Desa Sumbersoko

Desa Sumbersoko Desa Sumbersoko Kecamatan Sukolilo Kabupaten PATI Jawa Tengah Indonesia
sbg. sarana Kontrol Pemerint

mari kita maju bersama menuju Sumbersoko yang tertib
Halaman ini adalah untuk sarana kontrol kita bersama, sing tuo ngelike, sing nom ngajeni, sing bener digugu lan sing kwi salah ditinggalke
katakan BENAR bila itu memang BENAR dan katakan SALAH kalau itu memang SALAH, jangan sungkan dan PEDULIKAN maryarakat banyak dengan tidak meninggalkan RASA BERSATU kita selama ini
Majulah Desoku, Cerdaslah Rakyatku Bangunlah Jiwo dan Wilayah kita dengan Hati yang saling mengasihi

Pye to kiiih.?
08/02/2023

Pye to kiiih.?

Dalam rekaman CCTV yang viral, nampak si perangkat desa lari terbirit-birit dikejar warga di jalan desa.

 ®PERANG BUBATDan mitos Sunda-Jawa yang tidak boleh bersatuDari sebuah lukisan Sungging Prabangkara tentang seorang putr...
01/10/2020

®

PERANG BUBAT
Dan mitos Sunda-Jawa yang tidak boleh bersatu

Dari sebuah lukisan Sungging Prabangkara tentang seorang putri nan cantik jelita dari Sunda bernama Dyah Pitaloka Citaresmi, seorang raja terbesar Majapahit bernama Hayam Wuruk jatuh cinta. Menurut naskah Perang Bubat, disamping jatuh cinta, Hayam Wuruk ingin memperbaiki hubungan dengan kerajaan Sunda yang sudah lama putus. Konon, sang leluhur bernama Raden Wijaya merupakan keturunan Sunda dari sang ibu Dyah Lembu Tal. Akhirnya, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada raja Sunda Linggabuana untuk melamar sang putri yang rencananya akan menikah di Majapahit. Meskipun dewan kerajaan Sunda keberatan karena tak lazim kalau perempuan yang datang kepada laki-laki namun sang Maharaja tetap berangkat menuju Majapahit.

Menurut kidung Sundayana, Gajahmada selaku patih Majapahit timbul niat jahat untuk menguasai kerajaan Sunda karena terkait dengan sumpahnya yaitu Sumpah Palapa yang dibuat sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Gajahmada mengira bahwa rombongan Sunda datang ke Pesanggrahan Bubat untuk menyerahkan diri kepada Majapahit dan memberikan Dyah Pitaloka sebagai upeti. Terkejut dengan statement Gajahmada, utusan Sunda memaki-maki Gajahmada di depan orang banyak. Langsung naik pitam, Gajahmada mengarahkan pas**annya untuk mengintimidasi Linggabuana, sayang Linggabuana menolak sehingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang. Akhirnya, semua rombongan Sunda gugur dan Dyah Pitaloka bunuh diri sebagai "bela pati" terhadap kehormatan bangsanya. Mengetahui hal ini, Hayam Wuruk marah dan malu terhadap Gajahmada. Semenjak itu, hubungan keduanya menjadi renggang. Konon, menghadiahi Gajahmada tanah di Probolinggo sebagai hadiah sekaligus tempat buangan.

Tragedi ini merusak hubungan antar kedua negara hingga bertahun-tahun. Bahkan rasa sentimen itu masih ada hingga 2018 dimana nama yang berbau Majapahit tidak akan tercatat di daerah manapun di Jawa Barat. Bahkan ada mitos yang masih dipercaya hingga sekarang bahwa perempuan Sunda dilarang untuk menikah dengan pria Jawa. Jika itu tetap dilakukan, katanya akan muncul kesengsaraan di rumah tangga mereka.

Percaya tidak percaya..

 Gontor – PKI – Hizbullah“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Ind...
29/09/2020



Gontor – PKI – Hizbullah

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Otomatis, Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Kyai di Pondok Takeran Magetan sudah dihabisi oleh PKI. Sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup. Kemudian PKI geser ke Ponorogo. Dengan sasaran Pondok Modern Darussalam Gontor.
KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), pun berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

“Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dkenali PKI aku iki. (Sudah Pak Sahal, Anda saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya Anda. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini,” kata Pak Zar.

Pak Sahal pun menjawab: “Ora, dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati“.

(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati”.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan pondok Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, “Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pondok Gontor.

Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Senjata ditembakkan. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok Gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari gedeg bambu dirusak. Buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sarana peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.
Akhirnya, PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pas**an Siliwangi. Pas**an itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, (putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari). Pas**an PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Membiarkan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam keadaan porak poranda.

Semoga sejarah ini menjadi pengingat dan pelajaran berharga untuk perjuangan mempertahankan Islam, Pesantren, Bangsa dan Negara.

