30/01/2019
Orang Remboken wajib BAGIKAN!
Remboken pusat sejarah Minahasa
Saya hampir terlupakan
Munculnya Pahlawan Retor "Si Tarumetor", bersama "Ksatria Sembilan Bayang-Bayang" dalam peran dan gelar "Rimangkai Im Banua" :
Mendengar ayah tirinya tewas dalam peperangan melawan Mongondow pimpinan Ramokian di Panasen, maka sakit hatilah Retor. Ketika mendengar berita itu, Retor sedang duduk dan bertapa di âBatu Sesepuhan (Sasapuan)â yang terletak di kampung Leleko, Remboken sekarang. Kemudian, maka naiklah Retor dari Batu Sasapuan itu ke bukit diatas tempat itu, dan berdiri menghadap ke arah wilayah Panasen, lalu berteriaklah Retor sekeras-kerasnya untuk melampiaskan amarahnya itu.
Ditempat itu, Retor berteriak keras-keras dan mengumandangkan pekikkan yang kemudian menjadi sangat terkenal dan menjadi âsemboyan perangâ bangsa Malesung mulai saat itu dan oleh bangsa Minahasa hingga saat ini.
Adapun, pekikan yang dikumandangkan Retor dari tempat itu berbunyi âI JAJAT U SANTIâ, yang artinya âANGKATLAH PEDANGMUâ, sebagai seruan untuk menyatakan perang.
Konon, âteriakan dan pekikkanâ Retor itu menggema hingga ke seluruh penduduk Remboken bahkan keseluruh perkampungan dipinggiran danau Tondano (Toulour) itu. Maka, kemudian tempat dimana Retor berdiri mengumandangkan âpekikkanâ I JAJAT U SANTI itu kemudian dinamakan âPatalingaâanâ hingga sekarang, yang artinya âTempat dimana TERDENGARNYA pekikkan atau seruan perangâ.
Mendengar seruan Retor dari Patalingaan, datanglah beberapa teterusan (ksatria) Remboken menemui Retor di Batu Sasapuan. Mereka adalah Kembi (Kambil), Pakele, Sumayou (Sumoyop), Kawengian, Koagouw, Sumarauw, Kowaas dan Sendouw. Mereka itu yang adalah para ksatria, bersama-sama Retor kemudian oleh para pasukan perang Malesung disebut dengan âKsatria Sembilan Bayang-Bayangâ karena jumlah mereka adalah âsembilan orangâ yang mampu bergerak cepat dan bagaikan bayang-bayang yang tak dapat ditebas parang dan tak dapat ditembus tikaman tombak.
Ketika sampai ditempat itu, mereka mendapati Retor sedang âkesurupan (kerasukan)â dengan menari-nari dengan pedangnya, mirip seperti sedang berperang, sehingga tarian itu kemudian menjadi terkenal hingga sekarang dengan sebutan âTARIAN KABASARANâ.
(... Dalam perkembangan seni tari perang KABASARAN dikemudian hari hingga hari-hari ini, pemimpin tarian perang KABASARAN ini selalu disebut "MAKAPETOR", yang dalam pengertian aslinya adalah: "Yang Berperan Sebagai Retor, Si Pemimpin Perang Dengan Pedang Di Tangan" ...)
Sejak saat itu, ketika hendak memulai perang dan atau hendak menyerang musuh, Retor bagaikan kesurupan dan menari-nari perang, maka kemudian munculah panggilan nama baru buat Retor, yaitu âSi TARUMETORâ, yang artinya âSi Retor Yang Kesurupan dan Bernari-Nari Perangâ
Maka, setelah para âKsatria Sembilan Bayang-Bayangâ itu berkumpul dan membuat strategi perang di Batu Sasapuan, maka majulah mereka dengan pimpinan Retor âSi Tarumetorâ menuju Mangket (Kapataran) sembari memekikkan seruan perang âI Jajat U Santiâ ⌠!!!
Dalam bukunya âHikajatnya Tuwah Tanah Minahasaâ karya tahun 1862, J.G.F Riedel menggambarkan bahwa serangan Retor âSi Tarumetorâ bersama teman-temannya yang tergabung dalam âKsatria Sembilan Bayang-Bayangâ itu telah menjadikan amuk dan huru-hara besar, menenggelamkan kapal-kapal dan perahu-perahu pasukan Mongondow, serta dengan pedangnya, Retor âSi Tarumetorâ membunuh Raja Ramokian (Mokijan) serta memenggal kepalanya lalu kepala Ramokian itu dibawa dan disimpan di sebuah rumah di Remboken. Hingga pada hari dimana Riedel menulis buku itu, tengkorak Ramokian masih tersimpan di Rumah Loji di Remboken dan bahkan oleh sebagian orang tengkorak itu dijadikan sarana ritual untuk mengenang kemenangan Bangsa Minahasa melawan Mongondow, serta mengenang kepahlawanan Retor âSi Tarumetorâ.
