BANYAK orang bersemangat dalam berdakwah, namun berhenti pada sekadar menyampaikan. Ia berbicara, menasihati, mengingatkan, lalu merasa telah menunaikan kewajiban. Padahal hakikat dakwah bukan hanya menyentuh telinga, tetapi menembus hati dan mengubah kehidupan.

Perubahan itu tidak lahir dari satu kali nasihat, melainkan dari proses panjang yang dikenal dengan tarbiyah (pembinaan yang berkelanjutan). Di sinilah letak pentingnya dakwah yang diiringi dengan pembinaan.

Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk menyeru, tetapi juga membimbing hingga kebenaran itu hidup dan menetap dalam jiwa manusia. Allah Ta’ala berfirman:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (p**a) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk" (QS. An-Nahl: 125)

Menyeru adalah langkah awal, namun bukan akhir. Ketika hati mulai tersentuh, di situlah amanah berikutnya dimulai. Ia membutuhkan pendampingan, penguatan, dan pengarahan. Ia perlu diingatkan saat futur, diteguhkan saat goyah, dan dibimbing saat bingung. Tanpa pembinaan, dakwah seringkali hanya menjadi percikan semangat yang cepat menyala, namun mudah padam.

Rasulullah saw adalah teladan dalam hal ini. Beliau tidak hanya berdakwah, tetapi juga membina. Para sahabat bukan sekadar pendengar, melainkan binaan yang ditempa dengan Al-Qur’an dan iman. Mereka dibersamai dalam proses, diluruskan dengan kasih sayang, hingga menjadi generasi terbaik umat ini. Dari rahim pembinaan itulah lahir Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum, manusia-manusia yang tidak hanya memahami kebenaran, tetapi hidup sepenuhnya di atasnya.

Maka, berdakwah dan memiliki binaan bukan sekadar pilihan bagi muslim, melainkan bagian dari konsekuensi iman. Rasulullah saw bersabda :

"Sampaikan dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari)

Namun menyampaikan satu ayat bukan berarti selesai dalam satu pertemuan. Justru di situlah awal dari amanah. Ketika seseorang mulai berubah melalui perantara kita, maka kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap istiqamah di jalan Allah.

Dakwah dan pembinaan juga merupakan bentuk syukur atas nikmat hidayah. Allah telah menganugerahkan cahaya iman kepada kita, maka tidak selayaknya kita hanya menikmatinya sendiri. Hidayah yang tidak dibagikan akan terasa sempit, sementara hidayah yang diperjuangkan untuk orang lain akan semakin menguatkan dan meneguhkan hati kita.

Di sisi lain, pembinaan adalah cermin keikhlasan. Berdakwah di hadapan banyak orang mungkin terlihat mulia dan bisa membuat kita tenar, tetapi membina satu jiwa dalam diam, mengajarinya tentang aqidah, menguatkannya saat jatuh, mendengarkan kegelisahannya, itulah ladang amal yang sarat keikhlasan. Amal tanpa imbalan materi, kecuali mendapatkan pahala dan ridho Allah SWT. Tidak semua orang mampu bersabar dalam proses ini, karena hasilnya tidak instan dan tidak selalu terlihat.

Memiliki binaan juga melatih kerendahan hati dan kesabaran. Kita menyadari bahwa hidayah adalah milik Allah, dan perubahan tidak terjadi seketika. Sebagaimana kita dahulu berproses, demikian p**a orang lain. Kita belajar sabar, belajar memahami, dan belajar mencintai karena Allah.

Urgensi dakwah dan pembinaan semakin nyata di tengah derasnya fitnah zaman. Informasi yang liar, godaan yang begitu dekat yang membuat seseorang yang baru berhijrah sangat rentan kembali tergelincir. Setiap orang membutuhkan lingkungan yang meneguhkan, arah yang jelas, dan tangan yang menggenggamnya agar tetap kokoh dalam keimanan. Allah Ta’ala berfirman :

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini bukan hanya tentang seruan, tetapi tentang keberlangsungan gerakan kebaikan. Dan keberlangsungan itu tidak akan terwujud tanpa pembinaan yang sungguh-sungguh.