*SAWAN DAN ILMU TITEN**Simbokku* bertanya serius, "Jane virus itu apa tho. Tiap hari kok beritanya virus terus di tipi.....
15/04/2020

*SAWAN DAN ILMU TITEN*

*Simbokku* bertanya serius,
"Jane virus itu apa tho. Tiap hari kok beritanya virus terus di tipi..?"

- *aku* : "Virus itu sejenis SAWAN, Mbok! Nggak keliatan tapi kalau nulari bisa membuat orang demam tinggi, batuk-batuk, sesak nafas, kalau tidak kuat bisa mati,"
Tak bilangin gitu biar mudeng... Kalau diijelasin pakai ilmu virologi malah mumet Simbokku 🤭🤭🤭

*- Simbok* "..Eeee... Sawan to," Manggut-manggut ngerti.

*- aku* : "Makanya jangan kumpul2 dulu. Kalau terpaksa kumpul2 jaga jarak 1 meter. Sebelum masuk rumah cuci tangan yang bersih pakai sabun, masuk rumah jangan langsung gendong cucu atau menyentuh apapun, langsung ke kamar mandi. Mandi yang bersih, pakaiannya direndam pakai detergen terus dicuci. Setelah itu baru boleh ngapa2in. Virus itu nggak bahaya kalau kita sehat. Tapi kalau punya penyakit sesak nafas, diabetes, darah tinggi dll bisa bahaya sekali. Nahhh, biar sehat banyak-banyak minum air perasan lemon, wedang jahe/kunyit/temulawak, rebusan daun sirih atau daun kelor..."

*- Simbok* : "Wis wis, aku wis mudeng.. Dari dulu kan aku juga mengajari kalian seperti itu. Cuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah sampai tak sediakan gentong di depan rumah. Tapi katamu jangan percaya mitos. Sawan2 opo..
Tak tanamkan kelor dan sirih, tapi kamu nggak mau makan sayur bening kelor malah pilih makan mie instan. Tak buatkan jamu temulawak, kunir asem, kunci suruh biar sehat, tapi kamu pilih minum obat buatan Londo karo Amerika... Sekarang ada virus saja baru ingat cuci tangan dan minum jamu."

*- aku* : "Iya ya, Mbok!" Mikir keras 🤔🤔🤔

*- Simbok* : "Orang tua2 zaman dulu itu walaupun bodoh, tapi nggak ngawur, mereka itu pakai ilmu "titen" kalau sekarang namanya penelitian itu lo... Dititeni misalnya kenapa kok kalau ada orang meninggal anak-anak sering panas demam. Oo rupanya Bapak/Ibunya ikut melayat. Berarti orang pulang melayat itu bawa penyakit. Akhirnya dicoba diolesi dlingo bawang, terus Bapak/Ibunya sebelum menyentuh anaknya harus mandi dulu. Dan tenyata benar, setelah dilakukan seperti itu anaknya tidak demam tinggi lagi walaupun ayah/ibunya pulang melayat. Kejadian itu dijadikan pelajaran, "dititeni" akhirnya jadi tradisi, terus kalian yang sudah pinter menemukan bahwa ternyata yg dibawa pulang dari luar rumah itu namanya bukan sawan tapi virus... Ngono to?"

*- aku* : Nyengir..., "Iya, Mbok!" 😆😆😆

*- Simbok* : "Sekarang masih mau ngeyel., Masih mau bilang wong kuno itu bodo ?
Sing bodo ya kamu2 itu. Sudah bagus2 nenek moyangnya niteni kalau bau badan itu banyak2 makan daun luntas dan minum kunci suruh, ehhh kalian malah nuruti bakul minyak wangi, bau badan cukup disemprot. Padahal badanmu bau itu karena banyak kuman yang harus dibersihkan, kalau cuma disemprot minyak wangi, nggak menyelesaikan masalah, minyak wanginya hilang tetap bau. Nenek moyangnya sudah capek-capek niteni kalau orang yang badannya sehat itu tidak mudah diserang sawan eh virus, makanya harus rajin minum jamu, ehhh kalian malah pilih percaya bakul obat yg obatnya cuma menghilangkan rasa sakit, pas diminum sehat, besuk kambuh lagi, minum lagi, sehat, kambuh lagi... Akhir e rusak jeroanmu... Faham ora?"

*- aku* ; Ampunnnnn.... mbok 🙈🙈🙈🙈
Wis faham, Mbok..! Faham..! Anakmu ngaku salah 🙏🙏🙏

*copas dari Untukmu Negaraku
Foto sebagai Pemanis saja

Berita Pojok Desa News®Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.9 Oktober 2016ol...
07/08/2019

Berita Pojok Desa News®

Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.
9 Oktober 2016oleh Penulis : Puguh Jarot
21s.jpg
76473755gapuramakambersejarah.jpg

Pati, Isknews.com Lintas Pati-Mungkin belum banyak yang tau tentang sejarah makam Bupati Pati Wasis Joyokusumo atau Adipati Pragola I yang terletak di Gunungpati Desa Plalangan Kabupaten Ungaran Semarang dan makam tersebut sudah diberi gapura oleh Bupati Pati Haryanto.


