24/03/2026
NEGARA SIBUK MEMBERI MAKAN, TAPI LUPA MENGHARGAI YANG MENGAJAR
Ada yang menarik dari obrolan kelas menengah kita hari ini. Mereka tidak sedang bicara teori. Mereka sedang bicara rasa—rasa tidak adil.
Di satu sisi, negara hadir dengan program makan bergizi gratis (MBG). Narasinya kuat: anak-anak harus sehat, stunting harus turun, ekonomi rakyat harus bergerak. Semua terdengar benar. Bahkan terlalu benar untuk dibantah.
Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:
Mengapa yang memberi makan dihargai, tapi yang mendidik justru dibiarkan bertahan?
ILUSI KEMAJUAN YANG DISEDERHANAKAN
Kita mudah terpesona oleh cerita negara lain. Ethiopia disebut-sebut sebagai bukti bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan.
Masalahnya, kita terlalu cepat menyederhanakan.
Tidak ada negara yang maju hanya karena satu variabel. Bukan hanya pendidikan. Bukan hanya gizi. Bukan hanya infrastruktur.
Kemajuan adalah hasil dari orkestrasi kebijakan, bukan lomba memilih prioritas.
Ketika kita mulai mempertentangkan pendidikan versus gizi, sebenarnya kita sudah kalah sejak awal. Karena negara yang serius tidak memilih—mereka menyusun.
MBG: KEBIJAKAN BAIK, ATAU SEKEDAR POPULER?
Program makan gratis bukan ide buruk. Bahkan banyak negara menggunakannya. Ia bisa:
Mengurangi malnutrisi
Meningkatkan konsentrasi belajar
Menggerakkan ekonomi lokal
Namun pertanyaan kuncinya bukan “baik atau tidak”, melainkan:
Apa yang dikorbankan untuk membiayainya?
Di sinilah kegelisahan itu muncul.
Ketika anggaran mengalir deras untuk program baru, sementara:
guru honorer masih digaji ratusan ribu
dosen berjuang dengan ketidakpastian
profesi pendidik tidak naik kelas
maka publik mulai membaca sesuatu yang lebih dalam:
Negara tampak lebih cepat memberi makan daripada memperbaiki fondasi pendidikan.
DISTORSI YANG BERBAHAYA
Dalam teori pembangunan, guru adalah high-impact profession. Satu guru yang baik bisa mengubah puluhan, bahkan ratusan kehidupan.
Tapi dalam praktik kita?
Pengantar program bisa bergaji jutaan
Guru honorer bertahan dengan sisa
Ini bukan sekadar ketimpangan. Ini adalah distorsi nilai.
Kita sedang mengirim pesan yang salah...