Bayangkan jika setiap orang yang mendapatkan hidayah kemudian membina beberapa orang saja, lalu orang itu membina beberapa orang lagi. Maka kebaikan tidak hanya menyebar luas, tetapi juga mengakar kuat dan bertahan lama.

Sebaliknya, jika dakwah hanya berhenti di lisan tanpa pembinaan, maka yang lahir adalah generasi yang tahu, tetapi tidak kokoh. Semangat di awal, namun rentan gugur di tengah jalan.

Maka jangan puas hanya menjadi penyampai. Jadilah pembina. Jangan hanya hadir saat seseorang sedang bersemangat, tetapi tetaplah setia saat ia mulai melemah.
Karena bisa jadi, satu jiwa yang kita bina dengan penuh kesungguhan lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada seribu orang yang hanya kita ajak tanpa kita jaga.

Akhirnya....
Dakwah adalah mengajak.
Pembinaan adalah menjaga.
Dan menjaga adalah bentuk cinta paling nyata dalam perjalanan kita menuju ridha Allah SWT.

24/04/2026

PEMBERIAN ALLAH SELALU TERBAIK

Oleh : Cahyadi Takariawan

Kalau kamu berdoa, lalu apa yang kamu minta tidak terkabul, jangan mengatakan bahwa Allah tak mau mengabulkan. Karena cara Allah mengabulkan doamu tak selalu sesuai kemauan dan seleramu. Allah Maha Mengerti apa yang terbaik bagi dirimu.

Kalau kamu tertimpa musibah berkali-kali, jangan mengatakan bahwa Allah tak sayang padamu. Karena di balik setiap musibah, selalu terkandung hikmah kebaikan bagi dirimu. Allah selalu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hambaNya.

Kalau posisi yang kamu harapkan tak berhasil kamu dapatkan, jangan mengatakan bahwa itu takdir yang buruk bagimu. Karena Allah tak pernah menghendaki keburukan pada hambaNya.

Kalau kamu ingin memasuki sebuah pintu dan ternyata pintu itu ditutup untukmu, yakinlah bahwa Allah tengah menyelamatkanmu dari keburukan yang belum kamu tahu. Karena penutupan yang Allah terapkan untukmu adalah untuk kebaikan yang kadang belum kamu tahu.

Sungguh, takdir yang Allah berikan pada hamba yang beriman selalu baik. Rasulullah saw telah bersabda,

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya” (HR. Imam Ahmad).

14/04/2026

TIPS MENJADI ISTRI YANG DISAYANG SUAMI

By. Satria hadi lubis

CINTA dalam rumah tangga tidak hadir dengan sendirinya. Ia perlu ditanam dan dijaga. Seorang istri yang dicintai suami bukan selalu yang paling cantik wajahnya, tetapi yang paling menenangkan hati suami.

Lalu bagaimana menjadi istri yang dicintai dan disayang suami?

1.⁠ ⁠Taat kepada Allah, maka cinta akan datang
Sumber utama keberkahan rumah tangga adalah ketaatan kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda:
“Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ahmad)

Istri yang dekat dengan Allah akan lebih sabar, lebih lembut, dan lebih menjaga diri. Dari situlah, cinta suami tumbuh tanpa dipaksa.

2.⁠ ⁠Taat kepada suami dalam kebaikan
Dalam Islam, ketaatan kepada suami adalah salah satu jalan besar menuju ridha Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda:
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Tentu bukan untuk merendahkan, tetapi menunjukkan besarnya hak suami untuk ditaati dalam hal yang ma'ruf.

Istri yang disayang suami tidak s**a membantah dengan kasar, tidak meremehkan keputusan suami, menjaga adab dalam perbedaan. Karena laki-laki sangat menghargai penghormatan.

3.⁠ ⁠Menjaga kehormatan dan kepercayaan
Cinta suami akan tumbuh kuat ketika ia merasa aman.