Dari beberapa sumber sejarah yang menceritakan Nama aslinya adalah Wasis Jayakusuma putra Ki Ageng Panjawi, saudara seperjuangan Ki Ageng Pamanahan. Kakak perempuan yang bernama Waskitajawi menikah dengan Sutawijaya putra Ki Ageng Pamanahan, dan melahirkan Mas Jolang. Ki Ageng Penjawi diberi tanah perdikan oleh Sultan Pajang (Sultan Hadiwijaya = Jaka Tingkir) di daerah Pati, atas jasanya dalam peperangan melawan Arya Penangsang dimasa Kerajaan Demak masih berdiri dan bergelar Ki Ageng Pati Sutawijaya sebagia panembahan Senopati, raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Sementara itu, Wasis Jayakusuma menggantikan ayahnya sebagai bupati Pati bergelar Pragola I. Secara s**a rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai putra mahkota.

Pada tahun 1890 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan Trenggana Demak) melarikan diri ke Surabaya. Putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil Panembahan Senopati sebagai permaisuri kedua.


Kemudian Adipati Pati berkunjung ke Pati untuk melihat kakaknya, Pemboyongan Putri Madiun ke Istana membuat Adipati Joyo Kusumo tidak senang, Ia teringat nasib kakak perempuannya Rara Sari yang akan dimadu, dan tersisihkan oleh kehadiran Retno Jumilah di keraton. Kakaknya menyuruh Adipati untuk bersabar. sehingga ia mohon pamit dahulu untuk kembali ke Pati.

Adipati membangun Kota Pati agar menjadi kadipaten yang kuat dan makmur, bersama pas**annnya dia menciptakan pas**an yang tangguh. mereka juga melatih prajurit-prajurit baru yang diambil dari rakyat Pati. Mereka dilatih menggunakan senjata untuk berperang melawan musuh-musuh Pati. Rakyat pati sangat segan dan bangga dengan Adipati, yang membawa kemajuan Kadipaten Pati.

Dalam perjalanan waktu Adipati Jaya Kusumo sering berkunjung ke Mataram untuk melihat keadaan kakaknya, sikap kakaknya yang terlalu pasrah mengabdi sebagai istri setia, terhadap Panembahan Senopati, dia menghadap ke Mataram dengan mengendarai Kuda pilihan yang bagus. Sehingga membuat Sultan Mataram tertarik untuk memiliki, maka sultan menukar kuda itu dengan Kerbau dan diberi nama Pragola, sepanjang perjalanan ia diolok-olok sama anak kecil

“Raja Pati miskin kendaraannya kerbau…., masih kaya Raja Mataram kendaraannya kuda”.

Joyo Kusumo pulang dengan perasaan dongkol, namun karena persaudaran yang telah dibangun diantara keduanya, maka Joyo Kusumo hanya bisa sabar.
Sultan mengundang para adipati ke Mataram, namun Joyo Kusumo tidak hadir, karena Adipati lebih konsentrasi pada pembenahan kota Pati ia sibuk dengan kegiatan di Kadipaten Pati sehingga lupa untuk hadir ke Mataram. Dalam pertemuan di Mataram, terkadang diwakilkan oleh anak buahnya.

TRENDING : ​Apel Oprasi Cipta Kondisi Jelang Natal dan Tahun Baru di Mapolres Kudus
Suatu ketika Adipati Joyo Kusumo I merintahkan anak buahnya untuk menghadap ke Mataram guna menayakan hak atas tanah pedesaannya di sebelah Utara Pegunungan Kendeng dan juga meminta 100 tombak. Akhirnya Panembahan Senopati menyerahkan senjata yang diminta Joyo Kusumo tapi tidak disertai dengan sarungnya, hal ini membuat Adipati Joyo Kusumo sebagai bentuk penghinaan dan menganggap Mataram mau menantang perang dengan Pati.

Setelah utusan Pati kembali dan menghadap Joyo Kusumo, maka oleh beliau diperintahkan mempersiapkan pas**an untuk mengadakan pembersihan didaerah perbatasan dan mengadakan pelucutan senjata di daerah utara Pegunungan Kendeng, semua menyerang dan tunduk kepada Joyo Kusumo. Kecuali Demak yang masih bertahan di Benteng, dan pas**annya kecil sehingga tidak menjadi perhitungan Joyo Kusumo.

