Sudut pemalang

Sudut pemalang Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Sudut pemalang, Pemalang.

27/02/2023

Seorang anak sedang berjualan menatap sekolah seolah mengisyaratkan kerinduan untuk bersekolah dan bermain selayaknya seperti anak-anak yang lain.
Kelak saat nanti semoga kau jadi orang yang sukses nak.

17/04/2022

Pantauan mudik jalur pemalang

Pemalang merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pekalongan di sebelah timur...
06/02/2022

Pemalang merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pekalongan di sebelah timur, Kabupaten Purbalingga di selatan, Kabupaten Tegal di barat, dan Laut Jawa di sebelah utara. Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Pemalang, yang terletak di ujung barat laut wilayahnya. Kabupaten Pemalang berdiri pada 24 Januari 1575. Akan tetapi, sebelum resmi ada pemerintahan kabupaten, wilayahnya telah memiliki sejarah panjang.

Selain menadapat julukan sebagi kota nanas madu yang terkenal manisnya, pemalang juga mempunyai julukan lain looh.

Nah kira-kira apalagi julukan untuk Kabupaten Pemalang ini, jawab di koment ya:)



Pintu Gerbang Mataram Kuno Sejarah

Pemalang dapat dikaitkan dengan Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri di Jawa Tengah pada sekitar abad ke-8. Meski waktu itu belum dikenal nama Pemalang, tetapi beberapa bagian wilayah pesisirnya telah dijadikan pelabuhan. Oleh karena itu, daerah Pemalang dapat dikatakan sebagai pintu gerbang Mataram Kuno. Namun, hingga Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur, wilayah Pemalang saat ini belum sempat berkembang. Di saat yang sama, Pemalang menjadi daerah yang bebas dari kekuasaan manapun.

Asal-usul nama Pemalang

Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, konon wilayah Pemalang pernah dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada sebagai pangkalan perang ke Sriwijaya. Dukungan orang pemalang di bawah pimpinan Ki Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari membuahkan hasil gemilang. Karena itu, Pemalang dijadikan daerah perdikan, yakni suatu wilayah yang tidak dipungut pajak. Ki Buyut Banjaransari kemudian melimpahkan kekuasaannya kepada Raden Joko Malang atau Raden Sambungyudha. Diperkirakan nama Pemalang berkaitan dengan tokoh ini. Kata pe dalam bahasa Jawa dapat menunjukkan tempat, sedangkan malang menunjukkan nama orangnya. Jadi, Pemalang berarti suatu tempat yang dimiliki atau dikuasai Raden Joko Malang.

Berdirinya Kabupaten Pemalang

Ketika Kerajaan Pajang runtuh, para pemuda bangsawan banyak yang mencari kehidupan baru yang lebih aman. Salah satunya yang sampai ke wilayah Pemalang adalah Raden Sida Wini, yang kemudian menanamkan pengaruhnya di bidang pemerintahan. Raden Sida Wini sempat menjadi adipati Pemalang, pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Kanjeng Jinogo Hanyokro Kusumo atau Darul Ambyah dengan semangat Islam. Pengangkatan dan pengakuan masyarakat Pemalang terhadap penguasa baru ini terjadi pada 24 Januari 1575, yang kemudian dijadikan sebagai tanggal kelahiran Kabupaten Pemalang. Keadaan Pemalang pada abad ke-16 juga dapat diketahui dari catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W Fruin Mees, yang menyatakan bahwa pada 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan selanjutnya, Pemalang menjadi daerah vasal Kesultanan Mataram.

Kadipaten di bawah Kesultanan Mataram

Mulai 1622, Pemalang menjadi apanase (daerah kekuasaan) Pangeran Purbaya dari Mataram. Raden Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng, adalah penguasanya yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata. Menurut beberapa sumber, Raden Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung karena sangat anti-VOC. Pada sekitar 1652, Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang. Menurut catatan Belanda, pada 1820 Pemalang diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini, Pemalang berhubungan erat dengan Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang, seorang bupati yang terlibat dalam Perang Diponegoro.

Masa pemerintahan kolonial Belanda

Pada 1832, yang menjabat sebagai Bupati Pemalang adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada periode ini, Pemalang sangat makmur karena hasil pertanian di daerahnya yang meliputi padi, kopi, tembakau, dan kacang, sangat melimpah. Dalam laporan yang terbit pada awal abad ke-20, disebutkan bahwa Kabupaten Pemalang terbagi dalam lima distrik. Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terletak di Desa Oneng, dibuktikan dengan keberadaan Dukuh Oneng yang masih bisa ditemukan di Desa Bojongbata hingga sekarang. Sedangkan pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan dan sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang, yaitu di sekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Kabupaten yang sekarang ini adalah pusat kabupaten yang ketiga, yang juga merupakan sisa bangunan peninggalan kolonial Belanda. Dengan demikian, Kabupaten Pemalang telah menjadi suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan kolonial Belanda.

Sumber : www.kompas.com (Asal-Usul Sejarah Pemalang)

Eksistensi Pemalang BerdasarkanData Sosio-Historis Sampai Abad XIXKeberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berba...
05/02/2021

Eksistensi Pemalang Berdasarkan
Data Sosio-Historis Sampai Abad XIX

Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesa yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syech Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.

Pop**asi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.

Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran uu asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.

Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Aria Pangiri.

Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).

Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.

Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.

Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog Uan 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Uan Den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.

Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.

Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).

Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan Jogio sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan dimasa sekarang.

Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.

Penetapan hari jadi ini dapat dihubungkan p**a dengan tanggal pernyataan Pangeran Diponegoro mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823.

Namun berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang Hari Jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang.

Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo “Lunguding Sabdo Wangsiting Gusti” yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751.

Sedangkan tahun 1496 je diwujudkan dengan Candra Sengkala “Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal” yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.

Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah “Pancasila Kaloka Panduning Nagari” dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751(*)

* sumber website resmi pemkab pemalang

Address

Pemalang
51182

Telephone

+6285758758247

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sudut pemalang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Sudut pemalang:

Share