“Sebab itu maka wanita yang sholihah adalah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada…” (QS. An-Nisa: 34)

Menjaga kehormatan itu meliputi menjaga diri dari hal yang mencurigakan, menjaga lisan dari membuka aib rumah tangga dan menjaga sikap di luar rumah.

4.⁠ ⁠Berakhlak lembut dan menyenangkan
Rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat p**ang. Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya…” (HR. Tirmidzi)

Istri yang disayang suami adalah istri yang berbicara dengan lembut, tidak s**a menyakiti dengan kata-kata kasar, dan
pandai menciptakan suasana nyaman. Karena laki-laki tidak hanya butuh pasangan, tapi juga ketenangan.

5.⁠ ⁠Pandai bersyukur dan tidak banyak menuntut
Salah satu yang merusak cinta adalah sering mengeluh dan kurang bersyukur. Rasulullah saw mengingatkan tentang wanita yang : “…kufur terhadap kebaikan suaminya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Istri yang disayang adalah istri yang menghargai usaha suami, sekecil apa pun. Tidak membandingkan dengan orang lain, tidak mudah mengeluh. Karena penghargaan kecil bisa membuat tumbuhnya cinta yang besar.

6.⁠ ⁠Berhias untuk suami dan menjaga penampilan
Ini bukan soal berlebihan, tapi tentang perhatian. Para sahabat mengatakan :

“Sebagaimana aku s**a istriku berhias untukku, maka aku pun berhias untuknya.”

Istri yang menjaga penampilan membuat suami merasa dihargai, menjaga ketertarikan dan menutup pintu fitnah dari luar.

7.⁠ ⁠Menjadi pendukung terbaik, bukan penambah beban
Hidup suami sudah tidak mudah. Ada tekanan, tanggung jawab, dan beban yang sering tak terlihat. Istri yang disayang adalah istri yang menguatkan, bukan menyalahkan. Mendukung, bukan menuntut berlebihan, serta menjadi tempat p**ang yang menenangkan.

Allah SWT berfirman:
“Mereka (istri-istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah: 187)

Pakaian itu berarti menutupi kekurangan, menghangatkan dan memberi kenyamanan.

Kesimp**annya, menjadi istri yang disayang suami bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus memperbaiki diri. Tentang ketaatan kepada Allah, penghormatan kepada suami, dan akhlak yang menenangkan.

Karena pada akhirnya…
Seorang suami tidak hanya mencintai istrinya karena kecantikannya, tetapi karena sikapnya yang membuatnya ingin p**ang… lagi dan lagi.

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Furqon: 74)

14/04/2026

KAPAN MENGUCAPKAN INSYAA ALLAH?

@ Prof. Dr. Tulus Musthofa, MA.

Ucapan “Insyaa Allah” (إن شاء الله) artinya “jika Allah menghendaki”. Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi diajarkan langsung dalam Al-Qur’an sebagai bentuk adab seorang Muslim.

📖 Dasar dari Al-Qur’an

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24:

> “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali dengan mengatakan: Insyaa Allah...”

🕰️ Kapan Mengucapkan “Insyaa Allah”?

1. Saat berbicara tentang rencana masa depan

Gunakan ketika menyebut sesuatu yang belum terjadi. Contoh:

“Besok saya akan datang, insyaa Allah.”

“Saya akan menyelesaikan tugas ini, insyaa Allah.”

👉 Tujuannya: menyadari bahwa semua terjadi atas kehendak Allah, bukan semata kehendak kita.

2. Saat berjanji atau berkomitmen

Agar janji tidak terasa sombong atau terlalu pasti. Contoh:

“Saya akan bantu Anda, insyaa Allah.”

“Kita bertemu pekan depan, insyaa Allah.”

👉 Tapi hati-hati: jangan dijadikan alasan untuk tidak menepati janji!

3. Saat berharap sesuatu terjadi

Sebagai bentuk doa dan harapan. Contoh:

“Semoga lulus ujian, insyaa Allah.”

“Mudah-mudahan diberi rezeki, insyaa Allah.”