Joyo Kusumo memiliki banyak prajurit, mereka berkumpul untuk mengadakan perlawanan dengan Mataram. Sepanjang perjalanan menuju Mataram, mereka melucuti senjata, menjarah dan menaklukan semua desa yang dirampas oleh Mataram. Desa tersebut dimerdekakan dan disuruh membantu untuk menyerang Mataram.
Kemudian Adipati Pajang melaporkan kondisi yang terjadi di daerah perbatasan Mataram dengan Kadipaten Pajang, bahwa Adipati Pati telah masuk ke wilayah pajang dan mengobrak-abrik Kadipaten, sehingga banyak prajurit yang lari menyelamatkan diri.

Sudah tiga kali Joyo Kusumo tidak hadir di Mataram dan tidak mengirimkan persembahan (upeti) kepada sultan. Kemudian datanglah utusan Mataram ke Kadipaten Pati. Untuk menanyakan kabarnya Adipati Pragola I. Akhirnya Kerbau yang pernah di berikan kepada Pragola itu dipotong kepalanya kemudian dibungkus dengan kain merah. Kemudian Patih Penjalingan disuruh untuk menyerahkan kepada Mataram. Mendapati hal tersebut Marahlah Sultan Mataram sehingga ia memerintahkan pas**annya untuk berangkat ke Kadipaten Pati.

Panembahan Senopati mau turun langsung menghadapi Adipati pati, namun berhasil dicegah oleh istrinya yang juga merupakan kakak perempuan Adipati Pati, ia mengusulkan biar anaknya saja Raden Rangga yang dikirim untuk menemui Joyo Kusumo. dengan maksud agar tidak terjadi perang, dan ditempuh dengan jalur damai.
“Biar Pangeran Mahkota saja yang akan menanyai apa maksud Pamannya mempersiapkan prajurit di tapal batas dan membuat huru-hara di Pajang.” Bujuknya Istri Panembahan Senopati, sebab bila Panembahan Senopati yang turun tangan langsung maka tak hayal lagi perang akan terjadi.

Pangeran Mahkota di kirim ke perbatasan dengan pengawalan prajurit yang amat banyak, kemudian mereka bergerak ke Prambanan sedangkan pas**an Pati bergerak ke Kemalon. Masing-masing beristirahat kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang. Diperbatasan antara Waliyah Pajang dengan Mataram, Pangeran Mahkota diperintahkan Panembahan Senopati untuk segera menemui Pamannya Joyokusumo, ia dikawal hanya dengan beberapa pas**an yang membawa panji-panji Kerajaan Mataram.
“Hay kemana bapakmu.. tidak berani kesini..takut bila bertemu adik iparnya” Joyo Kusumo mengejek keponakannya. Sehingga darah mudanya mulai naik.
“paman, saya disuruh Romo untuk mengantar paman untuk menghadap ke Mataram” Pangeran Mahkota balas menyindir pamannya yang dianggap telah mbalelo terhadap Mataram. Panji-panji Mataram yang sedikit berkibar ditengah ribuan pas**an Pati.
“Saya tidak mau kesana, kalau bapakmu mau ketemu saya suruh dia kesini, biar saya kasih tahu bagaimana caranya menghormati orang” sikap membangkang ini seringkali dilakukan oleh Joyo Kusumo terhadap Mataram, tapi kemudian reda kembali karena masing-masing pihak ada yang menahan, di Mataram ada Ki Juru Mertani sedangkan di Pati juga diredakan oleh para sesepuh termasuk keluarga. Namun kali ini kemarahan Joyo Kusumo tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya Perang adalah solusinya.
“Tapi paman, alangkah baiknya bila paman yang datang kesana, sebab Romo adalah raja agung yang membawahi Bumi Jawa, bukankan paman bawahannya romo” Pangeran Mahkota meremehkan penguasa Pati.
“ Saya tidak mau kesana, Bumi Pati adalah bumi merdeka tidak menjadi bawahan Mataram” kuping Pangeran Mahkota menjadi merah mendengar ucapan Adipati Pati. Dia mengambil tombak dan dihujamkan berkali-kali di dada Adipati.
“Terus nang, habiskan tenagamu untuk menusuk saya, aku tidak mundur!, bocah kemarin sore aja sudah berani sama orang tua!” Adipati tertawa terbahak-bahak melihat keponakannya yang menus**an tombak ke dadanya berkali-kali. Adipati tidak terluka sedikitpun karena tubuhnya memakai pusaka “Kere Wojo” pemberian baron Sekeber. Gantian keponakannya yang dipukul dengan gagang tombak sehingga ia terpental jatuh dari kudanya.
“Bilang sama bapakmu, Bila Panembahan Senopati laki-laki tak tunggu diperbatasan. Siapa yang dianggap penguasa Jawa, saya tantang dia sebagai seorang laki-laki, tunjukan kestriamu, jangan anak ingusan yang dikirim!” Pangeran Mahkota tergeletak di tanah hampir saja diinjak oleh kaki kudanya sendiri. Pas**an Mataram membawa Pangeran Mahkota yang terluka akibat ganggang tombak. Mereka kembali ke Prambanan.

