22/02/2025
Ramadhan Bulan Asyik Ibadah
Kata Ramadhan (رمضان) dalam bahasa Arab secara etimologi berasal dari kata Romadho Yarmudhu yang berarti membakar.
"Asyik" adalah kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki beberapa arti, tergantung pada konteksnya. Berikut beberapa arti dari kata "asyik":
1. Senang, gembira, atau bahagia: "Aku asyik sekali saat bermain dengan teman-teman."
2. Terpesona atau terhibur: "Aku asyik menonton film itu sampai lupa waktu."
3. Santai atau nyaman: "Aku asyik sekali saat beristirahat di pantai.
{قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا}
Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (Yunus: 58)
Artinya, dengan adanya hidayah dan agama yang hak ini yang datang kepada mereka, hendaklah mereka bergembira, karena hal itu merupakan sesuatu yang lebih patut untuk mereka gembirakan.
{هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ}
Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (Yunus: 58)
Yakni lebih baik daripada harta benda duniawi dan semua perhiasannya yang pasti akan fana dan lenyap itu.
Dalam Islam, ibadah memiliki makna yang luas dan mendalam. Berikut beberapa aspek makna ibadah menurut Islam:
Aspek Makna Ibadah
1. Ketaatan kepada Allah SWT: Ibadah adalah bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT, sebagai manifestasi dari iman dan takwa.
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (33:36) }
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (p**a) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesalan yang nyata.
2. Pengabdian: Ibadah adalah bentuk pengabdian diri kepada Allah SWT, dengan meninggalkan kepentingan pribadi dan dunia.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
3. Pembersihan Jiwa: Ibadah dapat membersihkan jiwa dari kotoran dan dosa, serta meningkatkan kesadaran dan keinsafan diri.
{ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا }
{ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا }
[Surat Asy-Syams: 9-10]
4. Pengembangan Akhlak: Ibadah dapat membentuk dan mengembangkan akhlak yang baik, seperti kesabaran, kejujuran, dan keadilan.
Al-Qalam ayat 4
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya: "Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung."
Dalam ayat ini Allah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah cerminan seorang hamba dengan akhlak terpuji dan bertugas menuntut manusia agar memiliki akhlak yang mulia p**a.
5. Penghubung dengan Allah SWT: Ibadah dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta meningkatkan kesadaran akan kehadiran dan kekuasaan-Nya.
{ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِی عَنِّی فَإِنِّی قَرِیبٌۖ أُجِیبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لِی وَلۡیُؤۡمِنُوا۟ بِی لَعَلَّهُمۡ یَرۡشُدُونَ }
[Surat Al-Baqarah: 186]
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.
Jenis-Jenis Ibadah
1. Ibadah Mahdhah: Ibadah yang telah ditentukan oleh syariat Islam, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
2. Ibadah Ghairu Mahdhah: Ibadah yang tidak telah ditentukan oleh syariat Islam, seperti sedekah, doa, dan dzikir.
Manfaat Ibadah
1. Meningkatkan Iman dan Takwa: Ibadah dapat meningkatkan iman dan takwa, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
2. Mengurangi Dosa dan Kotoran Jiwa: Ibadah dapat membersihkan jiwa dari dosa dan kotoran, serta meningkatkan kesadaran dan keinsafan diri.
3. Meningkatkan Kualitas Hidup: Ibadah dapat meningkatkan kualitas hidup, serta memperkuat akhlak dan moral.
Dalam Islam, ibadah adalah bagian integral dari kehidupan seorang muslim, dan memiliki peran penting dalam membentuk dan mengembangkan akhlak, iman, dan takwa.
Berikut beberapa alasan mengapa ibadah di bulan Ramadhan terasa begitu asyik:
1. Pahala yang berlipat: Amalan ibadah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang berlipat dibandingkan dengan bulan lainnya.
"Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan." (HR. Bukhari-Muslim).”
"Setiap amalan kebaikan anak Adam [manusia] akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman 'Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi'.” (H.R. Bukhari)
2. Kesempatan untuk memperbaiki diri: Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memperkuat iman.
Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmiżi no. 2499).
Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)
3. Kenyamanan dan ketenangan: Berpuasa dan melakukan ibadah di bulan Ramadhan dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan jiwa.
hadist Qudsy ...Asshoumu lii wa ana ajzii bihi, innahuu taroka syahwatahu wa tho aamahu wa syaroobahu min ajlii..., bahwa puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi ganjaran pada-Nya secara langsung, sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumannya karena-Ku.
Adapun apa yang dialami oleh jiwa yang suci lagi tenang yang selalu tetap tunduk patuh kepada kebenaran, maka dikatakan kepadanya:
{يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ}
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu. (Al-Fajr: 27-28)
Yaitu ke sisi-Nya, ke pahala-Nya, dan kepada apa yang telah disediakan oleh-Nya bagi hamba-hamba-Nya di dalam surga-Nya.
{رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً}
dengan hati yang puas lagi diridai. (Al-Fajr:28)
Yakni hati yang puas karena mendapat rida dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
{فَادْخُلِي فِي عِبَادِي}
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. (Al-Fajr: 29)
Maksudnya, ke dalam golongan mereka yang diridai.
{وَادْخُلِي جَنَّتِي}
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 30)
4. Kesempatan untuk berbagi: Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk berbagi dengan orang lain, baik itu melalui sedekah, zakat, atau kegiatan sosial lainnya.
عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ
Artinya: "Dari Anas dikatakan, Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama? Rasul menjawab, "Sedekah di bulan Ramadhan" (HR At-Tirmidzi).
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Artinya: "Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan." (HR Bukhari dan Muslim).
5. Kehadiran Allah SWT: Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan yang paling dekat dengan Allah SWT, sehingga kita dapat merasakan kehadiran-Nya lebih dekat.
Dalam sebuah Hadis juga disebutkan: “Puasa adalah untukKu, dan Saya yang akan membalas puasa orang yang berpuasa.”
Panggilan khusus untuk mereka yang beriman dan diakuinya puasa sebagai milik Allah mengindikasikan secara kuat bahwa puasa adalah amalan ibadah yang bersifat personal atau privat dengan Allah SWT. Dalam melakukannya tidak ada sama sekali orang ketiga yang terlibat.
Ketika anda salat, gerakan-gerakan itu nampak kepada orang lain. Ketika anda berzakat, minimal yang memberi dan menerima ikut terlibat. Ketika haji bahkan jutaan yang menyaksikan. Tapi puasa benar-benar hanya antara pelaku dan Tuhannya yang menjadi saksi.
Di sinilah kemudian puasa berfungsi sebagai pembuka pintu lebar untuk hadirnya Allah dalam hidup pelakunya. Seorang yang berpuasa akan melatih diri untuk bersama denganNya. Dengan puasa terbangun kesadaran “kebersamaan” dengan Dia yang melihat apa yang tidak nampak maupun yang memang nampak.
Dengan demikian, ibadah di bulan Ramadhan memang terasa begitu asyik! Kita dapat merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kepuasan jiwa dalam melakukan ibadah dan memperbaiki diri.