25/02/2017
Peranan Keluarga dalam Pendidikan Anak
Penulis : Laksamana Muhammad Yusuf
Dalam hal mendidik putra-putrinya orangtua harus mengutamakan pendidikan akhlak/budi pekerti, karena akhlak merupakan barometer kepribadian seseorang. Sejak usia yang sangat dini, sebelum seorang anak masuk sekolah Dasar (SD) , SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi , harus diajarkan tentang sopan-santun, yang merupakan bagian dari akhlak.
Sebagai contoh misalnya, jika menunjukkan sesuatu kepada orang yang lebih tua, harus menggunakan ibu jari, tidak boleh menggunakan telunjuk. Jika melewati orangtua yang sedang duduk harus merundukkan badan, jika dipanggil harus menyahut dengan kata-kata yang baik, atau jika diberi sesuatu harus mengucapkan terima kasih.
Budaya barat yang masuk tidak semuanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari karena tidak semua budaya barat berdampak baik bagi generasi muda.
Sering kita jumpai seorang anak yang sering memaki orang tua dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, sering kita baca di media massa yang memberitakan seorang anak yang tega menganiaya bahkan membunuh orangtua hanya hal sepele.
Semua itu terjadi karena terkikisnya nilai-nilai akhlak seseorang akibat pengaruh budaya barat yang kurang baik. Mereka beranggapan kalau mereka tidak mengikuti gaya dan kebiasaan barat mereka akan dianggap ketinggal jaman ,kuno atau katro.
Padahal kuno atau tidak kuno itu dalam hal apa? Sebagai contoh, dulu, pergi ke sekolah berjalan kaki atau naik sepeda. Dalam hal ini tentunya kita harus mengikuti perkembangan jaman, sekarang sudah bukan jamannya lagi pergi ke sekolah jalan kaki, paling tidak naik angkot, bis, atau motor bahkan ada yang mengendarai mobil pribadi.
Budaya barat yang dapat merusak nila-nilai akhlak seperti berpakaian mini yang mengumbar aurat hendaknya jangan ditiru.
Pembenahan akhlak harus dimulai dari rumah, siapakah yang berperan utama dalam hal ini? Pastinya, orangtua dan keluarga!. Mari kita bersama-sama mencari cara atau solusi untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, khususnya dalam hal pendidikan anak.
Banyak orangtua yang kurang berhasil dalam mendidik anak-anaknya, khususnya dalam pendidikan akhlak/budipekerti, dikarenakan tidak ada persiapan. Sebelum melangkah ke jenjang perkawinan, para calon orangtua sebaiknya mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dan bisa mengatasi berbagai masalah anak yang akan dihadapinya kelak ketika sudah menjadi bapak dan ibu. Kesiapan seperti ini tentunya tidak serta merta ada atau datang dengan sendirinya, tetapi harus berkonsultasi dan belajar dari para ahli di bidang pendidikan dan psychology anak.
Pembentukan akhlak anak juga harus dilakukan sejak dini, ibarat kertas putih bersih yang akan diberi gambar atau warna tertentu. Dalam hal ini orangtua-lah yang akan dan harus lebih dahulu membuat gambar dan warna-warna tersebut. Setelah mereka mulai keluar rumah, misalnya sudah mulai sekolah, lingkungan luar rumah akan ikut menggambar dan mewarnainya. Di sinilah para orangtua harus waspada agar tugas menggambar dan mewarnainya tidak diambil alih oleh lingkungan luar rumah khususnya teman-temannya. Apalagi jika sudah menginjak usia remaja, berarti mereka memasuki usia yang sangat rawan. Di usia ini teman-teman mereka akan bertambah banyak, mereka akan mendapat pengaruh dari teman-temannya, pengaruh yang baik maupun yang buruk, maka orangtua harus mengamati dan menyeleksi siapa-siapa yang menjadi teman mereka.
Jika ingin memiliki anak-anak yang santun, tentunya harus dari orangtuanya terlebih dahulu, yang merupakan contoh teladan yang akan ditiru dan diikuti oleh anak-anaknya. Biasanya jika orangtua sudah memberikan contoh, kemungkinan anak-anak akan meniru dan meneladani orangtuanya, sehingga orangtua pun tidak perlu terlalu banyak bicara, karena banyak bicara mungkin hanya akan membosankan mereka.
Jika mereka sudah dewasa, mulailah diajarkan bagaimana menghargai kepentingan dan pendapat orang lain, toleransi, empaty/peduli terhadap sesama, atau berkorban untuk kepentingan orang lain. Begitu juga dengan budaya tertib dan teratur harus dijadikan kebiasaan di rumah, di sekolah termasuk di jalan raya, karena ini merupakan cermin baik buruknya akhlak/budi pekerti seseorang, bahkan ketertiban berlalu-lintas merupakan ciri sebuah Negara maju.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak terutama pendidikan akhlak adalah salah satu kunci keberhasilan anak di sekolah. Pentingnya peranan keluarga dalam pendidikan anak, khususnya orangtua dapat dilihat dari beberapa poin. Pertama, Orang tua telah dikenal anak sebagai guru mereka yang pertama dan sebagai panutan.