TRENDING : Kontak
Adipati Pati Wasis Joyokusumo Atau Pragola I menyerang hingga pas**an Mataram kabur melarikan diri, mereka mengejar sampai perbatasan, Adipati teringat pesan sang guru Ki Ajar Pulo Upih (guru spiritual yang berasal dari Pulau Mandoliko). Ia menunggu di daerah Prambanan berbulan-bulan,. Namun pas**an Mataram belum datang. Akhirnya ia pulang dulu untuk bertemu dengan kawulanya. Pragola kembali ke Desa Dengkeng, ia bersama prajurit membangun kubu pertahanan dari batang pohon-pohon kelapa. Ia menunggu kedatangan Panembahan senopati ke Dengkeng.

TRENDING : Progam PRONA sangat membantu masyarakat,, namun kenapa kok ada yang usil???
Mengetahui hal tersebut Panembahan Senopati marah besar sebab Adipati Pati telah berani memukul anaknya yang sekaligus keponakan Adipati-Pati sendiri. Setelah siuman Pangeran Mahkota lapor kepada Romo dan ibunya. Ia mengadu kepada orang tuanya, bahwa ia telah diperlakukan kekerasan sehingga dapat melukai wajah tampannya. Pangeran Mahkota merasa sakit hati akibat ejekan tersebut…

Mendengar laporan itu Adipati Pati marah. terpancing emosinya, memberitahukan kepada istrinya,. kondisi ini dimanfaatkan Panembahan Senopati untuk menjelek-jelekan Kakak ipar dihadapan istrinya. Sehingga ia memohon, kepada istrinya agar segera mengijinkannya menuju ke medan perang.
“Kalau begitu saya tidak keberatan bila Adipati Pati dibunuh, karena dia sudah tidak sayang lagi kepada keponakanya sendiri” Panembahan SenopatiPanembahan Senopati berangkat perang dengan naik kuda, beristirahat di Prambanan. Pada tengah malam ia melanjutkan lagi berangkat menuju ke Kadipaten Pati. Di luar Benteng Pragola, pas**an Mataram berteriak-teriak Dan Kyai Bicak dipukul bertalu-talu.

Keris Culik Mandaraka milik Panembahan Senopati merupakan pusaka sakti berhasil mematahkan tiga batang pohon kelapa yang dijadikan benteng pertahanan. Kemudian Panembahan Senopati bisa memasukinya dengan mengendarai kuda, mengocar-ngacir Pas**an Pati.

Adipati Pati mundur kembali ke Pati, kemudian ia mengumpulkan Bupati-bupati disekitarnya untuk memepersiapkan pas**an untuk menyerang kembali ke Mataram. Pada saat prajurit Pati berangkat kembali ke perbatasan, terjadi bencana alam Gunung Meletus, daerah Dengkeng yang dijadikan benteng pertahanan Pas**an Pati dialiri lahar panas, sehingga banyak pas**an di kedua pihak yang mati terkena letusan gunung berapi. Perang mengalami jeda beberapa hari. Pas**an Mataram masih mengejar sisa-sisa Pas**an Pati yang masih membikin keributan di daerah perbatasan.

Sementara itu Adipati pati bersama sisa-sisa pas**an menuju ke Gunung Pati di desa Palalangan, mereka menghindari letusan gunung berapi selain itu untuk menyusun kekuatan menyerang Mataram kembali.

Adipati Pragola I memang tidak meninggal karena peperangan, namun mengasingkan diri di Gunungpati ini. Yang dulunya hutan belantara, kemudian babat alas. Jika sebelumnya menjadi orang yang berkedudukan tinggi, dia rela hidup di hutan dengan penduduk yang sangat sedikit. Dengan kerendahan hatinya, serta kesabaran yang tinggi Adipati Pragulo I “mung narimo, ikhlas” sehingga Adipati Wasisjoyo kusumo dikenal sebagai Kyai Pati.dan Saat ini, sapi beliau dikubur di dekat Polsek Gunungpati. Oleh masyarakat dibangunkan atap/ bangunan untuk melindungi makam.

Read more
tanggal : 9 Oktober 2016
Judul : Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.
Link : https://isknews.com/menguka-sejarah-makam-adipati-wasis-joyokusumo-yang-berada-di-gunungpati-ungaran/

Berita Pojok Desa News®Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.9 Oktober 2016ol...
07/08/2019

Berita Pojok Desa News®

Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.
9 Oktober 2016oleh Penulis : Puguh Jarot
21s.jpg
76473755gapuramakambersejarah.jpg

Pati, Isknews.com Lintas Pati-Mungkin belum banyak yang tau tentang sejarah makam Bupati Pati Wasis Joyokusumo atau Adipati Pragola I yang terletak di Gunungpati Desa Plalangan Kabupaten Ungaran Semarang dan makam tersebut sudah diberi gapura oleh Bupati Pati Haryanto.