⚠️ Hal yang Perlu Dihindari

❌ Menggunakan “insyaa Allah” untuk menghindari komitmen (misalnya sebenarnya tidak mau datang)

❌ Mengucapkannya tanpa niat sungguh-sungguh

👉 Karena dalam Islam, kejujuran tetap utama.

❌ Mengucapkan in syaa Allah untuk yang sudah lewat.

Contoh : in syaa Allah saya sudah puasa sunah enam hari bulan syawal.

✨ Kesimp**an

“Insyaa Allah” diucapkan:

- Saat bicara tentang masa depan
- Saat berjanji
- Saat berharap sesuatu terjadi

Maknanya: mengaitkan semua rencana dengan kehendak Allah sekaligus menunjukkan kerendahan hati.

09/04/2026

TAHAN NAFSUMU, WALAU KAU TAK DIHARGAI ISTRIMU

By. Satria hadi lubis

Ada lelaki yang lelah…
Sudah berusaha, tapi tak dianggap oleh istri. Sudah memberi, tapi tak dihargai. Sudah setia, tapi terasa seperti sendiri dalam rumah tangganya.

Lalu datang godaan…
Wanita lain yang seakan mau mengerti, menghargai dan mau mendengar.
Di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Bukan saat kau bahagia… tapi saat kau sedang kecewa.

Wahai para suami…
Jangan kau jadikan luka karena merasa tak dihargai istri sebagai alasan untuk berselingkuh. Karena luka tidak pernah menjadi pembenar dosa.

Kau mungkin berkata, “Aku hanya butuh dihargai…”
Tapi dengarlah ini baik-baik :
Manusia memang terbatas dalam menghargai.
Tapi Allah tidak pernah luput menghargaimu.
Setiap kesabaranmu…
Setiap pengorbananmu…
Setiap luka yang kau tahan demi tetap halal…
Semua itu dicatat dengan sempurna oleh Allah.

"Dan bersabarlah kamu; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 46)

Dan ingat…
Kesabaran itu bukan berarti lemah.
Kesabaran adalah kekuatan yang tidak semua orang mampu memilikinya.

Setiap kesabaranmu dalam menahan diri. Setiap godaan wanita lain yang kau tolak. Setiap pesan yang tidak kau balas karena takut kepada Allah. Semua itu bukan sia-sia. Semua itu adalah amal besar yang mungkin tak terlihat manusia, tapi sangat bernilai di sisi Allah.

Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad)

Ketahuilah…
Selingkuh itu tidak pernah sederhana. Ia mungkin terasa manis di awal, tapi ia adalah racun yang bekerja perlahan.
Ia merusak hatimu. Menghancurkan kepercayaan. Ia hanya pelarian yang dibungkus kenikmatan sesaat, namun menyisakan kehancuran yang panjang.

Menghancurkan dirimu…
Menghancurkan keluargamu…
Menghancurkan masa depan anak-anakmu…
Dan yang paling berat...
menghancurkan hubunganmu dengan Allah.
Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas :

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk." (QS. Al-Isra: 32)

Perhatikanlah…
bukan hanya zina yang dilarang, tapi segala pintu menuju ke sana juga ditutup.

Maka tahanlah pandanganmu. Tahan chat yang mulai melampaui batas. Tahan keinginan untuk mencari pelarian. Karena hidup ini sangat singkat. Jangan kotori perjalananmu menuju akhirat dengan dosa yang kau tahu akibatnya.

"Dan Allah berfirman : "Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar jika kamu benar-benar mengetahui.” (QS. Al-Mu'minin: 114)

Apakah layak kau gadaikan akhiratmu hanya demi beberapa menit kesenangan dan “merasa dihargai”?

Maka jika istrimu belum mampu menghargaimu, jangan turunkan nilai dirimu.
Naikkan pandanganmu ke langit…
Jangan lagi sibuk mengejar validasi manusia yang terbatas.

Dekatlah kepada Allah...
Bangun dirimu…
Didik anak-anakmu…
Bina keluargamu dengan sabar…
Dan jika kau mampu, berdakwahlah…
Membinalah....ajak orang lain kepada kebaikan.

