11/05/2026
“Dia memperk0sa saya, bukan negara.
Lalu kenapa orang lain merasa punya hak untuk memaafkan atas nama saya?”
Kalimat ini menampar banyak orang.
Karena dalam banyak kasus kekerasan seksual, korban sering dipaksa diam, diminta berdamai, bahkan disuruh “ikhlas” demi nama baik keluarga, jabatan, atau institusi.
Padahal luka korban bukan sekadar berita yang bisa dilupakan setelah viral mereda. Trauma, rasa takut, dan kehancuran mental bisa bertahan bertahun-tahun.
Publik pun mempertanyakan:
kenapa pelaku sering lebih cepat mendapat simpati dibanding korban yang harus menanggung rasa sakit seumur hidup?
Keadilan seharusnya berpihak pada korban, bukan pada upaya menutup malu atau menjaga citra. Memaafkan adalah hak korban, bukan keputusan masyarakat, institusi, ataupun negara tanpa persetujuan korban itu sendiri.
📰 Sumber berita/opini publik terkait isu kekerasan seksual dan hak korban dalam proses hukum serta restorative justice.