Dari beberapa sumber sejarah yang menceritakan Nama aslinya adalah Wasis Jayakusuma putra Ki Ageng Panjawi, saudara seperjuangan Ki Ageng Pamanahan. Kakak perempuan yang bernama Waskitajawi menikah dengan Sutawijaya putra Ki Ageng Pamanahan, dan melahirkan Mas Jolang. Ki Ageng Penjawi diberi tanah perdikan oleh Sultan Pajang (Sultan Hadiwijaya = Jaka Tingkir) di daerah Pati, atas jasanya dalam peperangan melawan Arya Penangsang dimasa Kerajaan Demak masih berdiri dan bergelar Ki Ageng Pati Sutawijaya sebagia panembahan Senopati, raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Sementara itu, Wasis Jayakusuma menggantikan ayahnya sebagai bupati Pati bergelar Pragola I. Secara s**a rela ia tunduk kepada Mataram karena kakaknya dijadikan permaisuri utama bergelar Ratu Mas, sedangkan Mas Jolang sebagai putra mahkota.

Pada tahun 1890 Pragola ikut membantu Mataram menaklukkan Madiun. Pemimpin kota itu yang bernama Rangga Jemuna (putra bungsu Sultan Trenggana Demak) melarikan diri ke Surabaya. Putrinya yang bernama Retno Dumilah diambil Panembahan Senopati sebagai permaisuri kedua.


Kemudian Adipati Pati berkunjung ke Pati untuk melihat kakaknya, Pemboyongan Putri Madiun ke Istana membuat Adipati Joyo Kusumo tidak senang, Ia teringat nasib kakak perempuannya Rara Sari yang akan dimadu, dan tersisihkan oleh kehadiran Retno Jumilah di keraton. Kakaknya menyuruh Adipati untuk bersabar. sehingga ia mohon pamit dahulu untuk kembali ke Pati.

Adipati membangun Kota Pati agar menjadi kadipaten yang kuat dan makmur, bersama pas**annnya dia menciptakan pas**an yang tangguh. mereka juga melatih prajurit-prajurit baru yang diambil dari rakyat Pati. Mereka dilatih menggunakan senjata untuk berperang melawan musuh-musuh Pati. Rakyat pati sangat segan dan bangga dengan Adipati, yang membawa kemajuan Kadipaten Pati.

Dalam perjalanan waktu Adipati Jaya Kusumo sering berkunjung ke Mataram untuk melihat keadaan kakaknya, sikap kakaknya yang terlalu pasrah mengabdi sebagai istri setia, terhadap Panembahan Senopati, dia menghadap ke Mataram dengan mengendarai Kuda pilihan yang bagus. Sehingga membuat Sultan Mataram tertarik untuk memiliki, maka sultan menukar kuda itu dengan Kerbau dan diberi nama Pragola, sepanjang perjalanan ia diolok-olok sama anak kecil

“Raja Pati miskin kendaraannya kerbau…., masih kaya Raja Mataram kendaraannya kuda”.

Joyo Kusumo pulang dengan perasaan dongkol, namun karena persaudaran yang telah dibangun diantara keduanya, maka Joyo Kusumo hanya bisa sabar.
Sultan mengundang para adipati ke Mataram, namun Joyo Kusumo tidak hadir, karena Adipati lebih konsentrasi pada pembenahan kota Pati ia sibuk dengan kegiatan di Kadipaten Pati sehingga lupa untuk hadir ke Mataram. Dalam pertemuan di Mataram, terkadang diwakilkan oleh anak buahnya.

TRENDING : ​Apel Oprasi Cipta Kondisi Jelang Natal dan Tahun Baru di Mapolres Kudus
Suatu ketika Adipati Joyo Kusumo I merintahkan anak buahnya untuk menghadap ke Mataram guna menayakan hak atas tanah pedesaannya di sebelah Utara Pegunungan Kendeng dan juga meminta 100 tombak. Akhirnya Panembahan Senopati menyerahkan senjata yang diminta Joyo Kusumo tapi tidak disertai dengan sarungnya, hal ini membuat Adipati Joyo Kusumo sebagai bentuk penghinaan dan menganggap Mataram mau menantang perang dengan Pati.

Setelah utusan Pati kembali dan menghadap Joyo Kusumo, maka oleh beliau diperintahkan mempersiapkan pas**an untuk mengadakan pembersihan didaerah perbatasan dan mengadakan pelucutan senjata di daerah utara Pegunungan Kendeng, semua menyerang dan tunduk kepada Joyo Kusumo. Kecuali Demak yang masih bertahan di Benteng, dan pas**annya kecil sehingga tidak menjadi perhitungan Joyo Kusumo.