Alihkan energimu…
Bukan untuk mencari pelarian, tapi untuk menjadi lelaki yang lebih kuat.
Karena lelaki yang kuat bukan yang banyak dipuji wanita, tapi yang mampu menundukkan hawa nafsunya.
Mungkin Allah sedang mengangkat derajatmu melalui ujian ini.

Karena itu, jangan hancurkan kehormatanmu hanya demi kesenangan yang fana.
Sesungguhnya bukan siapa yang paling dihargai manusia yang akan selamat, tapi siapa yang paling menjaga dirinya dari maksiat karena takut kepada Allah yang akan selamat.

"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi’at: 40–41)

TINGKATKAN IMAN DAN AMAL DI USIA SENJABy. Satria hadi lubis ADA satu fase dalam hidup yang tak bisa dihindari oleh siapa...
07/04/2026

TINGKATKAN IMAN DAN AMAL DI USIA SENJA

By. Satria hadi lubis

ADA satu fase dalam hidup yang tak bisa dihindari oleh siapa pun…
Saat rambut mulai memutih, langkah tak lagi ringan, dan tenaga tak lagi sekuat dulu. Itulah usia senja.

Sebagian orang menyambutnya dengan santai, merasa sudah waktunya beristirahat dari segala urusan dunia dan akhirat.

Padahal, justru di usia inilah…
iman harus semakin dikuatkan, amal harus semakin dilipatgandakan. Karena sejatinya, usia senja bukanlah waktu untuk berhenti. Ia adalah fase penyempurnaan perjalanan menuju Allah.

Allah SWT mengingatkan:
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian." (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini tidak memberi batas usia.
Tidak ada pensiun dalam ibadah.
Tidak ada kata “cukup” dalam ketaatan.
Justru semakin dekat seseorang dengan akhir hidupnya,
semakin ia harus mendekat kepada Rabb-nya.

Rasulullah saw bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Tirmidzi)

Perhatikan… bukan sekedar panjang umur.
Tapi panjang umur yang diisi dengan amal shalih.
Maka usia senja adalah peluang emas.
Bukan beban.
Tapi justru masa panen pahala.

Karena di usia muda, kita sibuk mengejar dunia.
Di usia senja, saatnya mengejar akhirat dengan lebih serius.
Perbanyak istighfar…
karena dosa masa lalu tak sedikit.
Perbanyak dzikir…
karena hati butuh ketenangan.
Perbanyak sedekah…
karena harta tak akan dibawa mati.
Perbanyak shalat…
karena itulah yang pertama dihisab nanti.
Perbanyak berdakwah dan menbina ...
karena itu ciri orang terbaik
Dan jangan lupa…
perbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Minta maaf, maafkan, dan ringankan beban hati.

Bukankah indah jika di penghujung usia, lisan kita basah dengan dzikir, hati kita lembut dengan taubat, dan langkah kita ringan menuju masjid?

Para ulama terdahulu justru semakin bersinar di usia tua.
Imam An-Nawawi menulis karya-karya besar di usia yang singkat.
Imam Ahmad bin Hanbal tetap teguh dalam ujian di usia senja.
Dan Imam Al-Ghazali menutup hidupnya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan ibadah.
Mereka tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti, tapi sebagai alasan untuk semakin serius.

Usia senja adalah alarm terakhir.
Bahwa perjalanan ini hampir selesai.
Bahwa perjumpaan dengan Allah semakin dekat.
Maka jangan sia-siakan sisa waktu.

Jangan habiskan hanya dengan cerita masa lalu.
Isi hari-hari dengan amal yang akan menemani kita di alam kubur.
Karena pada akhirnya…
yang kita bawa bukanlah harta, jabatan, atau pop**aritas.
Tapi iman dan amal.

Semoga Allah menutup usia kita dalam keadaan terbaik, lisan yang mengucap laa ilaaha illallah, dan hati yang tenang dalam ketaatan.

