06/02/2022
Pemalang merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pekalongan di sebelah timur, Kabupaten Purbalingga di selatan, Kabupaten Tegal di barat, dan Laut Jawa di sebelah utara. Ibu kota kabupaten ini adalah Kota Pemalang, yang terletak di ujung barat laut wilayahnya. Kabupaten Pemalang berdiri pada 24 Januari 1575. Akan tetapi, sebelum resmi ada pemerintahan kabupaten, wilayahnya telah memiliki sejarah panjang.
Selain menadapat julukan sebagi kota nanas madu yang terkenal manisnya, pemalang juga mempunyai julukan lain looh.
Nah kira-kira apalagi julukan untuk Kabupaten Pemalang ini, jawab di koment ya:)
Pintu Gerbang Mataram Kuno Sejarah
Pemalang dapat dikaitkan dengan Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri di Jawa Tengah pada sekitar abad ke-8. Meski waktu itu belum dikenal nama Pemalang, tetapi beberapa bagian wilayah pesisirnya telah dijadikan pelabuhan. Oleh karena itu, daerah Pemalang dapat dikatakan sebagai pintu gerbang Mataram Kuno. Namun, hingga Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur, wilayah Pemalang saat ini belum sempat berkembang. Di saat yang sama, Pemalang menjadi daerah yang bebas dari kekuasaan manapun.
Asal-usul nama Pemalang
Pada masa kekuasaan Kerajaan Majapahit, konon wilayah Pemalang pernah dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada sebagai pangkalan perang ke Sriwijaya. Dukungan orang pemalang di bawah pimpinan Ki Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari membuahkan hasil gemilang. Karena itu, Pemalang dijadikan daerah perdikan, yakni suatu wilayah yang tidak dipungut pajak. Ki Buyut Banjaransari kemudian melimpahkan kekuasaannya kepada Raden Joko Malang atau Raden Sambungyudha. Diperkirakan nama Pemalang berkaitan dengan tokoh ini. Kata pe dalam bahasa Jawa dapat menunjukkan tempat, sedangkan malang menunjukkan nama orangnya. Jadi, Pemalang berarti suatu tempat yang dimiliki atau dikuasai Raden Joko Malang.
Berdirinya Kabupaten Pemalang
Ketika Kerajaan Pajang runtuh, para pemuda bangsawan banyak yang mencari kehidupan baru yang lebih aman. Salah satunya yang sampai ke wilayah Pemalang adalah Raden Sida Wini, yang kemudian menanamkan pengaruhnya di bidang pemerintahan. Raden Sida Wini sempat menjadi adipati Pemalang, pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Kanjeng Jinogo Hanyokro Kusumo atau Darul Ambyah dengan semangat Islam. Pengangkatan dan pengakuan masyarakat Pemalang terhadap penguasa baru ini terjadi pada 24 Januari 1575, yang kemudian dijadikan sebagai tanggal kelahiran Kabupaten Pemalang. Keadaan Pemalang pada abad ke-16 juga dapat diketahui dari catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W Fruin Mees, yang menyatakan bahwa pada 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan selanjutnya, Pemalang menjadi daerah vasal Kesultanan Mataram.
Kadipaten di bawah Kesultanan Mataram
Mulai 1622, Pemalang menjadi apanase (daerah kekuasaan) Pangeran Purbaya dari Mataram. Raden Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng, adalah penguasanya yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata. Menurut beberapa sumber, Raden Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung karena sangat anti-VOC. Pada sekitar 1652, Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang. Menurut catatan Belanda, pada 1820 Pemalang diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini, Pemalang berhubungan erat dengan Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang, seorang bupati yang terlibat dalam Perang Diponegoro.
Masa pemerintahan kolonial Belanda
Pada 1832, yang menjabat sebagai Bupati Pemalang adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada periode ini, Pemalang sangat makmur karena hasil pertanian di daerahnya yang meliputi padi, kopi, tembakau, dan kacang, sangat melimpah. Dalam laporan yang terbit pada awal abad ke-20, disebutkan bahwa Kabupaten Pemalang terbagi dalam lima distrik. Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terletak di Desa Oneng, dibuktikan dengan keberadaan Dukuh Oneng yang masih bisa ditemukan di Desa Bojongbata hingga sekarang. Sedangkan pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan dan sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang, yaitu di sekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Kabupaten yang sekarang ini adalah pusat kabupaten yang ketiga, yang juga merupakan sisa bangunan peninggalan kolonial Belanda. Dengan demikian, Kabupaten Pemalang telah menjadi suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan kolonial Belanda.
Sumber : www.kompas.com (Asal-Usul Sejarah Pemalang)