22/11/2025
DISBUNNAK BANYUASIN SALURKAN RIBUAN BIBIT TERNAK: STRATEGI BERKELANJUTAN INTERVENSI GIZI DAN KETAHANAN PANGAN KELUARGA RAWAN STUNTING
BANYUASIN (22/11/2025) – Pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) kembali menegaskan komitmennya dalam percepatan penurunan angka stunting melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan keluarga. Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung pada tanggal 19 hingga 22 November 2025, Disbunnak telah menyalurkan paket bantuan bibit ternak ayam, pakan, dan kandang kepada 100 Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Suak Tapeh, Banyuasin III, Pulau Rimau, dan Sembawa.
Urgensi dan Landasan Kebijakan Nasional
Kegiatan ini merupakan implementasi konkret dari strategi nasional percepatan penurunan stunting sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Memasuki akhir tahun 2025, pemerintah daerah dituntut untuk tidak hanya memberikan bantuan pangan siap santap, melainkan menciptakan ekosistem pangan mandiri di tingkat rumah tangga sesuai arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Berdasarkan data prevalensi stunting terbaru (Survei Kesehatan Indonesia), Kabupaten Banyuasin terus berupaya menekan angka stunting secara agresif untuk mencapai target di bawah 14% secara nasional. Intervensi sensitif berupa penyediaan akses pangan bergizi melalui peternakan skala rumah tangga dinilai krusial untuk mencegah terjadinya gizi buruk kronis yang berdampak pada perkembangan kognitif dan motorik anak.
Korelasi Ilmiah: Protein Hewani dan Pertumbuhan Linear Anak
Pemberian hibah unggas ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan intervensi gizi berbasis bukti ilmiah. Berbagai studi menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara konsumsi protein hewani dengan pertumbuhan linear anak. Protein hewani mengandung asam amino esensial lengkap yang memicu hormon pertumbuhan (Insulin-like Growth Factor 1 atau IGF-1) yang vital bagi pembentukan tulang dan otot pada masa balita.
“Konsumsi pangan sumber protein hewani yang berkelanjutan terbukti lebih efektif dalam mencegah stunting dibandingkan hanya mengandalkan protein nabati. Kepemilikan ternak di rumah tangga secara signifikan meningkatkan frekuensi konsumsi telur dan daging pada anak, yang berdampak langsung pada status gizi mereka.” (Headey et al., 2018).
Dengan bantuan ini, diharapkan keluarga penerima manfaat dapat memproduksi telur dan daging ayam secara mandiri, menjamin ketersediaan protein hewani berkualitas setiap hari bagi sang anak.
Rekapitulasi Penyaluran Bantuan
Disbunnak Kabupaten Banyuasin menyalurkan total 2.020 ekor bibit ayam, 5.000 kg pakan ternak, dan 200 unit kandang kepada 100 balita sasaran. Penyaluran dilaksanakan dengan melibatkan lintas sektor, termasuk Puskesmas, pendamping gizi/bidan desa, serta perangkat kecamatan dan desa setempat.
Berikut rincian distribusi bantuan per kecamatan:
Kecamatan Suak Tapeh (Disalurkan 19 November 2025)
Sasaran: 40 Balita (Desa Biyuku, Tanjung Laut, Meranti, Sedang, Rimba Terap, Bengkuang, Durian Daun, Lubuk Lancang, Air Senggeris, Talang Ipuh, Sukaraja). Total Bantuan: 800 ekor ayam, 2.000 kg pakan, dan 80 unit kandang.
Kecamatan Banyuasin III (Disalurkan 20 November 2025)
Sasaran: 8 Balita (Desa Langkan, Rimba Balai, Mulya Agung, Tanjung Menang, serta Kelurahan Kayuara Kuning, Pangkalan Balai, Seterio). Total Bantuan: 180 ekor ayam, 400 kg pakan, dan 16 unit kandang.
Kecamatan Sembawa (Disalurkan 20 & 22 November 2025)
Sasaran: 38 Balita (Desa Purwosari, Mainan, Santan Sari, Muara Damai, Rejodadi, Limau, Lalang Sembawa, Pulau Harapan). Total Bantuan: 760 ekor ayam, 1.900 kg pakan, dan 76 unit kandang.
Kecamatan Pulau Rimau (Disalurkan 21 November 2025)
Sasaran: 14 Balita (Desa Banjar Sari, Buana Murti, Senda Mukti, Tabuan Asri, Teluk Betung, Tirta Mulya). Total Bantuan: 280 ekor ayam, 700 kg pakan, dan 28 unit kandang.
Harapan dan Keberlanjutan
Melalui kegiatan Pengadaan Bibit Ternak yang Bersumber dari Daerah Kabupaten/Kota Lain ini, Pemerintah Kabupaten Banyuasin berharap dapat memutus mata rantai masalah gizi melalui kemandirian pangan. Bantuan ini dirancang agar berkelanjutan; ketika ayam mulai berproduksi, keluarga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan eksternal untuk pemenuhan gizi anak, sekaligus memberikan potensi dampak ekonomi tambahan bagi keluarga penerima manfaat.