Joyo Kusumo memiliki banyak prajurit, mereka berkumpul untuk mengadakan perlawanan dengan Mataram. Sepanjang perjalanan menuju Mataram, mereka melucuti senjata, menjarah dan menaklukan semua desa yang dirampas oleh Mataram. Desa tersebut dimerdekakan dan disuruh membantu untuk menyerang Mataram.
Kemudian Adipati Pajang melaporkan kondisi yang terjadi di daerah perbatasan Mataram dengan Kadipaten Pajang, bahwa Adipati Pati telah masuk ke wilayah pajang dan mengobrak-abrik Kadipaten, sehingga banyak prajurit yang lari menyelamatkan diri.

Sudah tiga kali Joyo Kusumo tidak hadir di Mataram dan tidak mengirimkan persembahan (upeti) kepada sultan. Kemudian datanglah utusan Mataram ke Kadipaten Pati. Untuk menanyakan kabarnya Adipati Pragola I. Akhirnya Kerbau yang pernah di berikan kepada Pragola itu dipotong kepalanya kemudian dibungkus dengan kain merah. Kemudian Patih Penjalingan disuruh untuk menyerahkan kepada Mataram. Mendapati hal tersebut Marahlah Sultan Mataram sehingga ia memerintahkan pas**annya untuk berangkat ke Kadipaten Pati.

Panembahan Senopati mau turun langsung menghadapi Adipati pati, namun berhasil dicegah oleh istrinya yang juga merupakan kakak perempuan Adipati Pati, ia mengusulkan biar anaknya saja Raden Rangga yang dikirim untuk menemui Joyo Kusumo. dengan maksud agar tidak terjadi perang, dan ditempuh dengan jalur damai.
“Biar Pangeran Mahkota saja yang akan menanyai apa maksud Pamannya mempersiapkan prajurit di tapal batas dan membuat huru-hara di Pajang.” Bujuknya Istri Panembahan Senopati, sebab bila Panembahan Senopati yang turun tangan langsung maka tak hayal lagi perang akan terjadi.

Pangeran Mahkota di kirim ke perbatasan dengan pengawalan prajurit yang amat banyak, kemudian mereka bergerak ke Prambanan sedangkan pas**an Pati bergerak ke Kemalon. Masing-masing beristirahat kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang. Diperbatasan antara Waliyah Pajang dengan Mataram, Pangeran Mahkota diperintahkan Panembahan Senopati untuk segera menemui Pamannya Joyokusumo, ia dikawal hanya dengan beberapa pas**an yang membawa panji-panji Kerajaan Mataram.
“Hay kemana bapakmu.. tidak berani kesini..takut bila bertemu adik iparnya” Joyo Kusumo mengejek keponakannya. Sehingga darah mudanya mulai naik.
“paman, saya disuruh Romo untuk mengantar paman untuk menghadap ke Mataram” Pangeran Mahkota balas menyindir pamannya yang dianggap telah mbalelo terhadap Mataram. Panji-panji Mataram yang sedikit berkibar ditengah ribuan pas**an Pati.
“Saya tidak mau kesana, kalau bapakmu mau ketemu saya suruh dia kesini, biar saya kasih tahu bagaimana caranya menghormati orang” sikap membangkang ini seringkali dilakukan oleh Joyo Kusumo terhadap Mataram, tapi kemudian reda kembali karena masing-masing pihak ada yang menahan, di Mataram ada Ki Juru Mertani sedangkan di Pati juga diredakan oleh para sesepuh termasuk keluarga. Namun kali ini kemarahan Joyo Kusumo tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya Perang adalah solusinya.
“Tapi paman, alangkah baiknya bila paman yang datang kesana, sebab Romo adalah raja agung yang membawahi Bumi Jawa, bukankan paman bawahannya romo” Pangeran Mahkota meremehkan penguasa Pati.
“ Saya tidak mau kesana, Bumi Pati adalah bumi merdeka tidak menjadi bawahan Mataram” kuping Pangeran Mahkota menjadi merah mendengar ucapan Adipati Pati. Dia mengambil tombak dan dihujamkan berkali-kali di dada Adipati.
“Terus nang, habiskan tenagamu untuk menusuk saya, aku tidak mundur!, bocah kemarin sore aja sudah berani sama orang tua!” Adipati tertawa terbahak-bahak melihat keponakannya yang menus**an tombak ke dadanya berkali-kali. Adipati tidak terluka sedikitpun karena tubuhnya memakai pusaka “Kere Wojo” pemberian baron Sekeber. Gantian keponakannya yang dipukul dengan gagang tombak sehingga ia terpental jatuh dari kudanya.
“Bilang sama bapakmu, Bila Panembahan Senopati laki-laki tak tunggu diperbatasan. Siapa yang dianggap penguasa Jawa, saya tantang dia sebagai seorang laki-laki, tunjukan kestriamu, jangan anak ingusan yang dikirim!” Pangeran Mahkota tergeletak di tanah hampir saja diinjak oleh kaki kudanya sendiri. Pas**an Mataram membawa Pangeran Mahkota yang terluka akibat ganggang tombak. Mereka kembali ke Prambanan.