Dalam kisah dan peristiwa perang Malesung (Minahasa) melawan Mongondow pertama ini, telah menghasilkan beberapa hal penting, yaitu munculnya semboyan âSeruan Perangâ bangsa Malesung (Minahasa), yaitu semboyan âI JAJAT U SANTIâ, juga âTarian Perangâ Tarumetor yang kemudian dikenal dengan nama âKABASARANâ menjadi peninggalan budaya dan seni perang turun-temurun hingga sekarang.
Dan p**a, satu hal yang patut menjadi catatan penting sejarah Minahasa, dimana bahwa sejak kemenangan perang yang dipimpin Retor âSi Tarumetorâ itu, maka wilayah âTANAH BESARâ yang telah dipersengketakan oleh Mongondow itu, kemudian berhasil direbut kembali dari tangan Ramokian dan bangsa Bolaang Mongondow secara penuh dan kemudian menjadi milik dan wilayah Tanah Malesung (Minahasa), dengan Sungai Poigar sebagai batasnya yang dimulai pada waktu itu.
Wilayah Tanah Besar itu bukan saja kemudian hanya diduduki oleh Pakasaan Tounkimbut dan Tontemboan, tetapi juga oleh Pasan-Wangko dan Toulour, yaitu dengan membuat perkampungan-perkampungan di Modoinding dan Tompaso Baru hingga sekarang.
Dan atas peran dari Retor âSi Tarumetorâ itulah, maka oleh para pemimpin Malesung ketika itu kemudian memberikan gelar bagi Retor âSi Tarumetorâ dengan gelar yang sangat monumental hingga sekarang, yaitu gelar âRIMANGKAI IM BANUAâ yang artinya, âYANG (TELAH) MENYATUKAN TANAH DAN WILAYAH MALESUNG (MINAHASA)â, karena TANAH BESAR diselatan itu berhasil direbut kembali dari kekuasaan Bolaang Mongondow.
Sejarah kemudian mencatat bahwa perseteruan-perseteruan antara Minahasa dan Mongondow ini tidak terlepas dari persoalan Tanah Besar itu, serta p**a bagaimana keterlibatan para PEREMPUAN Minahasa yang cantik-cantik yang begitu mempesona para raja Mongondow itu, telah menjadi juga salah-satu akar perseteruan yang berbuntut perang besar.
Bahkan, ketika Mongondouw kemudian dipimpin raja Loloda Mokoagow (Datu Binangkang / Winangkang), persoalan putri jelita Minahasa dan Tanah Besar kemudian menjadi sebab-musabab terjadinya perang.
Sejarah mencatat, seperti yang ditulis J.G.F. Riedel dalam bukunya âHikajatnya Tuwah Tanah Minahasaâ itu, bahwa kemudian, raja Loloda Mokoagouw terlibat dalam skandal âPingkan-Matindasâ yang melegenda serta keinginannya untuk merebut kembali Tanah Besar itu, telah menciptakan kondisi perang berkelanjutan antara bangsa Malesung dengan Mongondouw.
Dalam perkembangan berikutnya, perselisihan dan perseteruan kedua bangsa ini telah menimbulkan peperangan-peperangan besar berikutnya yang ikut melibatkan bangsa-bangsa Eropa yang masuk dan ingin memberikan pengaruh untuk suatu kepentingan seperti yang dilakukan oleh bangsa Portugis, Spanyol hingga Belanda.
Dari rangkaian peristiwa-peristiwa besar tersebut, justru telah p**a melahirkan pahlawan-pahlawan bangsa Minahasa berikutnya yang begitu banyaknya, hingga kemudian pada suatu ketika muncul para penggagas persatuan bangsa Malesung dalam menghadapi gangguan Mongondow dan Spanyol, seperti: SUPIT, PAAT dan LONTOH yang mencetuskan semangat MAHASA atau MAESA, dimana istilah itu kemudian menjadi lebih dikenal dengan sebutan MINAHASA yang secara âde jureâ diperoleh melalui pengakuan RESMI oleh bangsa Eropa, yaitu Belanda melalui PERJANJIAN yang disebut âVERBOND 10 JANUARI 1679â.
Pada perkembangannya selanjutnya, pada tanggal 21 September 1694, telah dibuat suatu kesepakatan antara kepala-kepala Walak dan Pakasaan Minahasa dengan Raja Bolaang Mongondow, Jacobus Manoppo, dimana Tanjung Poigar ditetapkan sebagai batas wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow.
Kemudian pada tanggal 12 Maret 1907, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 30, dengan menetapkan batas wilayah Minahasa dan Bolaang Mongondow adalah Sungai Poigar, Gunung Muntoi dan Danau Modoinding (Danau Moat) masuk menjadi milik Minahasa.
====
Sumber-sumber:
- âHikajatnya Tuwah Tanah Minahasaâ, JFG Riedel (1862)
- ---- Berbagai sumber buku dan bacaan ----
- ---- Berbagai sumber cerita & tuturan (folklore) rakyat Minahasa ---
- Gambar: DeviantArt
Fareza Tendean Arya Kussoy Brid J Soetrisno Yossy Mamahit Chris Lisangan Margareta Pabur