02/07/2013
Diskusi Mingguan Perindo : Partai Politik Harus Kawal Perencanaan Anggaran
Diskusi Mingguan: Dewan Ideologi dan Kader DPP Perindo menggelar diskusi mingguan tentang politik anggaran di Indonesia. Dari kiri: Roy Salam, peneliti anggaran dari Indonesia Budget Center, Andre Hehanusa sebagai moderator dan juga Ketua Lentera Perindo serta Yusuf Lakaseng, Ketua VI DPP Perindo bidang politik, hukum dan HAM. Diskusi dihelat di kantor DPP Perindo Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat, kemarin (25/6/2013).
JAKARTA - Partai politik harus lebih aktif mengawal perencanaan dan pelaksanaan anggaran. Selain sebagai kewajiban, keterlibatan itu sebenarnya merupakan ruang politik untuk mendekatkan diri pada masyarakat.
Roy Salam, peneliti anggaran dari Indonesia Budget Center mengatakan, pada praktiknya hal itu belum terjadi dan membuat kebutuhan riil masyarakat tidak terwujud.
"Perencanaan anggaran dimulai dari tingkat bawah seperti desa dan sayangnya lebih banyak dikuasai elit. Kepentingan dan kebutuhan rakyat kurang mendapat tempat," kata dia pada diskusi Politik Anggaran Kita: "Di Antara Tuntutan Keberpihakan Rakyat dan Kepungan Mafia" yang diselenggarakan ormas Persatuan Indonesia (Perindo) di Jakarta, Selasa (25/6/2013). Diskusi tersebut dipandu oleh moderator, Andre Hehanusa sebagai Ketua Umum Lentera Perindo.
Jika parpol dan kadernya turut mengawal proses itu maka merupakan upaya nyata parpol menyuarakan serta memperjuangkan kepentingan perencanaan dan pelaksanaan anggaran.
"Ini kan sebenarnya ruang politik yang bisa digunakan. Aktivitas ranting parpol sebaiknya hadir di pengambilan keputusan dari tingkat desa. Jadi tidak hanya berkonsentrasi pada penentuan anggaran di tingkat daerah yang lebih tinggi dan tingkat pusat," papar Roy.
Dia juga mencatat, ketidakhadiran parpol sejatinya tidak sejalan dengan filosofi parpol adalah meraup suara dan melakukan aktivitas yang mendorong perolehan dukungan. "Sayangnya parpol nggak ada. Mereka harus hadir dalam ruang-ruang politik dalam segala lingkup dan berapapun skalanya" tegasnya.
Indonesia Budget Center juga mencermati, selama ini proses penganggaran masih jauh melibatkan masyakarat. Yang terjadi, pihak pengusaha yang lebih banyak memanfaatkan proses perencanaan anggaran pembangunan.
"Pengusaha hadir dan intens mengikuti serta mempengaruhi anggaran karena ingin mengakses dan menyerap anggaran," terang dia.
Selain itu, dokumen anggaran masih dianggap dokumen negara yang sulit diakses oleh publik. Hal ini lantas menutup peluang transparansi dan selanjutnya menghalangi partisipasi masyarakat.
Roy juga mempertanyakan, sejauh mana penyusunan anggaran terintgerasi secara kegiatan, fungsi, organisasi dan wilayah. "Ego sektoral masih menjadi penyakit dalam penentuan anggaran. Masing-masing dinas dan kementerian menyodorkan rencana yang fungsinya sama. Ini karena mereka menggunakan pendekatan proyek dan bukan pendekatan fungsi," urainya.
Realisasi anggaran juga tidak efektif. Buktinya,seperti program pengentasan kemiskinan tiap tahun naik 30-50 persen per tahun tetapi angka kemiskinan tidak turun signifikan. "Artinya anggaran tidak efektif dan tidak menjawab persoalan publik," tegas Roy.
Selain itu politik anggaran juga tidak berpihak pada masyarakat. Seperti anggaran kesehatan naik 10 persen tetapi target penerimaan dari sektor kesehatan naik hingga 30 persen. "Padahal inti sektor kesehatan adalah kegiatan pelayanan tapi penaikan target itu menunjukkan pemerintah fokus pada penerimaan pendapatan," katanya.
Terkait ketimpangan anggaran antara pusat dan daerah, IBC mencermati penganggaran masih berpihak ke pusat. Rata-rata APBN yang diserahkan pengelolaannya ke pemda hanya 31,7 persen dari total belanja negara. Selain itu, dalam 7 tahun terakhir, pemerintah dan DPR hanya mampu menaikkan sekitar 2,4 persen belanja APBN ke daerah.
Kepentingan Politik
Pada kesempatan yang sama, Yusuf Lakaseng, Ketua DPP Perindo Bidang Politik, Hukum dan HAM menilai politik anggaran sesungguhnya untuk kepentingan pokitk. Ini terlihat jelas dengan pencabutan subsidi BBM dan bergulirnya Bantuan Langsung Sementara Masyarakat.
"Lalu, sebagian besar APBN kita mengalir untuk belanja. Artinya jelas, politik anggaran kita untuk membayari birokrasi dan hanya basa basi untuk masyarakat," ujarnya.
Seharusnya, anggaran dialokasikan untuk menciptakan lapangan kerja, dan mendorong aktivitas ekonomi dengan membangun infrastruktur. Pemerintah juga menggunakan anggaran untuk meningkatkan pelayanan, dan konsisten melakukan efisiensi.
More : http://persatuanindonesia.or.id/berita/138-diskusi-mingguan-perindo-partai-politik-harus-kawal-perencanaan-anggaran
Diskusi Mingguan: Dewan Ideologi dan Kader DPP Perindo menggelar diskusi mingguan tentang politik anggaran di Indonesia. Dari kiri: Roy Salam,