TRENDING : Kontak
Adipati Pati Wasis Joyokusumo Atau Pragola I menyerang hingga pas**an Mataram kabur melarikan diri, mereka mengejar sampai perbatasan, Adipati teringat pesan sang guru Ki Ajar Pulo Upih (guru spiritual yang berasal dari Pulau Mandoliko). Ia menunggu di daerah Prambanan berbulan-bulan,. Namun pas**an Mataram belum datang. Akhirnya ia pulang dulu untuk bertemu dengan kawulanya. Pragola kembali ke Desa Dengkeng, ia bersama prajurit membangun kubu pertahanan dari batang pohon-pohon kelapa. Ia menunggu kedatangan Panembahan senopati ke Dengkeng.

TRENDING : Progam PRONA sangat membantu masyarakat,, namun kenapa kok ada yang usil???
Mengetahui hal tersebut Panembahan Senopati marah besar sebab Adipati Pati telah berani memukul anaknya yang sekaligus keponakan Adipati-Pati sendiri. Setelah siuman Pangeran Mahkota lapor kepada Romo dan ibunya. Ia mengadu kepada orang tuanya, bahwa ia telah diperlakukan kekerasan sehingga dapat melukai wajah tampannya. Pangeran Mahkota merasa sakit hati akibat ejekan tersebut…

Mendengar laporan itu Adipati Pati marah. terpancing emosinya, memberitahukan kepada istrinya,. kondisi ini dimanfaatkan Panembahan Senopati untuk menjelek-jelekan Kakak ipar dihadapan istrinya. Sehingga ia memohon, kepada istrinya agar segera mengijinkannya menuju ke medan perang.
“Kalau begitu saya tidak keberatan bila Adipati Pati dibunuh, karena dia sudah tidak sayang lagi kepada keponakanya sendiri” Panembahan SenopatiPanembahan Senopati berangkat perang dengan naik kuda, beristirahat di Prambanan. Pada tengah malam ia melanjutkan lagi berangkat menuju ke Kadipaten Pati. Di luar Benteng Pragola, pas**an Mataram berteriak-teriak Dan Kyai Bicak dipukul bertalu-talu.

Keris Culik Mandaraka milik Panembahan Senopati merupakan pusaka sakti berhasil mematahkan tiga batang pohon kelapa yang dijadikan benteng pertahanan. Kemudian Panembahan Senopati bisa memasukinya dengan mengendarai kuda, mengocar-ngacir Pas**an Pati.

Adipati Pati mundur kembali ke Pati, kemudian ia mengumpulkan Bupati-bupati disekitarnya untuk memepersiapkan pas**an untuk menyerang kembali ke Mataram. Pada saat prajurit Pati berangkat kembali ke perbatasan, terjadi bencana alam Gunung Meletus, daerah Dengkeng yang dijadikan benteng pertahanan Pas**an Pati dialiri lahar panas, sehingga banyak pas**an di kedua pihak yang mati terkena letusan gunung berapi. Perang mengalami jeda beberapa hari. Pas**an Mataram masih mengejar sisa-sisa Pas**an Pati yang masih membikin keributan di daerah perbatasan.

Sementara itu Adipati pati bersama sisa-sisa pas**an menuju ke Gunung Pati di desa Palalangan, mereka menghindari letusan gunung berapi selain itu untuk menyusun kekuatan menyerang Mataram kembali.

Adipati Pragola I memang tidak meninggal karena peperangan, namun mengasingkan diri di Gunungpati ini. Yang dulunya hutan belantara, kemudian babat alas. Jika sebelumnya menjadi orang yang berkedudukan tinggi, dia rela hidup di hutan dengan penduduk yang sangat sedikit. Dengan kerendahan hatinya, serta kesabaran yang tinggi Adipati Pragulo I “mung narimo, ikhlas” sehingga Adipati Wasisjoyo kusumo dikenal sebagai Kyai Pati.dan Saat ini, sapi beliau dikubur di dekat Polsek Gunungpati. Oleh masyarakat dibangunkan atap/ bangunan untuk melindungi makam.

Read more
tanggal : 9 Oktober 2016
Judul : Menguak sejarah Makam Adipati Wasis joyokusumo yang berada di Gunungpati Ungaran.
Link : https://isknews.com/menguka-sejarah-makam-adipati-wasis-joyokusumo-yang-berada-di-gunungpati-ungaran/

ISKNEWS.COM atau ISK merupakan portal berita untuk menyuguhkan semua informasi seputar Kudus, Pati, Jepara, Rembang dan sekitarnya.

Address

Dukuh Keceh Desa Sumbersoko Kec. Sukolilo
Pati
59163

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Sumbersoko posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category