01/06/2026
Pada tahun 1974, Sholah Athiyah lulus dari Fakultas Pertanian di Mesir dengan kondisi yang jauh dari kata mapan. Ia tumbuh di Desa Tafahna Al-Ashraf, sebuah daerah pedesaan yang dilanda kemiskinan. Kehidupannya saat kuliah pun sangat sederhana. Bahkan, beredar kisah bahwa ia hanya memiliki satu celana panjang yang dipakai bergantian setiap hari. Setelah lulus, Sholah dan sembilan sahabatnya yang sama-sama menganggur bertekad mengubah nasib dengan mendirikan usaha peternakan unggas dan perkebunan.
Namun, mimpi itu terbentur masalah klasik: modal. Demi mengumpulkan dana, mereka menjual aset terakhir yang dimiliki keluarga, meminjam uang ke berbagai pihak, hingga melepas perhiasan emas milik istri mereka. Setelah semua usaha dilakukan, modal yang terkumpul masih dirasa belum cukup. Mereka membutuhkan satu investor lagi untuk memperkuat perusahaan yang baru dirintis. Saat itulah Sholah mengajukan ide yang membuat semua orang terdiam. Ia mengusulkan agar "mitra kesepuluh" mereka adalah Allah SWT.
Usulan itu akhirnya disepakati. Mereka bahkan mendatangi notaris dan mencantumkan porsi 10 persen saham yang diniatkan untuk Allah SWT dalam dokumen perusahaan. Dalam kontrak tersebut, mereka mengajukan "syarat" bahwa Allah menjadi pelindung usaha mereka, penjamin keamanan perusahaan, serta penjaga ternak mereka dari berbagai wabah penyakit. Bagi banyak orang, langkah itu terdengar tidak biasa, tetapi bagi mereka itulah bentuk keyakinan dan tawakal yang ingin dijadikan fondasi bisnis.
Usaha mereka kemudian berjalan, dan hasilnya jauh melampaui perkiraan. Panen pertama menghasilkan keuntungan besar yang membuat mereka takjub. Karena merasa keberhasilan itu datang berkat pertolongan Tuhan, mereka terus menambah porsi "saham Allah" menjadi 20 persen, lalu 30 persen, 40 persen, hingga 50 persen. Seiring waktu, keputusan yang mereka ambil menjadi semakin berani. Sholah dan rekan-rekannya akhirnya menyerahkan seluruh saham perusahaan untuk kepentingan sosial. Mereka tidak lagi menganggap diri sebagai pemilik usaha, melainkan karyawan yang menerima gaji bulanan. Seluruh keuntungan perusahaan kemudian disalurkan melalui lembaga Baitul Mal untuk membangun masyarakat. Bagi Sholah, satu-satunya permintaan yang ia panjatkan adalah agar hatinya selalu merasa cukup dan tidak bergantung pada kekayaan.
Dampaknya luar biasa. Desa Tafahna Al-Ashraf yang dulunya miskin perlahan berubah menjadi pusat pendidikan dan ekonomi. Sekolah-sekolah gratis dibangun dari tingkat dasar hingga menengah, termasuk madrasah untuk putra dan putri. Mereka juga mendirikan kompleks pendidikan cabang Universitas Al-Azhar di kawasan pedesaan, lengkap dengan asrama besar bagi para mahasiswi. Ketika pembangunan kampus sempat terkendala akses transportasi, perusahaan yang mereka bangun bahkan membangun jalur kereta, stasiun, dan menyediakan layanan transportasi sendiri agar mahasiswa bisa berangkat kuliah tanpa biaya.
Tak hanya pendidikan, berbagai program pemberdayaan ekonomi juga dijalankan. Pemuda-pemuda pengangguran dilatih menjadi petani modern hingga mampu menembus pasar ekspor. Setiap masa panen, hasil pertanian dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Berbagai program sosial tersebut membuat taraf hidup masyarakat meningkat drastis dan desa itu dikenal sebagai salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis wakaf produktif di Mesir.
Meski memiliki pengaruh besar, Sholah Athiyah menjalani hidup dengan sangat sederhana. Ia menghindari kamera, menolak pop**aritas, dan berusaha menyembunyikan identitasnya dari sorotan publik. Namun ketika ia wafat pada 11 Januari 2016, rahasia itu tak lagi bisa disimpan. Ratusan ribu hingga lebih dari setengah juta orang memadati jalanan untuk mengantar jenazahnya. Para ulama, pejabat, mahasiswa, hingga masyarakat miskin yang pernah merasakan manfaat kebaikannya datang memberikan penghormatan terakhir. Sosok yang selama hidup bekerja dalam diam itu akhirnya dikenang sebagai salah satu tokoh filantropi paling berpengaruh dalam sejarah modern Mesir, dan oleh banyak orang dijuluki sebagai "Mitra Allah".