Informasi/Konfirmasi hubungi:  1) Ibu Sulastri (082394751149)2) WA AlhafizhCenter (082259934388)TRANSFER KE:1.Rekening B...
12/03/2026

Informasi/Konfirmasi hubungi:
1) Ibu Sulastri (082394751149)
2) WA AlhafizhCenter (082259934388)

TRANSFER KE:
1.Rekening BRI: 7696-01-005681-53-8
a.n. Yayasan Al-Hafizh Palopo
2. Rekening BSI (451): 7149572087
a.n. Baitul Maal Al-Hafizh Indonesia




7 PILAR KELUARGA SAKINAH@ Cahyadi Takariawan, Wonderful Family InstitutePengalaman 26 tahun di ruang konseling, membuat ...
06/03/2026

7 PILAR KELUARGA SAKINAH

@ Cahyadi Takariawan, Wonderful Family Institute

Pengalaman 26 tahun di ruang konseling, membuat kami menemukan pilar-pilar untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Kami menemukan dari akumulasi ribuan klien yang kami dampingi di ruang konseling.

Pasangan suami istri yang kehilangan salah satu atau beberapa pilar akan berdampak langsung terhadap keutuhan, kelanggengan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga. Semakin banyak pilar yang hilang, keluarga akan semakin rapuh.

Setidaknya kami menemukan 7 pilar utama untuk membangun keluarga sakinah, yang kami rumuskan sebagai berikut:

S - Sabar - Syukur
A - Adaptasi
K - Komitmen
I - Intimasi
N - Navigasi
A - Afeksi
H - Harapan

Kita akan bahas satu per satu dari 7 pilar tersebut secara ringkas.

*Pilar 1 : Sabar - Syukur

Pilar yang sangat penting untuk membangun keluarga sakinah adalah sabar dan syukur. Pasangan suami istri yang selalu mampu bersyukur atas berbagai karunia dan mampu bersabar atas berbagai kekurangan, insyaallah hidupnya tenang damai dan sejahtera.

*Pilar 2 : Adaptasi

Adaptasi adalah tugas perkembangan suami istri di sepanjang rentang kehidupan. Keduanya harus bersedia saling menyesuaikan diri, sekaligus menerima pengaruh pasangan. Ketiadaan pilar adaptasi berdampak masing-masing cenderung memaksakan kehendak kepada pasangan.

*Pilar 3 : Komitmen

Pernikahan tanpa komitmen akan cepat bubar. Al-Qur'an menyebutkan akad nikah sebagai _mitsaqan ghalizha_ atau komitmen yang agung serta sakral. Suami istri tidak boleh cepat-cepat memutuskan berpisah ketika keluarga mereka dilanda konflik dan pertengkaran.

*Pilar 4 : Intimasi

Intimasi atailu kelekatan antara suami istri diibaratkan dalam Al-Qur'an sebagai libas atau pakaian. Mereka berdua sangat dekat sehingga saling melekat dengan nyaman. Inilah bentuk keintiman yang paling intim, yaitu keintiman suami dengan istri.

*Pilar 5 : Navigasi

Pasangan suami istri harus mampu menavigasi arah perjalanan keluarga mereka. Akan dibawa ke mana? Apa tujuan mukia yang hendak mereka capai bersama? Kegagalan menetapkan arah membuat keluarga berjalan di tempat tanpa ada capaian kemajuan.

*Pilar 6 : Afeksi

Afeksi adalah ekspresi dari cinta dan kasih sayang suami istri. Al-Qur'an memerintahkan suami agar mempergauli istri dengan baik (mu'asyarah bil ma'ruf). Maka suami harus mengekspresikan cinta dengan cara yang dis**ai istri, dan sebaliknya pun demikian dari istri kepada suami.

*Pilar 7 : Harapan

Keluarga harus selalu membangun dan memupuk harapan kebaikan. Jangan sampai putus asa dan kehilangan harapan ketika sedang menghadapi persoalan berat dalam kehidupan. Semua masalah bisa dicarikan solusi, maka jaga dan kembangkan harapan. Jangan meredup apalagi hilang.

25/01/2026

ENAM HAL YANG MEMBUAT RENTAN GEN-Z!

