06/10/2025
Hartini, Perempuan Ponorogo di Hati B**g Karno
Cinta membuat Sukarno rela berpaling dari Fatmawati—istri yang telah memberinya lima anak—kepada seorang perempuan asal Ponorogo bernama Hartini.
“Aku bertemu dengan Hartini. Aku jatuh cinta kepadanya,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam B**g Karno: Penyambung Lidah Rakyat. “Cinta kami begitu romantis, hingga bisa dijadikan buku tersendiri.”
Namun, kisah cinta itu tak mudah. Meski mengisi hati Sukarno, Hartini tak pernah menyandang gelar Ibu Negara. Predikat itu tetap milik Fatmawati, sesuai janji Sukarno kepada anak-anaknya. Sebagai kompromi, Fatmawati tinggal di Jakarta, sedangkan Hartini menempati paviliun di Istana Bogor. Setiap akhir pekan, Sukarno selalu datang menemuinya.
Perempuan dari Ponorogo
Hartini lahir di Pudak, Ponorogo, pada 20 September 1924. Ayahnya, Osan Murawi, adalah pegawai kehutanan, dan ibunya bernama Mairah. Sebelum mengenal Sukarno, Hartini sudah menikah dengan Dr. Soewondo, pegawai perusahaan minyak, dan dikaruniai lima anak.
Pertemuan dengan Sukarno terjadi pada tahun 1952 di Prambanan, saat peresmian Teater Ramayana. Saat itu Hartini berusia 28 tahun, dan Sukarno 51 tahun. Melalui perantara, B**g Karno mengirim surat cinta dengan nama samaran Srihana.
“Ketika aku melihatmu pertama kali, hatiku bergetar,” tulis Sukarno dalam surat itu.
Menurut Rosihan Anwar, perkenalan mereka diperantarai Kolonel Gatot Subroto. Namun, sejarawan John D. Legge menulis bahwa penghubungnya adalah Mayor Jenderal Soehardjo Hardjowardjojo.
Tak lama kemudian, mereka menikah secara sederhana di Istana Cipanas, pada 7 Juli 1953.
Cinta yang Mengundang Gunjingan
Pernikahan ini menimbulkan kehebohan. Banyak organisasi perempuan seperti Kowani, Persit, dan Perwari menolak poligami Sukarno karena dianggap merendahkan martabat perempuan.
Hartini menjadi sasaran cemoohan. Ada yang menuduhnya sebagai “perempuan panggilan kelas atas”. Beberapa aktivis bahkan melempari rumahnya di Salatiga. Media seperti Indonesia Raya dan Pedoman juga mengkritik tajam pernikahan tersebut.
Namun bagi Sukarno, cintanya kepada Hartini bukan sekadar nafsu. Sejarawan John D. Legge menulis, “Sukarno sungguh jatuh cinta—dalam arti cinta sejati.” Dari pernikahan ini lahir dua putra: Taufan dan Bayu Soekarnoputra.
Setia Sampai Akhir
Hartini bukan perempuan terakhir dalam hidup Sukarno, tetapi ia yang paling setia. Ia menemani B**g Karno saat masa kejayaan hingga kejatuhan.
Putri Sukarno, Rachmawati, dalam bukunya Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi, menulis:
“Ia setia kepada Bapakku baik dalam masa jaya maupun masa kejatuhannya. Faktanya, Bu Har menemani Bapak hingga akhir hayat.”
Hartini wafat di Jakarta pada 12 Maret 2002, dalam usia 77 tahun. (Dikutip dari Historiaid)
Jejak yang Hilang di Ponorogo
Kini, lebih dari tujuh dekade setelah cinta itu mekar di Istana, nyaris tak ada lagi jejak sejarah keluarga Hartini di Ponorogo. Di jalan Bathoro Katong pernah berdiri rumah keluarga besar Hartini, tempat kisah hidup perempuan sederhana itu bermula.
Namun sejak sekitar tahun 2016, rumah tersebut telah berubah menjadi bangunan usaha. Tak ada lagi tanda, prasasti, atau kenangan yang mengingatkan bahwa dari sinilah asal seorang perempuan yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan cinta dan sejarah seorang presiden besar Indonesia.
Potret Hartini hitam putih tahun 1954 kini hanya menjadi arsip senyap. Sementara foto dirinya berdiri di samping Sukarno di Istana Bogor sekitar 1965 menjadi saksi tentang kasih yang pernah hangat, namun juga getir oleh sejarah.
Kisah Hartini bukan sekadar cerita cinta B**g Karno. Ia adalah kisah seorang perempuan Jawa dari Ponorogo yang menapaki takdirnya di panggung besar sejarah republik.
Dipuji, dicerca, disanjung, dan disalahpahami—Hartini tetap menjadi sosok yang berani mencintai dan setia hingga akhir.
Namun, hilangnya rumah keluarga Hartini di tanah kelahirannya meninggalkan duka kecil dalam sejarah lokal Ponorogo. Sebab, di sanalah seharusnya jejak masa lalu dijaga, agar generasi mendatang tahu bahwa dari desa kecil di kaki Gunung Wilis pernah lahir seorang perempuan yang memikat hati Sang Proklamator.
(Sumber: Historiaid, Wikipedia, GettyImages, Google Map)