Pada saat melihat anak mereka memiliki nilai yang kurang bagus atau yang gagal, sebagian besar orang tua tampak melakukan perbandingan antara anak mereka dan teman sekelas lain yang memiliki angka tertinggi. Pembandingan seperti ini, menciptakan keputusasaan pada anak. Daripada melakukan perbandingan, memarahi anak untuk bersaing, orang tua seharus tetap bersabar untuk mendengar dan memahami anak, membujuk anak untuk belajar dan bergaul dengan teman sebaya. Orangtua harus mencoba untuk mengetahui kemampuan anak dan membantu anak mengasah itu.
Apabila mereka memiliki cita-cita, seperti ingin menjadi dokter, ingin menjadi guru, atau ingin menjadi pilot misalnya, berilah mereka semangat dan keyakinan bahwa mereka bisa, dengan kalimat-kalimat yang positif, misalnya : “Kamu bisa jadi dokter atau pilot asalkan kamu rajin dan giat belajar”. “Kamu kan anak pintar, pasti kamu bisa”. Kalimat-kalimat positif seperti ini harus sering-sering diucapkan oleh orangtua agar supaya tertanam dalam diri mereka, sehingga keyakinan untuk bisa mencapai cita-citanya bertambah besar.
Kemudian, berikan pengertian kepada mereka tentang arti sukses. Banyak orang berpendapat atau mengartikan “sukses” itu, memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi, berkecukupan secara materi memiliki harta yang melimpah, sehingga banyak orangtua yang menginginkan anak-anaknya, ketika sudah dewasa nanti memiliki posisi atau profesi yang menghasilkan banyak uang.
Padahal justeru orang tua harus menjelaskan kepada mereka, bahwa arti sukses yang sebenarnya adalah “berhasil mencapai cita-cita, menjadi yang terbaik di bidangnya dan memiliki budi pekerti yang luhur”.
Sedikit kemauan dan dukungan dapat mengubah cara hidup semua anak. Oleh karena itu, penekanan diberikan pada penyediaan dukungan terbaik terhadap anak-anak. Banyak orangtua tidak menyadari peran mereka dalam fase perkembangan anak.
Berikut ini adalah berbagai peranan keluarga dalam pendidikan anak, khususnya orang tua untuk perkembangan anak-anak mereka:
1. Menjadi Teman curhat
Sebagai seorang teman, orang tua harus mencoba untuk mengeksplorasi pikiran anak-anak mereka. Mereka harus membuat anak-anak mereka merasa nyaman sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan sukses tanpa hambatan. Orang tua sebagai teman dengan mudah dapat menjelajahi proses berpikir, cara berpikir dan perasaan internal anak-anak mereka. Mereka ingin orang tua mereka untuk memuji mereka dan membantu mereka dalam segala hal yang mereka lakukan.
2. Menjadi Guru:
Orangtua adalah yang pertama mengajarkan untuk setiap anak. Pepatah mengatakan belajar dimulai dari rumah saja, dan itu adalah tugas orang tua mereka untuk mengajari mereka nilai-nilai yang baik yang dapat membuat merekan menjadi orang yang lebih baik di di masyarakat.
Selain berfungsi sebagai teman dan guru orang tua juga harus menjadi pendorong semangat disaat mereka sedang berputus asa sehingga mereka dapat mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka ingin orang tua mereka untuk memuji mereka dan membantu mereka dalam segala hal yang mereka lakukan.
Jadi sebenarnya peranan keluarga dalam pendidikan anak, khususnya orang tua sangatlah penting karena Anak-anak belajar lebih banyak dari lingkungan rumah daripada ditempat lainnya. Jadikan rumah sebagai tempat yang nyaman bagi mereka.
Berusahalah untuk tidak melakukan kekerasan kepada anak, baik kekerasan secara fisik maupun ungkapan-ungkapan, semisal bentakan atau teriakan-teriakan, karena perlakuan seperti itu hanya akan menambah kenakalan mereka dan akan semakin membangkang bahkan dendam. Lebih berbahaya lagi jika mereka melampiaskan rasa dendamnya kepada anak-anaknya kelak, sehingga budaya kekerasan akan berlanjut turun-temurun, janganlah hal seperti ini sampai terjadi. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan orangtua, biasanya mereka kelihatan penurut di rumah, tetapi mereka akan melampiaskan semua kekesalan dan ketidak-puasannya di luar rumah.
Berusahalah mendidik anak dengan lembut penuh kasih sayang, sabar, dan penuh pengertian. Biasanya anak-anak yang diperlakukan seperti itu, akan memiliki sifat yang lembut p**a. Sebaliknya perlakuan yang kasar terhadap anak-anak akan membentuk watak yang kasar p**a. Tidak mudah memang, untuk bisa mendidik anak dengan baik, tidak semudah mengucapkannya, tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun demikian orangtua tetap harus berusaha sebisa mungkin.(*)