Oleh: Dr. Abdul Karim Bakkar
(Pemikir Islam)

Salah satu hal paling indah dan berharga yang dapat dibaca adalah
rangkuman pengalaman selama lebih dari 75 tahun, yang dengan bijak dan jelas disarikan menjadi enam poin penting berikut ini.

Anak-anakku dari generasi muda...

Aku telah hidup selama tujuh puluh lima tahun, menyaksikan perubahan zaman dan pergantian generasi. Aku belum pernah melihat masa di mana kehendak (iradah) dan kesadaran seseorang begitu keras diserang seperti di era ini.

Berbagai tantangan yang mengelilingi kalian saat ini berkali-kali lebih intens daripada yang kami hadapi di masa muda kami, tetapi aku khawatir akan "kerapuhan" yang mengikis kepribadian dan mereduksi kaum muda menjadi sekadar gema orang lain.

Berdasarkan pengalamanku dalam mengkritisi kesadaran dan pendidikan, aku telah mengidentifikasi enam kebiasaan yang merampas harta paling berharga kalian, membuat kaum muda rentan terhadap badai kehidupan:

1. Terpisah dari Sumber (menjauh dari Allah):

Makhluk tidak bisa menemukan stabilitas bila berada dalam situasi konflik dengan Penciptanya. Baik kekayaan maupun ketenaran tidak bisa mengisi kekosongan jiwa. Sedangkan menyimpang dari jalan Allah pasti membuat jiwa terus-menerus dalam "kebingungan", betapapun cerdasnya. Kekuatan sejati dimulai dengan sujud, dan kebebasan sejati dimulai dengan penghambaan kepada Allah semata.

Siapa yang telah menemukan Allah, maka tidak akan pernah kehilangan apa pun? Tetapi siapa yang kehilangan Allah, maka tidak akan pernah menemukan apa pun!

2. Selalu Mencari Keridhaan Manusia.

Jika Anda menjadikan nilai diri Anda bergantung pada "kekaguman" sepintas atau komentar anonim dari balik layar, maka Anda telah menyerahkan kunci-kunci stabilitas diri Anda kepada orang asing.

Orang yang benar-benar kuat adalah orang yang memiliki keberanian untuk menjadi diri sendiri, sekalipun dalam kesendirian.

3. Menunggu "mood" untuk bekerja:

Orang-orang sukses bekerja bahkan ketika mereka lelah. Sementara mereka yang menunggu munculnya "gairah" untuk memulai maka mereka membuang-buang hidup mereka di ruang tunggu.

Disiplin harian itulah yang menciptakan pemimpin, bukan semangat temporal.

4. Kecanduan "gangguan digital":

Yakni gangguan konsentrasi akibat penggunaan perangkat teknologi sehingga mengalihkan perhatian dari tugas atau aktivitas utamanya.

Kita hidup di zaman di mana perhatian Anda dicuri setiap detik. Siapa yang tidak mampu meletakkan ponselnya selama satu jam sehari untuk mengaktifkan pikirannya dan mengembangkan ide-idenya, maka ia tidak akan mampu mengarahkan masa depannya.

5. Obsesi pada penampilan dengan mengorbankan substansi:

Pakaian, merek, dan kemewahan bisa menutupi tubuh, tetapi tidak bisa mengisi kekosongan intelektual.

Bangunlah pikiranmu terlebih dahulu, karena kecerdasanlah yang memberimu prestise dan kedudukan sejati, yang akan bertahan sepanjang zaman.

6. Terburu-buru memetik buah untuk kepuasan instan:

Kamu sudah terbiasa dengan kecepatan internet hanya dengan sekali klik tombol, tetapi "pengembangan diri" tidak mengikuti pola ini.

Belajarlah "adab menunggu", karena hal-hal besar hanya matang secara perlahan.

Anakku, kekuatan tidak terletak pada meninggikan suara, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri.

Mulailah dari dalam, maka dunia di sekitarmu akan berubah secara otomatis. (ars)

Address

Jalan Merpati 5, Perumnas
Palopo
91914

Telephone

+6282259934322

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan Al-Hafizh Kota Palopo:

Share

Category